Ular-ular di Mimpi

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2017
Ular-ular di Mimpi

Aku memanggilnya jancuk, sebagai sapaan paling bersahabat. Pun sebaliknya, ia sering memanggilku dengan singkatan dari jancuk, yang adalah cuk. Dan sebagai orang Jawa bagian timur itu bukanlah sesuatu yang tidak sopan jika diperuntukkan untuk kolega dekat. Karena 1. aku bukan priyai yang haus penghormatan 2. ketika aku mendengar kata cuk aku suka, rasanya aku dan dia tidak memiliki sekat yang harus ditutupi karena semua telah tersibak oleh satu kata, jancuk 3. ini bukan diksi yang sekonyong-konyong akan membuatmu kelaparan seumur hidup.

Sebagai orang jawa; tanpa bermaksud sara. Tetapi ini sudah menjadi mitos yang telah turun menurun, aku tidak tahu runutan dari generasi siapa. Mengenai ular. Jika kamu melihat ular di 1. dekat rumah 2. dalam mimpi, itu bisa menjadi pertanda bahwa kamu akan 2.1. dekat dengan jodoh 2.2 segera menikah. Percaya atau tidak percaya itu adalah hal yang sudah melegenda di lingkunganku.

Malam yang sunyi, aku menguap tanda sudah tidak kuat lagi untuk begadang, padahal ini malam minggu. Biasanya, aku selalu menyempatkan untuk tidak menutup mata hingga dini hari hadir.

Di sisi lain duniaku, ada seorang perempuan sibuk dengan insomnianya yang tanpa kantuk. Bagaimana?

Suara jangkrik. Deru hardisk dari laptop. Buku-buku bergeletakkan di lantai. Satu terbuka. Yang ia baca. Sembari melihat layar ms.word-nya yang masih terdiri dari 500 kata. Apakah sebagai seorang yang memiliki hobi menulis harus mencintai malam untuk mendapatkan inspirasi yang sempurna? tentu, setiap orang memiliki momennya masing-masing. Bagiku, ia bukanlah tipikal yang pilih-pilih mengenai waktu yang tepat untuk menulis, kapan pun dan di mana pun sebisa mungkin ia menulis jika memungkinkan.

Ia menutup bukunya, melihat layar yang sedari tadi masih menyala. Dibukanya tab mozila, baru-baru ini ia tersadar, ada banyak notifikasi yang menandai dirinya, mengingatkannya bahwa bulan Mei adalah bulan yang menjadi momen spesial saat ia dilahirkan.

Ada apa dengan hari lahir?

Setidaknya, ia berani memanjakan jiwa dan raga dengan caranya sendiri. Hadiah untuk tubuhnya yang telah menemaninya sejak tahun 1991 dengan 1. begadang membaca buku 2. menulis tanpa beban dan untuk kebebasan 3. memiliki kekasih yang pengertian

Kurang apalagi?

Seketika ia mulai melihat siapa-siapa saja yang merapalkan doa-doa baik untuk hadiahnya. Sedang namaku tak terlihat di sana. Aku tidak ingin ia mengingatku sebagai teman yang baik. Tapi dalam kantukku aku mengingatnya dengan kalimat-kalimat tanya yang tak terduga. 1. cuk, kamu pengin baca buku apa? 2. itukan buku yang bagus cuk, kenapa ga dibeli sekarang?, selorohnya. Lalu esok paginya di hari jadiku, aku mendapatkan kejutan, buku yang ingin kubaca sudah ada di meja samping tempat tidurku. Tetapi, apa yang aku balas untuknya dihari jadinya? 1. tidak merapal doa tepat di tengah malam seperti umumnya, teman-temannya yang lain 2. bercerita tentang hal-hal yang seharusnya tak akan pernah merusak hari jadinya yang kesekian. 3. tak bertanya tentang buku-buku yang ingin ia baca.

Pendek kata, aku adalah menghindari mengucapkan ditepat waktu pergantian hari. Kuingin membuat hatinya gelisah karena aku pada akhirnya meminta dia untuk 1. bersemangat dalam hidup 2. bersikap optimis sekalipun sudah ada yang merencanakan tentang apa-apa yang telah direncakan dalam hidup manusia 3. memintanya untuk terus membaca dan menulis 4. terus berprasangka baik terhadap kekasihnya yang pada waktu itu melupakan kegemarannya mengenai cinta buku.

Jika aku kekasihnya, tak perlu aku mengucapkan selamat ulang tahun. Cukup aku jejali tas berwarna merah burgundy-nya dengan buku-buku yang belum sempat ia baca, tapi maksimal dua,  ha-ha-ha.

