SANG PENYEMANGAT

Kurni Damur
Karya Kurni Damur Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
SANG PENYEMANGAT

                              SANG PENYEMANGAT

                                           Oleh : Maria D. K. Damur

            Senyuman mentari menyambut pagi yang cerah, kicauan burung kecil berseruh dalam nada-nada yang melukiskan keceriaan dari balik daun hijau yang melambai. Tatapan mata menjadi sejuk saat jendela terbuka menyaksikan suatu keindahan, berderet cerita menyambut kedamaian pagi dengan seteguk kopi hitam, menjadikan hidup semakin berseri dalam semangat pagi untuk kembali beraktivitas.

Secangkir kehangatan kopi hitam menjadi menu istimewa pagi bagi para petani. Dengan aromanya yang begitu nikmat membangkitkan semangat para petani untuk beraktivitas. Rasanya tidak semangat jika bekerja tanpa ditemani secangkir kehangatan kopi hitam. Bagi para petani secangkir kopi hitam merupakan teman yang selalu setia saat bekerja. Ada yang bilang“ Didalam seteguk kopi hitam terkandung sebuah rasa semangat yang dapat di rasakan sebelum dan sesudah bekerja seharian.” Selera para petani melambangkan makna hidup yang selalu beriringan antara suka dan duka. Dan kepahitan hidup yang melekat dalam diri mereka untuk selalu mengingat bahwa hidup adalah perjuangan yang keras untuk mencapai makna kehidupan yang layak.

Desa Colol merupakan sebuah desa kecil yang berada di Manggarai Timur, yang terletak di bawah kaki gunung dan diapiti olehbukit - bukit yang ditumbuhi pohon kopi yang rimbun dan hijau, udara yang dingindansejuk.Desa Colol merupakan desa penghasil kopi terbesar di Manggarai, dengan kualitas kopi yang bagus dan terkenal hingga kemancanegara, bahkan pada masa penjajahan Belanda seorang petani kopi Cololdiberipenghargaan berupa bendera merah putih biru atas kesuksesanya dalam mengelola kopi. Sebagian besar pekerjaan masyarakat di desaColol adala petani kopi.Sebagai petani kopi kehidupan merekatidak terlepas darikebisaan mengolah dan mecicipi kopi yang merekahasilkan.Dari kebiasaan itu terbersit dalam benak mereka untuk memproduksi (menamam) kopi lebihbanyak sehingga mendatangkan keuntungan yang selanjutnya menjadi pendapatan terbesar bagi desa mereka. Pada bulan juni sampai September para petaniakan di sibukan dengan pekerjaan[1]Moihasil”. Mereka beramai – ramai kekebun dan desa mereka akan di tinggalkan untuk sementara waktu selama masa panen berlangsung.Setiap kali sebelum dan sesudah beraktivitas mereka selalu menyempatkan diriuntuk mencicipi secangkir kehangatan kopi hitam yang merekahasilkan dari perkebunan mereka yang diolah menjadi tepung kopi. Mereka mempercayai bahwa dengan mencicipi secangkir kopi hitam dapat membangkitkan semangat dalam beraktivitas, sehingga pekerjaan mereka dapatterlaksana dengan baiksesuai yang direncanakan.Hal ini menjadi kebiasaan bagi masyarakat desa Colol. Kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun ini bertujuan agar generasi penerus desa Colol dapat merasakan kenikmatan secangkir kopi hitam tanpa dipengaruhi oleh perubahan zaman, harapan mereka anak cucu mereka masih dapat merasakan cita rasa asli kopi hitam. Selain itu orang tua mereka juga mengajarkan cara memelihara kopi dengan bibit unggul, namun tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang diluar desa Colol untuk mempelajari cara menanam kopi yang baik agar memperoleh hasil yang memuaskan. Keberadaan kopi di desa Colol sangat membantu masyarakat dalam berbagai hal, misalnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang berkaitan dengan sandang dan pangan.

            Pak Anton adalah seorang petani kopi di DesaColol, yangmemilikikebun kopi yang sangatluas, setiap tahunnya keluarga Pak Antonmemiliki penghasilan yang cukup dari hasil kopinya. Kopi tersebut akan dijual untuk memenuhi kebutuhan kelugarnya sehari-hari. Pak Anton akan menyisipkan 10 sampai 20 kg kopi sebelum di jual untuk di konsumsi, karena beliau juga merupakan seorang penikmat sekaligus pecinta kopi hitam. Menurut Pak Anton secangkir kopi hitam memberikan warna dan semangat tersendiri dalam setiapaktivitasnyasehari-hari,begitu juga dengan masyarakat Colol pada umumnya kebiasaan minum kopi hitam di pagi dan sore hari menjadi  rutinnitas bagi warga kampung.

Setiap pagi kita akan mendengarkan suara denting sendok dan gelas beradu menandakan secangkir kopi telah siap untuk disajikanoleh para ibu-ibu di dapur. Sebagaipecinta kopi hitam Pak Anton dan warga kampong akan merasakan semangat kerja yang lebih ketika sudah menunaikan rutinitas pagi. Bagi Pak Anton kopi hitam akan selalu melekat pada tiap langkah dan helai nafas mereka karena aroma kopi hitamlah yang membuat kekerabatan mereka mejadi semakin erat,[2]tradisi lejong tau merupakan budaya yang sangat melekat dalam masyarakat Manggarai khususnya masyarakat Colol.

