Numpang hidup dari organisasi

Kushendra Tarwana
Karya Kushendra Tarwana Kategori Politik
dipublikasikan 12 Maret 2016
Numpang hidup dari organisasi

Numpang Hidup dari Organisasi.

Pernah dengar istilah tsb? atau mungkin salah satu pelakunya? segeralah koreksi niat kita ketika berorganisasi.

Hal tersebut tak salah ketika kita bagian dari organisasi/ perusahaan yg orientasinya adalah uang, keuntungan, atau profitable.

Namun, akan menjadi salah ketika kita menjadi bagian dari organisasi yg orientasinya adalah nonprofit, atau bukan mencari keuntungan berupa uang.

Mungkin kita tak sadar telah menjadi bagian dari pelaku, atau orang yg numpang hidup dari organisasi.

Karna sudah menjadi kulture dari organisasi tsb, yg juga sudah dilakukan oleh para pendahulu atau senior. Sehingga menjadi sesuatu hal yg lumrah, biasa, dan santai aja keles.

Ahh, tiba2 jadi inget cerita teman yg organisasi tempatnya bernaung diberdayagunakan sebagian orang2nya, hingga kemudian memanfaatkan resources finansialnya.

Dengan strategi yg halus, lembut, menawarkan kebaikan yg dibaliknya ternyata niat busuk. Layaknya setan berwajah malaikat.?

Begini ceritanya, pada suatu ketika.
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Melainkan, yg beriman dan beramal sholeh.

Jadi, ada organisasi extra kampus (si extra) yg memiliki anggota, pengikut, atau followers di organisasi intra kampus (si intra).

Awalnya, si extra ini menjadi tempat / wadah pembelajaran baru yg tak didapat dari si intra. Hebat betul bukan?

Hingga kemudian, beberapa senior si intra yg memiliki pengaruh menjadi bagian dari si extra.

Selanjutnya, si extra sering (nampak) berkontribusi kepada si Intra dgn berbagai cara yg dilakukan, baik melalui mentoring, diskusi, dsb untuk upgrade skill sbg organisator yg hebat !! Luar biasa.?

Akhirnya, terjadi prospek rekrukmen kaderisasi yg dilakukan tanpa mengajak langsung. Namun murni inisiatif dari keinginan para anggota si intra yg ingin menjadi bagian dari si extra.

Nah, para followers dari si intra yg sudah menjadi bagian dari si extra, entah bagaimana caranya terhipnotis dgn para senior si extra.

Mungkin karna para senior si extra memiliki skill/kemampuan komunikasi NLP yg mampu mempengaruhi lawan maupun kawan melalui komunikasi.

Kemudian pada suatu masa, terjadilah sesuatu peristiwa kecelakaan sejarah !!

Si extra dengan bangga mempersembahkan seminar dengan menyewa auditorium di kampus, dan berbayar.

Karna si extra tidak punya anggaran dana dari lembaga kampus. Sehingga uang dikutip dari peserta seminar yg daftar, digunakan untuk menutupi biaya atas penyelenggaraan seminar tsb.

Seiring berjalannya waktu, menjelang hari H seminar, peserta yg mendaftar jauh untuk mencapai target. Hanya sedikit, dan ketika uang pendaftaran dikalkulasi, maka tidak cukup menutupi biaya yg dibutuhkan.

Di detik2 terakhir, lalu si extra menawarkan kerja sama dengan si intra untuk terlibat dalam menyelenggarakan seminar tersebut. Tentu dengan tawaran yg seolah saling menguntungkan, seperti mahasiswa dari kampus yg tidak di pungut biaya jika ikut seminar tsb.

Namun, si intra diminta untuk kontribusi dalam hal biaya. Yakni patungan, dengan menggunakan anggaran dana yg semestinya untuk kegiatan2 si intra yg di inisiasi sendiri.

Akhirnya, si intra sepakat untuk menerima tawaran tsb. Walaupun terkesan dadakan, dan tidak disetujui oleh seluruh anggota si intra.

Padahal, pada beberapa program kerja atau kegiatan yg diselenggarakan oleh si intra. Tidak jarang setiap anggota si intra untuk iuran, agar dana si intra tidak tergerus untuk kegiatan2 tsb.

Entah apa yg ada dalam fikiran dan hati si extra, demi kegiatannya berjalan lancar. Si extra tega menawarkan surga (kegiatan) yg saling menguntungkan, dengan mengambil bekal/amal (dana) si intra. Nampak betul, strategi setan berwajah malaikat dilakukan.

Singkat cerita, Informasi atas agenda tersebut diketahui oleh senior si intra lainnya ( si netral ) yg bukan bagian dari si extra. Banyak respon dari si netral, ada yg tenang, dan ada juga yg marah. Bahkan keluar umpatan2 tak pantas yg ditujukan kpd si extra.

Ada juga yg tak habis fikir bahwa si extra dgn naif memanfaatkan jaringan anggotanya yg juga anggota si intra dgn memdayagunakan resources finansial si intra demi kegiatan si extra.

Jika niatnya kerjasama dalam arti sinergi, kenapa tak dari awal si intra dilibatkan ?

Maka tak salah jika ada respon reaktif dari si netral yg tidak sepakat dengan cara yg digunakan oleh si extra.

Apalagi, kemudian diketahui bahwa keputusan yg diambil si intra hanya dari beberapa anggota, yakni pengurus inti.

Namun si netral sadar, respon reaktif yg timbul disebabkan informasi yg terbatas, hanya dari sebagian kecil dari anggota si intra. Khawatir menjadi fitnah, salah duga, dan hanya asumsi tanpa dasar.

Maka akhirnya, si netral berinisiatif untuk duduk bareng dengan si intra dan si extra. Agar jelas duduk persoalan sebenarnya seperti apa. Dan mencari win win solution, yakni seminar tetap diselenggarakan, peserta banyak, biaya terpenuhi, si intra kontribusi, namun bukan bantuan finansialnya.

Hal tersebut berkat, ketika mereka duduk sama tinggi, dan berargumen sama rendah.

Akhir kata, terkadang tak selamanya yg kita pandang baik belum tentu benar. Begitupun sebaliknya. Karna setan hadir dengan wajah malaikat, dia menawarkan surganya, bukan surga kita.

Sekian, terima kasih.

  • view 213