Bona & Mona

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2016
Bona & Mona

Ketika itu Bona dan Mona masih ada dan ia sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Setibanya di kamar, sehabis jogging mengitari kampus Institut Pertanian Bogor, ia langsung menyapa kedua hamsternya itu, dan memberitakan kepada mereka—untuk kesekian kalinya—tentang janji kencannya bersama si perempuan pada pukul empat sore. “Sudah satu bulan aku tidak melihatnya dan aku sudah tak sabar ingin memeluknya, dan menciumnya,” katanya, kepada Bona, sambil memasukkan tangannya ke kandang dan meraih hamster jantan tersebut. Sejak seminggu sebelumnya, Bona dan Mona ia tempatkan pada kandang yang berbeda; Bona di kandang yang kecil sendirian sedangkan Mona di kandang yang besar bersama anak-anaknya. Ia dekatkan Bona yang berhasil ditangkapnya itu ke wajahnya. Hewan mungil itu, dalam keadaan seolah-olah menelentang di hadapannya, terpejam dan sedikit-sedikit mengernyit ketika ia meniup-niupnya beberapa kali.

Kepada kedua hewan peliharaannya itu ia telah menceritakan banyak hal, termasuk di dalamnya hal-hal yang ia alami bersama si perempuan. Suatu kali, misalnya, ia menceritakan dengan penuh gairah bagaimana ia berhasil mencium perempuan itu di bibirnya dan kemudian menciumnya juga di bagian-bagian tubuhnya yang lain. Itu kira-kira delapan bulan yang lalu, saat kedua hamsternya itu masih remaja, dan kandang yang besar itu belum ada. Di kesempatan lain, sekitar tiga bulan setelahnya, ia menceritakan kepada kedua hewan itu tentang bagaimana ia dan si perempuan bersenggama untuk pertama kalinya, dan seolah-olah khawatir orang lain akan mendengarnya ia menceritakannya dengan suara yang teramat pelan layaknya bisikan. “Di pertemuan kami bulan depan, kami akan melakukannya lagi.” Begitulah ia berbisik. Kepada kedua hamster itu ia tersenyum dan meski ia tahu mereka tak memahami apa yang diucapkannya namun ia merasa senang luar biasa.

Selain sebagai teman bercerita, ia juga memperlakukan kedua hamsternya itu sebagai objek penghibur. Tempo hari, ketika ia baru saja menerima kabar buruk dari si perempuan, bahwa perempuan itu merasa apa-apa yang ada di antara mereka adalah kesalahan dan semestinya tak dibiarkan berkembang lebih jauh lagi, ia begitu murung, begitu kuyu, sampai-sampai selama seharian itu ia nyaris tak memakan dan meminum apa pun. Yang dilakukannya, hanyalah berdiam di kamarnya, berbaring dan duduk dan berbaring, dan mengamati tingkah-laku kedua hewan tersebut. Yang terakhir ini untunglah benar-benar menghiburnya, dan sedikit demi sedikit ia merasa kondisinya membaik. Bagaimanapun, Bona dan Mona memanglah hewan-hewan yang lucu. Rambut mereka yang putih-bersih, kaki-kaki mereka yang pendek-mungil, mulut mereka yang bergerak-gerak cepat ketika makan, semua itu begitu lucu, dan ia seringkali mendapati dirinya begitu saja tersenyum dan tersenyum. Pernah bahkan, ia sampai tertawa-tawa. Itu terjadi ketika ia, secara tidak sengaja, mendapati kedua hewan tersebut sedang bersenggama. Itu adalah pertama kalinya dan sambil terus tertawa ia mengambil ponselnya dan lekas-lekas merekam persenggamaan tersebut.

Kelak ia menyadari bahwa kepada Bona dan Mona ia rupanya tak pernah mengemukakan masalah-masalahnya, kesedihan-kesedihannya. Meskipun kepada mereka ia banyak bercerita, tetapi itu semua adalah tentang hal-hal yang membuatnya senang. Ia tak tahu mengapa bisa seperti itu, seolah-olah ia tak ingin membebani mereka dengan penderitaan-penderitaannya, sebab ia tak ingin melihat mereka ikut-ikutan murung. Atau mungkin, ia merasa membagikan kesedihannya kepada mereka tak akan banyak berguna baginya, atau bahkan tak ada gunanya sama sekali. Bagaimanapun, mereka hanyalah hewan. Seberapa menghibur pun kelakukan mereka, mereka tak akan bisa mengutarakan saran-saran atau nasihat-nasihat yang mungkin sangat dibutuhkannya.

