Menengok Masa Lalu,, Kedua : Namamu

helmi luthfi
Karya helmi luthfi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Menengok Masa Lalu,,  Kedua : Namamu

  1. Menengok Masa Lalu

Kedua : Namamu

 

“Ayo ikut aku!” ajak temanku dengan semangatnya, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang akan mendapat es krim rasa coklat kesukaannya.
“Ke mana?” tanyaku yang sedang sibuk dan serius dengan game Assassin Creed di handphone.  

“Ayolah, ikut saja!” tambahnya, “Kalau nggak mau ikut, kembalikan hp ku!”

                Dia mengulurkan tangan bersiap-siap mengambil handphonenya dengan wajah serius. Ayolah, ini giliranku main handphonenya. Kemarin aku kalah cepat meminjam  dengan teman yang lain. Kemarin lusa tidak dipinjami karena dipakainya bermusik ria. Kemarin lusanya lagi handphonenya ketinggalan. Oke aku mengalah, mengalah kepada ‘majikan’ handphone keren ini

“iya iya, biar kubawa saja hp mu” kataku datar sambil beranjak dari tempat duduk

Selama perjalanan kutanyakan lagi apa gerangan urusannya dan jawabannya lagi-lagi sama “Sudahlah, ayo ikut aja” dengan muka berseri-seri yang semakin membuat aku penasaran. Awas saja bila dia mengajak aku untuk urusan yang tidak penting, menyia-nyiakan waktu nge-game yg berharga dan jarang ini. Tak apalah, demi teman baikku satu ini.

                Temanku ini bernama Diki, teman sebangku. Perawakannya agak sedikit pendek dibanding aku. Kulitnya coklat sawo matang, kulit khas orang Indonesia. Tapi dia selalu merasa dirinya berkulit hitam. Dia berasal dari keluarga berada, tapi sama sekali tidak ada kesombongan di dalam sifatnya. Itulah yang kusuka, masih mau bergaul denganku yang anak kampung ini.

Hanya saja aku agak risih ketika dia sudah ngobrol tentang baju-baju distro, sepatu-sepatu bermerk, atau gadget-gadget mahal dengan sesama kaum beruang, eh. . maksudku orang-orang yang mempunyai banyak uang. Aku pun cuma bisa diam tanpa kata, menjadi pendengar setia dan sesekali menanggapi ‘iya itu keren’.

Aku tidak terlalu peduli itu, bagaimanapun dia tetap teman yang baik. Dan satu-satunya kekayaan yang membuatku tertarik hanya handphone miliknynya. Maksudku game-game keren didalamnya.

“Sst. . Sini-sini!” katanya “Jangan main handphone terus, agak menunduk!”

“Ngapain kesini? Pakai nunduk-nunduk segala” kataku sambil mengalihkan pandangan ke sekitar

                Kami berada di jalan sempit tepat di belakang kelas 7A, 7B, 7C, kaca-kaca jendela kelas berderet dari ujung ke ujung dan kami tepat di belakang kelas 7B. Mau ngapain di tempat beginian? Tanyaku dalam hati bingung.

“Kukasih tau cewek yang kutaksir” katanya sambil tersenyum lebar

                 cewek yang ditaksir? ya ampun, jadi aku mengorbankan acara nge-gameku untuk dipameri cewek yang dia suka. Aku bingung dengan pikirannya, menurutku pergi jajan ke kantin lebih menyenangkan dan mengenyangkan tentunya ketimbang berada di belakang kelas sambil mengintip tak jelas seperti ini.

“yang mana ?” tanyaku datar sambil pandanganku tetap ke layar handphone.

“hmm. . Sebentar” katanya pelan sambil menoleh dengan hati-hati, takut ketahuan mengintip. “Nah itu dia! Yang rambutnya dikuncir”

“yang mana ?” kataku sambil menoleh sedikit ke arah dalam kelas, di bagian belakang memang kulihat ada beberapa cewek yang sedang ngobrol. Namun sejujurnya aku tidak begitu tertarik dengan acara mengintip ini dan juga tidak peduli, tapi untuk menghargai temanku kutinggalkan dulu sejenak game keren ini.

