Thanks for being U factor

kurnia annisa
Karya kurnia annisa Kategori Renungan
dipublikasikan 28 September 2016
Thanks for being U factor

  1. Unpredictable

Benar-benar tak bisa diprediksi. Mulanya, makhluk entahlah ini bersikap sewajarnya, menggerutu, merasa kesal dan lelah menghadapimu yang unpredictable. Tetapi, dari situlah sebuah pembelajaran baru muncul. Makhluk ini jadi lebih peka menganalisis. Kepekaannya bisa dibilang meningkat satu tingkat. Dia sekarang jadi lebih mikir, lebih berhati-hati agar tak terlalu sakit saat jatuh, ya kamu unpredictable yang membawa makhluk entahlah ini terbang terlalu tinggi, terbang di luar kemampuannya, ya memang dia ini tidak bisa terbang. Namun, dia jadi tak sadar diri akan sayap palsunya. Akhirnya saat dia jatuh, dia baru merasa begitu kesakitan. Dia benar-benar terluka sana sini, lututnya, lengannya, tak terkecuali hatinya. Pengalaman terbang ilusi itu tak terjadi hanya sekali, tapi berulang-ulang. Akhirnya, jatuh bangkit, jatuh bangkit, hanya itu pilihannya. Dan kini pun si makhluk entahlah tlah mulai belajar menganalisis. Lebih berhati-hati agar tak tertipu untuk terbang dalam ilusi lagi. Dia sekarang jadi lebih acuh pada rayuan untuk dapatkan sayap ilusi itu, meskipun sayap ilusi itu di diskon, dan diobral secara percuma.

:D

  1. Unbelievable

Mulanya, semua serba diawali mulanya, makhluk ini memang meletakkan kepercayaannya padamu. Permulaan yang sudah salah kaprah, kan kepercayaan itu seharusnya paling tepat hanya diletakkan pada Tuhan. Karena Tuhan tak pernah mengingkari janjiNya. Kepercayaan yang sulit didefinisikan, kepercayaan yang begitu rapuh karena kurangnya pemahaman yang baik. Hanya ikut-ikutan saja. Mengira bahwa teman-temannya saling percaya pada kekasih semunya, dia pun ikut-ikutan meletakkan kepercayaan itu padamu, unbelievable. Percaya bahwa kamu akan setia, ehhh –“

Tak hanya kepercayaan, harapan pun ikut-ikutan tertaruh dengan sukarela. Harapan yang terlampau besar karena kamu yang seolah-olah memberi ruang yang begitu luas, kamu bak calon pemimpin yang mengimin-imini rakyatnya dengan janji-janji yang terlalu muluk.

Pembelajaran kedua ini tak kalah berharga dengan pembelajaran sebelumnya. Makhluk entahlah ini menjadi lebih berhati-hati memaknai hatinya, memaknai setiap lintasan berbeda yang entah lewat atau mencoba menetap sementara dalam hatinya.

Dia menjadi lebih pendiam dalam memaknai itu, tapi jemari tangannya seolah menari lincah. Dia menjadi lebih suka sendiri, dia hanya ingin mendekatiNya, yang di pikirannya hanya inginkanNya, bukan yang lain.

  1. Unresponsive

Haha, terimakasih telah mengabaikan makhluk entahlah yang satu ini. Mungkin jika detik ini perhatian demi perhatian masih mengalir darimu, mungkin si makhluk satu ini masih belum bangun juga dari tidur panjangnya. Padahal kan kamu hanya ingin jarak kita aman di hadapan Tuhan. Makhluk ini mungkin begitu rindu akan perhatian , ngalay. Tetapi, makhluk ini perlahan mulai belajar, bahwa ada yang jauh lebih perhatian daripada kamu, ortuku dong. Dulu, untuk mendapatkan perhatianmu mungkin makhluk ini sering melakukan, suka sekali dengan cari perhatian, dan akhirnya dapat perhatian dari kamu, tetapi itu membuat candu, dan membuat luka infeksi yang menganga, haha. Tetapi ku sampaikan terimakasih padamu. Makhluk ini sudah mulai sadar, dan semoga menuju jalan pulang yang benar #dulu mungkin agak nyasar.

 

  1. Unresponsibility

Siapa yang mau tanggung dan mau jawab, ini bukan permasalahan yang begitu mudah di tanggung dan dijawab, karena ini berhubungan dengan sesuatu yang agak rumit, ya, perasaan. Sungguh lucu makhluk satu ini, dia yang sok tau tentang perasaan, bak penuntut di pengadilan, dia pun memiliki tuntutan padamu unresponsibility. Tentu saja kamu, yang juga sepertinya sama-sama tak menau tentang kerumitan sebuah perasaan, kan karena kita masih lah dua makhluk yang sok tau, kamu pun sepertinya kebingungan dan memilih untuk pergi. Makhluk entahlah pun semakin bingung dan tak tau harus meminta pertanggungjawaban perasaannya pada siapa.

  1. Unknown

Seperti anak kecil yang suka sekali dengan adegan sulap, karena begitu takjub melihat kelinci keluar dari topi, bahkan tak hanya kelinci, tetapi barang-barang lain yang tak mungkin semua bisa masuk ke dalam topi sekecil itu. Padahal itu hanya permainan ilusi, kecepatan tangan, itu semua hanya teknik tipuan. Begitu pun denganmu, unknown. Dulu, aku mungkin begitu penasaran, ingin sekali tau apa-apa tentangmu. Rasanya ingin lebih tau dari yang lain, haha. Tetapi kamu tetaplah unknown, begitu sulit diketahui sebenarnya kamu ini makhluk yang seperti apa. Terimakasih ku sampaikan karena menjadi pribadi yang sulit terlacak, haha. Dulu makhluk entahlah ini sering berdebat dengan pikirannya sendiri, dengan perasaannya sendiri, membenarkan kekeliruan sikapmu, merasa bahwa makhluk ini begitu mengenalmu, ternyata tidak, makhluk ini tak mengenalmu sama sekali, karena apa, karena sampai sekarang pun kamu tetaplah unknown. Tak ada alasan yang membenarkan makhluk entahlah bisa mengenalmu, lebih tepatnya benar-benar mengenalmu. Biar batas ketidaktahuan makhluk entahlah tentangmu menjadikannya tau diri, tau diri bahwa seseorang yang berhak mengenal adalah seorang teman dalam perjalanan, perjalanan yang jauh.

 

  • view 119