Pagi itu, sebab suasana hatinya sedang sangat baik, kepada mereka ia terus bercerita dan bercerita. Ia lebih banyak melakukannya kepada Bona, sebab Mona masih menyusui anak-anaknya dan dalam kondisi seperti itu ia biasanya begitu sensitif dan mudah terusik, dan itu bisa berdampak pada stresnya hewan tersebut dan akhirnya memakan anak-anaknya sendiri. Itu pernah terjadi, sekali, dan ia tak ingin itu terulang.

___

Si perempuan yang akan berkencan dengannya adalah seorang editor senior sebuah penerbitan besar di ibukota. Mulanya mereka bertemu untuk urusan pekerjaan; si perempuan membaca naskah novel kirimannya dan mendapati naskah tersebut potensial dan ia mengatur pertemuan demi pertemuan. Ia tak tahu kapan persisnya ia mulai menyukai perempuan itu, kapan persisnya ia mulai merasakan ketertarikan seksual terhadapnya. Perempuan itu tak lagi muda, namun juga belum terlihat tua. Ia sendiri sesungguhnya tak begitu yakin tetapi mungkin yang membuatnya terpikat dan jatuh cinta adalah cara berbicara dan bahasa tubuh si perempuan. Bagaimana menjelaskannya, aku sendiri kurang begitu paham. Mungkin, ia merasa pengaturan tempo dan permainan intonasi si perempuan membuatnya senang. Mungkin, ia merasa gerakan alamiah tangan dan bahu si perempuan membuatnya gemas. Entahlah. Yang jelas dua hal itu membuatnya terpikat, terpesona, dan akhirnya hanyut. Tentu saja pada awalnya ia menyimpan apa yang dirasakannya ini untuk dirinya sendiri saja; ia tidak ingin merusak kedekatannya dengan si perempuan, sebab itu bisa berdampak buruk pada naskah novelnya yang sedang digarap itu. Namun suatu ketika, seakan-akan tengah diilhami wahyu, ia melihat gerak-gerik si perempuan sedikit berbeda. Sedikit berbeda dari biasanya. Ketika perempuan itu menatap matanya, misalnya, itu hanya berlangsung sekejap saja, dan si perempuan segera mengalihkan pandangannya dan terlihat malu. Atau, ketika perempuan itu, karena suatu hal, tersenyum padanya, ia merasa senyum perempuan itu tidak lagi sebuah senyum yang hambar, melainkan menguarkan kehangatan dan mengalirkannya. Ia sempat mengira itu hanya perasaannya saja, namun seiring waktu berlalu yang tampak di depan matanya itu semakin nyata dan semakin nyata, dan suatu hari ia akhirnya menyadari bahwa si perempuan memang tertarik juga kepadanya. Ia mencoba memastikannya dengan menyentuh dan menggenggam tangan si perempuan, dengan sentuhan dan genggaman yang lembut dan perlahan, dan perempuan itu seketika tersenyum. Begitulah kemudian pada pertemuan-pertemuan berikutnya, mereka tak lagi hanya bercakap-cakap tentang naskah novel tadi, melainkan juga tentang hal-hal pribadi mereka.

Pertemuan pertamanya dengan si perempuan adalah tiga belas bulan sebelumnya dan naskah yang dikirimkannya itu telah selesai mereka garap enam bulan kemudian dan dua bulan setelahnya naskah tersebut diterbitkan. Itu artinya, dalam lima bulan terakhir, mereka tak lagi bertemu untuk urusan naskah. Memang hal-hal terkait promosi dan pemasaran kerap menjadi topik perbincangan mereka, tetapi itu bukanlah yang utama. Layaknya sepasang kekasih pada umumnya, yang menjadi topik utama percakapan mereka adalah hal-hal kecil di sekitar mereka, di antara mereka. Satu kali dalam setiap bulannya mereka bertemu, dan ketika mereka bertemu itu mereka bisa melakukan apa saja, termasuk bersenggama. Si perempuan selalu menjadi pihak yang berkunjung. Mereka berdua memang telah menyepakati bahwa sebisa mungkin hubungan istimewa mereka ini tidak diketahui oleh siapa pun, terutama rekan-rekan kerja si perempuan. Ia mengerti kekhawatiran si perempuan. Selama ia masih bisa bertemu dengan si perempuan setiap bulannya, ia merasa itu sama sekali bukanlah masalah.

