SANG PENYEMANGAT

Kurni Damur
Karya Kurni Damur Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
SANG PENYEMANGAT

 

SANG PENYEMANGAT

Oleh : Maria D. K. Damur

(Senyuman mentari menyambut pagi yang cerah, kicauan burung kecil berseruh dalam nada-nada yang melukiskan keceriaan dari balik daun hijau yang melambai. Tatapan mata menjadi sejuk saat jendela terbuka menyaksikan suatu keindahan, berderetcerita menyambut kedamaian pagi dengan seteguk kopi hitam, menjadikan hidup semakin berseri dalam semangat pagi untuk kembali beraktivita. Pak Anton adalah seorang petani kopi di Desa Colol, yang memiliki kebun kopi yang sangat luas, setiap tahunnya keluarga Pak Anton memiliki penghasilan yang cukup dari hasil kopinya. Kopi tersebut akan dijual untuk memenuhi kebutuhan kelugarnya sehari-hari. Sebelum melakukan aktivitas, istri Pak Anton selalu menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan juga suaminya, dengan menu utamanya nasi putih dan kopi hitam. Sebagai pecinta kopi hitam Pak Anton dan warga kampung akan merasakan semangat kerja yang lebih ketika sudah menunaikan rutinitas pagi.)

Ibu Bibi           : Pak bangun, sudah pagi ni kita sarapan dulu, anak – anak sudah tunggu di dapur.

Pak Anton       : Ia bu, ibu duluan ke dapur sebentar bapak nyusul. (Pak Anton bangun, lalu membersikan tempar tidur)

Ibu Bibi           : Cepat ya pa keburu siang, anak – anak mau pergi sekolah nanti mereka terlambat.

Bona                :  Bu, bapak belum bangun ya?

Ibu Bibi           : Sudah nak, tu bapakmu sudah datang.

Pak Anton       : Selamat pagi nak. (Pak Anton berdiri di dekat kedua anaknya dan memberi salam pagi)

Bona dan Anjani : Selamat pagi juga pa, bapak baru bangun? (Tanya Anjani kepada bapaknya)

Pak Anton       : (Pak Anton duduk, lalu meminta anaknya mengaambilkan segelas air hangat).

 Ia nak bapa baru bangun, anajni tolong ambilkan air hagat untuk bapak ya nak.

Anjani             : Ia pa, tunggu ya pak. (Anjani bangun dari tempat duduknya, lalu mengambil segelas air hangat untuk bapaknya, tidak lama kemudian Anjani datang dan membawa segelas air lalu memberikannya kepada bapaknya). Ini pak airnya.

Pak Anton       : Terimakasi nak. (Pak Anton menerima segelas air dari Anjani lalu di minum)

Ibu Bibi           : Pa, anak – anak kita sarapan dulu ya, nanti kalian terlambat pergi sekolah, bapak sama ibu juga mau pergi kebun. (Sambil memberikan piring, sendok dan segelas kopi hitam kepada Pak Anton dan anak – anaknya), ini nasinya, cedok sendiri ya nak. (sambil menggeserkan tempat nasi kepada Pak Anton dan anak – anaknya)

Bona dan Anjani : Ia bu, terimakasih ya bu.

Ibu Bibi           : Ia nak sama –sama.

 (Beberapa menit kemudian sarapan selesai, anak – anak siap berangkat ke sekolah, Pak Anton dan istrinya siap berangkat ke kebun).

Bona dan Anjani  : Bu, Pak kami pergi sekolah dulu ya. (sambil berdiri mengambil tas dan memakai sepatu lalu pamit kepada kedua orang tua mereka).

Ibu Bibi           : ia nak, sebentar kalua pulang sekolah nyusul bapak sama ibu ke kebun ya nak.

Pak Anton       : hati – hati di jalan nak, sampai di sekolah juga jangan nakal ya, sebentar kalua pulang sekolah tunggu adik ya bona, biar jalan sama ke kebun.

Bona                : Ia pak, bu. (Lalu Bona dan Anajni berangkat ke sekolah)

Ibu Bibi           : Pak kita juga berangkat ya.

