Daeng Soetigna Dan Google Doodle

Irfan Kriyaku.com
Karya Irfan Kriyaku.com Kategori Tokoh
dipublikasikan 13 Mei 2016
Daeng Soetigna Dan Google Doodle

Sudah lama saya tidak mampir di sini, memposting sesuatu baik tulisan dan karya proses kreatif saya. Ya karena disibukkan dengan pekerjaan kantor dengan membuat sebuah web yang harus dikerjakan sendiri dengan belajar dari tutorial di Youtube dan juga kegalauan kehidupan pribadi yang akhirnya malas untuk ngutak-ngutik pembuatan alat tenun yang sedang saya pelajari hehehe.

Kali ini saya akan memposting yang tidak jauh dari sesuatu kreatifitas yaitu tentang seorang Daeng Soetigna. Mungkin sidikit basi dikarena kalian juga pasti sudah mencari tau tentang tokoh inspirasi ini. Tapi gak apalah, semakin banyak orang yang menulis tentang beliau semakin banyak pula orang membaca dan penasaran tentang tokoh ini. Siapakah dia? sayapun tidak tahu dan tidak kenal beliau dan baru tahu pagi ini setelah membuka google ternyata muncul tampilan sketsa seorang lelaki yang sedang mengajarkan alat musik kepada dua muridnya. Lebih tepatnya, alat musik tersebut adalah angklung. Gak percaya? coba lihat saja pada halaman depan mesin google.

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Hari ini, Jumat (13/5/2016), Google menandai hari Daeng Soetigna yang ke-108. Daeng Soetigna lahir di Garut, Hindia Belanda, 13 Mei 1908 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 8 April 1984 pada umur 75 tahun. Karena kedua orang tuanya termasuk bangsawan Sunda, Pak Daeng beruntung dapat menikmati pendidikan zaman Belanda yang saat itu masih sangat terbatas bagi pribumi.

Beliau adalah seorang guru yang lebih terkenal sebagai pencipta angklung diatonis. Pak Daeng, demikian panggilan akrab Daeng Soetigna, memiliki kemampuan yang luar biasa dibidang alat musik. Dia mampu mengubah permainan alat musik angklung yang awalnya memiliki nada dasar pentatonis menjadi diatonis. Karya dia inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional. Ia juga aktif dalam pementasan orkes angklung di berbagai wilayah di Indonesia.

Sejak tahun 1928, Daeng memulai karirnya sebagai guru kesenian. Pada 1942, saat Jepang datang ke Indonesia, Daeng ditunjuk sebagai Kepala Sekolah HIS (belakangan namanya berubah jadi Sekolah Rakyat). Pak Daeng pensiun sebagai pegawai negari sipil pada tahun 1964 (saat berumur 56 tahun). Dengan bebasnya dia dari tugas rutin sebagai pegawai pemerintah, maka Pak Daeng aktif mengembangkan angklung. Dia melatih di berbagai kelompok angklung seperti SD Soka, SD Santo Yusup, dan SD Priangan. Demikian pula perkumpulan ibu-ibu Militer maupun suster di gereja RS Borromeus. Atas jasa-jasanya, pada masa tuanya inilah Pak Daeng mulai memperoleh berbagai penghargaan, termasuk SATYA LENCANA KEBUDAYAAN dari Presiden RI.

Dalam proses kreatifnya ini Pak Daeng tidak begitu saja menciptakan Angklung dengan nada diatonis, Pak Daeng Soetigna memiliki beberapa guru yang sangat berjasa, salah satunya yaitu : 

  • Pengemis tua (tidak tercatat namanya) yang memainkan lagu "Cis kacang Buncis" dengan angklung tradisionil. Pak Daeng kemudian membeli peralatan angklung tersebut, dan mendapat inspirasi untuk memakai angklung sebagai alat mengajar seni musik, menggantikan alat seperti mandolin dan biola yang saat itu sangat mahal.
  • Pak Djaja adalah seorang empu pembuat angklung yang saat itu sudah sepuh. Pak Djaja dengan senang hati menerima ide Pak Daeng untuk membuat angklung diatonis, dan menurunkan pengalaman puluhan tahunnya, sehingga angklung dengan tangga nada diatonis itu berhasil terwujud.
  • Pak Wangsa adalah petani yang memberi tahu bahwa bambu akan awet jika di potong pada saat uir-uir berbunyi. Itu adalah tanda musim kemarau sudah mulai dan bambu berada pada keadaan kering.
  • Pak Setiamihardja adalah sobat pak Daeng sewaktu masih di Kuningan. Setelah pak Setiamihardja juga pindah di Bandung, dialah tangan kanan Pak Daeng dalam membuat angklung, karena sangat terampil dan apik mengerjakan angklungnya. Tidak heran, karena Pak Setia adalah seorang guru kerajinan tangan.

Atas jasanya mengembangkan alat musik tradisional Angklung, Daeng Soetigna, banyak mendapatkan penghargaan dari pemerintah Indonesia seperti misalnya penghargaan Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan, dari Presiden Republik Indonesia, Soeharto, pada tanggal 15 Oktober 1968. Setelah beliau tutup usia pada 8 April 1984, beliau masih tetap mendapatkan penghargaan yaitu Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013, Pencipta Angklung, Menteri Hukum dan Hak Asasi Republik Indonesia, Amir Syamsudin, pada tanggal 26 April 2013.

Tidak hanya oleh pemerintah, atas jasa-jasanya di bidang seni dan peralatan musik tradisional Angklung ini, hari ini Google Doodle merayakan HUT Daeng Soetigna ke-108 dan membuat semakin banyak orang Indonesia mengenal siapa Daeng Soetigna.

Itulah sedikit tentang sejarah pak Daeng Soetigna dan proses kreatifnya dalam membuat sebuah karya berupa Angklung Padaeng dengan nada diantonis yang saya ambil dari berbagai sumber di internet. Sengaja saya ulas di sini, dikarena saya tau di Inspirasi.co ini banyak anak muda yang kereatif dan berusahan untuk menjadi seorang inspirator bagi dirinya dan lingkunganya. 

Dengan tulisan tentang tokoh inspirasi jaman baheula yang jarang kita baca dan kadang anak muda sekarang melupakan tokoh sejarah serta alat musik tradisionalnya, mungkin dengan tulisan ini bisa menjadi ide dan inspirasi kalian untuk lebih kreatif dalam mengolah sesuatu karya berupa kreatifas dengan menggunakan alat-alat sederhana yang ada di daerah masing-masing atau mengembang alat tradisional baik musik, keterampilan dan juga budaya sendiri.

World Record Angklung Ensemble-Washington, DC 2011 – Thousands (around 5,182) of people responded to an invitation by the Indonesian Embassy in Washington to join in the world record breaking feat. The throng included Indonesians, Washingtonians, friends of Indonesia and a handful of tourists. They played angklung for 30 minutes – under the summer sun and heat.

Saya sangat tekesan dan ucapan Presiden Soekarno “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.”  Dan selayaknya kita generasai muda mengolah kekayaan alam Indonesia ini bukan orang lain. Karena pemuda adalah Harapan Bangsa dan Maju atau Mundurnya Indonesia itu tergantung dari anda para Pemuda.

Sumber : Wikipedia Daeng Soetigna , Wikipedia Angklung  , Google