AKB48, Harga Rokok, dan Parsialisme

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Budaya
dipublikasikan 26 Agustus 2016
AKB48, Harga Rokok, dan Parsialisme

Memulai karier pada 8 Desember 2005, AKB48 butuh waktu enam tahun untuk bisa menyebut dirinya diterima oleh masyarakat Jepang. Konsep segar yang ditawarkannya, yakni apa yang disebut ai ni ikeru aidoru, sebuah konsep yang memungkinkan para penggemar bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan idol kesayangannya, terbukti tak cukup ampuh untuk membuat mereka tegak berdiri di antara sejumlah idol grup, band, dan penyanyi lain. Mereka memang dikenal banyak orang, juga digemari banyak kalangan, namun selalu saja pada akhirnya label indie disematkan pada mereka; mereka adalah idol grup yang tumbuh dan berkembang di kawasan luar, di pinggiran. Pusat dianggap tak cocok untuk mereka, entah karena mereka hampir-hampir tak berjarak dengan konsumen atau dari sisi kualitas (menyanyi dan menari, misalnya) mereka dinilai masih terlampau jauh dari mengesankan.

Di tahun-tahun awalnya, AKB48 tampil sebagai idol grup yang apa adanya. Kebanyakan membernya adalah perempuan belasan tahun, remaja-remaja yang belum memiliki pengalaman menghibur orang di muka umum dan tak memiliki kemampuan istimewa dalam menyanyi ataupun menari. Alih-alih menyajikan kesempurnaan, AKB48 justru menyajikan ketidaksempurnaan. Orang-orang berdatangan ke teater pribadi mereka di Akihabara hanya untuk menyaksikan sekumpulan manusia sedang menunjukkan betapa mereka serba kekurangan. Tetapi barangkali, dan kemudian terbukti benar, hal inilah yang menjadi daya tariknya yang lain. Orang-orang itu kembali datang ke Akihabara untuk melihat sudah seperti apa member kesayangannya kini, sudah sepesat atau sejauh apa perkembangannya. Dengan kata lain: mereka mengeluarkan uang untuk menikmati proses.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa salah satu hal yang dijual AKB48 kepada khalayak penikmatnya adalah proses mereka mencapai puncak. Selama label indie masih melekat kuat pada diri mereka, banyak hal segar telah coba mereka lakukan sebagai upaya menaikkan nilai tawar mereka. Misalnya, selain orang-orang bisa melihat penampilan mereka secara dekat dan rutin tiap minggunya (bahkan pada akhirnya hampir tiap harinya), mereka pun bisa berjabat tangan dan berfoto dengan member kesayangannya itu saat membeli CD; pernah juga sejumlah member idol grup ini menemani para penggemar dalam perjalanan sebuah bus sebagai pemandu acara, di mana di sana orang-orang yang telah membeli CD itu diajak mengikuti permainan dan bersenang-senang bersama-sama. Ketika suatu ketika secara tak terduga terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan konser terpaksa dibatalkan, kesempatan untuk berhadap-hadapan secara dekat dengan para member itu kembali diberikan, secara cuma-cuma. Jarak yang tipis antara penampil dan penonton, antara member dengan penggemar, menjadi salah satu ciri khas yang membuat AKB48 mudah diingat. Orang-orang pun lambat-laun mulai menilai member-member AKB48 ini para pekerja keras.

Namun, seperti yang disinggung tadi, pada akhirnya label indie selalu disematkan kepada mereka, menjadikan mereka hanyalah bayangan—atau bahkan liyan—dalam dunia musik Jepang. Pertengahan 2008, mereka bahkan harus kehilangan label yang selama itu menjadi sponsor mereka, yakni Defstar Records, dikarenakan penjualan CD mereka terlampau stagnan; banyak, tapi tak cukup banyak untuk dikategorikan menguntungkan, dan tak menunjukkan tanda-tanda akan melonjak dalam waktu dekat. Pada Agustus tahun itu mereka mulai disponsori oleh label lain, King Records, dan setelahnya kembali secara berkala merilis single dan orang-orang mendapati single-single tersebut terpampang di tangga lagu Oricon, baik harian maupun mingguan. Capaiannya sebenarnya cukup baik; “Oogoe Diamond” dan “10nen Sakura”—single mayor ke-10 dan ke-11 mereka—menempati posisi tiga di tangga lagu harian Oricon, sementara “Iiwake Maybe”—single mayor ke-13—bahkan menempati posisi pertama, meski harus turun ke posisi dua di tangga lagu mingguannya. Namun rupanya, setidaknya di mata produser mereka sendiri, Akimoto Yasushi, capaian ini masihlah belum apa-apa; belum cukup untuk membuat mereka dinilai sejajar dengan artis-artis terkenal lain.