Aku tertidur hingga tak mengenal daratan. Di dunianya, ia masih bergema, melihat siapa saja yang membalas notifikasi hari jadi. Lalu, dalam kantuknya yang tak pernah kunjung tiba hingga pukul 2.32 dini hari, ia tersandung rasa pipis akut yang sudah hampir tiba pada puncaknya. Kamar mandi berada di luar. Dibukanya pintu kamar dengan tergesa, sebelum tiba pada kamar mandi, ia melihat ular kecil melintas ruang dapur. Nyalinya ciut, ia adalah jenis yang fobia terhadap ular.

“Aku takut sama hewan yang tidak memiliki kaki dan licin.” begitu penjelasannya kepadaku keesokan harinya. Padahal aku masih mengucek mata ketika mendapati beberapa pesan.

“Cuk. Kon wes turu? aku wedi cuk, ada ular di tempatku.”

Demi apa ular itu bisa berpindah mimpi di dalam kantukku saat ia tak bisa tidur? tentu aku tak membalas pesannya.

Nggilani, aku gilo sumpah.”

Aku tahu setelah itu ia kembali ke kamarnya. Menutupnya, mencoba tidur. Hingga pagi dan menjelang siang ia tak kunjung keluar-keluar. Ia menempatkan diri sebagai orang yang geli, takut, menjadi satu. Ular oh ular tak juga dimimpi, ketika ia memperlihatkan diri dihadapannya itu adalah musibah.

Di pagi harinya saat ia bercerita tentang kejadian dini hari itu, kuceritakan aku ingin makan mie ayam. Kusuruh ia cepat-cepat keluar dari kamar, pergi cari makan, hari sudah hampir siang. Lagian, ular itu masih anak-anak, pasti juga telah pergi.

“Kon apakke, ulare?”

“Biarkan. Aku takut. Aku belum keluar kamar sejak saat itu. Kok kamu malah foto-foto mi ayam sih cuk? kan aku habis cerita ular.” katanya.

Apa benar jika seorang telah fobia terhadap sesuatu bisa menganggap seolah benda yang menyerupainya berubah seperti ular. Mi ayam adalah ular. Lalu, ia kembali menceritakan sepenggal kisah-kisah yang menjelma aku di masa lalu. Ketika hidup itu begini 1. berjalan sebagaimana waktu terus melaju, jadi tak usah memikirkan apa yang dipikirkan orang lain mengenai 1.1 hobimu 1.2 pekerjaanmu 1.3 jodohmu.

Ular-ular itu menjelma menjadi mimpi. Hingga akhirnya pada malam selanjutnya ia menceritakan sepenggal cinta tanpa syarat. Ada? kubertanya.

Kubertaruh, itu hanya ada dalam cerita-cerita pada kitab kuning alifbata. Tetapi sempat aku baca dihalaman tertentu, di sana dalam memilih pasangan ada aba-aba harus berdasarkan beberapa hal. Yang menurutku kurang menghargai keberagaman perasaan.

“Jadi menurutmu masih ada yang tanpa syarat?” kubertanya sungguhan.

“Orangtua kepada anak-anak mereka.” ia berkata seolah-olah aku melihat ekspresinya di depan mukaku.

“Kalau begitu, kon melihat laki-laki dari apanya untuk kamu jadikan teman hidup?” ia balik bertanya.

Kujawab dari jakunnya. Ia membodoh-bodohkan jawabanku. Jakun adalah sebuah identitas, cuk. Terangnya selanjutnya.

“Maksudku bukan sejenis hubungan orangtua dengan anak-anak mereka. Ini tentang hubungan perempuan dan lelaki.” kuejakan pelan-pelan supaya tidak ada yang mendengar pertanyaanku selanjutnya.

“Ada. Meskipun itu pasti melalui hal-hal yang perlu dipertimbangkan.” ia menjelaskan masih dengan bersabar.

Nah kan! berarti itu ada-adanya cuk. Bukan tidak ada apa-apa.

“Heh. Begini lho. Masak iya, kamu akan bertahan dengan orang yang tidak 1. menyayangimu 2. memperlakukanmu dengan ketulusan 3. menyukai hobi-hobimu 3. menerimamu sebagaimana kamu menerima dia 4. memahami masa lalumu 5. bisa membicarakan semua aib-aib orang 6. nyambung dengan cerita-ceritamu.” jelasnya dengan bersungut-sungut, akhirnya bersungut setelah kesabarannya itu.

“Tentu kamu akan bertahan dengan orang yang memperhatikanmu sebagaimana rasamu itu kepadanya. Ya, kan?” tanya lagi.

“Tahu tidak, orang bisa berselingkuh jika ia tidak mendapatkan perhatian yang diinginkan dari pasangannya.” tambahnya disertai jeda dengan mengambil minuman dietnya yang super sehat; air mineral.

