Observasi Tenun Baduy di Bentara Budaya Jakarta #CeritaTenunTangan

Irfan Kriyaku.com
Karya Irfan Kriyaku.com Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 09 April 2016
Observasi Tenun Baduy di Bentara Budaya Jakarta #CeritaTenunTangan

Sebenarnya sejak kemarin gue pangen datang ke pameran Rayakan Perbedaan bertajuk "Baduy Kembali", tapi karena kemarin bigbos datang ke kantor dan banyak meeting yang harus di ikutin, jadi gagal deh. Baru kesampaian datang hari ini sepulang kantor gue baru bisa kesana.?

Sesampainya di sana area pameran terlihat sepi, hanya segelintir pengunjung yang asik melihat-lihat isi pamesan dan berfoto ria di objek pameran. Hmm.. apa mungkin sepinya pengunjung karena informasi acara ini kurang promo atau memang kurang menarik buat orang jakarta untuk isi liburan mengenal pameran kebudayaan? Atau ada acara yg bersamaan yang lebih menarik dari pada mengunjungi pameran ini?. Atau mungkin karena gue aja yang datang kesorean sekitar jam 5an jadi terlihat sepi hahaha.?

Ya sudahlah, gue gak ngebahas ramai atau tidak pameran tersebut, karena itu urusan team panitia penyelenggara sebagai bahan evaluasi suksesnya sebuah acara. Yang sekarang gue bahas adalah tentang proses keinginan belajar menenun dengan mengobservasi alat tenun dan tanya jawab kepada para penunun baduy di pameran tersebut.?

Sebenarnya informasi tentang pameran Baduy Kembali ini gue dapat dari mbak Kamila Hetami, teman perajut dan juga terobesesi dengan tenunan dan juga berniat sama yaitu ingin belajar menenun. Sayangnya informasi ini telat sampai ke gue, jadi tidak bisa melihat acara pembukaan yang sangat seru setelah gie liat foto-foto pembukaan yang berseliweran di internet.

Area pameran di sana di isi oleh perabotan keseharian yang yang dipakai oleh orang baduy luar. Perabotan rumah tangga itu lebih banyak terbuat dari kayu dan bambu, dan juga alat berladang. Selain perabotan rumah tangga, alat bantu berladang yang di pamerkan, ada juga pakian dan kain tenun serta proses pembuatan yang pastinya itu salah satu ini dari pameran tersebut.

Karena kain tenun bagi masyarakat baduy luar merupakan salah satu komoditi yang cukup potensial dalam perekonomian mereka selain berladang.?

Setelah berkeling dia area pemeran tersebut, akhirnya gue menemukan apa yang gue cari, yaitu alat tenun tradisional baduy. Sayangnya alat tenun itu dalam kondisi terlipat dan tidak dalam kondisi siap pakai atau bisa dites penggunaannya. Selain alat tenun gedogan dipamerkan ada juga alat pemintal benang dan juga foto-foto penenun yang sedang menenun.?

Karena di area tersebut tidak ada panitia pameran yang asli baduy, atau yang mengerti semua alat yang dipamerkan, jadi gue gak bisa bertanya-tanya tentang alat tenun tersebut.

Untungnya gue gak keabisan akal, dan bertanya kepada salah satu penjaga pameran tersebut tentang alat tenun, dan ternyata gue salah datang hari, seharusnya kemarin datangnya karena kemarin ada acara demo alat tenun oleh penun asli baduy luar. Tapi dia menyarankan gue ke area penjualan hasil kerajinan baduy di samping gedung pameran, karena di sana penunggunya adalah asli baduy dan juga adalah penenun.

Tanpa pikir panjang, gue langsung ke TKP dan benar bahwa yang nunggunya adalah orang baduy asli, dua orang gadis baduy yang juga bisa menenun. Eh ada juga ternyata alat tenun yang tergelatak disana dalam kondisi tidak dilipat.

Mulai dah gue beraksi bak wartawan investigasi, bertsnya-tanya sepurtar alat tenun dan cara menggunakanya. Selain itu gue beratanya gimana cara tenun di sana. Karena mereka tidak bisa menjawabnya, akhirnya gue mendatangi ibunya, oh ya ternyata mereka yang ada di situ merupakan satu keluarga loh.?

Sedikit sejarah tenun baduy dan juga alat serta pembuatan tenun serta motifnya dicerita oleh si ibu. Tentang keinginan gue belajar tenun di sana disambut baik, dan gue dikenalkan oleh suami si ibu dan akhirnya tukaran nomor handphone jika ingin kesana bisa hubungi beliau.

Satu jawaban tentang keingintahuan tenun sudah terjawab, yaitu belajar nenun di sana. Tinggal gue cari waktu untuk ke sana, disarankan 3 hari, yaitu jum'at berangkat, sabtu full belajar dan minggu pulang.?

Semoga bisa cepat terwujud, ude gatel pengen belajar tenun diajari langsung oleh penun tradisional dan lokasinya lumayan dekat masih seputar jawa barat dari pada gue harus belajar ke flores, tapanuli atau ke NTT.. boncos di ongkos hahahaha.

Oh ya sebelum pamit pulang, gue beli tas rajut dari tali kukit kayu, harganya bervariasi untuk ukuran besar yang bisa masukin laptop dibandrol 200ribu, sedangkan yang kecil bisa masuk buku saku dan perentilan seperti handphone dan lain-lain di bandrol dengan harga 100ribu, gue beli yang ukuran kecil, karena pas liat isi dompet emang cuma ada duit segitu hahaha.

?

*Foto diambil di internet, karena fote jepretan gue gak cocok ditampilin mewakili isi tulisan dan sizenya kegedean kalo posting konten ini via handphone.