Kebangkitan AKB48 diawali dengan dirilisnya single mayor ke-14 mereka pada 21 Oktober 2009, “River”. Di tangga lagu mingguan Oricon, single ini terpacak di posisi pertama, yang artinya lagu ini adalah lagu yang paling dinikmati—atau dikonsumsi—orang-orang pada saat itu. Segera, popularitas mereka meningkat pesat. Single-single mereka yang dirilis setelahnya—seperti “Ponytail to Shushu”, “Heavy Rotation”, dan “Beginner”—beroleh apresiasi dan konsumsi yang jauh lebih baik lagi. Sejumlah member terpenting juga muncul di beberapa program terkenal di televisi. Di sepanjang tahun 2010, mereka berhasil menjual lebih dari satu juta keping CD; sebuah capaian yang tinggi di era digital. Di sepanjang tahun 2011, mereka berhasil menaikkan penjualan CD hingga lima kali lipatnya.

Apa yang istimewa dari lagu berjudul “River” itu? Apa sesuatu istimewa yang dimilikinya sampai-sampai ia mampu membuat sebuah idol grup yang nyaris padam jadi tiba-tiba begitu bersinar dan berkilauan? Apa yang membedakannya dari single-single AKB48 sebelumnya? Jawabannya adalah liriknya. Atau, dalam arti tertentu, temanya. Akimoto Yasushi, yang pada dasarnya adalah seorang penulis lirik lagu genius, menulis lirik lagu tersebut dengan pertimbangan anak-anak asuhnya sedang berada di ujung tanduk; mereka di ambang jatuh dengan cepat dan hancur dan karenanya membutuhkan sebuah dorongan, juga keyakinan—untuk tidak menyebut motivasi. Lirik “River” menceritakan bagaimana di hadapan tiap-tiap orang ada sebuah sungai yang mengalir deras, yang membuat ragu dan melemahkan tekad, yang menimbulkan rasa takut dan membikin kapok, namun justru setelah seseorang itu menyeberanginya ia akan sampai pada dirinya yang jauh lebih baik, yang jauh lebih dekat ke yang dimimpikannya. Motto jibun o shinjiro yo! Lebih percayalah bahwa kau bisa. Itulah satu hal yang berusaha digemakan lirik tersebut ke para pendengarnya.

Lirik semacam ini menjadi kejutan—jika bukan tamparan—bagi para penikmat AKB48, sebab di lagu-lagu sebelumnya tema dan fokus lirik-liriknya adalah soal cinta dan hal-hal yang sifatnya personal, atau cerminan kehidupan masyarakat Jepang yang muram-kelam. Bagi para member AKB48 sendiri, sebab saat itu mereka dalam ancaman kejatuhan, apa yang tergambarakan dalam lirik tersebut benar-benar mewakili apa yang mereka rasakan; ini pada akhirnya membuat mereka begitu total dan penuh saat membawakan single tersebut—sesuatu yang tentunya baik. Dikemas dengan koreografi yang energetik, juga dengan seifuku (seragam atau kostum) dan PV yang maskulin, single ini menjelma sesuatu yang menyegarkan sekaligus menjanjikan; sebuah gebrakan yang tak bisa diabaikan.

Para penikmat AKB48 di luar Jepang mungkin lebih mengenal “Heavy Rotation”. Single dengan Center Oshima Yuko ini dirilis beberapa bulan setelah “River”, yakni pada 18 Agustus 2010, dan terjual sebanyak 880 ribuan keping, menempatkan dirinya di posisi pertama tangga lagu harian maupun mingguan Oricon saat itu. Single yang PV-nya dinilai kontroversial ini—di sana para member hanya mengenakan lingerie dan berinteraksi layaknya di ruang ganti—tak bisa dipungkiri ikut menjadi jalan masuk bagi orang-orang di luar Jepang untuk mengenal AKB48; kita tentu juga ingat single pertama yang dirilis sister grup AKB48 di Indonesia, JKT48, adalah “Heavy Rotation” versi bahasa Indonesia. Bicara soal berapa kali single ini diunduh lewat ponsel di tahun ia dirilis, angkanya menembus satu juta. Sampai saat ini (24 Agustus 2016, pukul 12:46) di laman resmi AKB48 di Youtube, PV single ini telah dilihat sebanyak 128 jutaan kali, dan dilanggan oleh lebih dari 1,6 juta pemilik akun Youtube.

