Kamu

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2016
Kamu

Kamu tak pernah menyangka akan menginjakkan kaki di negeri itu. Indonesia. Sebuah negeri yang selama beberapa tahun pernah terus terbayang dalam benakmu. Kamu ingat, pertama kali kamu mendengar kata “Indonesia” (waktu itu lelaki yang kelak kamu cintai mengatakan padamu bahwa ia berasal dari Indonesia), kamu mengira itu adalah nama sebuah kawasan di Malaysia. Mungkin sebuah kota, atau sebuah pulau. Begitulah kamu menduga. Si lelaki yang memberitahumu kata itu kemudian menertawakanmu, sembari berkata ia tak habis pikir di abad ke-21 ini masih saja ada orang Jepang yang tidak tahu di mana itu Indonesia. Kamu sedikit tersinggung, sesungguhnya, tapi kamu menyukai tawa lelaki itu yang terdengar renyah di telingamu, juga senyum lelaki itu yang terlihat manis di matamu. Lelaki itu lantas menjelaskan padamu panjang lebar tentang kawasan bernama Indonesia itu; tentang kehidupan orang-orang di sana, tentang kondisi pedesaan di sana, tentang tempat-tempat pariwisata di sana. Usai menyimaknya, entah karena kamu memang menyukai lelaki itu atau kamu mulai tertarik pada kawasan bernama Indonesia itu, kamu jadi terpikir untuk berkunjung ke sana, barangkali sebagai turis asing, setidaknya sekali seumur hidup. Lelaki itu berkata akan dengan senang hati menemanimu berpetualang dan menghabiskan waktu di sana jika kelak kamu benar-benar berkunjung ke sana. Kamu tersenyum. Dengan nada bicara kelewat manja kamu meminta lelaki itu berjanji dan mengaitkan kelingking tangan kirinya ke kelingking tangan kirimu—yang telah kamu sodorkan lebih dulu.

Ketika lelaki yang kamu cintai itu pulang ke negeri asalnya, Indonesia, kamu masih berharap suatu hari kamu akan jadi berkunjung ke sana, dan lelaki itu akan menepati janjinya. Itu kira-kira dua tahun setelah pertemuan pertama kalian. Kamu masih mencintai lelaki itu, bahkan dengan tingkatan yang lebih gila. Kamu sempat begitu enggan melepas lelaki itu saat kalian berpisah di bandara. Tangan lelaki itu di tanganmu; mata lelaki itu di matamu. Kamu ingin sekali menahan tangan itu lebih lama pada tanganmu dan menyihir mata lelaki itu agar terus menatapmu. Lalu kalian berpelukan, dan berciuman. Kamu sesungguhnya seorang pemalu dan tak menyukai pengungkapan perasaan di ruang publik seperti itu. Vulgar, katamu. Tetapi pada saat itu agaknya kamu tak peduli. Sedikit pun tak peduli. Meskipun kamu merasa yakin suatu saat akan berkunjung ke Indonesia dan bertemu lelaki itu lagi, entah kenapa, di saat yang sama kamu juga meragukannya. Mungkin saja sesuatu terjadi, pikirmu. Mungkin saja selama di sana itu ia kembali menikmati waktu-waktu menyenangkannya bersama istri dan anaknya dan karenanya melupakanku, lanjutmu. Di pintu keberangkatan kamu melepas lelaki itu, dengan berat. Malam harinya kamu menerima surel dari lelaki itu yang mengatakan ia sudah tiba di Jakarta dan langsung merindukanmu.

Selama dua tahun kamu menikmati hari-hari bersama lelaki itu, kamu telah melakukan banyak hal—untuknya. Lelaki itu agaknya mengetahui bahwa kamu menyukainya (mungkin dari tatapan matamu), dan ia seperti membuka pintu dan menyediakan jalan agar kamu bisa memasukinya, mengenalnya. Kalian sering makan siang bersama, bahkan kemudian saling menyuapi—membuat iri sekaligus jengah rekan-rekan kerja kalian. Di hari libur kalian berjalan-jalan di taman, atau berekreasi ke tempat hiburan, atau berendam di sebuah pemandian air panas dan bermalam bersama. Pada awalnya, kalian memasuki pemandian air panas secara terpisah, dan tidur di dua kamar yang juga terpisah. Lama-kelamaan, kalian memasuki pemandian air panas yang sama, dan tidur di kamar yang sama. Kamu menyukai cara lelaki itu membangun suasana ke arah sana, dan kamu dengan sendirinya tak keberatan jika kemudian sesuatu yang menegangkan—namun menyenangkan—akan terjadi. Jantungmu berdegup kencang, saat suatu malam lelaki itu merangkulmu lantas menghirup tengkukmu dan menciuminya. Kamu tak keberatan. Kamu bahkan berpikir untuk melepas saja blazer hitam dan kemeja putih-halus yang kamu kenakan.

