Kazue Sato, Pengalaman-Subjektif, dan Otentisitas Manusia

Ardy Kresna Crenata
Karya Ardy Kresna Crenata Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 30 Juni 2016
Kazue Sato, Pengalaman-Subjektif, dan Otentisitas Manusia

Yasuko Watanabe, perempuan berumur 39 tahun, ditemukan mati di sebuah kamar apartemen. Polisi datang, melakukan penyelidikan, dan diketahuilah bahwa Watanabe seorang pekerja seks komersil (PSK) dan bahwa kamar itu milik kliennya—klien terakhirnya—yang seorang imigran dari Nepal, Govinda Prasad Mainali, yang kelak diduga sebagai si pelaku pembunuhan. Watanabe mati karena dicekik. Penyelidikan lebih lanjut mengemukakan: Yasuko Watanabe ternyata juga seorang karyawan Tokyo Electric Power Company (TEPCO), sebuah perusahaan ternama dan bergengsi di negeri itu, yang di sana ia menempati posisi senior economic researcher. Pada penyelidikan itu, ditemukan juga sebuah jurnal yang berisi detail aktivitasnya sebagai PSK, sampai ke nama-nama klien, tanggal-waktu transaksi, juga tarif.

Bahwa seseorang memiliki dua kehidupan, itu barangkali sesuatu yang wajar. Tapi untuk kasus Yasuko Watanabe, kewajaran ini lenyap, dan salah satu penyebabnya adalah begitu ekstremnya kedua kehidupan tersebut. Di siang hari, ia seorang karyawan berprestasi di sebuah perusahaan bergengsi; dengan kata lain, semestinya ia sudah nyaman dan bisa melanjutkan hidupnya tanpa melakukan “lonjakan berarti”. Di malam hari, ia seorang PSK; jika kita mengaitkan ini dengan moralitas, maka kita akan menilai si perempuan sedang menghancurkan bangunan sosial yang telah ia miliki itu.

Itu benar-benar terjadi di Jepang (jasad Yasuko Watanabe ditemukan pada 19 Maret 1997), dan orang-orang di sana tentu bertanya-tanya mengapa si perempuan memilih menjadi seperti itu. Beberapa tahun kemudian Natsuo Kirino, salah satu novelis Jepang kesayangan saya, mencoba menjawabnya, lewat novelnya yang berjudul Grotesque.

Si perempuan yang mengalami kisah serupa di Grotesque itu bernama Kazue Sato. Semasa SMA, ia bersekolah di sebuah sekolah prestisius yang disebut Q. Kecerdasan akademik siswa-siswa sekolah tersebut begitu terkenal sehingga tidaklah aneh jika orang-orang menganggap siapa pun yang bersekolah di sana pastilah istimewa dari segi intelektualitas. Sayangnya, kenyataannya tidak seperti itu, dan Kazue Sato termasuk yang tidak itu. Secara intelektualitas ia biasa-biasa saja dan demi bisa mengimbangi teman-temannya yang lain ia berusaha jauh lebih keras. Kazue Sato tak menyadari, usahanya ini kerap dijadikan topik percakapan oleh teman-temannya itu. Tentu saja, di percakapan itu mereka juga menjadikannya bahan olok-olok.

Sederhananya, bisa dikatakan bahwa Kazue Sato menilai dirinya tinggi, bahwa ia memiliki potensi untuk mengimbangi bahkan melampaui teman-temannya itu, dan karenanya ia tidak kunjung menyerah meski kerja kerasnya kerapkali tak menghasilkan apa yang diharapkannya. Perlu diketahui, secara finansial pun ia biasa saja. Ayahnya seorang karyawan di sebuah perusahaan sedangkan ibunya tidak bekerja. Para siswa sekolah Q, selain terkenal cerdas-cerdas, juga kaya-kaya.

Sedari kecil Kazue Sato dididik ayahnya untuk menjadi kuat. Ia, sebagai anak pertama, dipersiapkan ayahnya itu untuk menjadi pemimpin-kedua keluarga di bawah ayahnya. Ia bahkan berkali-kali diingatkan ayahnya bahwa tidak seperti ibunya yang payah, yang tidak mau bersusah-payah bekerja dan mencukupkan dirinya dengan hanya menjadi ibu rumah tangga, ia bisa menjadi seseorang yang kuat sekuat ayahnya, sosok yang menjadi inti dan penggerak di keluarga itu. Kazue Sato memercayai hal ini, dan ia berusaha untuk tak mengindahkan tanggapan-tanggapan negatif dari siapa pun itu atas kerja kerasnya. Ia percaya, suatu hari kelak kerja kerasnya ini akan membuahkan hasil.