Akhir Desember 2011, setelah kembali dinominasikan (dan difavoritkan) untuk meraih penghargaan sebagai artis terbaik Jepang, mereka akhirnya memperolehnya—mereka memenangi Grand Prix pada Japan Records Award ke-53. Lagu yang membawa mereka meraih penghargaan tersebut adalah “Flying Get”, single mayor mereka yang ke-22. Dengan ini selentingan miring yang mengatakan AKB48 tak akan pernah bisa sepenuhnya diterima masyarakat penikmat musik Jepang pun terbantahkan. Pada awal tahun 2012, mereka diundang sebagai bintang tamu utama dalam talkshow KIN SMA SPECIAL: The History of AKB48. Di situ dibeberkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, perjuangan-perjuangan yang mereka lakukan untuk membuat mereka berada di posisinya saat itu. Percaya atau tidak, selain jumlah penonton di teater pribadi mereka pernah hanya tujuh orang saja, oleh para pembencinya mereka pernah diberi julukan yang lumayan ofensif: Grup Tukang Pamer Celana Dalam.

Setelah itu AKB48 tetap secara berkala merilis single, mengadakan konser-konser di sejumlah kota, memfasilitasi pertemuan-pertemuan hangat para penggemar dengan member kesayangannya, bahkan secara rutin menggelar konser amal untuk menghormati sekaligus menghibur orang-orang yang terkena Gempa Touhoku di tahun 2011. Tentang konser amal ini sendiri, ada beberapa hal yang menarik dan perlu disampaikan.

Saat itu, di tahun terjadinya gempa, AKB48 sebenarnya punya satu konser besar yang telah dirancang sejak lama, yang berjudul “Takamina ni Tsuite ikimasu”. Mereka membatalkannya, sebagai bentuk penghormatan dan bela sungkawa atas orang-orang yang menjadi korban, dan beralih mengadakan konser-konser amal; mereka mendatangi tempat-tempat penampungan para korban gempa dan secara cuma-cuma memberikan penghiburan, membawakan lagu-lagu mereka yang saat itu sedang digandrungi. Mereka juga merilis single amal yang seluruh hasil penjualannya disumbangkan untuk membantu para korban gempa. Single amal yang dimaksud di sini adalah “Dareka no Tame ni”, yang dirilis pada 1 April 2011. Dari kasnya sendiri pada Februari 2012, AKB48 menyumbangkan sebesar 580 juta Yen. Tercatat jumlah uang yang terkumpul lewat aktivitas-aktivitas mereka untuk para korban gempa Touhoku adalah 1,25 Milyar Yen.

Tidak berhenti di situ, pada sejumlah aktivitas mereka setelahnya AKB48 kembali menunjukkan kepedulian mereka terhadap para korban gempa. Single ke-23 mereka, “Kaze wa Fuiteiru”, dirilis untuk menyemengati para korban gempa agar tetap optimis dan berusaha bangkit; setidaknya itu tergambar pada liriknya yang sangat sugestif dan positif. Pada 2013, untuk memperingati terjadinya gempa tersebut, dalam kelompok-kelompok kecil member-member AKB48 serta beberapa sister grup-nya yang beraktivitas di Jepang (SKE48, NMB48, HKT48) dikirim oleh Akimoto Yasushi ke beberapa tempat penampungan korban gempa, juga ke sekolah-sekolah, di mana di sana mereka tampil dengan misi membantu para korban gempa beroleh kesembuhan psikologis. Pada tahun itu pula, tepatnya 8 Maret 2013, mereka merilis satu single amal lainnya, yakni “Tenohira ga Kataru Koto”. Single ini tersedia di website resmi mereka untuk diunduh gratis. Pada PV single ini sendiri, yang kemudian dipacak di laman Youtube resmi mereka, ditampilkan foto-foto yang mengabadikan aktivitas mereka selama menghibur para korban gempa juga interaksi dan respons hangat para korban gempa terhadap mereka.

Dalam film dokumenter AKB48 yang dirilis tahun 2012, The Show Must Go On, ditampilkan bagaimana pada 2011 lalu mereka dikirim untuk menghibur para korban gempa Touhoku. Terlihat sekali mereka gugup, gelisah, bahkan cemas. Mereka menyadari bahwa sebelumnya mereka hanya melakukan aksi-aksi panggung (menyanyi dan menari) dalam ruang-ruang yang riang-gemerlap saja, dan mereka khawatir orang-orang yang belum lama terkena gempa itu melihat kedatangan mereka sebagai sebuah gangguan; sesuatu yang sama sekali tak mereka harapkan. Memang, pada saat itu popularitas AKB48 sedang meroket. Akan tetapi, itu tidak menjamin mereka juga digandrungi oleh para korban gempa.