Lelaki itu tak pernah mengasarimu. Tidak bahkan dengan bahasa tubuhnya. Ia sesungguhnya tidaklah tampan; setidaknya kamu memiliki sejumlah teman lelaki yang dengan memandangi wajahnya kamu akan merasa begitu haus. Dan lelaki itu, dalam hal ini, berada pada level jauh di bawah mereka. Tetapi kamu menyukainya, dan mencintainya. Kamu seperti tak lagi peduli bahwa kulit lelaki itu bahkan sedikit terlalu gelap untuk standar yang kamu tetapkan. Dan kenyataan bahwa lelaki itu seorang gaijin (sebutan orang Jepang untuk orang asing yang berada di negeri mereka—penerj.) dan tak akan selamanya berada di Jepang, seperti sesuatu yang kamu tak sedikit pun ingin memahaminya. Bahkan, ketika kamu tahu lelaki itu seorang Muslim, kamu mengabaikan ingatan-ingatanmu yang memberitahumu bahwa sejumlah Muslim telah melakukan aksi teror yang memakan korban jiwa di berbagai belahan dunia.

Kamu ingin menikahinya. Kamu ingin hidup bersamanya, dalam satu rumah. Hasrat itu terbit di benakmu suatu pagi saat kamu menggosok gigi. Kamu bayangkan, di gelas tempat kamu menyimpan sikat gigi itu terdapat sepasang sikat gigi; kamu mengambil yang satu dan lelaki itu mengambil yang lain. Di depan cermin yang tak cukup besar itu, kalian menggosok gigi bersama. Sesekali ia akan berdiri di belakangmu dan dengan sebelah tangannya menggelitik pinggangmu, membuatmu geli dan memuntahkan sebagian busa pasta gigi dalam mulutmu. Tanpa berkumur lebih dulu, dan tanpa mengatakan apa pun, kalian berciuman. Kalian terus berciuman beberapa menit lamanya seakan-akan kalian lupa bahwa pagi itu kalian harus segera mengejar kereta. Bibir lelaki itu mungkin terasa sedikit pedas, sedangkan lidahnya sedikit lebih manis dari biasanya.

Pernah saat kalian menghabiskan malam bersama di sebuah love hotel (saat itu kalian baru saja menyelesaikan tugas kantor di luar kota dan mendapati sudah terlalu malam untuk bergerak ke stasiun), kamu terpikir untuk mempraktikkannya. Kalian akan bercinta, namun kamu berkata akan mandi dan keramas terlebih dulu. Sekeluarnya dari kamar mandi, saat kamu masih hanya mengenakan handuk putih yang disediakan pihak hotel, kamu berdiri di depan wastafel, dan sibuk membenahi lilitan handuk-putih-kecil lainnya di kepalamu. Lalu lelaki itu merangkulmu, dari belakang. Ia bilang ia sudah haus, sangat sangat haus, dan kamu bilang kamu sudah lapar. “Mau di sini aja?” bisik lelaki itu, dan mukamu memerah. Kamu melepaskan diri dari rangkulan lelaki itu dan mendorongnya seraya memintanya untuk mandi.

Dalam dua tahun kebersamaan kalian itu, kamu tidak tahu, sudah berapa kali kamu bercinta dengannya. Kamu tahu lelaki itu sudah beristri, tapi kamu seperti tak memedulikannya dan hanya berpikir untuk menikmatinya dan menikmatinya. Lelaki terakhir sebelum lelaki itu yang kamu bercinta dengannya teramat terobsesi dengan makian-makianmu, sehingga di setiap kalian bercinta kamu selalu menjadi pihak yang kasar dan dominan, dan menekan. Kondisi berbeda kamu alami saat bercinta dengan lelaki yang kamu cintai itu. Tidak ada makian-makian. Tidak ada yang mendominasi. Lelaki itu seperti begitu terbiasa dengan kese(t)imbangan, dan entah kenapa kamu menyukainya. Kerapkali, kalian mencapai puncak bersamaan. Kamu sesekali terbawa suasana sampai-sampai membiarkan lelaki itu mengeluarkan air maninya di dalam—tanpa mengenakan kondom. Kamu bersyukur, kamu selalu saja “selamat” setelahnya.