Tadi telah kusinggung bahwa suatu hari si perempuan mengutarakan padanya pergeseran cara pandangnya atas hubungan mereka. Percakapan itu terjadi via telepon, sehari setelah mereka melakukan persenggamaan ketiga mereka. Dengan nada bicara yang berat perempuan itu memintanya untuk tidak menghubunginya lagi dan melupakan segala hal yang pernah ada di antara mereka, yang pernah terjadi di antara mereka. Tentu saja, ia menolaknya. Dikatakannya bahwa jikapun memang ada yang salah dengan hubungan mereka maka itu adalah terbilang sedikitnya pertemuan-pertemuan mereka, kencan-kencan mereka, padahal mereka telah menjadi sepasang kekasih berbulan-bulan lamanya. Selama beberapa hari setelahnya, ia mencoba menghubungi si perempuan, dan si perempuan terus-menerus mengabaikannya. Ia benar-benar merasa hubungan mereka tidak semestinya berakhir secepat itu, dan demi membuatnya tetap memiliki tenaga untuk berjuang ia menghabiskan waktu berjam-jam lamanya setiap harinya mengamati tingkah-laku kedua hamsternya. Dan ketika akhirnya si perempuan menjawab teleponnya, dan kemudian mereka mengobrol panjang lebar tentang apa-apa yang mereka rasakan dan pikirkan, ia menceritakan hal tersebut kepada kedua hamsternya itu. “Kalian tahu, besok aku akan ke ibukota, dan aku akan menunggunya di kafe di depan kantornya dan akan kutelepon dia saat dia muncul di pelataran parkir. ‘Hai, coba tebak aku sedang di mana, dan apa yang kubawa?’ Mungkin itu yang akan kukatakan. Minggu depan dia berulangtahun dan sudah kuputuskan untuk merayakannya besok saja. Terlalu cepat memang, tapi pasti dia senang. Aku bahkan sudah bisa membayangkan kedua pipinya yang halus itu memerah, dan itu membuatku gemas.” Seperti biasa, ia tersenyum gembira meski kedua hamsternya itu sama sekali tak memahami apa yang baru saja dikatakannya.

___

Malam harinya, setibanya di kamar, ia tampak begitu kuyu. Dibiarkannya pintu kamar separuh terbuka, dan setelah menggantungkan jaket ia jatuhkan tubuhnya di kasur begitu saja. Lampu, belum ia nyalakan. Menatap langit-langit dalam keadaan gelap ia seperti menatap sesuatu yang jauh dan tak terjangkau olehnya. Sesuatu yang jauh, dan seperti akan menghilang dalam sekejap. Dari sudut kamar di dekat jendela bisa didengarnya bunyi hamsternya yang berlari-lari. Bunyi itu terus didengarnya, berbelas-belas detik lamanya. Dan kemudian ia merasakan pipi kanannya basah oleh air mata.

Si perempuan yang dicintainya, dalam kencan mereka beberapa jam sebelumnya itu, mengutarakan keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Hal semacam ini pernah terjadi, dan karenanya ia semestinya bisa menyikapinya dengan tenang, namun kenyataannya ia justru panik. Degup jantungnya mendadak mencepat dan mencepat. Jari-jari tangannya gemetar, dan ia terpaksa mengepalkan tangan.

“Ada satu hal yang sampai detik ini belum juga kuberitahukan padamu,” ujar perempuan itu, dengan tatapan mata seperti permukaan kolam yang tenang.

“Apa?” Hanya itu yang diucapkannya. Bahkan meski si perempuan tak jadi mengutarakan apa yang ingin dikatakannya itu, ia tahu itu bukan sesuatu yang baik.

“Aku takut menyakitimu,” ucap perempuan itu.

Ia terdiam sejenak. Menurutnya kata-kata perempuan itu bisa juga diartikan bahwa keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka masihlah lebih mendingan ketimbang apa yang akan dikatakannya. Dan itu berarti, ia harus siap rasa sakitnya bertambah.

