TIME CAPSULE

Harun Maulana
Karya Harun Maulana Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 05 September 2016
TIME CAPSULE

“Time Capsule”

 

Dulu sekali mungkin jaman teknologi yang masih gagap, masih belum tumbuh tergesa-gesa, kilobite, megabite, gigabite, terabite, GPRS, EDGE, 3G, HSDPA, HSUPA, EVDO, 4G,  dan masih banyak nama lain mungkin yang akan diciptakan manusia.
Aku masih seperti belasan tahun silam, ingin disiapkan makan setelah pulang sekolah, mengerjakan perkerjaan rumah dengan senang, perkalian, pembagian, menemu kata-kata baru, menyelam kedalam sejarah perlahan-lahan, namun hidup ini terus berjalan tanpa jeda, bahkan terkesan terburu-buru. Barangkali perumpamaanya  aku ingin ke kamar mandi hanya untuk mencuci tangan, setelah keluar dari sana ternyata sudah tahun 2016, seperti kisah  Tujuh Penghuni Goa dalam Alquran. Bisa di bilang usiaku sudah melewati banyak hal, tapi harus aku akui bahwa aku tak pernah menjadi dewasa, aku menjadi selalu takut dengan banyak ancaman yang tak masuk akal belakangan ini, ancaman yag di buat-buat, ancaman hukum, politik, ancaman pekerjaan kantor, deadline, dan mungkin kekangan sejarah juga.

Aku masih ingin bermain di tengah lapang, menerbangkan layang-layang, bermain kasti, bermain bola, atau sekedar menikmati senja yang hampir jatuh dari timur ke barat, aku ingin berlari telanjang dada, bagian kaos menutupi muka, tangan merentang seolah aku telah pulang, sungguh aku rindu masa-masa itu.
Waktu bagiku kini adalah seperti mesin yang aneh, bergerak tak pernah berhenti, tak pernah sabar menungguku pulag, ikut atau kau akan di tinggal di tengah-tengah pertandingan, di bully angin, di tertawakan udara, di ancam masadepan, semua serba membuatku ketakutan, aku ingin sekali merampas kembali waktuku yang telah hilang tercuri. Namun ada masa dimana aku harus menerima kenyataan yang ada, menerima kedewasaan ini dalam bentuk apa adanya, tak bisa aku pungkiri lagi bahwa aku telah tumbuh menjadi pria dewasa, ya mungkin hanya anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.

Tertawalah layang-layang
masaku kini tak menerbangkanmu
kita akan bertemu diangkasa
bila tiba waktunya
namun kelana ini tak juga rampung
menunggu detik daun coklat yang gugur di hempas angin
menemu keabadian
yang terkenang..
yang terjaga.
di keabadian..

Tubuh memanggil kata-kata yang bilur, yang bercampur mengubur kenangan, dimasa-masa ku dulu, dengan angin aku akrab, dengan debu aku bergulat, dengan senja tak pernah berkhianat, hingga dewasaku datang merampas semuanya, hingga lupa mengenangnya.

Aku benci mengatakanya, tapi sepertinya memang harus mengungkapkanya, karena kebencian yang di simpan akan membusuk, bau, dan menyebarkan dendam yang tak pernah rampung-rampung, kebencian terhadap peradaban yang membingungkan, aku pernah membaca sebuah biografi dari salah satu sastrawan, bayangkan seorang idealis yang terpental mengaku kalah, menyerahkan diri kepada alam, kadang kepada mimpinya juga ia berkata-kata bahwa sebetulnya untuk menjadi normal itu sulit, menerima kepayahan, kepanikan akan masadepan yang di karang akan membuat dirinya berantakan, sepertinya aku membutuhkan waktu sedikit untuk menjeda, beruntungnya orang yang tak dapat membayangkan apa-apa, dan celakalah orang yang terlalu banyak berfikir namun tak sempat menjadi gila, karna aku fikir yang gila adalah yang merdeka, ia hidup untuk menjadi contoh yang waras, bahwa orang yang menjadi gila adalah orang yang paling merdeka, tak kena tanggung jawab, tak perduli ancaman hukum, sandiwara politik, tak perduli pasar saham, dan tak perduli juga akan kekangan sejarah, alangkah mengerikanya menjadi dewasa dengan seribu macam ketakutan.

