Bertemu Wanita Hebat #CeritaTenunTangan

Irfan Kriyaku.com
Karya Irfan Kriyaku.com Kategori Tokoh
dipublikasikan 18 Maret 2016
Bertemu Wanita Hebat #CeritaTenunTangan

Tanggal 16 Maret kemarin merupakan hari pertama acara Pasar Tenun Rakyat dengan tema Cerita Tenun Tangan yang berlokasi di Bantara Budaya Jakarta, Palmerah selatan 17, Jakarta Pusat.
Saya hadir di acara pembukaannya dan berkenalan serta bertanya kepada penenun seputar alata tenuan dan cara pengoperasionalanya yang telah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya di blog ini. Sekarang saya akan bercerita tentang sesuatu yang menarik pada saat? kunjungan saya yang kedua keesokan harinya.

Saya sangat senang karena panitia telah menghadirkan tamu kehormatan yaitu para penenun asli dari daerah yang terlibat diacara tersebut yaitu penenun dari Yogyakarta dan dari Timor Tengah Utara.

Hari pertama ini di isi acara Talkshow oleh seorang designer terkenal dari The Ikat Indonesia yaitu mas Didiet Maulana, penenun dari Yayasan Taefan Pah yaitu Ibu Yovita Meta Basin, dan mbak Adinindyah seorang socioprenur dari House of Lawe. Dalam acara tersebut mereka bercerita tentang permasahan seputar minta generasa muda terhadap kerajianan tenun dan juga peramasalahan dan pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri.

Saya tertarik dengan cerita ibu Maria Yovita Meta-Bastian Pendiri dari Yayasan Tafean Pah bercerita pada saat? Mama Yovita sapaan beliau, berkunjung ke sebuah desa yang sangat miskin karena kekurangan air. Kemudian, dia bertemu seorang janda miskin yang tak memiliki apapun kecuali keterampilan menenun. Namun miris, hasil tenun sang janda hanya dihargai seikat jagung. Mama Yovita pun tersadar? jika daerah asalnya begitu kesulitan dalam menjual hasil tenun.?

Dari cerita itulah saya mulai tertarik dengan sosok naras sumber ini, siapakah dia? Dengan modal brosing di internet menggunakan nama beliau akhirnya saya tau siapa sebenarnya Mama Yovita ini.

Maria Yovita Meta-Bastian

Seorang ibu yang sangat sederhana, gaya bicaranya yang sangat santun? ini adalah wanita yang memiliki ide brilian yang mampu membuat dunia berpaling memperhatikan apa yang dilakukannya. Lahir pada tanggal 4 Desember 1955 di?Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) adalah?orang pertama dari Indonesia yang menerima penghargaan Prince Claus Awar tahun 2004, sebuah penghargaan bagi pelestari seni tradisional dan kebudayaan yang diberikan oleh Prince Claus Fund, lembaga nirlaba berpusat di Den Haag, Belanda.

Lembaga inilah yang diam-diam memperhatikan kerja keras Ibu Vita, begitu Yovita biasa dipanggil, dalam mengembangkan seni tenun tradisional Biboki,Biboki adalah nama Suku Biboki yang bermukim di Desa Temkessi, nun jauh di atas pegunungan, sekitar 2-3 jam naik sepeda motor dari Kefamenanu. Beliau tidak pernah bermimpi bahwa pada suatu saat akan mendapat penghargaan dari dunia internasional, "Sebenarnya dengan segala keterbatasan yang saya miliki, yang menjadi harapan saya adalah kaum kecil dapat menolong diri mereka sendiri dan memperbaiki status sosial kaum perempuan serta melestarikan budaya leluhur mereka," ujarnya lagi tentang apa yang dikerjakannya selama ini.

Beliau mengaku, sebenarnya dia hanyalah melakukan apa yang diamanahkan orangtuanya dulu."Orangtua saya sejak kecil mengajarkan agar kami sekeluarga bisa bermanfaat bagi sesama, sehingga prinsip itulah yang saya gunakan," katanya.

Bagi saya, akunya, setiap orang yang mendapat kesempatan untuk hidup telah dikaruniakan talenta dari Tuhan. Karena itu, kalau Tuhan masih memperkenankan seseorang untuk hidup, hidup itu harus berguna. "Untuk itulah, saya harus melakukan sesuatu sehingga paling tidak orang tahu bahwa saya punya kontribusi untuk masyarakat."

Pada 1989 Maria Yovita Meta-Bastian mendirikan Yayasan Tafean Pah (Rumah Dunia) di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tengara Timur.

"Waktu itu, kami mulai membina satu kelompok perajin tenun ikat dengan jumlah anggota hanya 8 orang. Mereka adalah warga Desa Matabesi, Kecamatan Biboki Selatan. Sekarang, sudah ada kelompok-kelompok tenun, dan saya dipercayakan sebagai koordinator sanggar. Sanggar kami namanya Sanggar Biboki, di bawah Yayasan Tafen Pah," kata Yovita, yang juga pernah menerima penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto atas jasanya dalam mengembangkan home industry.