Syukurlah fakta di lapangan berpihak pada mereka. Orang-orang di tempat-tempat penampungan itu, dari mulai anak-anak sampai orang tua, menyambut mereka dengan hangat, dengan histeris, dan meskipun penampilan mereka jauh dari optimal orang-orang itu tak ragu-ragu memberikan apresiasi positif; mereka seperti lebih peduli pada kerelaan dan kebaik-hatian para member itu dalam menghibur dan menyemangati mereka. Ketika sesi jabat tangan berlangsung, sebagian dari orang-orang itu, terutama mereka yang sudah renta, justru balik menyemangati mereka, meminta mereka untuk tetap semangat berkarier sebagai idol grup dan menghibur orang-orang lain. Sungguh konyol, tentunya. Tapi inilah satu hal lainnya dari AKB48 yang menjadi ciri khasnya, sekaligus juga kelebihannya. Mereka setia sebagai idol grup yang begitu dekat dengan penikmatnya, dengan penggemarnya. Batas yang ada di antara mereka seolah-olah hanyalah profesionalitas dan kesantunan.

Apa yang tergambar barusan menunjukkan betapa AKB48, saat itu, sudah benar-benar sosok yang diterima oleh masyarakat Jepang, bahkan oleh mereka yang belum pernah datang ke Akihabara dan menyaksikan penampilan mereka secara langsung. Bukan saja mereka telah membantu orang-orang melupakan penat dan kejenuhan semata, mereka juga telah menunjukkan bahwa menjadi populer dan berkilauan tidak lantas menjauhkan mereka dari berdekatan dengan orang-orang yang mendukung mereka; mereka masih senantiasa memperlakukan orang-orang itu dengan hangat dan penuh kasih. Tak ada proses penciptaan yang selesai. Barangkali begitu. Ketika mereka sudah “resmi” menyandang label kokumin-teki aidoru alias idol nasional, mereka masih menganggap apa-apa yang mereka lakukan setelahnya adalah sebuah proses, sebuah fase yang di sana mereka tak boleh melupakan peran orang-orang yang mendukung mereka; para penggemar mereka itu adalah penolong sekaligus teman. Kini ketika sejumlah member penting telah lulus dan wajah AKB48 mulai meremaja dan seperti di ambang kehilangan pancaran, para penggemar setianya itu tetap mengingat hal-hal mengesankan yang dimiliki (dan ditunjukkan) idol grup ini dulu. Setidaknya, ini membuat mereka selalu punya lebih dari cukup alasan untuk tetap bertahan dan bertahan, terus memberikan dukungan dan dukungan.

Kalimat terakhir barusan perlu digarisbawahi. Mengingat apa-apa yang dialami dan dilakukan AKB48 sejak ia berdiri, berarti melihat idol grup tersebut secara menyeluruh, secara penuh. Tentu adalah hak seseorang untuk melihat AKB48 sebagai dirinya saat ini saja, tapi itu belumlah cukup bijak untuk dijadikan acuan seseorang itu menilainya mengesankan atau tidak, perlu didukung atau tidak. AKB48 adalah sebuah proses. Selamanya sebuah proses. Apa yang terlihat saat ini adalah puncak gunung es semata; sesuatu yang lebih besar dan esensial tersembunyi di bawahnya, dan kita perlu menengoknya, dan memahaminya. Dengan cara ini mungkin kita akan menjadi diri kita yang lebih manusiawi.

___

Sekarang kita beralih ke harga rokok. Baru-baru ini, beredar wacana bahwa pemerintah akan menaikkan harga rokok menjadi lebih dari dua kali lipatnya, ke harga Rp50.000,- per bungkus. Alasannya macam-macam, mulai dari menyelamatkan generasi muda dari penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh rokok (baik sebagai perokok aktif ataupun pasif) sampai mengalihkan dana yang semula dipakai untuk mengobati orang-orang yang sakit akibat (me-)rokok ke hal-hal yang dinilai jauh lebih berguna seperti pendidikan. Bisa jadi, alasan tersebut masuk akal, meski sebenarnya mudah saja membantahnya dan membuatnya terkesan dangkal. Untuk sementara kita anggap saja pemerintah memang bermaksud baik. Konon kalau terlalu banyak orang di negara ini—terutama anak mudanya—adalah perokok, bangsa ini akan menjadi bangsa yang sakit-sakitan dan bodoh.