Pernah suatu hari seorang kawan menyarankan aku untuk menikah, mungkin ada benarnya juga menurutku, karena aku fikir memiliki teman hidup kadang seru, namun aku belum memutuskan saran ini dalam waktu dekat, sebab di samping itu aku harus siap menerima resiko yang ada di depan sana, aku hanya perlu memikirkanya sebentar, kemudian mencari kira-kira siapa yang mau dengan laki-laki seperti aku, tapi aku rasa, aku terlalu mengasihani diri sendiri, aku tak terlalu melarat, aku sehat, punya KTP, SIM, dan Ijazah sekolah tentunya, dan yang lebih penting aku menjadi pria yang normal, mungkin pada akhirnya nanti aku akan menemukan jodohku, barangkali aku perlu berdoa sekali lagi, semoga saja saat aku berdoa, Tuhan sedang berada di Rumah, menunggu permintaanku yang ke sekian kali.

Tiba-tiba lagu itu mampir di telingaku yang sedang meratapi kebisuan “All the colour of the dark” dari Marissa Nadler, sendu seakan memanggil sekumpulan malaikat untuk menyaksikan caraku merayapi hidup ini, bersorak-sorai entah menyemangati atau justru ikut mem-Bulying, aku tak tau. Sebagian nyali tiba-tiba menyadarkan bahwa hidup juga perlu memikirkan arti kehadiran diri disini, di dunia yang murni tanpa campur tangan manusia lain, apakah aku berhak membicarakan Tuhan? Dalam diam aku meyakini Dia ada, menungguku meminta, ya kan Tuhan? Oh, aku hampir gila dan aku rasa aku tak pantas membicarak-Nya, Dia terlalu suci untuk mulut-mulut kotor sepertiku, namun di ujung doa kusimpulkan harap atasNya menyelamatkan aku dari segala marabahaya. Amin

Sesuatu yang tertunda menurutku baik, jadi sempat memperhatikan dulu dari kesempatan yang paling tipis menurutku, kemudian pelan-pelan senyum kecil mulai menampakan seringainya, lalu turun kehati secara tiba-tiba, dan menjadi kebahagiaan yang mungkin hanya sementara saja, tapi sedikit saja kau terlena oleh kebahagiaanmu itu justru semakin hampa yang akan kamu rasakan, begitu kira-kira hasil diskusi dengan diriku sendiri, takan ada kebahagiaan di dunia ini yang abadi.  Sesekali kau memang menggenggam kebahagiaan itu namun kau juga harus merelakan semuanya jika memang itu harus pergi meninggalkanmu, entah itu dengan cara perlahan atau dengan cara yang paling menyakitkan sekalipun.

“Dunia bagaikan tragedi bagi yang menjalankan, dan bagaikan komedi bagi yang memikirkan” kadang aku juga setuju dari ungkapan seorang Harace Walpolpe, setelah itu kembali mendayu suasana di dalam hatiku, hujan turun perlahan merambati genting kamarku, kaca jendela berembun, anak-anak berlari menyambut hujan dengan lapang, wajahnya menengadah kearah langit, seraya ia siap menghadapi segala bentuk yang telah di gariskan. Pemandangan itu juga mungkin pernah aku lalui pada masa-masa dulu, entahlah aku rasa kini aku semakin dewasa bersama nasip yang membawaku perlahan sekaligus menawarkan banyak hal padaku, aku akan kembali dalam rutinitasku, berpura-pura merasa normal seperti manusia pada umumnya, berharap senja akan mampir setiap hari di kamarku, akan aku bingkai senja, ku buatkan secangkir the, mungkin susu ah bukan senja yang membutuhkan kehangatan menurutku, aku yang seharusnya di hibur, namun melihat senja bermanja aku tak tega, aku akan hibur senja yang bertamu, membuatnya menjadi ceria, lalu aku gagahi dia, membayangkanNya sebagai artis Korea, ah asu! Kataku, aku berkhayal lagi, tapi tak mengapa karena di bumi yang gratis Cuma berkhayal, selebihnya terserah anda, senja ..

