Antara Manusia dan Manusia, Antara Manusia dan Agama

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2016
Antara Manusia dan Manusia, Antara Manusia dan Agama

Pada akhirnya akan terlihat bahwa agama, sebagaimana hal lainnya di kehidupan ini, adalah alat, yang karenanya ia bisa bernilai negatif atau positif tergantung bagaimana ia digunakan dan oleh siapa ia digunakan, yang berarti sudah sewajarnya kita manusia “membebaskan diri” dari agama demi kelangsungan hidup umat manusia yang lebih baik—atau setidaknya mendingan. Tapi jangan dulu keliru menafsirkan hal ini sebagai tidak beragama apalagi tidak bertuhan. Kendati kita “membebaskan diri” dari agama, kita pada saat yang sama tetap bisa beragama, juga bertuhan. Berada di dalam agama namun pada saat yang sama berada di luarnya. Mengikatkan diri pada agama, namun pada saat yang sama “membebaskan diri” darinya. Dalam bahasa yang sedikit sederhana pernyataan tersebut akan terdengar seperti ini: kau membiarkan dirimu terkekang oleh (aturan-aturan) agama namun kau menjaga dirimu tetap terbuka pada kemungkinan bahwa apa yang kauyakini itu bisa saja salah dan di luar apa yang kauyakini ada hal-hal yang “lebih benar”. Dan sebab di kehidupan ini berlaku dualitas, hal tersebut mungkin dilakukan—paling tidak secara teori.

Begitulah ia coba memulai ceritanya beberapa hari yang lalu dan sampai detik ini ia masih belum juga melanjutkannya seolah-olah ia tak akan pernah bisa melanjutkannya. Barangkali kalimat-kalimat itu salah, atau mereka sepenuhnya benar hanya saja bukan tipe yang cocok ditempatkan di pembukaan cerita. Begitu ia berpikir. Ia telah mengeluhkan dan menggerutukan hal ini dalam benaknya sekian puluh kali dan ia sejujurnya tahu aktivitas ini tak baik bagi baginya sebab akan menghambatnya untuk berkreasi, menjebaknya pada suatu ruang-waktu sempit di mana sesuatu tak berguna itu terus terulang dan terulang dan akan seperti itu hingga ia lelah dan kehabisan tenaga kecuali ia membebaskan diri dari sesuatu itu—persis seperti izanami dalam sejarah klan Uchiha. Pagi ini ia terbangun dengan niat membebaskan diri yang kuat. Ia tak mau kembali bercermin dan mendapati sosok menjengkelkan di dalam cermin itu mengangkat sebelah alis dan menyunggingkan senyum yang hanya bisa ia artikan sebagai sebuah cemoohan.

Ia mengambil ponsel dan mengecek jam. Delapan belas menit dari pukul delapan. Otaknya melakukan penghitungan dengan sangat cepat dan selanjutnya memberinya informasi bahwa ia hanya tidur tak lebih dari tiga jam saja. Pantas aku masih merasa pusing, gumamnya, sambil meletakkan kembali ponsel itu di samping kanannya, di atas buku panduan mempelajari bahasa Jepang berwarna sampul kuning terang yang didapatkannya dulu ketika mengikuti sebuah kelas reguler hampir enam bulan lamanya. Ia bangkit, menjejakkan kaki di lantai beberapa saat kemudian, lantas keluar dari kamar menuju kamar mandi. Meski matahari jelas sudah menampakkan diri, ia memutuskan untuk mengambil wudu dan melakukan salat fardu.

