Ominie-san

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Budaya
dipublikasikan 01 September 2016
Ominie-san

Seorang perempuan muda asal Tokyo ditempatkan di sebuah sekolah menengah di pedesaan. Di hari pertamanya mengajar di sana, barangkali karena ia cukup berhasil berbaur dengan sejumlah siswa, untuk menyantap makan siang ia diajak siswa-siswa itu ke sebuah rumah makan, atau kedai. Agaknya ia cukup disukai oleh siswa-siswa itu, sehingga salah satu dari mereka--laki-laki--sempat memamerkan posisi duduknya yang dekat dengan si guru dan salah satu yang lain--juga laki-laki--memprotes itu dan si guru menengahi mereka. Suasana yang hangat. Bahkan cara dan nada bicara siswa-siswa itu menunjukkan mereka sedang dalam mood yang bagus dan makan siang mereka itu akan menyenangkan. Lalu mereka, siswa-siswa itu, mulai mendiskusikan apa yang akan mereka pesan, dan saat itulah salah satu dari mereka mencium aroma yang bagi mereka familiar, dan ia juga yang lain langsung bisa menebak berasal dari makanan apa aroma tersebut. Ominie-san. Begitulah makanan itu biasa disebut. Si guru rupanya tak mengetahui makanan ini, dan sejujurnya ia agak bingung kenapa "-san" disertakan dalam nama sebuah makanan—seolah-olah makanan itu hidup. Dan mereka pun memesannya, ominie-san itu. Si pelayan kedai menghidangkan makanan itu dalam sebuah panci besar, di mana mereka bisa mengambilnya sendiri-sendiri ke piring kosong di hadapan mereka. Makanan itu sendiri, dari tampilannya, seperti daging mentah, hanya saja warnanya ungu tua, dan ada semacam aura gelap yang menyeruak darinya; membuat si guru langsung ragu ia akan bisa memakannya. Dan keraguannya ini semakin menjadi-jadi, ketika ia melihat siswa-siswa itu menyantap makanan tersbebut. Ia putuskan untuk tak memakannya, namun mengambilnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kantung plastik, dan menyembunyikannya di dalam tas tangannya. Tentu saja, ia bermaksud membuangnya, ke sebuah tempat sampah. Tak jauh dari kedai itu rupanya ada tempat sampah yang—entah bagaimana persisnya—isinya sedang dibakar. Si guru mengambil kantung plastik berisi ominie-san tadi dan sedang akan melemparkannya ke tempat sampah tersebut ketika tiba-tiba kantung itu bergerak. Lebih tepatnya, sesuatu di dalam kantung plastik itu, si ominie-san itu, bergerak.

Ini mengejutkannya dan semakin membuatnya kehilangan nafsu makan. Ia pun lanjut beraktivitas (entah apa saja aktivitasnya itu, sebab tak ditunjukkan satu per satu), dan malam harinya di perjalanan pulang ia merasa lapar selapar-laparnya. Maka ia pun mampir di sebuah kedai lain, dan memesan sesuatu yang "normal" baginya, yang bisa ia santap tanpa merasa mual. Segalanya berjalan baik, pada awalnya. Lalu pada satu titik, dua orang lelaki dewasa masuk ke kedai itu, dan setelah duduk dan berbasa-basi mereka memanggil pelayan dan memesan ominie-san. Ya, ominie-san. Mendengar kata ini si guru langsung menghentikan aktivitas makannya. Dan, seperti yang ia duga, ia langsung kehilangan selera makan. Pasalnya ia tahu akan seperti apa dua lelaki dewasa itu menyantap omine-san. Dan meski ia tidak dalam posisi menghadap kedua orang itu, ia tetap bisa membayangkan apa yang terjadi di meja tersebut hanya dengan bebunyian yang didengarnya.

Bagaimana persisnya kedua lelaki itu, juga siswa-siswa tadi, menyantap ominie-san? Seperti hewan. Hewan buas. Ketika dihadapkan pada makanan itu nafsu makan mereka bangkit dan air liur mereka melimpah, dan setelah mereka mulai memakannya mereka terus memakannya tanpa sedikit pun bicara, dan tanpa jeda untuk menghirup napas, dan tanpa memikirkan tangan dan mulut yang mungkin akan kotor, juga tanpa menyadari taring mereka telah memanjang dan sorot mata mereka seperti sorot mata sesosok pemangsa—karnivora. Selama mereka makan itu yang terdengar hanyalah bebunyian yang dihasilkan dari daging yang dicabik dan taring yang mengoyak. Seakan-akan kesadaran si penyantap telah hilang entah ke mana, atau barangkali tenggelam hingga begitu dalam, hingga yang tersisa di permukaan adalah sisi buasnya, sisi binatangnya, sisi pemangsanya. Mereka seperti tak punya pilihan untuk terus menyantap makanan itu, hingga tak bersisa.

