Triliun Perbedaan

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juni 2016
Triliun Perbedaan

Apa kamu menganggap perbedaan sebagai penghalang untuk saling memahami?

Apa kamu menganggap perbedaan sebagai perusak hobi kita masing-masing yang tidak seirama?

Apa kamu menganggap perbedaan sebagai alasan untuk tidak saling mengenal satu dan lain?

Bagiku, kamu mengajariku hal lain. Untuk tidak menghakimi seorang yang berlainan hobi dengan diri sendiri. Tidak apa, aku tidak sesempurna yang kamu harapkan ataupun yang kamu lihat. Dan tak akan pernah bisa sempurna. Aku bukan Bunda Maria yang bisa melahirkan seseorang yang suci tanpa hubungan spesial. Aku bukan putri Diana yang di mana-mana dikuntit paparazi, dan terkenal. Mata indah, rambut bak mahkota. Atau dengan kemewahan yang Diana miliki. Aku hanya seorang manusia biasa. Memiliki kesempatan memahamimu lebih dekat adalah sebuah anugrah. Memahami perbedaan adalah hal baru bagiku.

            Setiap sua yang kamu gaungkan adalah harapan. Setiap doa yang aku panjatkan adalah pengharapan. Apa bedanya?

**

            Jauh hari sebelum hari ini ada. Lelaki dengan badan kurus dan kulit sawo matang, menenteng tas ransel. Berjalan tergesa-gesa ke dalam sebuah kelas eksakta. Nafasnya berat, pandangannya lurus ke depan. Bukan karena ia tidak peduli dengan lingkungan sekitar, hanya saja ia terlalu sibuk untuk memikirkan pandangan orang-orang yang menganggapnya sebagai orang aneh.

            Geek.

            Bahunya di tepuk oleh tangan halus seseorang yang ia kenal.

            “Kamu akhirnya masuk di kelas ini?”

            “Bukannya tadi mau membolos saja?”

            Tidak ada keterkejutan dalam nada lelaki itu.

            Ia menggeleng. Hening. Hanya suara derap sepatu yang bergesekan dengan tanah yang ditutupi oleh rumput hijau yang masih basah setelah hujan beberapa jam yang lalu.

            “Kamu tidak suka aku mengambil kelas ini?”

            “Aku tidak mengikuti mu. Hanya saja….”

DIAM.

            “Apa? Kamu sudah memutuskan semua dengan jelas.”

            “Putus?”

            Gadis itu menghentikan langkahnya, ada air yang menitik membasahi kaus polosnya. Kemudian ia jera. Masih ingatkah dengan kenangan itu?

            Malam itu hujan turun. Gadis itu adalah kalkulator berjalan seperti lelaki yang ia sukai. Ya, mereka sudah pacaran. Mereka mendiami sebuah kafe yang ramai berdesak-desakan orang pada malam minggu. Apa ini yang mereka inginkan?. Sepi dalam riuh. Itu masih setahun sejak mereka melakukan perkenalan singkat.

            Kelas pertama ketika masih menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas

“Apa hobimu?”

            “Membaca ya NOVEL?”

            “TIDAK.”

            “Penikamat sastra?”

            “Tidak juga.”

            “Suka menulis?”

            Gadis kurus itu menggeleng lagi. Lelaki di depannya hanya bisa tersenyum. Berdecak dalam hati. Bukan keahliannya untuk langsung terbuka dengan orang yang dikenal. Apa mungkin kita sehobi? Hanya dalam batinnya bergema tanya.

            “Memang hobimu apa?” gadis itu menatap tajam pada kedua pasang bola matanya. Merasa tidak memuaskan lawan bicaranya, gantian ia yang bertanya.

            “Aku? Olahraga.”

            “Jadi kamu tidak suka membaca novel-novel itu? menurutku membaca adalah hobi yang membosankan.”

            “Ah, hanya saja aku tidak memiliki wewenang untuk menghakimi hobi-hobi orang yang berbeda.”

            “Jadi selain olahraga kamu suka apa?”

            “Bersepeda.”

            “Wow. Kok bisa? Sepertinya kita memiliki hobi yang sama.”

Apakah ini sejenis kebetulan?

            Sejak pertemuan itu mereka melekat.

            Sedang malam itu mereka dihadapkan pada sebuah buku besar bertuliskan James Stewart, Kalkulus. Bloody hell.  Mereka saling menekuri kertas kerja masing-masing dalam keramaian akhir pekan di kedai yang sering mereka gunakan untuk menghabiskan pekan dalam cair.