Sebelum melakukan aktivitas, istri Pak Anton selalu menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan juga suaminya, dengan menu utamanya nasi putih dan kopi hitam, setelah selesai sarapan istri pak Anton menyiapkan bekal untuk sang suami, tak lupa sebotol

kopi hangat yang  selalu menenemani isi tasnya sebagai teman penyemangat dalam melakukan aktivitasnya di kebu. Ketika pak Anton merasa jenuh dan cape dengan pekerjaanya dia meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat sembari menikmati segelas kopi hitam yang menjadi penyemangatnya.Kebiasaan ini sudah menjaditradisibaginya.Menurut Pak Anton aroma kopi hitamsangat berbeda dengan kopi produksi mesin karena kopi hitam yang dikonsums ioleh pak Anton dan masyarakat Colol proses pembuatannya dilakukan tanpa mesin dan zat kimia melainkan melaui tangan terampil dari istri-istri mereka, dengan mengolah kopi yang masihberkulit hingga menjadi tepung  dengan menggunakan alat tradisional lesung dan wajan lalu menyangrainya sehingga keaslian kopi masih terjaga dengan baik.

Suatu kali keluargaPak Anton dan semua warga desa Colol mengalami krisis ekonomi, dimana saat itu masa panen namun karena sebelum masa panen terjadi hujan yang berkepanjangan yang menyebabkan bunga kopi mengering dan kopipun tidak berbuah. Padamasakelamitu keluarga  Pak Anton dan warga desa sangat terpukul dengan adanya kejadian itu, karena kopi yang menjadi pendapatan utama mereka tidak dapat lagi menopang kebutuhan keluarga mereka, sementara kebutuhan keluarga mereka semakin hari semakin bertambah, harga sembako melambung tinggi.

Suatu malam Pak Anton duduk termenung memikirkan jalan keluar dari masalah tesebut, karena itu  Pak Anton merasa harus memiliki uang untuk membiayayai semua kebutuhan kelurganya. Pak Anton lalu memanggil istrinya, bertukar pendapat untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sedangdialami keluarganya.

 “Bu kemari dulu,” Pak Anton memanggil istrinya.

            “Oh ia bapak, kenapa pa?” tanya istrinya.

“Begini bu, ibu kan tau tahun ini kebun kopi kita tidak ada hasilnya, sementara kebutuhan keluarga kita semakin meningkat,  jadi bapak sudah memikirkan dan memutuskan untuk pergi merantau keluar kota, bagaimana menurut ibu?”

 “Iya Pak, ibu setuju dengan pendapat bapak, tadi ibu juga memikirkan itu.”

 “Nanti kita jalan semuaya pak? Atau bagaimana pak?”

 “Ibu tidak usah pergi saja, ibu urus kebun dan anak-anak saja di sini, nanti kalau kita pergi semua siapa yang bakal urus kebun dan anak-anak di sini?”

 “Oh iya baik sudah bapa, terus rencananya kapan bapak jalan?”

            “Kalau uang masih ada, rencananya minggu depan bapak berangkat bu.”

“Bagaimana bu, uangnya masih cukup untuk kebutuhan  kita dan untuk biaya transportasi bapak?

 “Bapak uangnya tidak cukup, beras juga mau habis pak, bagaimana sudah bapak?

“Ya sudah bu, uang itu beli beras saja, nanti bapak usaha pinjam uang tentagga saja untuk biaya trasportasi.”

 “Iya bapak, semoga ada ya pak.”

“Iya bu kita berdoa saja semoga ada, besok bapak usahakan.”

            “Sekarang sudah larut malam bu, besok baru kita lanjutkan, kita istirahat dulu ya bu.”

 “Iya pak, selamat malam.”

Seperti biasa pagi-pagi buta istri Pak Anton bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, biasanya  isrti Pak Anton selalu menyiapkan secangkir  kopi hitam untuk Pak Anton, tetapi pagi ini tidak ada secangkir kopi hitam di atas meja hanya ada segelas air putih,  Pak Anton hanya menatapnya, dengan raut waja kecewa dan malas. Sehabis sarapan Pak Anton pamit kepada istrinya  untuk pergi meminjam uang ditetangganya, dan ternyata tetangganya memberikan pinjaman kepada Pak Anton, Pak Anton pun pulang kerumahnya dan memberitau hal itu kepada istrinya.

          Akhirnya apa yang di rencanakan Pak Anton dan istrinya tercapai, PakAnton pergi meninggalkan keluarganya dan merantau mencari nafkah di luar kota untuk sementara waktu sampai masa panen tahun berikutnya tiba dan Pak Anton pun kembali ke kampung halamnya lalu mereka  bisa berkumpul bersama lagi dengan keluarga tercinta dan hidup bahagia selamanya.

 

[1]Moi hasil : masa panen

[2]Tradisi lejong tau : tradisi bertamu yang biasa dilakukan masyarakat Manggarai

  • view 83