Kemarin, ketika langit masih gelap, ia sudah terbangun. Alarm di ponselnya bahkan belum berbunyi saat itu, dan ia punya cukup keleluasaan untuk bangkit dan menuju kamar mandi dan mengambil wudu dan melakukan salat fardu seperti sekarang. Namun karena satu dan lain hal, yang sayangnya tak bisa kuungkapkan di sini, ia justru memilih untuk tak melakukannya, dan malah melakukan hal lain yang secara nilai berbanding terbalik dan bisa dipertentangkan dengannya. Selama berbelas-belas menit, ia membiarkan waktu berlari sementara ia hanya berbaring menelentang menatap langit-langit dan sesekali terpejam. Ketika ia bangkit, dan ketika ia menyentuhkan kedua telapak kakinya pada lantai dan ketika ia berdiri dan mulai berjalan, yang ditujunya bukanlah pintu melainkan kursi di depan meja-kerjanya, dan dengan gerakan yang menunjukkan tekad ia membuka laptopnya yang tertera di meja itu dan mengaktifkannya. Hampir satu menit kemudian, laptop itu sudah dalam keadaan siap untuk digunakan.

Sebab kau tahu ia seorang penulis cerita, di titik ini kau mungkin mengira ia kemarin itu sedang akan menulis cerita. Tapi sayang sekali perkiraanmu salah. Ia memang seorang penulis cerita dan seringkali ia dalam keadaan perut kosong dan kerongkongan kering memulai menulis sesuatu—baik itu cerita atau sekadar ocehan khas kelas menengah—lalu berhenti atau mengambil jeda saat disadarinya ia bisa sakit kepala atau sakit perut jika tak segera melahap sesuatu. Tetapi selain seorang penulis cerita, ia juga seorang manusia, dan seorang lelaki, dengan libido yang sewaktu-waktu tinggi. Kemarin itu, ia adalah dua yang terakhir disebut. Ia mengaktifkan laptop bukan untuk membuka aplikasi Ms. Word dan menulis sesuatu melainkan membuka Windows Explorer dan mencari sebuah folder yang dinamainya dengan sebuah kalimat berbahasa Jepang dalam tulisan Jepang--見ちゃいけない動画. Tulisan itu dilafalkan sebagai “micha ikenai douga” dan secara harfiah berarti “video(-video) yang tak boleh ditonton”.

Ia menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menonton beberapa video di folder tersebut dan setelahnya merancap dan mengelap mani-sucinya dengan beberapa lembar tisyu dan setelah itu memutar video lain—yang bukan dari folder tersebut dan bukan jenis video yang akan ditontonnya saat libidonya tinggi—dan beranjak kembali ke kasur dan berbaring menelentang seperti lebih dari satu jam sebelumnya. Seperti biasa, semacam rasa bersalah kelas menengah muncul di dalam dirinya, mengusiknya, namun ia selalu bisa mengabaikannya, dan kini ia mulai mengalihkan perhatian pada tayangan di layar laptopnya. Sebuah film dokumenter tentang perjalanan safari seorang lelaki kulit putih ke Afrika; petualangan mengesankan tak terlupakan berhadapan dengan hewan-hewan besar dan mengabadikan keseharian mereka. Di tengah-tengah tayangan berlangsung, ia tertidur. Tidurnya lelap dan ia baru bangun lewat sedikit dari setengah sebelas.

Kalau saja saat itu ia langsung bangkit dan bukannya berselancar di ponselnya mencari-cari foto perempuan telanjang, ia tentulah masih sempat berdandan usai mandi dan tiba di masjid Universitas Pakuan sebelum khotib selesai berkhotbah. Sayangnya, yang terjadi bukan itu. Sekitar empat puluh menitan setelah terbangun kedua kalinya itu ia kembali merancap dan baru delapan-sembilan menit sehabis itu ia berada di kamar mandi dan memutar-buka keran bak mandi dan menutup serta mengunci pintu kamar mandi dari dalam dan memutar playlist di ponselnya yang hampir semuanya diisi lagu-lagu AKB48 Grup dan musik serta suara-suara yang disukainya itu menggelegar dari sepasang spiker aktif yang telah dihubungkannya ke mini-powerbank dan ke ponsel itu. Kira-kira setengah jam kemudian, ketika ia tengah hampir tiba di masjid yang ia tuju, ia melihat orang-orang telah mulai meninggalkan masjid itu dengan beberapa di antara mereka membawa sajadah. Ia tidak kesal; tidak menggerutu atau merepet atau apa. Ia justru tersenyum dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang, yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia akan jadi seperti ini: “Ini kali kedua kau mengalami telat Jumatan. Dasar tolol.”
___