Aku masih ingat keadaan yang merepotkan ini jika ada yang bertanya mana yang lebih penting antara keadaan yang dulu pernah singgah atau keadaan sekarang? Menurutku dewasa ini yang sangat merepotkan, banyak hal yang harus di hitung-hitung, bayar kost, cicilan sepeda motor, pulsa, perawatan batu cincin, gula, kopi, beras, belum biaya pacar untuk ke salon, berusaha meyakinkan wanita sendiri sudah cantik itu sulit, berusaha menjelaskanya apalagi, seperti menggigit telinga sendiri, dewasa ini harus banyak perhitungan menjadi pelit menjadi kikir, takut masuk neraka, di teror tiap mendengar ceramah di mesjid, spertinya pengotbah sedang mengincarku, “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu jadi tercela dan menyesal” dan ia melanjutkanya lagi di surah yang berikutnya “Sungguh tuhanmu melapangkan rizki bagi siapa yang dia kehendki dan membatasi (bagi siapa yang dia kehendaki), sungguh dia maha mengetahui dan maha melihat hamba-hambanya” akhirnya aku jadi malas beribadah, malas shalat, malas ngaji, tapi aku teringat guru Agama sewaktu masih sekolah kata-kata itu ia lontarkan untuk ku ketika aku menjadi pemalas untuk beribadah, ia berkata Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereke tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera. ” QS. Al-Qalam 42-43. Aku menjadi serba salah sepertinya Tuhan sedang mengincarku, begitulah kira-kira dewasa ini namun karena kebetulan manusia di lahirkan dalam keadaan bodoh aku tak serta merta menerima kebodohan itu, aku mulai menggali perlahan melalui ilmu dan pengalaman, dan berusaha hidup sebaik mungkin dan di sinilah aku menemukan sempit dan luasnya kehidupan.

Dulu aku pernah membaca kutipan dari penyair underground Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” aku rasa ia juga dulu sama seperti aku, suka menerka-nerka hidup, dari tragedy sampai yang kadang bikin Happy, lalu merangkum-rangkum petualangnya, mengait-ngaitkan dengan tidak masuk akal sampai di terima oleh nalar, dan ibaratnya seperti metamorphosis ketika manusia menyadari kesedihan dan kebahagiaan itu hanya sementara mungkin rasa syukur sudah menggema di dada, disana akan terjalin emosi spiritualitas antara manusia dengan alam dan tentu saja Tuhanya, tiba-tiba aku menjadi religious, kadang juga menjadi filosof, namun semua panggilan itu aku sendiri juga yang memanggil, seperti membuat-buat kesenangan untuk diri sendiri, tak apalah, toh Taufik Ismail juga bilang “Hidup adalah panggung sandiwara” entah siapa yang benar, tapi kebebalan manusia akan mencair bila mencoba memahami hidup dari alam, dari manusia lain, dari buku-buku, dari film, dari kitab suci, dari mata turun ke hati, entah darimanapun itu dunia adalah kesempatan untuk belajar banyak menemukan hubungan antara manusia dengan tujuan hidupnya, sekarang aku sok bijak.

Yang terhempas
Purnama merajut nyali
dalam malam takut bersembunyi
tak kuasa membingkai diri

Oh kepada langit
bawa aku dalam muatan bahtera Nuh
selamatkan aku dari gelombang kehidupan
biar mata mengalir darah
aku adalah proses penciptaan yang tak mau sia-sia

Oh kepada rembulan yang berlayar
Jangan tinggal aku dalam sekoci duniawi
tak dapatnya aku mencari jalan pulang
karena tujuan begitu berkabut tirani

Oh pada segala keadaan
bawa aku menemukanMu
dalam diam selalu ku selip doa
biar jatuh linang berderai
mengagumiMu adalah jalan pulang

Teruntuk calon istriku, anakku, dan anak-anak dari anakku, aku tak mau menjadi seorang ayah sekaligus suami yang pengecut, biar kapsul waktu menjadi rempah segala rempah cerita rangkuman misteri kehidupan ini, biar Gita menunjuk hujan turun, nestapa mungkin berlabuh, tenggelam dan timbul atas kehendakNya, aku akan menjadi kusir untuk keluargaku nanti, menunjukan keindahan, menuntun menuju terang, menyulap ketakutan, semoga kita menjadi keluarga yang di restui Tuhan. Amin

Ilustrasi gambar : Google.

  • view 177