Setelah lelaki yang kamu cintai itu kembali ke Indonesia, kamu dan ia sesekali bertukar kabar lewat surel, atau fesbuk. Kalian bercakap-cakap—sebenarnya balas-membalas ketikan—tentang apa saja. Apa saja. Kamu merindukan lelaki itu dan ingin sekali segera mengunjunginya, dan pada saat yang sama kamu kesal sendiri mendapati jadwalmu sehari-hari begitu padat dan seperti akan terus seperti itu untuk satu-dua tahun ke depan. “Mungkin aku ambil cuti saja. Atau, resign,” ujarmu, saat kalian bertatap muka via Skype. Lelaki itu memintamu untuk bersabar. Ia juga meminta maaf jika akan semakin jarang bisa mengobrol denganmu seperti itu. Kamu mencoba mengerti. Ia bagaimanapun memiliki seorang istri dan dua orang anak, dan kamu tak sanggup membayangkan ia harus dimusuhi bahkan dijauhi oleh istri dan anak-anaknya itu. Ia bilang ia mencintaimu, dan ia mengulanginya tiga kali. Kamu, di depan layar komputer, tersenyum-senyum malu sambil memeluk dirimu sendiri.

Lalu tibalah kamu pada hari-hari yang tak pernah kamu harapkan akan kamu hadapi. Telah hampir tiga bulan, dan lelaki itu belum juga membalas pesan-pesanmu. Kamu mencoba mengirim lagi pesan-pesan baru, namun tak juga terbukti itu berguna. Kamu mulai kesal, dan di saat yang sama kamu mulai takut. Kamu takut, lelaki itu sedang berusaha melupakanmu. Kamu takut, kebersamaan kalian itu, yang kamu sangat menikmatinya, akan berakhir. Berakhir begitu saja. Kamu lantas mulai mengintip aktivitas-aktivitas lelaki itu di akun fesbuknya, setiap hari. Kamu kecewa, karena ia tak sedikit pun menyinggungmu, atau kebersamaan kalian, atau sekadar menunjukkan bahwa ia merindukanmu—dan membutuhkanmu. Kamu mulai membencinya, meski di dalam hatimu kamu masih berharap lelaki itu akan kembali menghubungimu, akan kembali meresponsmu. Ketika suatu malam saat akan mengintip kamu dapati akun fesbuk lelaki itu lenyap, kamu gelisah. Kamu mencari dan mencari, dan mencari dan mencari, namun akun tersebut benar-benar lenyap; kamu tak bisa menemukannya; kamu tak lagi terhubung dengannya. Dan kamu pun akhirnya tersadar: lelaki itu memblok akun fesbukmu. Ia, benar-benar berusaha melupakanmu.

Kamu sakit hati dan benar-benar membenci lelaki itu, dan kebencianmu ini membawamu ke kenyataan lain bahwa kamu rupanya membenci juga dirimu sendiri. Kamu benci dirimu yang begitu mencintai lelaki itu. Kamu benci dirimu yang begitu percaya lelaki itu akan selamanya membalas cintamu. Kamu benci dirimu yang dulu begitu mudahnya “menyerahkan diri” kepada lelaki itu, dari waktu ke waktu. Kamu benci dirimu. Benci sebenci-bencinya.

Rekan-rekan kerjamu agaknya menyadari hal ini dan mereka mulai memberikan perhatiannya padamu, terutama lelaki-lelaki yang sedari dulu memang mengincarmu dan kamu tahu itu. Di mata mereka, barangkali, kamu adalah sesosok perempuan yang harus ditaklukkan, yang harus dicoba didekati dan digoda setidaknya sekali seumur hidup. Umurmu saat itu tiga dua, dan kamu masih menunjukkan kesegaran dan kelincahan seorang mahasiswa di awal dua puluhan. Kulitmu putih. Putih bersih. Hidungmu sempurna dan lelaki yang kamu cintai dulu sering berkata betapa bibirmu yang tipis-mungil adalah pasangan yang paling pas untuk hidungmu itu. Rekan-rekan kerjamu yang perempuan kerap menggunjingkanmu di belakangmu; dinilainya kamu menyia-nyiakan diri sebab dengan segala daya-tarikmu itu kamu justru memilih untuk tak menikah. Mereka, sungguhlah, sama sekali tak mengenalmu.