Film dokumenter yang tadi hanya ia nikmati sebagiannya itu ia tonton ulang saat ia kembali berada di kamarnya dan ia menontonnya sampai film itu berakhir lebih dari satu jam kemudian. Jika kau penasaran bagaimana ia bereaksi atas ketololannya mengalami telat Jumatan tadi, akan kuberitahu; ia mampir ke sebuah warung makan langganannya dan makan siang di sana dan ia tidak terburu-buru membayar lantas pergi meski segala sesuatu yang semula ada di piring di hadapannya telah ludes. Ia cukup pandai—atau bisa juga cukup licik—untuk membuat orang-orang yang mungkin mengamatinya siang itu mengira ia tidak baru saja melakukan sebuah kekonyolan yang pantas ditertawakan. Ketika ia berpapasan dengan dua orang teman kosannya di perjalanan pulang (mereka sepertinya sedang menuju ke kampus), ia yakin sekali dua orang temannya itu tak sedikit pun menduga ia telah melewatkan Jumatan gara-gara memaksakan diri ngelotjo yang sama sekali tak berbuah hal baik apa pun baginya.

Usai menonton film dokumenter itu, ia memposting sesuatu di akun instagramnya—yang otomatis terposting juga di akun pesbuknya—dan setelahnya ia merasa bungah mendapati postingannya itu cukup berkelas, cukup oke untuk seseorang yang kadung dikenal di dunia maya sebagai penulis (cerita), meski kemudian di wajahnya terbit senyum mengejek yang ia alamatkan kepada dirinya sendiri. Ia tidak berbohong, memang; apa-apa yang dikemukakannya lewat postingan itu benar adanya dan sejalan dengan pikiran dan hati nuraninya. Akan tetapi, tetap saja, ia siang itu telah menyempatkan diri bermasturbasi dan akibatnya melewatkan salat Jumat. Fakta bahwa postingan-cukup-berkelas itu ia hadirkan setelah dua hal tersebut, tak bisa tidak, membangkitkan rasa mual di lambungnya.
___

Petang harinya, ketika azan magrib berkumandang, ia baru saja tiba di markas Rumah Belajar, sebuah komunitas yang di sana beberapa bulan terakhir ini ia bergiat. Seperti biasa, selain dirinya tak ada anggota komunitas yang sedang berada di sana, dan ia menyukai hal ini sebab itu akan memudahkannya menikmati apa yang sedang akan ia lakukan; ia tipe orang yang baru bisa fokus membaca atau menulis ketika sedang sendiri sebab jika ada satu orang saja di dekatnya maka ia merasa mendiamkan atau tak mengacuhkan orang itu adalah dosa besar baginya. Malam itu ia mengunduh konser request hour AKB48 tahun 2016 dan sebuah film lucu-absurd-konyol yang dulu pernah ditontonnya, The Taste of Tea (茶の味). Sambil menunggu unduhan-unduhan itu rampung ia membaca buku memoarnya Etgar Keret, The Seven Good Years.

Sebenarnya dua kejadian—atau tiga?—konyol yang dialaminya seharian itu telah benar-benar membuatnya lupa pada pembukaan ceritanya yang bermasalah itu, dan ia di sisa malam itu juga besok harinya mungkin akan tetap lupa seandainya ia tidak membaca The Seven Good Years. Esai-esai pendek dalam buku itu begitu mengesankannya, membuatnya sewaktu-waktu geleng-geleng kepala sewaktu-waktu tersenyum-senyum sewaktu-waktu tertawa keras sewaktu-waktu menahan diri untuk tak menangis. Sebelumnya ia pernah membaca beberapa cerita pendek Etgar Keret, dan ia sangat menikmatinya. Tapi ia tak pernah mengira penulis Israel yang adalah seorang Yahudi itu begitu hangat dan begitu indah sebagai sesosok manusia.