            Lelaki itu meletakkan sejenak pensilnya, dan menghela nafas lebih panjang. Ia menatap gadis yang ada di depannya yang masih sibuk dengan asal-usul amsitot tegak itu. Kok bisa? Turunan dari mana?

            Lelaki itu berdehem sejenak. Memaksa gadis di depannya melakukan hal yang sama dengan lelaki yang di depannya.

            Mata mereka saling menatap.

            “Jadi, apa menurutmu masa depan itu?”

            “Rumah. Mobil. Tas bermerk. Perhiasan. Biasa, perempuan.”

            Ada separuh bagian dirinya mulai meragu dengan sosok di depannya.

            “Itu saja?”

            “Anak-anak yang pandai…..”

            “Apa menurutmu uang itu segalanya dalam kehidupan ini?”

            “Apalagi maksudmu? Kita bisa saja menjadi manusia purba tanpa uang.” Gadis itu langsung menjawab tanpa jeda. Entah apa yang terjadi dalam benak gadis itu.

            “Tak perlu ditutup-tutupi lagi, tentang semua ini, siapa yang tidak membutuhkan uang di zaman sekarang?”

            Cinta, dan uang. Apa yang harus dipilih? Cinta dan segala-galanya, tentang uang. Aku mulai tidak tahu arah mu. Lelaki itu memendam dalam hati.

            “Apa tidak sebaiknya kita sudahi pekerjaan kita di akhir pekan ini?”

            “Tapi tugas-tugas ini belum tuntas semua.”

            “Aku pikir ada yang harus dijernihkan terlebih dahulu dalam pikiranmu sebelum kamu menyelesaikan tugas-tugas ini.”

            Mereka berkemas dalam bisu yang pekat. Tidak seperti biasanya lelaki ini menjadi dingin dan acuh.

**

Gadis itu kembali menjajari langkah lelaki yang ada di depannya. Ia terengah-engah.

            “Ada denganmu selama beberapa hari terakhir ini?”

            Ia menggeleng lemah, melambatkan langkahnya menuju kelas eksakta.

            “Sebaiknya memang ini tidak diteruskan lagi. Banyak hal yang belum aku pahami, dan ternyata, aku tidak begitu paham dengan prinsip uang dalam masa depan. Aku tidak….”

            Pipi lelaki itu memanas selepas gadis itu mendaratkan tamparan hangat di wajahnya. Yang sekarang sudah seperti kepiting rebus bagian kirinya.

            “Jadi kita putus karena perbedaan itu?”

            “KAMU sangka aku bisa hidup tanpa uang? Lalu yang membeli beras dan lain-lain dengan apa? Mungkin kamu yang perlu instropeksi diri.”

**

Barangkali aku hanya bisa mendengar cerita-cerita masa lalumu lewat sebuah celah; perbedaan. Hanya karena perbedaan prinsip yang sudah tidak bisa ditolelir kamu memutuskan dia. Jika kamu bertanya kepada mu sekarang, tentang seberapa penting uang dalam hidup. Aku hanya bisa mengambil cerita-cerita dari para pendahuluku.

            Hidup ini penuh dengan dualisme yang kental. Hitam dan putih. Kota dan desa. Kaya dan miskin. Sederhana dan gemerlap. Hujan dan panas. Semua memiliki sisi yang saling tumpang tindih dalam dimensi kehidupan. Aku hanya berhak memilih mana yang sekiranya nyaman untukku. Banyak triluinan perbedaan setiap manusia. Tidak mudah memang membentuk tim yang solid hingga maut memisahkan. Rekan bicara.

Tidak kurang, tidak lebih. Tepat pas. Tidak perlu muluk-muluk, hanya sekali hidup. Untuk menjadi orang biasa-biasa saja memang mudah. Kenyataannya, seusai sekolah apa yang terjadi? Manusia dipaksa produktif. Memenuhi kebutuhan materiil sendiri. Itu mudah, sangat mudah. Sebab memang begitu alurnya. Berkarya yang positif merupakan suplemen dari track itu semua.

            Tidakkah memiliki ilmu yang bermanfaat jauh berkhasanah? Ada beberapa alasan ku untuk diam, alih-alih meneriakkan kalimat kosong. Memang, aku bukan tipe orang yang suka beranjang sana memikirkan merk-merk bergengsi yang harus dipakai pada sebuah jamuan makan malam. Tetapi, aku bisa menempatkan diri.

