Menengok Masa Lalu,, Impianku

helmi luthfi
Karya helmi luthfi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Menengok Masa Lalu,, Impianku

1. Menengok Masa Lalu

Pertama : Impianku

?

?Seribu dua ratus. .? seribu tiga ratus. .?

Ia menghitung dengan cermat dan rapi-rapi. Jari-jari kecilnya menaruh kepingan kesekiannya dengan sangat hati-hati. Menumpuknya menjadi tiga bagian di meja yang berada tepat di depannya. Sudah dua tumpukan yang sempurna, masing-masing bernilai lima ratus rupiah. Tampak tumpukan pertama lebih tinggi ketimbang tumpukan kedua.

Pada tumpukan pertama beberapa koin lima puluh rupiah terlihat tersusun rapi di atas tumpukan koin seratus rupiah. Sedangkan pada tumpukan kedua, terdapat lima koin yang semuanya bernilai sama, seratus rupiah. Hanya saja memiliki bentuk dan warna yang berbeda-beda. Dua koin berbentuk lingkaran kecil, putih mengkilap dengan gambar burung kakaktua di salah satu sisinya. Dua yang lain memiliki bentuk sama kecilnya, hanya saja berwarna kuning keemasan dengan gambar utama karapan sapi dan koin terakhir ialah koin paling bawah dengan bentuk lingkaran paling besar berwarna abu-abu dengan gambar wayang di salah satu sisi dan rumah joglo disisi yang lain.

?seribu empat ratus. .? ditaruhnya koin seratus-an berwarna perak mengkilap dengan pelan-pelan. Ia mencoba merapikan sisi tumpukan dengan ibu jari dan telunjuknya, mencoba membuatnya persis sejajar.

?. .seribu lima ratus? jari kecilnya selesai menaruh kepingan terakhir yang ada. Sempurna sudah tumpukan ketiga, bernilai sama dengan dua yang lain, lima ratus rupiah.

?Hore! Pas!? kata anak itu senang dengan muka menyeringai senang. Sedikit berloncat girang sambil mengepalkan kedua tangannya. Namun ia segera menutup mulutnya, menahan suara. ?Aduh, bisa gawat kalau ketahuan? katanya dalam hati.

Ia segera memasukkan koin-koin itu ke dalam saku celana pendeknya. Dua tumpukan di kantong sebelah kanan dan satu tumpukan di kantong sebelah kiri. Terlihat sisi kanan-kiri celananya menggembung dan mengeluarkan suara gemerincing ketika melangkah.?

Diambilnya kaleng berbentuk tabung berwarna merah, bekas tempat kue lebaran dua tahun lalu. Tampak bagian atasnya dilubangi kira-kira sepanjang lima centimeter. Pada bagian badan kaleng terdapat tempelan kertas dengan tulisan tangan cukup besar ?TABUGANKU?. Iya, tabuganku.

Ia segera berjalan menuju luar rumah, pelan-pelan. Kepalanya waspada menoleh kanan-kiri. Matanya pun tak henti-henti menyapu keadaan sekitar. Kedua tangannya memegang erat kedua kantong celananya agar tak bergemerincing. Siang-siang seperti ini keadaan di rumah itu sangat sepi, hampir tak ada suara.

Setelah beberapa langkah akhirnya ia tepat berada di depan pintu utama rumah. Tangan kanannya meraih gagang pintu yang berbentuk bulat itu. Memutarnya dengan sangat pelan. Pelan sekali. Sesekali ia menoleh kebelakang, waspada kalau-kalau ada yang melihat. Klek! Berhasil, pengait pintu sudah terbuka. Sekarang yang harus dilakukannya hanya menarik pintunya dan berlari keluar.

Ditariknya pintu kayu itu dengan hati-hati, pelan-pelan. Sama pelannya seperti memutar gagang pintu. Berusaha agar pintu itu tak mengeluarkan suara derit pada engselnya. Ia menoleh sekali kebelakang, dengan alasan yang sama. Agar tak ketahuan. Terbuka! Pintu pun berhasil terbuka sebagian. Cukuplah bagi tubuh kecil itu untuk keluar. Sedetik kemudian anak itu telah menyelinap keluar dan menutup pintu sama hati-hatinya ketika ia membuka.