“Katakan saja,” ujarnya.

Perempuan itu, setelah sejenak mengalihkan matanya ke cangkir kopi yang masih penuh, kembali menatapnya. Kali ini, meski mata itu tetap mata yang sama, ia bisa merasakan bahwa di balik ketenangan yang dihadirkannya ada pergerakan arus yang kuat. Ia tahu, perempuan itu tidak baik-baik saja.

“Aku akan pergi, ke tempat yang jauh. Mungkin ke luar pulau. Mungkin ke luar negeri.”

Begitulah perempuan itu berkata, dan ia hanya terdiam.

“Selama ini aku sebenarnya menjalin hubungan juga dengan lelaki lain. Ketika tempo hari aku memintamu untuk tak lagi menghubungiku, alasanku yang sesungguhnya adalah karena aku ingin mengalihkan perhatianku sepenuhnya pada lelaki itu; aku ingin berpisah denganmu dan sepenuhnya menjadi miliknya. Bukannya aku tak mencintaimu. Bukannya aku tak menyayangimu. Aku hanya merasa menjalin hubungan dengan lelaki itu jauh lebih pantas dan wajar bagiku. Umur kami hanya terpaut dua tahun, dan dia lebih tua dariku.”

 Arus yang kuat itu dirasakannya semakin kuat saja. Ia bahkan mulai melihat permukaan kolam itu tak lagi tenang.

“Aku menikmati waktu-waktuku bersamamu. Kau membuatku merasa nyaman. Kau membuatku merasa muda kembali. Kadang aku teringat persenggamaan kita dan aku jadi senyum-senyum sendiri menyadari betapa anehnya apa yang kita lakukan itu. Di lain waktu, ketika aku teringat hal itu, aku merasa bersalah.”

Perlahan-lahan, permukaan kolam itu kembali tenang.

“Ketika kita kembali menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, dengan lelaki itu pun aku masih terus bertemu. Dia bekerja dan tinggal di ibukota, dan itu artinya kami punya banyak kesempatan untuk bertemu. Maafkan aku jika yang kukatakan ini benar-benar menyakitimu, tetapi jumlah persenggamaanku dengan lelaki itu jauh lebih banyak daripada jumlah persenggamaan kita. Aku menyukainya, meski harus kuakui aku kemudian jadi lebih menyukaimu. Kalian dua orang yang berarti bagiku, dan aku sudah lelah merasa bersalah.”

Kali ini, ketenangan permukaan kolam itu membuatnya cemas. Ketenangan itu berada pada tahap di mana si kolam tak lagi terlihat nyata.

“Aku sudah memberitahu lelaki itu lebih dulu. Mungkin karena kematangannya, dia bisa memahamiku. Dan sekarang aku memberitahumu. Aku tak bisa lagi menjalani hubungan ini dan aku tak bisa lagi berada di sini. Tidak di kota ini, tidak di ibukota. Tidak selama aku masih sangat mungkin bertemu kalian sewaktu-waktu. Dan karena itulah, aku akan pergi.”

Ia tak mengerti mengapa selepas si perempuan mengutarakan semua itu ia tidak berusaha memintanya untuk tinggal, untuk membatalkan keputusannya, untuk mencoba menggeser cara pandangnya dan memulai kembali semuanya. Mungkin, apa yang dikatakan perempuan itu begitu menghantamnya. Mungkin, mendapati dirinya selama ini diduakan benar-benar menyakitinya. Atau mungkin, karena permukaan kolam itu; ketenangan permukaan kolam itu telah menyihirnya dan menjebaknya di sana, di dalam dirinya.

Kembali didengarnya hamsternya berlari-lari. Dan kini ia juga mendengar hamsternya yang satunya lagi menggigiti jeruji kandangnya. Ah, aku belum memberi mereka makan malam, pikirnya seketika. Tapi ia terlalu lelah. Ia terlalu lelah bahkan untuk bangkit terduduk dan menghampiri dispenser. Kerongkongannya terasa kering. Ia telah menangis tersedu-sedu di toilet mall selepas perempuan itu pergi dengan hanya memberinya sebuah kecupan tipis—di pipi.