Entah apakah ini masuk akal atau tidak, setiap kali berhadapan dengan karya-karya yang berhasil menyentuhnya dan memberinya rasa hangat, ia akan teringat pada sesuatu yang dalam arti tertentu pernah menghadirkan perasaan yang sama di dalam dirinya. Sesuatu di sini bisa jadi sebuah momen, sebuah peristiwa, sebuah kejadian, atau seseorang. Dan yang ia ingat seketika kemarin malam itu adalah seseorang.

Usai menamatkan satu esai pendek Etgar Keret lainnya ia menaruh memoar itu dan mengambil ponselnya dan mulai mengetik sesuatu untuk kemudian dikirimkannya kepada seseorang yang tiba-tiba diingatnya itu, yang tiba-tiba dirindukannya itu. Percakapan atau chit-chat pun terjadi dan entah bagaimana dengan cepat topik percakapan beralih ke demonstrasi yang masih dan sedang berlangsung di Jakarta serta situasi di sana malam itu. Ia mengaku tak mengikuti berita, sehingga hampir-hampir tak tahu apa-apa tentang apa yang saat itu sedang menyelimuti ibu kota. Seseorang itu lantas memberitahunya beberapa hal yang ia peroleh baik itu dari tayangan berita di televisi atau dari teman-temannya yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi aksi demonstrasi yang berujung ricuh itu. Sebuah minimarket di kawasan tempat ia tinggal dirusak dan dijarah. Tiga mobil aparat dibakar dan gas air mata ditembakkan dan para pendemo yang sudah seperti anjing atau goblin itu melempari aparat dengan batu. Begitu seseorang itu bercerita. Untungnya, seseorang itu sedang berada di Solo, dan ini sungguh sangat melegakannya. Seseorang itu kemudian memberitahu bahwa ia baru saja dapat informasi kalau adik teman dari seorang temannya dilempari batu ketika sedang melajukan mobil. Tentu, yang terkena hantaman batu adalah mobilnya, bukan orang-orang di dalamnya. Seseorang itu bilang adik teman dari seorang temannya itu sedang berusaha mengungsikan keluarganya. Tak perlu diperjelas bahwa mereka dari etnis Tionghoa.

Seseorang yang dirindukannya itu sendiri adalah seorang Tionghoa, perempuan, dan karena itulah fakta bahwa si perempuan ini sedang tidak di Jakarta sangat membuatnya lega. Ia lantas meminta seseorang itu untuk berhati-hati, dan ia dengan menggelikannya mengutarakan kecemasannya itu lewat bahasa Inggris yang kelewat klise: “Promise me you’ll be safe.” Apakah ia sedang ingin terdengar keren, atau ia hanya merasa kalimat itulah yang saat itu lebih mudah dan lebih enak diucapkan? Kupikir lebih ke yang kedua. Jika ia memang sedang ingin terdengar keren ia mungkin akan memilih sebuah kalimat dalam bahasa Jepang dan pastilah perempuan itu akan lumayan kebingungan dan menggigit bibir.

Chit-chat itu masih berlangsung ketika ia sudah jauh dari markas Rumah Belajar dan tengah berada di angkot 03 menuju Bogor Kota. Hampir tengah malam. Kota dalam keadaan nyaris tidur dan teramat tenang. Ia lalu teringat pada deskripsi si perempuan soal lokasi kericuhan di Jakarta dan ia tiba-tiba berharap situasi di sana justru seperti di kota tempat ia berada ini—tenang dan menenangkan. Kekerasan, hanya akan melahirkan kekerasan lain dan seterusnya. Begitu ia bergumam. Dan setelah beberapa detik, ia melanjutkan: kebodohan, hanya akan melahirkan kebodohan lain jika hanya dibiarkan.