Langkah terakhir tentu saja ia cepat-cepat berlari keluar, melepaskan genggaman tangannya dari kantong agar bisa melaju lebih kencang. Kantong celananya menggantung dan berayun-ayun. Mengeluarkan suara yang khas .

??Cring. . cring. .cring!?.? Suara itu semakin samar seiring laju lari anak itu yang semakin jauh. ?Cring. . . cring. .? ?

Siang ini terasa panas. Sinar matahari sebegitu teriknya, sama seperti anak kecil ini yang ?bersinar-sinar?. Di sepanjang jalan senyum tak henti-henti terkembang di wajahnya. Akhirnya, keinginannya bisa terwujud hari ini. Keinginan yang teramat besar baginya, yang telah ia idam-idamkan setiap hari. Mungkin lebih tepat? disebut ?cita-cita?. Iya, cita-cita yang akan terwujud hari ini, mungkin.?

Kira-kira sepuluh menit kemudian ia telah tiba di depan sebuah toko. Dia berhenti sejenak menundukkan badannya sambil memegangi dadanya yang sedikit sesak, mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal. Sesekali ia mengusap keringat yang mengalir deras di dahi dan pelipisnya. Sepertinya dia berlari terlalu cepat, ah terlalu bersemangat tepatnya.

Nafasnya berhasil kembali normal. Ia segera beranjak masuk ke dalam toko itu. Saat menjejakkan kakinya di dalam, terlihat beberapa rak berjajar rapi di depannya. Rak-rak dengan dua sisi penampangnya, depan dan belakang. Dan juga beberapa rak yang bersandar di hampir setiap tembok toko dengan satu sisi penampang yang menjulur, memamerkan produk-produk di atasnya. Dari sekian banyak rak yang ada, ia hanya tertarik pada dua rak yaitu rak berisi bermacam-macam coklat dan rak berisi berbagai jenis permen. Didatangi dan dilihatnya kedua rak itu lamat-lamat. Sungguh menggoda. Ia beberapa kali menelan air liurnya dan menyeringai. Melihatnya sudah cukup membuatnya senang. Namun tujuannya kali ini bukan kedua rak itu, ada yang lebih penting.

Ia mencoba mencari-cari di sekitar. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, melihat dengan teliti bagai induk ayam yang sedang mencari anak-anaknya. Jangan sampai terlewatkan. Pandangannya sampai ke arah pojok ruangan toko. Dilihatnya lamat-lamat. Bibirnya menyeringai. Ketemu! Tentu saja sesuatu yang ia cari pasti berada di situ. Ya, Lemari es!

Ia segera bergegas menuju tempat es krim itu, setengah berlari. Sesaat kemudian ia sudah tepat berada di depan tempat es krim yang berupa lemari pendingin besar berbentuk persegi panjang dengan tutup kaca yang bisa digeser-geser apabila ingin mengambil isinya. Selain itu pada bagian belakang lemari es,? terdapat papan yang menjulang sedikit lebih tinggi yang berisi berbagai gambar es krim dan harganya.

Tangannya menunjuk dan menelusuri gambar-gambar es krim satu persatu, mencoba mencari-cari manakah es krim yang menjadi incarannya ini. Jari telunjuknya berhenti pada gambar es krim stick berbentuk kotak panjang, dengan isi berwarna putih vanilla dan lapisan luar berbalut coklat dan kacang. Tertera juga harganya, ?1.500?. Pas dengan uang yang ia miliki saat ini.

Setelah itu ia mencoba membuka tutup lemarinya dengan ujung jari kedua tangannya, cukup berat. Sedikit terbuka. Kali ini ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menggeser dan akhirnnya sempurna sudah terbuka salah satu sisi pintu penutup lemari itu. Ia mencari-cari es krim itu, ternyata ada di bagian terjauh dari sisi tempat dia berdiri. Tangannya mencoba meraih sekuat tenaga. Sedikit lagi. Tapi tidak sampai. Ia mencoba sekali lagi, mencoba memanjangkan tangannya namun tetap saja tidak sampai.