Suatu ketika, ayahnya meninggal. Ayahnya yang dikaguminya itu, meninggal. Ia sedang menempuh studi di universitas saat itu, dan meninggalnya ayahnya ini membuatnya semakin tenggelam dalam kerja kerasnya. Berkat didikan ayahnya, ia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya, melainkan berusaha bangkit menjadi sosok yang menurutnya diharapkan ayahnya. Sebagaimana ayahnya, ia menilai orang-orang di keluarganya itu—ibunya dan adiknya—tidak berguna. Ia membenci ibunya, dan tak ingin menjadi seperti perempuan itu. Sepeninggal ayahnya ia memosisikan dirinya sebagai pengganti lelaki itu—pencari nafkah dan pengambil keputusan.

Lulus dari universitas, Kazue Sato bekerja di G Architecture and Engineering Corporation, sebuah perusahaan ternama di negeri itu. Di sana, ia berhasil menaikkan nilai tawarnya, terus-menerus. Ia bahkan menjadi seseorang yang keberadaan dan keahlian sangat diperhitungkan di perusahaan tersebut. Tapi rupanya, satu hal tak membuatnya puas.

Meskipun ia sudah mendapatkan posisi strategis yang diidam-idamkannya, yang dengan itu ia bisa menegaskan dirinya sebagai pengganti ayahnya di rumah, si pencari nafkah dan pengambil keputusan, namun ia merasa, di perusahaan itu, ia tidaklah diperlakukan sebagaimana manusia, apalagi perempuan. Ketika rekan-rekan di kantornya itu makan siang atau makan malam bersama, ia tidak diajak. Perlakuan rekan-rekannya itu terhadapnya dinilainya dingin dan tidak sewajarnya. Lama bertahan dalam situasi ini, ia kemudian lelah dan terpikir untuk mencari kehidupan lain, sebuah kehidupan yang di sana ia bisa mendapatkan apa yang menurutnya belum didapatkannya itu.

Di titik inilah ia kemudian menjadi seorang PSK. Sebenarnya ada banyak hal yang terjadi sampai ia memilih profesi tersebut; motifnya mulai terbentuk sejak ia “berteman” dengan seorang perempuan half Jepang-Swiss bernama Yuriko di sekolah Q, seseorang yang kecantikannya terbilang sempurna dan kelak memilih dunia pelacuran sebagai ruang-gerak-hidupnya. Tapi, itu mungkin tak perlu dipaparkan di sini. Intinya: sejak menjalani profesi sebagai PSK, Kazue Sato merasa menemukan dunia lain yang melengkapi dunianya sebelumnya, dan karena itulah ia menikmatinya.

Yang dilakukan Kazue Sato sebagai konsekuensi jalan hidup baru yang dipilihnya itu tentu saja adalah melakukan hubungan seks, dengan lelaki yang menjadi kliennya. Akan tetapi, sebelum itu, ia selalu memperkenalkan siapa dirinya sesungguhnya kepada kliennya itu. Dikeluarkannya kartu-namanya, dan dijelaskannya seperti apa posisi tawarnya di kehidupan-siangnya dan apa-apa saja prestasi yang telah diraihnya. Kemudian, ia mengajak kliennya itu bertukar-pikiran tentang berbagai hal, termasuk isu-isu elite yang sedang hangat di negeri itu. Para kliennya sendiri kebetulan orang-orang “terpelajar”, seperti profesor di sebuah perguruan tinggi ternama di sana. Mereka menanggapi caranya memperkenalkan diri itu dengan ramah, dengan hangat, bahkan lembut. Ia senang, dan bisa jadi bahagia. Karena itulah ia terus menjalani dua kehidupan ini meski sejujurnya ia tidak begitu menyukai gagasan berhubungan seks dengan lelaki-lelaki itu. Bahkan, meski ia tidak terang-terangan mengungkapkannya, ia begitu membanggakan dua kehidupannya ini.