Saya bukan perokok. Hampir-hampir, saya tidak pernah merokok. Satu-satunya pengalaman merokok saya adalah ketika saya masih kecil; mungkin saat itu umur saya lima tahun. Di halaman rumah, sore hari, saya terkesima melihat ibu saya mengepul-ngepulkan asap rokok; di mata saya saat itu aktivitas tersebut begitu menyenangkan dan saya ingin mencobanya. Konyolnya, ibu saya menawarkan rokok yang sedang dinikmatinya itu kepada saya, dan saya, tanpa rasa takut ataupun ragu, langsung mencobanya; mengisapnya dalam-dalam. Seketika saya tersedak dan batuk-batuk. Ibu saya tersenyum, mungkin juga tertawa. Saya kapok dan memutuskan untuk tak pernah mencobanya lagi.

Akan terdengar mengada-ada jika tekad di masa kecil tersebut menjadi alasan sampai saat ini saya tidak merokok. Saya juga tidak hendak mengatakannya. Mengapa saya tidak merokok, saya kira, lebih disebabkan oleh saya merasa saya bisa menjalani hidup dan menjadi diri saya tanpa merokok. Tingkat stress, pergaulan, tak membuat saya menyentuh rokok. Mungkin situasinya sama seperti mengapa saya tidak minum-minum. Saya bisa baik-baik saja tanpa melakukannya, dan itu artinya saya tak punya alasan untuk melakukannya.

Tapi meskipun saya tidak merokok, dan kalau mau jujur saya benci saat-saat di mana seseorang di dekat saya merokok dan asapnya tersapu angin ke arah saya, saya tidak lantas setuju jika harga rokok dinaikkan ke angka Rp50.000,- per bungkus. Alasan-alasan pemerintah tadi, meski tak berseberangan dengan pilihan saya untuk tidak merokok, yang artinya saya sama sekali tidak dirugikan kalaupun kenaikan konyol harga rokok itu jadi diberlakukan, di mata saya terlalu dangkal. Pemerintah hanya melihat hal-hal buruk dari rokok saja dan abai terhadap hal-hal baik yang (mungkin) dimilikinya.

Apa saja hal-hal baik itu? Misalnya, sumbangsih industri rokok terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara. Pada Juni 2015, sebagaimana dilansir detikFinance, Bachrul Chairi yang saat itu masih menjabat sebagai Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional (KPI) dan Kementrian Perdagangan (Kemendag), mengatakan bahwa di tahun 2013 industri rokok menyumbang 1,66% dari total PDB negara lewat ekspornya yang mencapai 700 juta dolar (Amerika), sementara dari aktivitas di dalam negeri sendiri industri rokok juga memberikan sumbangsih berarti: penerimaan negara dari cukai untuk rokok di tahun 2013 mencapai lebih dari 103 trilun rupiah. Di tahun 2015, seperti yang diberitakan Kompas.com pada 28 April 2016, penerimaan negara dari cukai untuk rokok hampir mencapai 140 triliun.

Hal baik lainnya dari rokok adalah bahwa industri rokok menjadi sumber penghidupan bagi sebagian orang. Seperti pernah disiarkan detikFinance pada 20 Juni 2015, sebanyak 6,1 juta orang di negeri ini bekerja di industri rokok baik secara langsung maupun tak langsung, dengan 1,8 juta di antaranya petani tembakau dan cengkeh. Bayangkan rokok tak ada, atau ada tetapi berada jauh dari jangkauan masyarakat. Tingkat konsumsi rokok tentunya akan jauh berkurang dan ini akan mendorong perusahaan-perusahaan rokok untuk menerapkan efisiensi dan berakibat pada pengurangan tenaga kerja—mungkin secara besar-besaran. Mereka yang menggantungkan hidupnya pada rokok itu kemudian harus mencari pekerjaan lain, yang belum tentu akan cocok dengan keahlian dan pengalaman mereka.

Katakanlah hal-hal buruk dari rokok yang dikemukakan pemerintah tadi itu nyata dan kita tak bisa mengabaikannya. Namun, hal-hal baik dari rokok yang barusan dikemukakan juga nyata, dan kita tentu tak bisa mengabaikannya. Ini sebenarnya sederhana saja. Rokok, sebagaimana hal-hal lainnya di kehidupan ini, tak terbebas dari dualitas; ia bisa bernilai baik di satu sisi namun justru bernilai buruk di sisi lain. Melihat rokok hanya sebagai dirinya yang buruk saja atau yang baik saja, pada akhirnya, adalah sikap yang picik dan kekanak-kanakan.

Apakah saya sedang mengatakan bahwa menaikkan harga rokok menjadi Rp50.000,- per bungkus bukan sebuah tindakan yang dewasa? Ya, bisa dibilang begitu. Dan tentunya harus digarisbawahi: saya bukan seorang perokok.