?Yang ini kan dik?? kata seseorang. Dilihatnya orang itu, ?ternyata ia adalah pegawai dari toko itu. Ia menyodorkan es krimnya. ?

Anak itu segera meraih cepat es krimnya. Memegangnya cukup erat. Ia mulai tersenyum senang, tak henti-hentinya ia melihat es krim itu sampai-sampai ia lupa mengucapkan ?terima kasih? kepada seseorang yang barusan menolongnya. Sepertinya pegawai itu juga sedang sibuk. Sibuk mengambilkan es krim untuk seseorang yang lain. Ah tapi ia tak begitu peduli, beberapa detik ia masih sibuk memperhatikan es krimnya kemudian ia segera pergi ke kasir untuk membayar. Tak sabar untuk menikmati es krim itu.

Ketika keluar dia segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati es krim itu. Setelah mendapat tempat duduk yang sesuai, ia kembali melihat-lihat es krimnya lagi. Membolak-balikkan es krim itu, melihat gambarnya untuk yang kesekian kalinya. Sungguh tidak bosan. Akhirnya setelah puas melihat seluruh bagian bungkus es krimnya ia mecoba membukanya. Di pegangnya plastik es krim itu, bersiap untuk menariknya. Tapi gerakannya terhenti. Terhenti karena suara tangisan.

Ditolehnya sumber suara itu. Tampak sesosok anak perempuan yang menangis di depan toko tadi. Memakai pakaian terusan dengan rok yang terkembang berwarna merah bercorak bunga-bunga putih. Rambutnya tergerai sebahu, dengan hiasan jepit berbentuk bunga berwarna putih di bagian kanan rambutnya.

Ia tak henti-henti mengusap air matanya dengan? tangan kanannya, kadang bergantian dengan tangan kirinya. Terus menangis. Terlihat jelas air matanya mengalir dari sisi pipinya.

Bocah laki-laki itu tampak sedikit bingung melihat anak perempuan itu. ?kenapa ia menangis?? pikirnya. Pandangannya masih terus menatap fokus ke arah anak perempuan itu, sampai-sampai lupa dengan ?impian? yang akhirnya berhasil ia dapatkan dan sekakarang telah ia genggam erat itu. Padahal sedikit lagi ?cita-cita? besarnya bakal teraih.

Bocah itu memutuskan untuk menunda menikmati ?cita-cita?nya itu. Ia berjalan menghampiri anak perempuan yang belum henti-hentinya menangis.

?Kenapa menangis ?? Tanya bocah itu

Anak perempuan itu menoleh kearah bocah itu, sebentar. Tak menjawab apa-apa.

?Kenapa menangis ?? tanyanya lagi

Anak perempuan itu tetap diam. Tiba-tiba ia menunjuk kearah bawah tepat di depannya. Ia tetap tak berkata apapun.

Bocah laki-laki itu menoleh ke arah yang ditunjuk.? Terlihat es krim yang telah jatuh di jalan. Bocah itu teringat, tadi setelah ia memilih es krimnya ada anak perempuan seumurannya juga yang membeli es krim. ?jadi itu dia, dan sekarang es krimnya jatuh?, pikirnya.

??????????????? Anak perempuan itu masih menangis, namun kali ini suaranya tak sekeras yang awal. Hanya air matanya saja yang terus mengalir. Sambil mengusap mata dan pipinya, ia sesekali memandang es krimnya yang telah jatuh itu.

