Kisah Pendakwah Tanpa Perlu Orang Tau Bahwa Dia Sedang Berdakwah.

Irfan Kriyaku.com
Karya Irfan Kriyaku.com Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 April 2016
Kisah Pendakwah Tanpa Perlu Orang Tau Bahwa Dia Sedang Berdakwah.

Berdakwah melalui media sosial sangat manjur sekali. Pengguna media sosial merupakan target empuk bagi para pendakwah untuk melakukan misinya baik itu misi murni mengajarkan agama Islam atau mengajarkan ajaran pemahaman versi mereka (aliran sempalan). 

Dengan berpedoman pada hadist HR. Bukhori yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. 

Bahkan para pemilikin akun media sosial pun menggunakan akunnya dengan menshare postingan-postingan pendakwah medsos atau versi pemahaman dia tanpa memiliki ilmu tentang apa yang disampaikan. Kadang kala para pemilik akun tersebut hanya melihat judul dan gambar tanpa melihat isi artikel langsung mengshare kembali ke akun mereka dengan berpedoman dalil di atas untuk mendapatkan pahala atau suatu pencitraan bahwa "ini loh gue.." atau berharap orang yang membaca postingan dia mendapatkan hidayah. 

Merubah seseorang untuk ikut dan menurut kepada apa yang kita sampaikan tidak semudah membalikan telapak tangan, bisa atau tidaknya tergantung orang tersebut dan Allah yang Maha Pemberi Hidayah. ( Pemahaman tentang hidayah bisa di baca di sini )

Apalagi postingan dengan dalil dakwah agama disusupi kepentingan politik serta pemahaman berdasarkan aliran sempalan yang mereka anut. Dengan judul dan isi sesuai penapsiran ala mereka bertujuan agar orang yang membacanya ikut dengan mereka atau berharap menjadi opini publik dan viral di media sosial, yang pastinya keuntungan bagi si pemosting tesebut. Sedangkan dampak yang negatif adalah terjadinya perdebatan yang berakibat ketidak harmonisan antar umat seagama atau yang tidak seagama bahkan perpecahan warga negar yang pro dan kontra. 

Jika kita ingin mengamalkan apa yang di hadist kan tersebut di atas, dengan berharap keridhoan Allah serta sebagai pengamalan apa yang kita pelajar dalam mendalami agama, mungkin kisah di bawah ini akan menginspirasi kita dalam berdakwah :  

 

Kisah Sultan Murad IV dan Mayat di Hutan

 

Di dalam buku hariannya Sultan Turki Murad IV mengisahkan, suatu malam, sang sultan merasakan tidak enak badan, perasaannya tidak nyaman, tidurpun tidak nyenyak. Ada apa ini gerangan? Padahal sang sultan sudah mengambil wudhu, sholat malam tapi tetap merasakan gelisah.

Dipanggilah semua penasehat spiritual (ulama). Sang sultanpun berkonsultasi dengan kondisinya. Diantara pensehat itu ada yang menanyakan mungkin pagi tadi sultan belum berkeliling kebawah. Sang sultanpun menjawab, "sudah"
"Kalau begitu bagaimana kalau malam ini sultan berkeliling lagi," usul sang pensehat.
"Ok," sahut sultan

Malam itu juga Sultan Murad IV beserta pensehat spiritualnya berkeliling ke desa-desa penduduk dengan pakaian menyamar seperti rakyat biasa. Ketika berkeliling itu sang sultan mencium bau busuk menyengat. Baunya benar-benar busuk. Sang sultan penasaran.


"Bau apa ini? Sangat busuk sekali," tanya sang sultan kepada penasehatnya.

Setelah mencari-cari sumber bau busuk itu, akhirnya ketemu juga. Bau busuk itu ternyata bersumber dari hutan. Setelah ditelusuri ke tengah hutan, sang sultanpun terkejut karena menemukan mayat. Sultanpun bertanya, mayat siapa yang ada ditengah hutan ini. Tak satupun yang mengetahuinya.

Sang sultanpun membawa mayat itu dan ada penduduk yang mengetahuinya.
"Oh itu mayat si pulan, si pemabuk. Dia seorang pezinah, orang zindik. Biarkan saja jangan diurus mayatnya," kata salah satu penduduk yang mengetahui mayat tersebut.

Sang sultanpun membawa mayat itu ke istrinya dan menanyakan bahwa benarkah mayat tersebut itu suaminya. Wanita itu mengiyakan bahwa itu benar adalah mayat suaminya.

"Ibu coba ceritakan suami ibu ini semasa hidupnya. Sampai-sampai, tidak ada penduduk yang mau mengurus dan menguburkannya?" tanya sang sultan penasaran.