___

Besoknya dan beberapa hari setelahnya ia hampir-hampir tak melakukan apa pun. Berbaring, minum. Buang air, mandi. Ketika ia memaksakan diri untuk makan ia mendapati selera makannya lenyap saat makanan itu masih tersisa banyak, dan ia selalu membuangnya. Telah berkali-kali ia mencoba menghubungi perempuan itu, namun selalu saja yang didapatinya adalah nomor yang dihubunginya itu sedang tak aktif. Ini, jauh lebih buruk daripada yang pernah dialaminya berbulan-bulan sebelumnya.

Menghadapi kenyataan sepahit itu, ia tak lagi ambil pusing soal apa-apa yang ada di sekitarnya. Baju-baju kotornya dibiarkannya menumpuk di ember, debu-debu di lantai dibiarkannya menebal dan menebal. Dan Bona dan Mona, kedua hewan peliharaannya itu, belum lagi ia beri makan. Sebenarnya sesekali ia menyadari hal ini dan ia merasa kasihan kepada mereka, namun pada saat itu ia selalu dalam keadaan benar-benar malas melakukan apa pun. Dan kondisi ini terus berlanjut, dan seperti tak akan pernah berakhir. Hingga suatu ketika, ia mencoba mengamati hewan peliharaannya itu, dan ia mendapati Bona terserang semacam penyakit yang membuat rambut-rambut di sekitar kepala hewan itu rontok dan kedua matanya yang hitam jadi menonjol seperti akan terlepas, dan pada saat yang sama ia baru menyadari bahwa anak-anak hamster yang semestinya sudah mulai berambut itu rupanya sudah tak ada, dan Mona, si induk, dalam keadaan yang aneh seakan-akan ia tengah mengalami stres atau bahkan trauma. Kurang dari seminggu kemudian, kedua hamsternya itu mati. Satu per satu. Di hadapannya kedua kandang itu telah benar-benar kosong. Ia, lantas tersadar: sudah sangat lama ia tidak mencucinya.

Lalu bagaimana akhir cerita ini? Apakah kematian Bona dan Mona memberinya pukulan berat dan membuatnya semakin terpuruk dalam kesedihannya? Ataukah tanpa diduganya perempuan itu menghubunginya dengan nomor baru dan meminta maaf dan mengungkapkan kerinduannya dan mengajaknya bertemu, dan kematian kedua hamsternya itu jadi sama sekali tak berarti baginya? Entahlah. Aku sendiri sejujurnya belum tahu. Aku belum berpikir sampai ke sana. Semula aku berniat membuat sebuah cerita yang bisa kuakhiri dengan kalimat-kalimat seperti ini: Tidak setiap kematian itu penting. Hewan-hewan mati dan kita tak memedulikannya. Orang-orang yang tak kita kenal mati dan kita tak memedulikannya. Kematian baru menjadi penting ketika ia menimpa orang-orang terdekat kita, atau ketika kita ikut terlibat di dalamnya dan ikut terkena dampaknya. Namun, cerita ini berkembang ke arah yang tak kuperkirakan, dan tentu akan sangat maksa jika tetap kugunakan juga kalimat-kalimat itu untuk mengakhirinya. Kau tentu setuju denganku, bukan? Itu bisa menghancurkan cerita yang telah kubangun dan aku tak ingin itu terjadi.

Tetapi jikapun di titik ini aku memang sudah harus mengakhiri ceritaku ini, dengan alasan batasan jumlah karakter, misalnya, kukira aku akan menggunakan kalimat-kalimat ini saja: Sambil berusaha mengatasi kesedihannya, ia mengambil kedua kandang itu ke kamar mandi dan mencucinya. Dan tiba-tiba, ia merasa bingung, tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah itu. Jika Bona dan Mona masih ada maka yang akan dilakukannya adalah mencari-cari kedua hamsternya itu di sudut-sudut kamarnya dan memasukkan mereka kembali ke kandangnya dan menceritakan kepada mereka apa-apa yang telah dan akan dilakukannya dengan si perempuan. Ia tahu, segala sesuatunya akan berbeda, dan ia mungkin akan kesulitan untuk menyesuaikan diri beberapa lama. Tapi aku pasti bisa, pikirnya. Untuk sementara, dibiarkannya saja detik demi detik berlalu, dan bulir demi bulir air berjatuhan, seolah-olah dari kedua hal itu ia akan beroleh ketenangan dan kegembiraan, dan juga kekuatan.(*)

 Cianjur, 10 April 2015

  • view 92