Namun tentulah kebahagiaan dan kenyamanan semacam itu tak akan bertahan selamanya. Suatu ketika ia bertemu seorang imigran dari China, dan ketika berhubungan seks dengannya ia merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya: mencapai puncak. Ketika berhubungan seks dengan imigran itu ia benar-benar berorgasme, berkali-kali, sementara sebelumnya ia mengaku hanya berpura-pura berorgasme dan nyaris tak merasakan kenikmatan ragawi sama sekali. Katakanlah, hal baru ini menjadi candu baginya. Jika dengan klien-kliennya sebelumnya ia menetapkan tarif tinggi dan ia selalu mendapatkannya, dengan imigran ini ia bersedia dibayar murah dan bahkan tak dibayar. Si imigran adalah tipe orang yang menekan, dan menguasai. Kazue Sato merasa tak berdaya di hadapannya dan ia justru jatuh cinta kepada lelaki ini.

Pada titik kritis lainnya dalam hidupnya (titik kritis pertama adalah saat ayahnya meninggal, titik kritis kedua adalah saat ia berpikir untuk mencari kehidupan lain selain “kehidupan-siangnya”), Kazue Sato ditinggalkan oleh orang-orang yang selama beberapa lama itu membuatnya beroleh kenyamanan, termasuk diantaranya para kliennya yang berkelas itu. Sampai-sampai, satu-satunya orang yang mau berhubungan seks dengannya adalah si imigran itu. Hanya ia. Kazue Sato pun semakin menghamba pada si imigran, dan lelaki ini, meski masih dalam batas-batas manusiawi, memanfaatkan penghambaan tersebut untuk kepuasannya sendiri. Dan akhirnya, di sebuah kamar apartemen, Kazue Sato mati. Tidak dijelaskan bagaimana ia bisa sampai mati, tidak juga dijelaskan siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan itu. Dugaan, dialamatkan pada si imigran. Pasalnya ia memang memiliki catatan kriminal dan kira-kira setahun sebelumnya terjadi sesuatu serupa dan ia jelas-jelas terbukti—juga mengakui—sebagai si pelaku pada kasus tersebut. Korban pada kasus yang dimaksud adalah Yuriko, si perempuan half Jepang-Swiss yang sempat disinggung tadi.

___

Katakanlah membuat fiksi adalah sebuah cara kita menghampiri realitas, dan yang dilakukan Natsuo Kirino dalam Grotesque adalah itu. Semula, ia mengambil sesuatu yang ada pada realitas, yakni kasus Yasuko Watanabe tadi. Ia menghadirkannya dalam novelnya itu, dan sebab peristiwa ini sempat menyedot perhatian orang-orang di sana maka, tidak mungkin tidak, dihadapkan pada hal ini orang-orang tersebut merasakan adanya ikatan tertentu, sesuatu yang menghubungkan mereka dengan peristiwa ini. Dengan kata lain, dihadirkannya peristiwa tersebut membuat cerita jadi memiliki jangkauan luas, atau lebih luas, dan ini baik bagi si cerita, juga si penulis. Selanjutnya Kirino menyambungkan ikatan yang dimiliki pembaca itu dengan hal-hal otentik, detail-detail yang melengkapi sekaligus merekonstruksi peristiwa itu sendiri, realitas itu sendiri. Di sini cerita menjadi menjejak, menjadi riaru (cara orang Jepang menyatakan sesuatu yang bukan fakta sangat terlihat seperti fakta), dan karenanya lebih mudah diterima, dan dipercaya-terjadi. Cerita-cerita yang baik, saya kira, adalah yang bekerja dengan cara seperti itu.

Peristiwa-dari-realitas yang dimasukkan Kirino ke dalam novelnya itu bisa kita anggap sebagai pengalaman-objektif (objective experience), sebab ia menawarkan pengalaman kolektif bagi orang-orang yang membacanya, terutama mereka yang sempat mengikuti perkembangan peristiwa tersebut. Pengalaman-objektif ini, tentunya melahirkan kebenaran-objektif (objective truth), yang ikut “menyatukan” para pembaca meski ia memiliki efek samping yang tidak baik. Apa yang tidak baik itu? Yakni bahwa kebenaran-objektif bukanlah kebenaran yang sesungguhnya; ia sebuah kebenaran yang telah telanjur dikonstruksi sistem dan bersifat “seragam” dan berpeluang “menyeragamkan” kita. Oleh karena itu, sebuah tindakan meski diambil, sesuatu mesti dilakukan, agar “keseragaman” itu tidak terwujud. Salah satunya, seperti yang dilakukan Kirino dalam novelnya itu, adalah dengan menawarkan kebenaran-subjektif (subjective-truth). Dari mana kebenaran-subjektif ini berasal? Tentunya dari terlebih dahulu menghadirkan pengalaman-subjektif (subjective-experience). Dengan cara inilah kita bisa terarahkan pada kebenaran yang lebih baik, atau bahkan kebenaran yang sejati. Ini jika kita percaya pada apa yang pernah dikatakan Søren Kierkegaard: subjektivitas adalah kebenaran (subjectivity is truth) dan kebenaran adalah subjektivitas (truth is subjectivity).