Si guru, sebab tak bisa lama-lama berada dalam situasi yang membuatnya mual itu, akhirnya pulang, meski makanan di hadapannya masih banyak. Ini artinya seharian itu ia tak cukup makan, dan gara-gara ini ia jadi sakit; besok paginya ia terpaksa menelepon ke sekolah menengah tadi dan mengabarkan ia kurang enak badan dan meminta seharian itu ia diizinkan untuk istirahat. Si ibu kos, yang kelihatannya tipe orang yang peduli, menanyainya apa yang terjadi dengannya; malam harinya setelah si guru puas tidur seharian si ibu kos ini menyajikan untuknya santapan makan malam. Ada semangkuk sayur atau mungkin tumis kyabetsu. Ada juga nasi dan beberapa makanan lainnya. Satu hal yang ia tidak tahu: si ibu kos rupanya mencampurkan potongan-potongan kecil ominie-san ke dalam semangkuk sayur atau tumis kyabetsu itu. Dan ia memakannya.

Pada awalnya ia tidak tahu "kelicikan" si ibu kos. Ia menyantap sayur atau tumis kyabetsu tersebut dan mendapati itu lezat dan membangkitkan nafsu makannya. Lalu tiba-tiba, si ibu kos mengatakan sesuatu yang membuatnya mengerutkan kening, bahwa ia, menurut si ibu kos itu, harus mengisi tenaganya untuk bisa melakukan aktivitas hariannya. Perkataan ini pertama kali ia dengar dari dua lelaki yang memesan ominie-san di kedai tadi.

Tepat setelah mengatakannya, si ibu kos memberitahu si guru tentang "kelicikan"-nya itu. Si guru terkaget-kaget, dan tanpa bisa dibendungnya taring-taringnya memanjang dan liurnya menetes, dan sepasang matanya telah seperti sepasang mata hewan pemangsa. Dan seperti yang bisa ditebak: selanjutnya ia pun menyantap apa yang tersaji ke hadapannya itu seperti ia tak memiliki kesadaran sama sekali.

___

Melihatnya sebagai sebuah karya sastra, kita mendapati ominie-san adalah sebuah metafora untuk sesuatu yang membuat kita kehilangan kesadaran kita sebagai manusia namun kita terlalu lemah untuk melawannya, atau ia terlalu kuat untuk kita lawan. Dan apa sebenarnya sesuatu itu? Bisa macam-macam. Uang, kekuasaan, kenikmatan, kepuasan. Hal-hal seperti itu. Ketika kita melahap hal-hal tersebut kita akan dengan sendirinya terseret ke sebuah sistem yang mengharuskan kita menanggalkan—kalau bukan meninggalkan—sisi kemanusiaan kita dan mengenakan—kalau bukan menonjolkan—sisi kebinatangan kita, sisi buas kita, sisi pemangsa kita, hanya agar kita bisa bertahan dalam sistem itu. Tapi apakah kita tak bisa tak melahapnya? Bisa saja, memang. Tapi seperti yang tergambarkan di cerita/film tadi, konsekuensi dari tak melahapnya adalah kita harus mencari sesuatu lain untuk dilahap, sebab kita tak mungkin bisa melanjutkan hidup tanpa melahap apa pun. Dan sialnya, di dalam kehidupan dengan sistem yang kelewat busuk, di mana orang-orang di sekitar kita telah terbiasa melahap hal-hal itu, menikmati melahap sesuatu di luar itu jadi sulit. Bahkan pada akhirnya meskipun kita terus berusaha untuk tak melahapnya, seseorang di dekat kita mungkin saja membuat kita melahapnya, tanpa kita menyadarinya. Dan ketika kita menyadarinya itu sudah terlambat. Diri kita yang manusia sudah tertekan, terbenam, tenggelam. Diri kita yang tampil di permukaan sudah kelewat buas untuk bisa melihat kehidupan kita layaknya manusia.

___

Lalu bagaimana solusinya? Saya tidak tahu. Jika bicara soal logika, maka solusi yang mungkin dicoba itu adalah ini: (1) kita menempa diri kita sekuat mungkin, menjadikan diri kita sosok yang sangat kuat, sehingga daya tahan kita untuk menolak ominie-san dan sistem yang menyuburkannya itu cukup kuat; (2) kita menyadarkan orang-orang di sekitar kita akan bahaya yang ditimbulkan ominie-san terhadap diri mereka, dan terus melakukannya hingga penyantap ominie-san semakin sedikit saja dari waktu ke waktu, yang akan berdampak pada tak terlalu sulitnya kita menahan diri dari "godaan" itu. Pertanyaannya adalah: apakah kita memang bisa melakukan salah satunya—jika bukan keduanya?(*)

Bojongpicung, 6 Agustus 2016

  • view 194