Satu hal yang kamu banggakan tentang dirimu: kamu orang yang tegar dan profesional. Meski saat itu kondisi psikismu sedang sangat buruk, kamu tak membiarkannya berdampak pada kinerjamu di kantor. Kamu tetap bekerja seperti biasa; melakukan tugas-tugasmu seperti biasa. Memang sesekali kamu terlihat murung dan sedih, tetapi kemurungan dan kesedihan itu sekejap lenyap saat kamu berada dalam situasi harus berhadapan dengan klien, atau atasan. Bisa jadi gara-gara hal ini rekan-rekan kerjamu yang perempuan itu terus menggunjingkanmu, dan rekan-rekan kerjamu yang laki-laki itu terus mencoba mendekatimu. Kamu tak peduli. Kamu selalu menganggap dirimu sosok yang berbeda dari mereka. Mereka berada pada ruang dan dimensi tertentu, kamu berada di ruang dan dimensi lain. Hanya lelaki itu, hanya lelaki yang kamu cintai itu, yang berada di ruang dan dimensi yang sama denganmu.

Kamu berhasil melanjutkan hidupmu dengan baik. Tahun demi tahun berganti dan kamu tak lagi memikirkan lelaki itu. Kebencianmu padanya sudah lenyap, begitu juga kerinduanmu padanya. Tanpa kamu sadari, umurmu kemudian sudah tiga puluh lima. Tapi bahkan di umur itu pun, kamu masih terlihat begitu segar dan bersinar.

Lalu suatu ketika sesuatu mengubahmu. Maret 2011. Gempa besar menyapu Tohoku dan memorak-porandakan kehidupan di sana. Kamu tidak tinggal di kawasan itu, tapi orangtuamu, lebih tepatnya orang tua angkatmu, tinggal di kawasan tersebut dan turut menjadi korban; rumah mereka hancur dan jasad mereka ditemukan di antara puing-puing rumah beberapa hari setelah gempa.

Kamu membenci mereka, sebenarnya. Sewaktu kecil kamu menyukai mereka namun ketika di umur 16 kamu mengetahui mereka ternyata bukanlah orangtuamu yang sesungguhnya, dan mereka kemudian menolak memberitahumu hal-hal tentang orangtuamu yang sesungguhnya, kamu jadi membenci mereka. Membenci mereka sebenci-bencinya. Mereka mungkin tak bisa memiliki anak sehingga ketika selepas kuliah kamu pergi meninggalkan mereka tak ada lagi yang menemani mereka. Sewaktu-waktu, mereka mencoba menghubungimu; meneleponmu atau mengirimu meeru. Tapi kamu tak pernah membalasnya. Tak pernah meresponsnya. Ketika kemudian kamu menyadari mereka mungkin adalah dua dari sekian banyak korban jiwa dari gempa hebat itu, kamu biasa saja. Benar-benar biasa saja. Kamu tahu mereka tak lagi ada di dunia ini, di kehidupan ini, tetapi kamu tak bersedih, tak meratap dan tak menyesali apa pun. Seolah-olah kamu merelakan kepergian mereka sepenuh hati kamu. Namun, kondisinya berbeda saat kamu menatap langsung rumah mereka yang hancur itu dengan matamu. Masa kanak-kanakmu, yang rupanya menyenangkan itu, seketika terbayang di benakmu; seperti menyeruak muncul dari rumah yang hancur itu dan melayang-layang menghampirimu dan memasukimu. Kamu tersenyum, dan kamu merasa senyummu itu pahit. Kamu tahu kamu sudah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kamu, dan kamu menyadari kamu bisa saja kehilangan lebih banyak dari itu.

Sejak saat itu kamu jadi memikirkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah kamu pikirkan. Kamu bertanya-tanya, misalnya, untuk apa kamu hidup; mengapa kamu hidup sementara sekian banyak orang mati gara-gara gempa itu. Kamu juga bertanya-tanya, di mana dan seperti apa orangtuamu yang sesungguhnya; apakah mereka juga menjadi korban jiwa atau bagaimana. Dan kamu juga bertanya-tanya, mengapa dulu orangtuamu yang sesungguhnya ini tak merawatmu, tak membesarkanmu, malah menyerahkanmu pada dua orang asing. Kamu tak mengerti mengapa kehidupan setak-sederhana ini, dan setak-menyenangkan ini. Dan kemudian kamu teringat lelaki yang kamu cintai itu, dan kamu kembali merindukannya.