Membayangkan situasi di lokasi kericuhan membuatnya sakit kepala, kesal, marah, dan ia akhirnya melontarkan pertanyaan retoris ini kepada si perempuan: “Can you believe we’re living in this kind of world?” Jawaban perempuan itu, yang sama sekali di luar perkiraannya, membuatnya tambah sakit kepala dan kesal dan juga marah: “Well... yah... pas 1998 udah pernah kejadian. This is the second time.

Dihadapkan pada kata-kata si perempuan itu mau tidak mau ia membayangkan situasi yang jauh lebih buruk di 1998, situasi neraka, dan tentulah wajar saja jika setelahnya ia merasa kepalanya seakan mau pecah, degup jantungnya seakan jauh lebih cepat dari biasanya, dan kedua tangan serta kakinya seakan gemetar meski sekilas tak terlihat begitu. Dan di titik inilah, kalimat berbahasa Inggris yang kelewat klise tadi dilontarkannya. Beberapa belas detik kemudian ia tersenyum mendapati si perempuan berkata ia akan menjaga diri dan akan baik-baik saja. “And you too,” tambah perempuan itu. Kata-kata itu entah bagaimana mampu membuatnya merasa lebih baik.

Chit-chat mereka berakhir di situ dan malam semakin tenang dan dingin semakin membayang. Ia berjalan dan telah berada tepat di depan pintu masuk rumah sakit, dan di sana ia bisa melihat tulisan besar-besar tertanam di tubuh gedung rumah sakit itu—Instalasi Gawat Darurat. Tiba-tiba, ia jadi mulai membayangkan lagi situasi neraka di 1998, dan ia menyeret ingatannya kembali ke masa kini dan merasakan sakit yang sangat menyadari sebagian orang berusaha—atau setidaknya berharap—situasi neraka itu terjadi lagi. Ini menyedihkan! Sungguh-sungguh menyedihkan! Umpatnya, dalam hati, entah kepada siapa. Ia jelas sedang jatuh suka kepada seorang perempuan Tionghoa dan itu dengan sendirinya membuat rasa sakit yang menyerangnya begitu kuat. Dan, meski hanya untuk beberapa detik yang singkat, ketika ia berjalan meninggalkan pintu masuk rumah sakit itu ia menangis. Air matanya jatuh beberapa tetes dan pipinya basah dan hatinya hancur.
___

Ia kembali menangis barangkali dua jam kemudian dan kali ini durasinya sedikit lebih lama dan rasa sakit yang dideritanya pun tentu lebih kuat. Ia saat itu sudah berada di kamarnya, seorang diri, dan tengah berhadapan dengan laptopnya yang baru saja ia aktifkan dan tengah melihat-lihat apa yang diposting orang-orang di pesbuk dan lampu yang ia nyalakan adalah lampu tidur kuning-redup. Si perempuan tadi sebenarnya sudah mewanti-wantinya untuk tidak membuka pesbuk atau ia akan sakit kepala; seorang temannya mengaku mengalami hal itu. Ia penasaran dan hasrat ini kemudian berubah menjadi tombak yang menancap berkali-kali, di dadanya.

Ia sudah tidak kaget dan memilih untuk acuh tak acuh saja ketika mendapati sebagian teman pesbuknya, baik yang lama maupun yang baru, baik yang ia kenal atau tidak, baik yang ia ingat itu siapa atau ia benar-benar lupa, memposting sesuatu—umumnya tautan—yang berkaitan dengan aksi demonstrasi yang berujung ricuh itu dan menyatakan keberpihakan mereka, dukungan mereka, meski masih saja sesekali ia geleng-geleng kepala dan menarik-embuskan sebuah napas panjang. Lalu pada satu titik, matanya tertuju pada sebuah postingan serupa namun dengan kalimat-pernyataan yang sungguh gila, dan seketika rasa sakit di dalam dirinya—sejak semula rasa sakit itu mungkin sudah ada di dalam dirinya, bukannya berasal dari luar dirinya dan kemudian menyerangnya seperti yang tadi kita duga—bergejolak, menjadi liar, menjadi buas, dan seperti mencabik-cabiknya dari dalam, membuatnya terluka dan koyak-moyak dari dalam, membuatnya menyadari bahwa sekian persen bagian dari dirinya masihlah belum cukup kuat untuk bertahan di kehidupan yang semakin lama seperti semakin kurang masuk akal dan kurang bisa diterima ini. Ia menangis, dalam kesendiriannya di kamar itu. Kalimat-pernyataan yang dimaksud berbunyi “Bangkitkan kembali momen 1998!” dan usai membacanya ia langsung teringat si perempuan yang dirindukannya dan di antara kemarahan yang berusaha sekuat tenaga ia tekan ia memukul-mukulkan kepalan tangannya ke paha kanannya, sesekali ke kasur di samping kanannya, lalu ke paha kanannya lagi.
___