"Sebenarnya saya sudah menduga. Akhirnya ketakutanku benar juga. Kalau sampai suamiku meninggal pasti tidak ada penduduk yang mengurus dan menguburkannya karena dianggap pemabuk dan pezinah," jawab sang ibu menangis.

"Sebenarnya kami ini orang berkecukupan. Setiap malam ini suamiku keluar mengetuk pintu wanita nakal. Lalu uang hasil kerja kerasnya diberikan kepada wanita nakal itu. Dia akan menanyakan kepada wanita itu. Berapa tarifnya semalam? Kemudian diberikannya uang lebih kepada wanita nakal itu untuk satu hari penuh dan ia akan berpesan jangan buka pintu lagi. Kalau ada tamu anak muda, jangan bukakan. Terus ia lakukan seperti itu dari pintu ke pintu hingga uangnya habis.

Selain itu suamiku juga sering ke kedai minuman dan memborong semua minuman keras lalu dibuangnya secara sembunyi-sembunyi. Saya sudah memberikan nasehat kepada suamiku dengan apa yang dilakukannya akan dianggap jelek oleh masyarakat dan memang setiap malam ini orang-orang selalu melihat suamiku yang sering masuk rumah wanita nakal dan kedai berisi minuman keras.

Saya tanya kepada suamiku mengapa melakukan ini? Suamiku menjawab supaya bisa menyelamatkan generasi muda ini agar tidak terjerumus dari wanita penghibur dan minuman keras. Tapi saya takut jikalau engkau meninggal, nanti orang-orang tidak mau mengurus dan menguburkan jenazahmu. Lantas suamiku menjawab, Allah akan mengirimkan sultan dan orang-orang soleh untuk merawatku," jawab sang ibu panjang lebar bercerita kepada sang sultan.

"Subhanallah. Suami ibu itu wali Allah. Saya sultan. Saya bersama orang sholeh dan ulama yang akan memandikan, menyolatkan, dan mengkafaninya" jawab sultan menangis sambil membuka penyamarannya.

 

Dari cerita tersebut kita dapat ambil pelajar yang sangat berharga dalam berdakwah yaitu dengan cara peraktek nyata, bukan hanya melalui tulisan atau artikel yang bermuatan dakwah tapi kita sendiri tidak melakukannya apalagi postingan tersebut isinya mengandung provokasi. 

Saya membaca sebuah artikel dengan judul Ayat-ayat Dalam Al Qur’an Serta Hadits-hadits Dakwah bahwa dakwah adalah wajib bedasarkan sumber yang di tulis dalam artikel tersebut. Tapi dakwah yang seperti apa? sedangkan Islam adalah Rahmatan lil Alamin dan seharusnya berdakwah tanpa memaksa atau memancing suatu perdebatan dengan bahasa yang provokasi. Dan Rasulullah mengajarkan serta menerapkan metode berdakwah tidak memaksa dan menyampaikan dengan lembut serta mempraktekan dengan akhlak Beliau. 


“Sesungguhnya Allah Maha lembut, mencintai kelembutan, dia memberikan kepada yang lembut apa yang tidak diberikan kepada yang kasar”

“Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah (kelembutan) itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya”

“Barang siapa yang tidak terdapat kelembutan padanya, maka tidak ada kebaikan padanya”

“Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan.”

Dan apa hubungan dakwah dengan cerita di atas? Hubungannya sangat erat, yaitu jika kita ingin menasehati orang lain maka berkacalah dahulu apakah kita sudah sesuai dan peraktekan dengan apa yang akan kita sampaikan kepada orang yang kita nasehati. Aksi nyata yang di butuhkan bukan konsep dan perkataan saja. Hendaknya kita jangan terburu-buru menilai seseorang dari luarnya saja. Begitu pula dengan kondisi sekarang di mana terjadi ledakan informasi yang tidak terkontrol.

Dengan banyak beredaranya informasi, kita jangan cepat langsung percaya apalagi bukan dari sumber aslinya. Jika tidak tahu, diam adalah lebih baik. Serta jangan menilai orang lain dari fiksiknya saja, lihat dia dari sisi lain, yaitu perbuatan dan prilaku kesaharian, di situ kita bisa melihat siapa yang harus kita ikuti dan kita bisa menerima nasihatnya. 

*Sebuah opiniku tentang maraknya pendakwah online yang bertebaran di media sosial yang sudah membuat resah dan telah jauh dari konsep dakwah yang diajarkan Rasulullah dan Islam sebagai Agama Ramatan lil Alamin. 

 


  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Jadi doyan nulis aheeyyyy

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Saya setuju

    • Lihat 9 Respon