Waktu itu telah empat setengah tahun berlalu sejak lelaki itu kembali ke negeri asalnya, Indonesia. Setelah membuka keran-rindumu untuknya, kamu mendapati, kerinduanmu itu dengan cepat mengalir deras, semakin deras dan deras, dan itu menyiksamu. Kamu anehnya tak bisa lagi mencoba untuk baik-baik saja selama di kantor. Kinerjamu tak sebaik yang biasanya; raut mukamu lebih pantas kamu tunjukkan di sebuah bar atau kamar mandi ketimbang di meja kerja. Kamu menyadari, sesuatu telah hilang dari dirimu (entah terambil atau bagaimana), dan setelah itu segalanya jadi berbeda. Segalanya, di mata kamu, jadi berbeda. Dua bulan kemudian kamu memutuskan untuk resign. Tak ada yang bisa mencegahmu bahkan itu atasanmu sendiri.

Kamu mencoba menghibur diri dengan bepergian ke sejumlah tempat, seorang diri. Mulanya kamu tak menyadarinya namun rupanya tempat-tempat yang kamu kunjungi seorang diri itu adalah tempat-tempat yang dulu kamu kunjungi berdua bersama lelaki yang kamu cintai. Kamu jadi murung. Kamu rasakan dadamu sesak dan tangan-kakimu gemetar tanpa sebab. Ketika kamu menatap langit, menengadah dan membiarkan dirimu seperti itu beberapa lama, airmatamu jatuh. Jatuh dan terus jatuh. Setibanya di kamar apartemenmu kamu langsung memasuki kamar mandi dan menyalakan shower dan berdiri di bawahnya, sekian lama. Kamu, tak melepas apa-apa yang kamu kenakan terlebih dulu.

Dan akhirnya, setelah berbulan-bulan tersiksa, kamu berada di bandara. Kamu akan terbang ke Indonesia. Kamu akan menemui lelaki yang kamu cintai. Sehari sebelumnya, dan tiga hari sebelumnya, kamu mengirimi lelaki surel; memberitahukan kunjunganmu ke sana. Bagaimanapun, kamu berharap ia mengetahuinya, dan mau menemuimu.

Apa yang akan kamu lakukan nanti saat bertemu lelaki yang kamu cintai itu, kamu belum tahu. Jelas ia memiliki kehidupan di negeri asalnya itu, dan kamu tidak tahu apakah kamu masih bisa seperti dulu—sama sekali tak memikirkannya dan menikmati waktu-waktu menyenangkan bersama lelaki itu. Pokoknya, aku harus bertemu dengannya. Aku harus melihat sosoknya, dengan mata-kepalaku sendiri, ujarmu, di dalam hati. Setibanya di Jakarta, kamu tak bisa berhenti membayangkan pertemuanmu dengan lelaki itu. Pertemuan setelah sekian lamanya. Dan kamu tiba-tiba bertanya—agaknya ke dirimu sendiri: “Apa yang akan kulakukan kalau ternyata dia sudah tak ada?”

Kamu sudah membeli tiket bus menuju Bogor (kamu ingat dulu lelaki itu mengatakan di Indonesia ia tinggal di Bogor, dan di salah satu surelnya yang tersimpan di inbox-mu kamu dapati alamat-tinggalnya di Bogor yang ia cantumkan), dan kamu kini tengah menunggu bus-menuju-Bogor itu datang. Indonesia panas, gumammu, dan kamu menyesal mengenakan celana jins panjang, bukannya rok pendek. Tak ada teman. Tak ada siapa pun yang kamu kenal dan mengenalmu. Kerongkonganmu kering, tapi alih-alih minuman dingin, yang terbayang di benakmu malah pertemuanmu dengan lelaki itu; kalian, di suatu tempat, berciuman.

Kamu meraih ponsel. Surel balasan dari lelaki itu belum juga datang. Kamu mulai merasa teramat lelah dan ingin duduk. Kamu mulai membayangkan tengah berada di kamar apartemenmu dan berbaring di futon. Televisi menyala, meski kamu tak menyimaknya. Sama sekali tak menyimaknya.(*)

 Bojongpicung, 27 Juni 2016

  • view 182