Kumpulan Kenangan Bersama Bapak

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Kumpulan Kenangan Bersama Bapak

MUNGKIN  bagimu kenangan hanyalah kenangan, tetapi untuk yang satu ini butuh ruang khusus untuk menciptakannya utuh. Meskipun aku banyak melupa.

BAPAK. Begitu kami menyebutnya. Tidak ada satu hal yang pernah aku lupakan tentang masa kanak-kanak jika berhubungan dengan Bapak –meskipun tidak lengkap seratus persen. Tentang dongeng-dongeng yang diceritakannya menjelang aku terlelap, atau bahkan hanya sekedar bercengkerama tentang kehidupan di ruang tamu. Membuatku tercenung untuk melihat seberapa besar aku sudah melakukan hal yang berguna dalam kehidupanku. Bapak adalah idolaku.

Hampir setiap hari ketika aku berada di dalam rumah dan begitu pula Bapak, aku akan selalu membuntutuinya ke manapun ia pergi. Dari ruang tamu ke ruang makan. Dan ke mana pun. Di usia empat tahun aku sudah masuk taman kanak-kanak. Di sana aku bertemu dengan banyak teman baru. Naifnya aku melihat kotak pensil baru miliki seorang teman, yang kemudian aku sampai rumah merengek-rengek meminta dibelikan dengan model yang sama. Benda yang terbuat dari atom itu telah melenakanku apa gunanya aku bersekolah dini. Ku ceritakan semua yang terjadi dari pelajaran hingga sifat teman-temanku, bahkan bagaimana Ibu Guru menerangkan berangkai huruf-huruf hingga sekarang aku bisa membaca. Bapak menerima penjelasanku dengan santai, tidak menginterupsi, malah memancingku bercerita banyak, panjang-lebar. Aku kecil yang menggebu-gebu.

Aku terbata-bata membaca saat itu, di koran Suara Merdeka langganan Mbah Kakung di meja tamu saat aku berkunjung. Bapak mulai menunjuk headline yang harus aku baca. Selalu begitu. Bapak membuatku ketagihan dengan buku-buku. Lalu disaat diajak berpergian ke rumah saudara di jalan-jalanpun aku mengeja beberapa kata. Mulai dari plang nama daerah hingga deretan toko-toko yang menunjukkan menu apa yang mereka jual. Kadang jika selama perjalanan hanya daratan hijau yang menyejukkan mata, gantian aku yang menginterupsi Bapak dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.

Biasanya saat malam tiba, aku seringkali menggunakan celana dalam dan kaus singlet berwarna putih yang kemudian akan direpeti Ibu, seorang perempuan itu harus berpakaian lengkap, pakai baju, jangan seperti seorang laki-laki. Biyayakan. Aku membantah dengan dalih kepanasan, padahal hari sudah malam. Aku bilang kepada Bapak aku tidak bisa tidur, lalu Bapak mulai berdongeng dengan cerita-cerita yang tidak masuk akal waktu itu yang ketika aku dewasa mengetahuinya sebagai cerita rakyat,  legenda bahkan mitos. Malin kundang, kancil nyolong timun, Roro Jonggrang, Rawa Pening, Timun Emas. Seingatku itu semua pernah diceritakan Bapak.

Ditambah lagi Mbah Rayi juga sering mengulang cerita-cerita tersebut sebelum aku tidur. Jika Bapak dan Ibu sedang sibuk dengan pekerjaan, Mbah Rayilah pengganti Bapak. Malam itu aku terhanyut dengan semua cerita. Aku paling suka dengan Huma, seekor anak gajah yang diceritakan Bapak sebagai hewan yang paling baik hati di kebun binatang gembiraloka Yogyakarta, waktu itu aku belum tahu kalau cerita itu adalah karangan Bapak untuk menenangkanku yang rewel ketika malam. Hingga akhirnya dengan kepala sendiri aku melihat anak gajah di kebun binatang, rasanya cerita-cerita Bapak tentang Huma nyata. Yang sekarang aku tahu, cerita-cerita Bapak waktu itu membantuku memahami kehidupan dari sisi lain. Bisa jadi juga Bapak ingin menyembunyikan betapa getirnya kehidupan di waktu aku dewasa. Sempat aku berkata kepada Ibu untuk membelikkan aku seekor gajah dan diberi nama Huma. Begitulah pengarung cerita Bapak pada waktu itu.

Mungkin bagi kalian ini akan sangat memalukan. Sampai kelas 3 Sekolah Dasar aku masih mengompol. Hingga Ibuku kelelahan menjemur kasur yang tak seberapa bagusnya waktu itu. Tetapi Bapak selalu menenangkan Ibu. Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Bisa jadi waktu itu di belakangku mereka bertengkar hebat karena anaknya sudah besar tetapi masih mengompol. Hingga akhirnya benar-benar berhenti ketika caturwulan terakhir di kelas tiga.