“banyak yang yang rambutnya dikuncir” protesku

“itu yang lagi menoleh ke arah kiri!” serunya.

“ooh itu, iya iya” jawabku sekenanya, berlagak memang tahu.

“gimana ? Cantik kan ?” tanyanya.

Waduh, sebenarnya aku tak tahu yang mana ceweknya. Di pikiranku daritadi cuma ingin segera melanjutkan main game dengan nyaman dan tenang.

“hmm. . Lumayan” kataku serius agar terlihat memang benar tahu si cewek itu dan menurutku kata lumayan itu kata yang cocok.

“Hahaha iya lah cantik” katanya dengan bangga sambil senyum-senyum.

                Sebenarnya bukan aku tidak tertarik kepada perempuan, aku tahu cewek yang cantik, yang manis dan itu memang enak untuk dilihat. Cukup dinikmati mata, sesaat.

                Aku bukan tipe laki-laki yang percaya dengan cinta. Menuruktu mereka yang selalu menghabiskan waktu dengan memikirkan cinta, ngecengin cewek, atau tebar pesona adalah orang-orang yang membuang-buang waktu, tak ada manfaat. Apalagi mereka yang masih ‘berseragam sekolah’, memang setelah dapat  si cewek lalu akan segera melanjutkan ke jenjang perenikahan? Bukankah jenjang pernikahan itu tujuan akhir kita saat berhubungan dengan lawan jenis yang kita suka?

Jadi bukannya aku tidak tertarik kepada perempuan, hanya saja belum waktunya. Masih jauh. Lagi pula aku juga belum pernah suka dengan perempuan kecuali hanya sebatas kesukaan fisik dan aku masih bingung kenapa seseorang bisa menjadi sebegitu suka dengan lawan jenisnya, yang membuatnya senyum sepanjang waktu, memikirkannya sepanjang hari, atau rasa candu ingin bertemu denganya kembali. Aku rasa itu bukan rasa suka yang biasa, yang hanya sebatas fisik. Lebih dari itu, rasa suka yang sangat dalam atau yang sering mereka sebut jatuh cinta.

                Dalam perjalanan balik ke kelas dia tak henti-henti bercerita tentang cewek idamannya. Kapan ia pertama kali melihatnya, apa yang membuatnya suka, dan cerita mengenai keberhasilan mengetahui namanya.

                Konyol. Itulah pendapatku. Aku sungguh tak tahu kenapa ia bisa amat tertarik pada perempuan yang baru dikenalnya, ah lebih tepatnya baru diketahuinya. Mungkin aku berlebihan dengan mangatakan ‘konyol’. Aku pun tak tahu wajahnya. Mungkin dia memang cantik. Tapi yang jelas aku tertarik pada satu hal darinya.  Namanya. .

 

11 Januari 2009

          Aku tak tahu harus memulainya darimana. Sudah dua hari ini tertunda. Bukan, bukan karena aku tak ingin menulis, malah sebaliknya. Ingin sekali kutuangkan agar dada ini sedikit lega. Aku hanya bingung, entah apa yang kurasakan. Sungguh aku tak tahu.

          Akhir-akhir ini rongga dadaku sering merasa sesak begitu pula dengan degup jantungku yang tiba-tiba menjadi kencang. Ah bukan penyakit, setidaknya bukan penyakit fisik. Entahlah penyakit apa ini namanya. Yang kutahu, setiap mendengar namamu ‘penyakit’ ini selalu kambuh. Sudah kupastikan melalui eksperimen sederhana yang kulakukan dua hari ini.

          Hari ini lima kali telah ku dengar namamu disebut. Dan ‘penyakit’ ini positif muncul tepat sebanyak lima kali. Entah mengapa ‘penyakit’ ini menimbulkan rasa takut bercampur senang. Takut kalau-kalau ketahuan bahwa aku merasa senang setiap mendengar namamu disebut. Senang karena setiap mendengar namamu aku selalu ingin tersenyum.

Namamu begitu ajaib. Aku sudah menyukainya sejak mendengar pertama kali. Nama yang sederhana. Nama yang tak akan pernah aku aku lupa. Iya, namamu. .

  • view 116