Fajar ~

Kurnia Lidyaningtyas
Karya Kurnia Lidyaningtyas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Fajar ~

Adzan subuh berkumandang, Mas Fajar yang sudah mengenakan baju koko, lengkap dengan sarung dan peci membangunkanku dengan lembut.

“Dek, bangun, sudah subuh.” Bisiknya di telingaku sembari mengusap rambutku.

“Ehmm... Jam berapa mas? “ Jawabku dengan suara khas orang ngantuk.

“Sudah jam setengah 5, ayo bangun, mandi, kita sholat subuh berjamaah.”

Dengan sedikit usaha aku pun memaksa tubuhku turun dari dari ranjang menuju kamar mandi. Terdengar sayup-sayup suaramu yang sedang membaca Al-Qur’an. Suara merdu yang menenangkan, menentramkan yang selalu membuatku jatuh cinta setiap fajar. 

            Sudah kurang lebih enam bulan aku menyandang gelar sebagai istrinya. Bagiku, menjadi istrinya adalah karunia terindah dari-Nya yang tak pernah terbayangkan olehku secuilpun. Dia yang begitu soleh, tampan dan mapan tiba-tiba melamarku menjadi istrinya. Aku ingat betul saat itu adalah hari kamis di bulan februari minggu ketiga, pukul 4 sore dia datang kerumahku dengan kedua orang tuanya. Aku yang sedang tiduran sambil maianan laptop, karena memang sudah tidak ada kerjaan, masih mahasiswi tapi sudah tidak pernah kuliah beginilah nasib setelah selesai ujian skripsi, menggantung. Di bilang mahasiswa sudah tidak pernah kuliah di bilang bukan mahasiswa belum di wisuda. Ya, aku sedang dalam penantian menjadi wisudawati saat itu.

“ Lisa, keluar nak, ada tamu. “ ibuku memanggilku sambil mengetuk pintu kamarku.

“ Siapa Bu? “ tanyaku pada ibu, karena memang tak biasanya aku mendapatkan tamu tapi tidak ada yang menelfon, sms, ataupun bbm aku. Semua teman-temanku kalau ke rumah pasti janjian dulu.

“ Sudah keluar saja, pakai  kerudung yang sopan.“ Kata ibuku. Akupun menurutinya.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku keluar menuju ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu ku lihat ada Mas Fajar dan kedua orang tuanya sedang berbincang dengan ayahku.

“ Sini, nak. Duduk di samping ayah. “

Aku duduk di sebelah kiri ayah tak beberapa ibu muncul dengan membawa minuman dan juga beberapa piring cemilan untuk di suguhkan.

“ Kamu kok nggak ngomong kalau dekat sama nak Fajar, Lis. “ Kata ibuku sembari menata minuman dan cemilan tadi.

Aku hanya tersenyum, bingung mau ngomong apa, lebih tepatnya nggak tahu mereka sedang ngomongin apa aku jadi kayak orang bego pada saat itu.

“ Mangga, Pak, Bu, nak Fajar di minum tehnya. “

“ Nggeh, Bu, matur suwun. “

Mas Fajar, dan yang lainnya pun menyeruput teh yang sudah di suguhkan.

Hening beberapa menit. Setelah itu lelaki paruh baya yang aku yakini sebagai bapaknya Mas Fajar meskipun aku belum pernah melihat beliau sebelumnya tapi beliau sangat mirip sekali dengan mas Fajar, jadi wajar saja jika aku bisa dengan mudah menyimpulkan beliau sebagai bapaknya Mas Fajar memecah keheningan. Mas Fajar sendiri adalah seniorku dulu saat di SMA dan sekaligus di kampus, kami sama-sama membidangi dunia pendidikan. Ya, kami kuliah di fakultas pendidikan hanya saja berbeda prodi, Mas Fajar prodi Matematika sedangkan aku prodi Biologi.