Katakanlah pemerintah begitu peduli pada kesehatan warganya; ia ingin pada akhirnya nanti sebagian besar warganya tak merokok dan mereka hidup sehat dan sejahtera. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang kadung candu merokok, yang tak bisa tak produktif jika tak merokok, yang tak bisa menjalani hari-harinya dengan baik jika tak merokok, yang cenderung menjadi manusia yang menyebalkan jika tak merokok? Apakah mereka akan baik-baik saja? Apakah mereka akan bisa hidup sehat dan sejahtera? Kalaupun bisa, mereka akan butuh waktu. Dan itu artinya untuk sementara mereka terpaksa bertahan dengan mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli rokok, demi memenuhi kebutuhan mereka; itu pun kalau uang yang lebih banyak itu ada. Bagaimana jika tak ada? Mereka jadi terpaksa tak merokok? Kita yang bukan perokok harus mafhum bahwa bagi para perokok berat rokok sudah seperti nasi, semacam kebutuhan pokok yang tak bisa dilewatkan. Menghendaki mereka “sembuh” mungkin baik, tapi kita tak bisa mengabaikan hukum gradualitas yang jelas-jelas berlaku untuk manusia. Bukankah sangat mungkin para perokok berat yang “dipaksa” berhenti merokok itu jadi kehilangan produktivitas (dan kreativitas) mereka, yang nantinya justru berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi negara, misalnya?

Kita coba alasan lain. Konon, seperti yang tercantum pada meme karya @JUKIHOKI, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tahun 2013 negara mengalami kerugian sebesar 378,75 triliun rupiah karena harus menanggulangi penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh rokok (menanggulangi, atau mengobati?), dan data ini dijadikan landasan untuk mendesak orang-orang di negara ini agar tidak lagi merokok sehingga uang sebesar 378,75 triliun rupiah itu bisa dialokasikan ke hal-hal yang dianggap positif, seperti pendidikan. Persoalannya, apakah benar jika orang-orang di negara ini tak lagi merokok pemerintah jadi tak perlu lagi menyediakan anggaran untuk penanggulangan—dan pengobatan?—penyakit? Lagi-lagi, di sini saya ingin menyoroti para perokok berat, atau mereka yang telanjur menggantungkan produktivitas dan kinerjanya pada rokok. Para sopir truk dan sopir bus, misalnya. Bukan saja mereka butuh merokok untuk mengatasi bibir yang pahit, mereka juga menyadari—jika bukan meyakini—bahwa dengan merokok mereka bisa merasa santai dan lumayan nyaman, dan itu artinya mereka bisa melajukan mobil besarnya itu dengan baik; setidaknya tangan mereka tak gemetar dan mereka bisa fokus. Bayangkan mereka tak bisa merokok (atau tak cukup merokok, karena harga rokok terlampau mahal). Yang ditimpa hal buruk pada akhirnya bukan saja mereka, tetapi juga para penumpang dan orang-orang yang kebetulan berada bersama mereka—atau di sekitar mereka. Sebut saja kecelakan terjadi. Sejumlah orang terluka, sejumlah orang meninggal. Beberapa kendaraan rusak parah dan fasilitas umum perlu segera diperbaiki. Bukankah ini berarti pemerintah harus mengeluarkan uang untuk mengatasinya (dan juga menanggulanginya)? Ini seperti mengeluarkan seseorang dari kandang macan dan dengan pongah memasukkannya ke kandang buaya, atau serigala.

Dua pembahasan—jika bukan bantahan—barusan menunjukkan bahwa tindakan menaikkan harga rokok jadi selangit itu bukanlah hasil dari sebuah perhitungan—apalagi perenungan—yang menyeluruh, sebab pihak-pihak yang dikorbankan jelas-jelas ada. Seperti ada arogansi dan ketidakpedulian di sana. Apa pun nasib buruk yang akan menimpa orang-orang itu, seakan-akan dianggap bukan hal krusial; mereka justru sudah semestinya bernasib buruk agar mereka yang lain bernasib baik. Mereka adalah tumbal, untuk masa depan yang belum pasti. Tidak bisakah dicari jalan tengah saja—sebuah kompromi? Kita mungkin memang tergiur oleh hal-hal positif yang akan kita peroleh jika sebagian besar orang di negeri ini berhenti merokok, tapi kita, dengan mempertimbangkan hukum gradualitas tadi, lebih tepat jika menjadikannya sebuah program jangka panjang saja; kita biarkan orang-orang yang kadung menggantungkan hidupnya pada rokok itu sedikit-sedikit membiasakan diri alih-alih memaksakan diri dan malah stress.