Anak laki-laki ini bingung. Disatu sisi ia merasa kasihan melihat anak perempuan ini. Ia berpikir, seandainya ia adalah anak perempuan ini ia pasti juga akan sedih, menangis juga. Bagaimana tidak, es krim adalah sesuatu yang berharga baginya yang baru hari ini bisa ia dapatkan. Kehilangannya jelas membuatnya sedih. Lebih tepatnya sangat sedih. Jadi ia ingin sekali menolongnya tentu dengan cara memberikan es krim miliknya pada anak perempuan itu. Selain itu apalagi? Semua tabungan selama satu bulan lebih ini sudah habis untuk membeli es krim itu.

Disisi lain ia juga merasa sayang apabila memberikan ?impian?nya itu pada anak perempuan ini. Ia sudah sungguh-sungguh berniat menabung selama ini. Menyisihkan uang jajanya yang tak seberapa nilainya juga tak setiap hari diberi oleh orang tuanya. Tentu saja demi keinginan besarnya selama ini, es krim.

Anak laki-laki ini masih bimbang. Mana yang harus ia pilih. Dilihatnya anak perempuan itu, masih menangis. Sejenak ia teringat dengan nasihat ayahnya,

??ketika ada seseorang yang butuh bantuan dan keadaanmu saat itu mampu. Tidak merasa susah dan berat apabila kamu membantunya. Kemudian kamu memutuskan untuk menolongnya maka kamu belum bisa dikatakan orang yang baik, karena keadaanmu memang mampu nak?

?Akan tetapi orang yang sungguh baik adalah orang yang? memberikan bantuan padahal sebenarnya orang itu? sangat butuh akan bantuan itu sendiri atau ia benar-benar merasa berat dan susah apabila memberikan bantuan itu. Namun ia tetap memutuskan untuk membantu. Karena ia tahu bahwa orang yang dibantunya memang dalam keadaan lemah dan lebih membutuhkan bantuan. Itulah orang yang sungguh baik?

Bocah itu terdiam sejenak. Dilihatnya es krim itu. Lalu dipandangnya anak perempuan itu. Ia menghela nafas. Ia sudah memutuskan. Mungkin cita-citanya bisa diraih di lain waktu, pikirnya. Disodorkanlah es krim miliknya ke anak perempuan itu.

?Nih, ambil saja punyaku? katanya sambil tersenyum

Anak perempuan itu menoleh. Tangisnya berhenti. Ia memandang pada anak laki-laki itu. Namun ia masih merasa ragu untuk menerima.

?Belum kubuka bungkusnya, masih utuh? katanya sambil menunjukkan es krimnya ?Lihat, rasa coklat dengan taburan kacang, hmmm pasti enak?

Anak perempuan itu perlahan meraih es krim itu. Menggenggamnya dan sesekali dilihatnya es krim itu. Tak berkata apapun, masih terdiam.

?ya sudah aku pulang dulu? kata anak laki-laki itu sambil berbalik dan berjalan menjauh.

Sejenak ia menoleh kembali kearah anak perempuan itu. ?Jangan menangis lagi? imbuhnya sambil tersenyum.

Sedetik kemudian bocah itu berlari pulang sama kencangnya seperti saat ia berangkat. Hanya saja kali ini berbeda. Sungguh berbeda. Tak seriang tadi, tak sebersinar-sinar tadi. Bagaimanapun ia cuma anak kecil, yang berusaha meraih impiannya namun ia harus merelakannya. Bagaimanapun ia masih anak kecil, ia terus berlari. Berlari sambil berlinang air mata dan bersedih.

?

?

9 September 2019

Aku masih ingat waktu itu, sungguh menyedihkan hahaha~.

Masih jelas di dalam ingatanku.

Impian besarku, es krim rasa coklat bertabur kacang itu hmmm pasti begitu nikmat bila kunikmati saat itu . .

Aku sungguh tak tahu, apakah aku orang yang baik ataukah orang yang bodoh, sungguh aku tak tahu.

Yang kutahu Untuk Menolong, Tak Perlu Alasan yang Logis kan??.

?

Aku bersyukur telah mengalaminya,sunguh.

Sebab aku mendapat balasan yang jauh lebih baik. Hari ini, aku menemukan balasan itu.

Iya,Kamu. .? ?

?

  • view 149