Masa sekolah dasar aku mulai menghabiskan sebagian waktuku di sekolah. Tidak tahu kenapa pelajaran yang mebuatku suka waktu itu adalah membaca buku paket pintar berbahasa Indonesia, dan matematika. Tetapi di kelas tiga aku takut dengan topik pecahan. Sampai di rumah, Bapak masih sering bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti ketika aku masih taman kanak-kanak. Bapak membolak-balik buku matematikaku, dan mencoba membuatu paham dengan arti pecahan tidak sekali dua kali bahkan berkali-kali, hingga aku berada pada titik bertolak pada gagal paham. Masih ingat hingga aku bangun kesiangan. Aku bilang kepada Bapak waktu itu, tidak usah berangkat saja.

Itulah pertama kali Bapak memarahiku. Cepat berangkat. Aku masih sesenggukan ketika Ibu merapikan seragamku. Sebenarnya aku punya alasan kuat untuk tidak berangkat. Aku takut disuruh ini-itu pada bilangan pecahan. Bapak menggandengku keluar rumah. Pak, nanti guru ku marah kalau aku terlambat. Bapak tidak mengindahkan alibi ku yang masih kelas tiga sekolah dasar. Hingga menyeberang jalan raya dan akhirnya sampai di depan kelas ku. Jendela kayunya terbuka lebar. Jendelanya cukup besar, hingga dari jarak lima meter aku bisa melihat beberapa di antara mereka fokus memperhatikan Bapak Guru mencoret-coret papan tulis kayu berwarna hitam. Dengan kapur tulis berwarna putih ada di tangannya. Selama perjalanan aku merengek, takut dimarahi Bapak Guru. Bapak bilang kalau begitu sana mandi, nanti Bapak antarkan sampai kelas. Aku sesenggukkan, benar-benar takut kalau dimarai Bapak Guru. Hingga sampai depan pintu kelas dengan ubin berwarna abu-abu Bapak mengetuk pintu, meminta maaf atas keterlambatanku. Padahal aku yang salah. Lalu aku masuk menuju bangku ku, duduk. Tidak mengindahkan pandangan aneh teman-teman. Dari sorot mereka, pasti mereka heran kenapa mataku merah dan terlihat kacau.

Eh, Bapak Guruku tidak marah? Aku kembali asyik dengan apa yang ia jelaskan seketika itu. Pecahan. Mengulang apa yang semalaman Bapak sendiri ajarkan hingga aku terkantuk dan merasa jengah.

Betapa aku hanya bisa merengek dan meminta ini-itu asal tunjuk. Tanpa tahu bagaimana perjuangan Bapak untuk bisa memenuhi apa yang aku minta. Suatu kali aku belum pernah melihat Ibu dan Bapak pertengkar di depanku, mungkin di belakangku banyak asalan kenapa hal itu tidak terjadi.

Hidup adalah pilihan. Begitu Bapak  bilang ketika aku sudah tidak kecil lagi. Sederhana, tetapi bisa memunculkan banyak inspirasi. Ketika aku bercakap dengan Bapak pasti menumbuhkan inspirasi. Rasanya tidak akan pernah habis. Dari sana aku langsung jatuh cinta dengan menulis. Bapak tidak pernah tahu ini. Tidak pernah tahu kalau sejak itu aku mencintai kegiatan menulis asal-asalan memang, tetapi ketika kuliah semua keasalan tersebut membawa aku bertemu dengan orang-orang yang sangat membantuku memahami lebih dalam tentang menulis.

Bapak tidak pernah memarahiku sejak kejadian Sekolah Dasar yang satu itu. Bagaimana aku harus menciptakan kenangan utuh untuk Bapak? Tulisan tak akan mampu menebusnya. Meskipun sudah dibaca banyak orang. Meskipun sudah bersampul rapi kelak, itupun tidak akan membantu menebus kesalahan-kesalahan yang aku lakukan.

Di usianya yang sudah menapaki kepala lima, apa masih mau membaca berlembar-lembar huruf yang entah berarti tidak untuknya. Bagiku yang abadi adalah buku, aku hanya bisa berdoa, di hari tuanya bisa melihat anak-cucunya bercengkrama hangat di ruang tamu. Menceritakan kembali dongeng-dongeng yang dulu waktu kecil aku dengar, diulang, bahkan dengan cerita karangannya sendiri. Atau tentang cerita hewan dan manusia yang bersahabat manis. Memoriku masih cukup menangkap samar-samar masa kecilku. Ia telah membuat masa kecilku menjadi kenangan paling manis.

Terima kasih Tuhan, atas kemurahanMu, mempertemukanku dengan filofof kehidupan yang selalu mengajariku bersabar. Mungkin kelak aku tak akan mampu berujar, ketika hari itu tiba. Hanya dengan memindai kenangan yang aku bisa persembahkan.

  • view 269