            Aku tipe yang cuek. Cuek ini menurutku, tidak akan pernah tahu siapa nama asli pemain drama korea yang sedang ngehits, itu pilihanku. Cukup dengan melihat beberapa hal yang seperlunya. Lebih baik aku mengasingkan diri dengan membaca, atau membentuk plot-plot baru dalam lembaran ms.word, meskipun tidak tahu kelak plot ini terbit atau tidak, setidaknya aku memiliki kenangan yang tersimpan. Tak peduli pahit, getir, manis, membahagiakan, aku akan mencoba sekuat hati untuk tetap menuliskannya. Apa ada yang abadi di dunia ini?

            Aku kira, semua sudah tahu, setelah kehidupan di dunia yang kekal adalah neraka. Sebab aku tidak cukup baik untuk mendiami singgasana surga. Aku hanya berani berharap. Dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau menuntunku ke jalur yang bisa membuat kepribadianku naik kelas. Siapa yang bertanggung jawab atas diri ini? Tentu aku sendiri, sebab aku sudah lepas dari orang tua yang sewaktu kecil masih menanggung dosa-dosaku. Dogma.

            Kenapa harus ada perbedaan?

**

Membaca adalah candu bagiku. Bagimu mungkin ini hanya kegiatan bodoh yang akan membuatmu terasingkan dari orbitan kehidupanku. Dalam masa lalu itu, aku bertemu dengan banyak pegiat buku. Nyaman memang, mereka hangat. Tetapi tidak di antara mereka yang memandang masa depan secepat ini.

            “Apa kamu suka dengan Sapardi Djoko Damono?”

            “HUJAN.”

            Dari sana pembicaraan mengalir deras bak hujan yang juga ikut turun dalam kegelapan malam. Diskusi panjang yang tidak akan habis sampai beberapa hari yang lalu, tetapi kesamaan tersebut tidak membuatku naik kelas, hanya jalan di tempat.

            Aku bertemu dengan perbedaan beberapa hari yang lalu, mungkin secara tidak sengaja aku sudah bertemu jauh hari sebelum sedekat ini, hanya berputar pada kesempatan yang berbau segan. Apa yang perlu disegani? Aku hanyalah manusia biasa.

Maafkan aku, aku hanyalah debu.

            Hobimu jauh lebih mengasyikkan dariku. Sifat-sifatmu jauh lebih baik dariku.

            Maafkan aku.

            Aku tidak sempurna.

            Bagimu hubungan yang abadi adalah sahabat sejati, teman percakapan hingga senja datang.

            “Apa kamu suka membaca?” kataku dalam sebuah percakapan di bagi hari.

            “Aku orangnya tidak suma membaca.”

            “Lalu?”

            “Apa kamu menganggap membaca sebagai hobi yang membosankan?”

            “Kamu tahu sajak-sajak Sapardi Djoko Damono yang seperti ini?” hampir saja aku menyerah ketika mengetahui kamu menggeleng ketika aku menyebutkan nama Sapardi.

            “Masak kamu tidak tahu sajak AKU INGIN?” kemudian kamu menggeleng kembali.

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

            “Itu sajaknya?”

            Aku hampir putus asa lagi ketika kamu tidak bereaksi apa-apa ketika aku membaca lengkap sajak Sapardi. SIAPA SIH YANG TIDAK MENGENAL SAPARDI? Hampir saja aku melupakan benih perasaan yang hampir tertanam. Rasa nyaman dalam triliunan perbedaan membuat ku menyerah dan menerima pada satu titik; nyaman.

            Sebuah rahasia kecil: percakapan-percakapan itu memebuahkan rasa nyaman.

 

            Hampir saja aku menyerah pada suatu keadaan perbedaan. Tetapi, apa yang paling kamu inginkan dari triliunan perbedaan yang ada? Setidaknya masa senja menurutku adalah melakukan segala hal denganmu, tidak melakukan apapun juga denganmu.

            Perbedaan mengajarkan ku untuk menerima, hobi tidak selalu harus sama dengan rekan bicara di hari tua, sebab itu bukan penentu utama kenyamanan berada.

Aku meleleh ketika melihatmu tulus menulis dalam secarik kertas: biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri….

Meskipun di masa depan kita belum tahu apa yang akan terjadi. Namun, rasa nyaman ini terlanjur menjalar. Kamu menerimaku dengan sajak yang aku bacakan untukmu, sajak Sapardi dalam perbedaan kita memahami hobi.            

Izinkan aku juga mengenalmu lebih dalam dalam perbedaan yang berwarna, mewarnai langkahku menyongsong senja.

  • view 132