Yayasan ini mengajak penenun untuk kembali menggunakan benang dari pohon kapas yang ada serta pewarna dari lumpur? dan berbagai tanaman penghasil warna serta mencoba terus mengembangkan tenun dengan motif asli Biboki, dengan inovasi dan pendekatan yang lebih modern. "Saya memulai usaha untuk melestarikan tenun ikat Timor, dengan filosofi membangun daerah dengan apa adanya dan sebagaimana adanya."

Yayasan Tafean Pah memiliki pusat kegiatan sekaligus gerai produk yang dinamai ?Biboki Art Shop?. Di sini penenun, baik anggota yayasan maupun tidak, bisa menitipkan kainnya. Tak hanya memberdayakan penenun, Yayasan melebarkan kegiatan dengan mengadakan pelatihan bagi anak-anak Sekolah Dasar.

Kurikulum Menenun di Sekolah Dasar

Mama Yovita mulai khawatir melihat sedikitnya jumlah generasi muda yang mau melestarikan kerajinan tenun terutama di tanah kelahirannya yang memiliki tradisi dan ada yang kuat mengenai tenun. Kain tenun digunakan dalam segala acara penting, seperti pernikahan, kematian, atau berperang. Salah satu contoh adalah adat Pernikahan. Syarat sebuah pernikahan umumnya wajib dilengkapi dengan memenuhi aturan sesuai adat atau tradisi yang berlaku.

Para gadis NTT, tepatnya di Timor Tengah Utara dan Timur Tengah Selatan, baru diizinkan menikah apabila membuat sako sirih alias tas membuat sirih.

Sako sirih dibuat dari kain tenun khas daerah yang berbentuk bulat dengan tali sandang yang dikepang di bagian samping tas. Proses menutup tas kain ini tidak menggunakan sereting, tetapi benang serut. Umumnya, tas ini digunakan kaum pria untuk menyimpan sirih mereka. Nantinya, pada hari pernikahan, para gadis juga akan mengenakan kain tenun dengan warna hitam motif kotak-kotak merah dan coklat. Kain tersebut disebut kain Tais.

Karena kekawatiran itulah mama Yovita mengajukan surat ke pemerintah untuk membuka kurikulum khusus menenun dan melakukan pendekatan ke berbagai sekolah. "Tidak mudah awalnya, ada sekolah yang menolak, tapi ada juga yang menyambut baik," imbuhnya

"Semua anak disuruh sekolah, sedangkan disekolah tak ada kurikulum menenun. Hanya anak-anak yang tak mampu bersekolah (kondisi ekonomi kurang baik) yang menenun," ujar mama Yovita di acara jumpa pers Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Selasa (15/3/2016).

Ada tiga sekolah Dasar di kecamatan Biboki, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dibimbing oleh mama Yovita dan rekan. Sebanyak 16 siswa SMP dan 55 anak SD mendapatkan beasiswa untuk membantu biaya sekolah.

Karya tenun mereka berupa syal dapat langsung dijual dengan harga Rp 15.000 - Rp 40.000. Selain itu, hasil tenun mereka? dijual ke Jakarta dan uangnya dikumpulkan untuk beasiswa para penenun cilik di NTT.??

"Mereka sangat senang bisa mendapat uang. Masalahnya, uangnya sering habis untuk jajan. Jadi, kami bilang boleh jajan tapi setengahnya disimpan untuk membeli bahan tenun," terangnya dan disambut tawa para tamu yang hadir.

Inilah sedikit cerita tentang mama Yovita seorang wanita hebat dari Biboki, Nusa Tenggara Timur yang saya ambil dari beberapa sumber di internet. Melalui Yayasan ini, mama Yovita berhasil memberdayakan lebih dari 300 penenun memproduksi tenun biboki yang menggunakan benang dan pewarna alami.? Harga kain dijual berkisar Rp185 ribu-350 ribu. Hasil menjual tenun alami ini membuat para pengrajin bisa hidup lebih enak. Dalam sebulan, setiap penenun mereka bisa meraup? kurang lebih Rp 2 juta. Rata-rata uang ini manfaatkan untuk menyekolahkan anak.?

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, seperti pesan Presiden Soekarno "Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya."

Sumber :

  1. Yovita Meta Menduniakan Tenun Biboki?
  2. Berkat Tenun, Anak SD Nusa Tenggara Timur Bisa Sekolah, Female Kompas.com
  3. Syarat Wajib Wanita NTT untuk Menikah, Female Kompas.com
  4. Yayasan Tafean Pah
  5. Pasar Tenun Rakyat