Dalam Grotesque, wujud-wujud pengalaman-subjektif itu diantaranya adalah hal-hal ini: (1) didikan yang diperoleh Kazue Sato dari ayahnya; (2) cara Kazue Sato memosisikan dirinya di antara orang-orang di sekitarnya; (3) kematian ayah Kazue Sato; (4) perlakuan yang diterima Kazue Sato dari rekan-rekan kerjanya; (5) perkenalan dan pertemanan Kazue Sato dengan Yuriko; (6) pertemuan dan interaksi Kazue Sato dengan klien-kliennya yang “berkelas”; (7) pertemuan dan interaksi Kazue Sato dengan si imigran. Sejumlah pengalaman-subjektif ini, tak bisa dipungkiri, membentuk (kembali) penilaian kita terhadap pengalaman-objektif yang dihadirkan semula. Apakah Kazue Sato adalah korban? Apakah ia pihak yang bersalah? Apakah pilihan yang diambilnya itu sesuatu yang wajar? Apakah “realitas” telah menyembunyikan—atau bahkan menghapus—hal-hal tertentu yang justru lebih krusial tentang dirinya? Tentu saja, sebab fiksi adalah hampiran terhadap realitas, maka sejumlah pengalaman-subjektif yang ditawarkan Kirino hanyalah bergerak di satu atau sejumlah kecil sudut pandang saja. Tapi intinya, kehadiran sejumlah pengalaman-subjektif ini telah membentuk ulang penilaian kita atas “realitas” dan kebenaran-objektif tadi. Yang terlahir kemudian adalah kebenaran-subjektif; sesuatu yang oleh Kierkegaard dilihat sebagai kebenaran yang benar-benar kebenaran itu.

___

Selain terhadap sejumlah pengalaman-subjektif Kazue Sato, kita juga agaknya perlu menaruh perhatian terhadap bagaimana Kazue Sato mengatasi kritis. Di atas tadi sudah sedikit disinggung soal titik-titik kritis yang dialami Kazue Sato, dan salah satu cara paling ekstrem dan paling “keluar-jalur” adalah saat ia memutuskan untuk menjadi PSK, lebih tepatnya memutuskan untuk memiliki dua kehidupan di mana yang satu bernilai “putih” sedangkan yang satu bernilai “hitam”. (Untuk nilai di sini, kita bahas di ruang lain saja.) Apakah memang tidak ada cara lain yang bisa diambil Kazue Sato untuk membuatnya merasa diperlakukan sebagai manusia dan juga perempuan? Apakah ia tidak bisa menjalani hidupnya dengan terus bertahan dalam “jalur” yang sudah lama dilaluinya itu—dan tak beralih atau merambah “jalur” lain? Barangkali, memang seperti itulah Kazue Sato, memang itulah yang akan ia pilih. Sementara orang-orang lain yang mengalami krisis serupa (atau bahkan sama) tidak menggulirkan diri ke arah sana, ia justru melakukannya. Di sini kita bisa melihat bahwa cara Kazue Sato mengatasi kritis sangatlah Kazue Sato—jangan lupa bahwa sejumlah pengalaman-subjektif yang dimilikinya ikut mendorongnya bergulir ke jalur tersebut. Dengan kata lain, cara yang dipilihnya ini otentik.