Pada akhirnya akan terlihat bahwa agama, sebagaimana hal lainnya di kehidupan ini, adalah alat, yang karenanya ia bisa bernilai negatif atau positif tergantung bagaimana ia digunakan dan oleh siapa ia digunakan, yang berarti sudah sewajarnya kita manusia “membebaskan diri” dari agama demi kelangsungan hidup umat manusia yang lebih baik—atau setidaknya mendingan.

Begitulah kalimat pembuka itu kembali muncul mengusiknya di dalam benaknya, saat ini, di titik ini, ketika ia tengah berusaha menyelesaikan apa yang mulai ditulisnya lebih dari dua jam yang lalu. Ia bersungguh-sungguh dengan itu. Semakin ke sini ia semakin melihat agama terkesan tak lebih dari alat belaka yang digunakan seseorang untuk membenarkan atau tak membenarkan sesuatu, tentulah demi kepentingan dan kebaikan diri mereka sendiri; semacam sistem yang dibentuk dengan sengaja untuk melembagakan egoisme, juga aroganisme. Tetapi ia pun sadar, di saat yang sama, di tangan sebagian orang, agama masihlah sesuatu yang mendatangkan kebaikan demi kebaikan, kedamaian demi kedamaian, dan karenanya ia perlu tetap ada. Maka pernyataan paradoksal di atas pun dilontarkannya. Seseorang berada di dalam agama namun di saat yang sama di luar agama. Seseorang mengekang diri pada agama namun di saat yang sama membebaskan diri darinya. Semacam dualitas yang bisa berujung pada kesetimbangan; sebuah keadaan nyaman-ideal yang kendati utopis namun mungkin baik untuk dicoba-wujudkan. Kau bisa menyebut seseorang yang mengalami agama dengan cara itu sebagai sekularis-religius, atau apa pun. Itu tak penting. Yang penting adalah dengan itu ia menjadi diri yang lebih baik, dan ikut menyumbang kebaikan-kebaikan yang membuat kehidupan ini sendiri lebih baik.(*)

—Bogor, 5 November 2016
11:14 WIB

Gambar diambil dari www.apnphotographyschool.com

 

  • view 287

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan ini cerdas mengemas topik yang masih marak dalam dua minggu terakhir tentang demo dugaan penistaan agama yang berakhir rusuh. Mengambil sudut pandang yang sangat personal tentang pemikiran sang narator sekaligus tokoh utama. Ia merenung topik yang kekinian tersebut lalu mengulang kembali apa yang pernah terjadi dalam kehidupan pribadinya dan tragedi berdarah 1998. Benang merah pun terjalin, rentetan kegetiran baik sebagai pribadi mau pun warga negara, dijabarkan secara tuntas.

    Potret kekecewaan tentang penggunaan agama sebagai alasan
    melakukan kekerasan jelas terungkap dalam karya milik Ardy Kresna Crenata ini. Pastinya membaca tulisan ini, dimana awal paragraf sudah begitu ‘nendang’, akan mengajak siapa pun sejenak merenung, mengambil posisi jujur tentang apa yang terjadi pada 4 November 2016 lalu.