Aku mendengarkan dengan baik, sambil terkantuk-kantuk. Semoga masih nyambung dengan ia yang tak pernah kantuk di bawah pukul dua belas ataupun pagi hari.

“Dengerin, kamu bisa menulis dari mana? sekarang aku tanya serius ini, jangan dijawab nyeleneh lagi.” aku menjadi teringat dengan jawabanku antara jakun dan tanpa syarat, apa hubungannya, coba?

“Aku? jelas, dari guru-guru TK ku. Bu Puji, Bu Tumini. Mereka mengajariku bukan dengan kemarahan tetapi memang keinginan mereka supaya aku bisa mengeja dan menuliskan vokal dan konsonan hingga aku bisa menuliskan yang macam-macam.” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang berketombe (mungkin).

“Nah, itu cinta mereka tanpa syarat hingga membuatmu bisa menulis cerita-cerita di majalah tertentu tentang cinta. Mereka itu adalah pahlawanmu cuk. Tak ingin dibalas, tetapi menginginkan yang terbaik. Sedang teman hidup, dia itu ingin kamu....” jeda.

“Menuliskannya di salah satu cerita yang kamu kirim ke majalah!” jawabnya tertawa, hampir terbahak.

  Sontoloyo. Kok malah menjadi ke mana-mana jawaban perempuan ini.

“Tahu gak? kenapa koen, ketemu ular tadi malam? kon mau dilamar!” aku terkekeh puas mendengar ejekannya tentang kekasih yang baik untuk teman hidup kubalas tunai.

“Hidup ini singkat cuk. Sukai apa yang kamu sukai, berkarya tidak harus menjadi nganu.

Nganu pie maksudmu?” tanyaku.

Just do it, do what you love.” iya dia hanya mengakhiri kalimatnya dengan demikian.

Aku bersumpah, di tahun depan dengan bulan yang sama akan terdapat kejadian yang bersejarah di sela-sela menujunya. Seperti tahun ini di bulan Mei, ada beberapa kejadian yang tak akan pernah kulupa. Tentang pertemuanku dengannya, di malam yang cukup cerah, tapi ia kegerahan. Tiga tahun lalu, malah, menjadi dari sebuah awal persekongkolan kami yang menjadi-jadi sebagai pecinta buku, tulisan, dan alam.

“Kamu beruntung, guru-guru TK mu pasti juga mengajarimu menulis yakan? hingga penelitianmu tentang novel Andrea Hirata diapresiasi banyak orang. Tetapi penelitianku tentang rotasi KAP.” aku tersenyum menaruh rasa terima kasih atas sharing-sharing yang membuatku semakin menghargai orang-orang tersebut.

Jika ia memiliki analogi ular bisa berubah dalam wujud mi ayam, maka aku akan seenaknya saja menganalogikan demikian. Mulut-mulut manusia ada yang beisi bisa ular. Apa saja, tidak usah dipedulikan mereka termasuk apa dalam dimensi ular. Aku rasa ada ular di dalam tubuh mereka, berbisa atau tidak tergantung akhirnya kalimat apa yang keluar dari mulut-mulutnya.

Ketika aku hendak mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang berbeda, justru itu menjadi norak ketika ini menjadi pesan yang tak akan terulang, cerita yang tak akan pernah sama, hidup yang dinamis, kesempatan yang berubah-ubah, tetapi di antara semua itu, aku berharap ia tak akan pernah berhenti berjuang untuk tujuan-tujuannya yang terus berlanjut, berlangsung lama dan konsisten.

Sering kali aku hampir mengakhiri pesan ini, tetapi ketika kantukku datang justru semakin ada-ada saja kalimat yang bermuncullan di alam bawah sadarku, seolah memintaku untuk segera mencatatnya sebelum aku lupa untuk selamanya.

Ia menjadi sebuah irama dalam alur kehidupan, selamat ulang tahun ya. jika ia membaca ini, maka aku akan memanggilnya sebagai kamu.

Terus berkarya, ya, kamu, jangan menyerah. Dimuat atau tidak, menulis untuk kebebasan adalah tugas yang abadi. Sebab, sudah beberapa di antara tulisanmu termuat layak di sebuah buku.

*cerita ini dibuat untuk memperingati hari Ulang Tahun Ilmiyatin N, M di tanggal 13 Mei, meskipun terlambat membuat sesuatu yang dikenang selamanya, aku tahu kamu akan mengingat percakapan-percakapan kita pada hari jatuh-bangun, suka-duka, selalu bersama. Dariku yang sangat norak dalam mengekspresikan terima kasih, untuk sahabat, saudara, dan temanmu. Dan aku berharap tidak bermimpi bertemu ular malam ini.

Jogja, 22 Mei 2017, 11.30 pm, menuju kantuk yang berujung lelap.

 

  • view 133