Lihat juga bagaimana Kazue Sato mengatasi ketiadaan ayahnya. Normalnya, dalam situasi seperti itu, ibulah yang mengisi-sementara posisi ayah, sebab secara hierarki ia semestinya lebih tinggi dari anak-anaknya. Tapi dalam kasus Kazue Sato, ialah yang lebih tinggi—dari ibunya dan dari adiknya. Atau, lebih tepatnya, ia merasa ialah yang lebih tinggi. Maka Kazue Sato pun memutuskan, secara sepihak dan sewenang-wenang, bahwa ialah yang mengisi-sementara posisi ayahnya. Dan tidak berhenti di situ, Kazue Sato juga menilai di keluarganya itu tinggal ialah satu-satunya sosok berharga yang patut mendapat respek.

Barangkali, apa yang sedang kita coba pahami ini adalah sebuah trik semata, sebuah cara belaka, untuk membuat cerita berkembang menjadi (semakin) kompleks. Cara-cara mengatasi krisis yang dipilih Kazue Sato tadi, selain tidak biasa dan terbilang ekstrem, juga berpotensi mengundang masalah-masalah baru, masalah-masalah yang kelak bisa saja menghadapkannya pada krisis lainnya. Dengan begitu, cerita seperti dipaksa untuk tidak selesai di situ, untuk berkembang dan terus berkembang, sehingga tampillah kompleksitas yang sejatinya kita harapkan ada dalam sebuah bangunan cerita. Ia ada, dikondisikan ada, untuk membuat kita pembaca terhibur, dan jatuh-suka pada si cerita. Tapi tunggu. Kita mesti ingat pada apa yang kita katakan tadi bahwa membuat fiksi adalah sebuah cara kita menghampiri realitas. Cara-cara Kazue Sato mengatasi krisis itu tadi, atau apa yang dilakukan Natsuo Kirino dalam Grotesque ini, bisa juga kita pandang sebagai sebuah cara menunjukkan bahwa manusia—sebab Kazue Sato dicitrakan sebagai manusia—adalah makhluk yang otentik, bahwa di dalam dirinya manusia memiliki otentisitas yang memungkinkannya melakukan hal-hal di luar-jalur bahkan sampai ke titik esktremnya. Tentu saja, jika otentisitas ini tidak ada dalam diri Kazue Sato, maka ia kemungkinan besar akan mengatasi krisisnya itu dengan cara-cara yang umum, yang “normal”, yang mudah ditebak, yang tak mengejutkan, bahkan klise. Dan jika otentisitas ini tidak ada dalam diri Natsuo Kirino, maka pastinya, ia tidak akan berpikir menghadirkan sosok otentik seperti Kazue Sato, apalagi merealisasikannya.

___

Otentisitas semacam ini sesungguhnya kita temukan juga dalam novel-novel Jepang lain seperti Kitchen-nya Banana Yoshimoto dan The Key-nya Tanizaki Junichiro. Dalam Kitchen, kita mendapati seorang lelaki, sepeninggal istrinya, menempuh operasi kelamin dan menumbuhkan buah dada lalu menggantikan posisi almarhum istrinya itu sebagai ibu bagi anaknya. (Si anak jadi tetap memiliki ibu meski ibunya sudah tiada. Sebagai gantinya, ia jadi tak lagi memiliki ayah meski sesungguhnya ayahnya itu masih ada.) Dalam The Key, kita menyaksikan seorang suami mengatasi kelesuan aktivitas seksualnya dengan istrinya lewat cara yang tak wajar: membuat istrinya itu jatuh-suka (dan akhirnya jatuh-cinta) dan berselingkuh dengan lelaki lain yang adalah orang yang ia kenal dan jauh lebih muda darinya. Lagi-lagi, jika kita memandang aktivitas membuat fiksi sebagai sebuah cara menghampiri realitas, kita memahami bahwa otentisitas dalam kedua novel tersebut adalah sebuah upaya untuk mengingatkan kita bahwa manusia itu otentik, sangat otentik. Dan apa kira-kira muara dari upaya ini? Barangkali, adalah agar kita mulai tergerak untuk menjalani hidup kita sebagai makhluk yang otentik. Maksudnya apa? Yakni dengan menghindari “keseragaman” (baik dalam tindakan, cara berpikir, atau ucapan) dan tidak menghamba pada pengalaman-objektif dan mulai meragukan kebenaran-objektif. Sebab hidup yang sebenar-benarnya hidup itu, sebab kebenaran yang sejati itu, seperti kata Kierkegaard tadi, justru bersumber pada yang subjektif. Begitulah.(*)

Bojongpicung, 19 Desember 2015

  • view 142