“ Jadi, seperti yang sudah saya bicarakan di awal Pak Anhar, kami kesini dengan maksud, ingin meminang putri Bapak yang bernama Lisa Hawa Nurul Anhar untuk putra kami Fajar Bagas Pratama. Jadi, bagaimana Pak? Apakah lamaran kami di terima? “

Deg! Gila, ini aku lagi mimpi apa, kurang lebih seperti itulah yang terlintas di pikiranku saat itu. Jujur dari awal aku bertemu dengan Mas Fajar aku memang sudah jatuh cinta padanya, tapi sebagai wanita biasa yang tak punya kelebihan apa-apa  aku hanya bisa diam dan berharap suatu hari nanti akan datang sebuah keajaiban. Siapa sangka orang yang selama ini diam-diam aku idamkan kini sedang melamarku.

“ Gimana, nduk? “ Tanya ayah kepadaku. Aku benar-benar gugup saat itu, hatiku berdebar tak karuan, sekujur tubuhku terasa lemas seakan tidak ada tulang yang mampu menopang tubuhku. Bingung antara bahagia sekaligus terharu, antara mau jawab iya atau tidak.

‘ Terserah Ayah sama Ibu aja, Yah, Bu.”

“ Loh kok terserah ayah sama ibu, kan yang mau nikah kamu.”

“Lisa, bingung Yah.”

“Yasudah, kalau Ayah sama ibu sih setuju dan merestui kalian toh bapak juga sudah kenal lama dengan bapaknya Fajar, bukan begitu Bu?”

“Iya.”

Selang satu bulan setelah lamaran akhirnya kita sah menjadi sepasang suami istri. Betapa bersyukur dan beruntungnya aku menjadi istrinya. Harapku semoga kita bisa menghadapi segala rintangan yang ada, kuat menghadapi ujian, selalu bersama suka dan duka hingga pada akhirnya kita akan sehidup sesurga.

***

“ Dek, sudah belum, keburu waktu subuhnya habis nih.” Aku terlalu banyak melamun sampai lupa kalau sudah setengah jam aku di kamar mandi.

“Iya Mas, bentar lagi pakai baju.”

Pukul 5 pagi, aku sholat satu shaf di belakangmu, menjadi makmum’mu. Setiap subuh Mas Fajar selalu sabar membangunkanku, aku sendiri  sebenarnya agak malu karena tidak pernah bisa bangun subuh sendiri, kalau nggak di bangunkan Mas Fajar aku kesiangan. Tapi inilah bukti cinta mas Fajar, setiap pagi rela membangunkanku dan menjadi imam sholat subuhku. Tak jarang kami juga melakukan sholat sepertiga malam. Betapa indah dan bahagianya aku menjadi istrimu, Mas. Pribadimu sungguh sesejuk udara saat fajar, menenangkan, mendamaikan.

 

“ Wah, gerimis dek. Untung hari minggu. “

“ Iya Mas untung hari minggu.” Jawabku dengan tersenyum

“ Dek, sini. “ Ucap mas Fajar seraya menyuruhku mendekatinya yang sudah duduk di ranjang.

“ Ngapain Mas? Mau tidur lagi? “

“Iya, dek, masih ngantuk, dingin lagi. Sini peluk buat jadi pengahangatnya Mas. “ Kata Mas Fajar sambil nyengir.

“ Dasar! “ Lalu, Mas Fajar menarikku ke dalam pelukannya  lalu mengecup keningku.

“ Jadilah temanku sehidup sesurga, Dek. “ Bisik Mas Fajar aku hanya tersenyum seraya mengaminkan perkataanya dalam hati lalu aku menenggelamkan diri semakin dalam dipelukannya.

Seperti itulah rutinitas sholat subuh yang aku lakukan bersama Mas Fajar untuk menyambut sang fajar. Di hari biasa, biasanya tugasku adalah menyiapkan sarapan dan juga baju kerjanya, setelah mas Fajar berangkat ke kantor barulah aku menyusul di belakang atau terkadang juga berangkat bareng karena kebetulan arah tempat kerja kita sama.

 

 

 

 

 

Dilihat 186