Pak Anton       : Ia bu, tunggu ya bu bapa ambil parang sama cangkul dulu. (Pak Anton berdiri mengambil parang dan cangkul, tiba – tiba berhenti lalu berkata kepada isrtinya), Eeh bu jangan lupa bawa tepung kopi

Ibu Bibi           : (Sambil tersenyum Ibu Bibi menjawa suaminya) Ia pak, ibu sudah simpan dalam keranjang, tidak mungkin ibu lupa teman kerjanya (kopi) bapa.

Pak Anton       : (membalas senyuman istrinya) takutnya ibu lupa tadi, kalua begitu kita berangkat sudah ya bu.

(Pak Anton dan isrinya berangnkat ke kebun, sampai di kebun mereka membersihkan tanaman kopi dan sekitarnya. Begitu pun hari – hari selanjutnya mereka selalu pergi ke kebun dan membersihkan tanaman kopi tanpa mengenal lelah samapai kopinya siap di panen).

(Suatu kali keluarga Pak Anton dan semua warga desa Colol mengalami krisis ekonomi, dimana saat itu masa panen namun karena sebelum masa panen terjadi hujan yang berkepanjangan yang menyebabkan bunga kopi mengering dan kopipun tidak berbuah)

Anjani             : Bu sekarangkan musim hujan, Anjani mau beli payung bu bawah ke sekolah.

Bona                : Ia bu, Bona juga mau beli mantel.

Ibu Bibi           : (Sambil tersenyum menjawa anak –anaknya) ia nak nanti ibu beli payung sama mantel untuk kalian berdua

Bona dan Anjani : Terimakasih bu.

Ibu Bibi           : Ia nak. (Ibu Bibi berdiri meningkalkan anak –anaknya lalu pergi mendekati suaminya dan berkata) pak anak – anak minta beli payung sama mantel.

Pak Anton       : Tapi bu, bapak belum ada uang nanti bapa usahkan pinjam di tetangga ya bu.

Ibu Bibi           : (Dengan sabar ibu Bibi menjawab suaminya) ia pak.

Pak Anton       : Bu kita ambil uang ijon saja ya, pembayarannyakan bisa panen tahun depan .

Ibu Bibi            : Usahakan pinjam dulu pa, nanti kalau uangnya tidak ada mau tida mau kita ambil uang ijon itu ya pa.

Pak Aton         : Mau bagaimana lagi bu kita semuakan harapan hidupnya pada kopi saja pastinya  saat sekarang tetangga kita juga sama seperti kita .

Ibu Bibi           : Ia pa kita ambil uang ijon itu meski harganya kecil semoga dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita ya pa.

Pak Anton       : Bu bapa rencananya akan pergi merantau untuk beberapa bulan kedepan sebelum masa panen tahun depan tiba.

Ibu Bibi           : Tapi bapa jalan pasti butuh uang untuk makan dan transportasi kan, sementara untuk kebutuhan hidup kita sehari –hari saja sangat susah pa.

Pak Anton       : Ia bu tapi kalau bapa terus di sini apa yang bapa dapat lakukan untuk memenuhi kebutuhan kita bu .

Ibu Bibi           : Ia pa kita usahakan pinjam uang untuk perjalanan bapa.

 Pak Anton      : Semoga masih ada orang yang punya kerelaan hatinya untuk kita pinjamkan uangnya bu.

Ibu Bibi           : Amin pa, ibu hanya bisa berdoa semoga segala usaha kita di Ridohi Tuhan Yang Maha Kuasa.

(Seperti biasa pagi-pagi buta istri Pak Anton bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, biasanya  isrti Pak Anton selalu menyiapkan secangkir  kopi hitam untuk Pak Anton, tetapi pagi ini tidak ada secangkir kopi hitam di atas meja hanya ada segelas air putih,  Pak Anton hanya menatapnya, dengan raut waja tidak semangat. Sehabis sarapan Pak Anton pamit kepada istrinya  untuk pergi meminjam uang ditetangganya, dan ternyata tetangganya memberikan pinjaman kepada Pak Anton, Pak Anton pun pulang kerumahnya dan memberitau hal itu kepada istrinya. Akhirnya apa yang di rencanakan Pak Anton dan istrinya tercapai, Pak Anton pergi meninggalkan keluarganya dan merantau mencari nafkah di luar kota untuk sementara waktu sampai masa panen tahun berikutnya tiba dan  Pak Antonpun kembali ke kampung halamnya lalu mereka  bisa berkumpul bersama lagi dengan keluarga tercinta dan hidup bahagia selamanya).

 

  • view 18