Di sini kita bahkan belum menyinggung nasib buruk yang juga akan menimpa mereka yang menggantungkan penghidupannya pada industri rokok. Apakah rencana penaikan gila-gilaan harga rokok tadi juga dipikirkan tanpa memikirkan mereka? Memprihatinkan, jika iya. Tadi telah disinggung bahwa mereka adalah orang-orang yang punya andil dalam meningkatkan devisa negara, sehingga mengabaikan dampak-dampak yang akan mereka terima sama saja dengan melupakan peran-peran mereka itu, dan ini seperti pemerintah mengkhianati mereka; sesuatu yang tentunya kurang elok. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, seperti diberitakan liputan6.com, mengatakan bahwa dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, di mana jumlah orang miskin dan penganggur terus bertambah, dinaikkannya harga rokok secara gila-gilaan akan berdampak pada bermunculannya para penganggur baru.

___

Pembahasan tentang AKB48 dan harga rokok barusan, jika dicermati, adalah tentang dua hal yang sesungguhnya satu: melihat sesuatu secara menyeluruh atau secara parsial. Dalam kasus AKB48, bertahannya orang-orang untuk terus menjadi penggemar salah satunya disebabkan mereka melihat idol grup ini secara menyeluruh, meliputi hal-hal di luar panggung yang dilakukan AKB48 selama ini. Sementara dalam kasus harga rokok, yang terlihat adalah sebaliknya; dampak kenaikan harga rokok seperti hanya dilihat secara parsial—baiknya saja atau buruknya saja. Dua cara pandang ini dikatakan satu sebab pada dasarnya ia adalah konsekuensi dari berlakunya dualitas. Ketika sesuatu bisa dilihat secara menyeluruh, pada saat yang sama sesuatu itu juga bisa dilihat secara parsial. Tinggal memilih saja, pada akhirnya.

Anda sendiri akan memilih yang mana? Melihat sesuatu secara menyeluruh, atau secara parsial? Jika Anda menghendaki sesuatu yang tidak rumit, yang tidak memusingkan dan tampak mudah diatasi, Anda tentu akan memilih yang kedua. Wacana penaikan harga rokok tadi, misalnya. Misalkan Anda seorang perokok dan Anda tak ingin penaikan harga itu jadi diberlakukan, maka sebisa mungkin Anda akan mengemukakan hal-hal buruk saja dari kebijakan tersebut; hal-hal yang akan menguatkan argumen Anda dan melemahkan argumen lawan. Sebaliknya, misalkan Anda bukan seorang perokok dan Anda begitu gemas ingin kebijakan itu segera diberlakukan, maka sudah pasti yang Anda lakukan adalah menjabarkan hal-hal baik saja dari kebijakan tersebut, juga pada saat yang sama hal-hal buruk yang ditimbulkan oleh rokok selama ini.

Sebelum benar-benar menentukan pilihan mari kita sedikit beralih ke hal lain. Sebagaimana diberitakan Kompas.com, seorang warga Surabaya, Haris G. Bastian, telah membuat sebuah produk kopi yang di kemasannya terpampang foto Jessica Kumala Wongso, terdakwa dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin. Produk kopi ini sendiri dilabelinya “Jessica Coffeemix”, dengan tulisan berupa ajakan untuk ngopi dan anjuran untuk mengajak teman-teman. Mengejutkannya, Haris juga menyertakan keterangan ini: asli tanpa sianida.

Haris mengaku awalnya ia berniat menjual produk rumahan tersebut ke toko-toko; isi produknya sendiri biasa saja (hanya kopi dan gula), namun kemasannya yang “menonjol” dinilainya akan membuat para pemilik toko itu tertarik. Tapi rupanya fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Haris kemudian mencoba menayangkan produknya ini di laman Facebook pribadinya, dan keberuntungan menghampirinya; ternyata ini menjadi awal dari beredarnya produknya ini di media sosial tersebut. Menurut pengakuannya, pembeli produknya ini ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan Kalimantan. Haris membandrol produknya itu seharga Rp15.000,- per kemasannya (150 gram).

Ini jelas pelanggaran terhadap Undang-Undang Hak Cipta, seperti yang dikatakan kuasa hukum Jessica Wongso, Otto Hasibuan. Tapi kita tak akan bicara tentang itu. Yang akan kita bicarakan adalah bagaimana si warga Surabaya itu, Haris G. Bastian, seperti tak sedikit pun peduli bahwa apa yang dilakukannya ini bisa sangat sensitif, dan jauh dari kata manusiawi.

Kita tentu sama-sama tahu, kasus kematian Mirna di mana Jessica menjadi terdakwa itu sudah menjadi perhatian publik. Di televisi, persidangannya juga ditayangkan, secara langsung. Orang-orang bisa melihat seperti apa Jessica, seperti apa rincian dan kronologi kematian Mirna, dan sepeti apa pembelaan dari kuasa hukum serta keterangan dari para saksi. Terlepas dari nanti Jessica dinyatakan bersalah atau tidak, satu hal tetap sama: seseorang telah mati karena kopi yang diminumnya dicampuri sianida.

Inilah masalahnya. Seseorang telah mati. Ini artinya ada pihak-pihak yang ditinggalkan, yang berduka. Dan fakta bahwa kematian seseorang ini dibawa ke meja hijau menunjukkan betapa pihak-pihak yang ditinggalkan ini masih belum bisa merelakan kematian tersebut; beberapa hal harus diselesaikan dulu dengan adil barulah duka mereka bisa lenyap. Katakanlah begitu. Maka dalam kondisi seperti ini, sangatlah tidak aduhai kita memasarkan produk yang ada sangkut-pautnya dengan kasus tersebut; apalagi kita sampai membubuhkan kata-kata “asli tanpa sianida”. Bagaimana perasaan pihak-pihak yang ditinggalkan itu ketika membacanya? Kalaupun mereka memilih tak peduli, ini tetaplah sebuah tindakan yang tak manusiawi. Dan menjadi ironis ketika kita menyadari yang melakukannya adalah seorang manusia.

Di laman Facebook-nya, seperti yang dikutip-tampilkan Kompas.com, Haris menyatakan bahwa ia bersikap netral dan siap meminta maaf jika ada pihak yang tersakiti. Sebelumnya, ia berbasa-basi menunjukkan bela sungkawa kepada keluarga Mirna dan mendoakan hal-hal baik untuk Mirna di alam sana. Kepada Jessica ia juga mendoakan hal-hal baik. Di sini Haris seolah-olah sedang berada dalam mode orang bijak atau motivator.

Saya kira, pernyataan Haris tersebut sama sekali tidak membuatnya “bersih”, melainkan justru membuatnya tambah “kotor”. Jika memang ia berbelasungkawa, ia tentulah tidak akan membuat produk kopi bergambar Jessica tadi, dan lebih-lebih lagi tidak akan memasarkannya, baik ke toko-toko maupun secara daring. Bahkan menayangkannya di laman Facebook pribadinya pun sebenarnya sudah tindakan tak simpatik, tak empatik, dan tak manusiawi. Mengatakan ia siap meminta maaf jika ada pihak yang tersakiti jadi terdengar seperti sebuah tantangan, jika bukan kedunguan.

Mengapa Haris bisa sampai membuat produk itu? Barangkali karena ia melihat kasus kematian Mirna secara parsial. Ia mengaku sedang butuh tambahan uang, dan ia berpikir memasang foto Jessica di kemasan produk akan membuat produknya itu laku di pasaran; setidaknya menarik perhatian orang-orang. Di sini Haris sama sekali tidak mempertimbangkan apakah yang akan dilakukannya kelak menyinggung atau menyakiti sejumlah orang atau tidak. Bahkan ia terkesan sama sekali tak memikirkannya. Ia hanya melihat apa yang akan dilakukannya ini mungkin menguntungkannya. Hanya itu. Dari perkataan-perkataannya yang ditampilkan di Kompas.com, Haris terlihat sekali begitu senang produknya akhirnya ada yang membeli, yang dengan itu keinginannya memperoleh tambahan uang pun terwujud. Ia sedang bertingkah layaknya mesin penjual dan bukan manusia.

Kita bisa melihat kasus Haris sebagai cerminan bahwa parsialisme, sebuah cara pikir di mana seseorang memandang sesuatu secara parsial saja, cenderung mengarahkan seseorang untuk menyakiti seseorang yang lain, menjauhkan mereka dari sifat manusiawi, dari menjadi manusia. Ini jugalah yang terjadi pada wacana penaikan harga rokok. Tiap-tiap orang memiliki kepentingan dan demi kepentingannya ini mereka menafikan sebagian hal dan mengagungkan sebagian hal lain, hal-hal yang dinilai menguntungkan mereka. Bayangkan dunia ini dihuni oleh orang-orang seperti itu. Tentulah kompromi akan jadi barang yang semakin langka, dan kekerasan juga represi menjadi pilihan utama dalam mewujudkan sesuatu, sebab kedua hal ini sama sekali tak bergantung pada kesaling-mengertian. Salah satu contoh faktualnya kita tahu sendiri: pembubaran paksa Komunitas Perpustakaan Jalanan di kawasan Dago, Cikapayang, Bandung, oleh TNI. Dan apakah kita menghendaki sesuatu semacam ini kembali terjadi?

___

Sekarang saatnya membuat keputusan. Yang Anda pilih, yang mana?(*)

 Bogor, 23-24 Agustus 2016-

  • view 3.8 K