Surat Kagem Ibuk

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
Surat Kagem Ibuk

Surabaya.

PAGI sudah hampir tiba. Isak tangisnya tak kunjung reda. Anak itu menunggu kepulangan Ibunya. Biasanya sebelum tidur Ibu nya menceritakan tentang janji kehidupan yang luhur. Malam ini amat panjang buatnya. Pikirannya melayang apa yang akan terjadi pada esok paginya? Jika fajar ini Ibu nya tak kunjung datang. Bagaimana ia bisa mengikuti ujian akhir sekolahnya? Ini hari terakhir ia harus melunasi administrasi sebagai syarat untuk mendapatkan kartu ujian.

            Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah-celah sempit ventilasi udara yang berada dekat kusen-kusen jendela kayu rumah yang reot itu. Gadis remaja itu bernama Klara. Langkahnya terseok-seok memapah tubuh ringkihnya menuju kamar mandi, biasanya sebelum bangun tidur ia akan mendapati Ibunya keluar dari kamar dan mempersilakan keluar tamunya.

            Braaaaak. Klotak-klotak.       

            Klara memutuskan tidak jadi mandi, niatnya terhenti setelah mendengar suara keras yang berasal dari depan pintu rumahnya.  

            “Nduk, meluo Ibu iki, ben masa depan mu kejamin.” Ibu Klara ternyata sumber kegaduhan itu, ia menjatuhkan tas imitasi bermerk hermes itu tepat di kursi kayu yang menjadi barang paling berharga di rumah itu selain buku-buku Klara yang semua dibeli dari toko lowakan. Suaranya bernada memerintah.

Surabaya masih terlalu pagi untuk mengerti apa arti kalimat perintah Ibu Klara tersebut.

Wanita yang dibawa Ibu Klara ini berpenampilan jauh lebih  moderat, make up yang menempel di mukanya menunjukkan ia wanita yang memperhatikan merk. Pagi-pagi sekali mereka ber make up. Para wanita perkasa.

“Ndak mau Ibu, hari ini Klara mau meminta keringanan, agar bisa ikut ujian sekolah, apa Ibu lupa hari ini merupakan hari terakhir mengurus administrasi?” wajah Klara sudah capek dengan kehidupan yang membuatnya harus selalu bertanya-tanya di mana akhir dari semua ini.

Klara gak mau Bu, Klara mau sekolah. Gak mau ikut bulek itu….” Matanya hampir berlinangan air mata, mungkin kali ini ia sudah jerih, tak ada yang menggenangi lagi pelupuk matanya.

“Ikut bulek wae nduk, nanti ning Jakarta sekolah lagi, sudah tinggalkan Surabaya ini.” Wanita itu meyakinkan Klara. Senyumannya menyungging, seolah-olah menjadi dewa penolong Klara yang haus akan pendidikan itu.

“Ibu mau ke mana?”

“Beres-beres pakaian mu.”

“Klara ndak mau Buk, nanti yang jada Ibu di sini siapa? Sejak kapan Klara punya bulek orang Jakarta. Klara lebih senang tingga di Surabaya Buk, sama Ibu…”

“Kamu di sini tidak akan mendapatkan janji luhur kehidupan Klara….”

“Kamu hanya akan melihat Ibu menjalani kehidupan yang menjijikkan, kamu gak boleh seperti Ibu, pergilah Klara…”

“Turuti mau Ibu mu Klara.”

Ibu Klara berjalan tergesa-gesa menuju kamar, mengemasi apa yang masih pantas di kemasi Klara. Klara hanya bisa pasrah, ia memutuskan tak jadi mandi, sisa-sisa semangatnya luntur, luntur mengharap harapan baru bagi babak baru kehidupannya.

**

Mobil sedang berwarna putih itu melaju pelan meninggalkan rumah reot di salah satu perkampungan yang sekarang sudah di tutup oleh wali kota Surabaya. Klara di dalam sana hanya bisa tertahan menahan isak, matanya menerawang ke rumah reotnya, Ibu nya melambai-lambai, tak ada tangisan dalam wajahnya.

            Semakin jauh meninggalkan perkampungan itu, mobil sedang semakin melaju kencang, menembus jalanan raya.

            “Aku belum pernah melihat bulek, main ke rumah, siapa bulek sebenarnya?”

            “Teman kerja Ibumu…”

            “Bulek ini gundik?”

            “Hahahah, siapa yang mengajarimu berkata demikian Klara? Hidup ini keras, kamu tidak mau menjadi seperti Ibu mu bukan? Ibu mu selalu cerita kepada bulek, kamu rajin sekolah, kamu harus menjadi orang nduk, Ibu tak ingin kamu menjadi seperti dirinya, hidup Ibu mu sudah digariskan begitu, lewat kamu lah Ibu mu bisa menebus semuanya.” Mobil melaju semakin kencang, Klara hanya diam, menunduk, melihat baju kusamnya.

            “Sudahlah, kamu jangan bersedih, di sana masih banyak sisi kehidupan yang harus kamu pelajari. Cita-cita mu ingin menjadi apa nduk?”

            “Hanya ingin melihat Ibu gak kerja terus di malam hari, ingin membawa pergi Ibu dari tempat itu, bulek, kenapa Ibu gak ikut serta ke Jakarta bulek, bulek Jahat!” Klara memberanikan diri bersitatap dengan wanita yang sekarang fokus dengan setirnya.

            “Ibu mu…. Tidak ingin kamu seperti dia Klara….”

Hening.

**

WELCOME TO JAKARTA KLARA

Klara terlihat takjub melihat bangunan yang menjulang tinggi. Wajahnya melupakan sedikit kesedihan meninggalkan Ibu nya.

            “Ini Jakarta bulek? Gedhe ya……”

            “Besok kamu mungkin sudah mulai sekolah Klara, persiapkan dirimu nanti sampai rumah bulek kamu langsung istirahat.”

            Klara diam, ada sebagian dirinya yang bahagia karena diberi kesempatan melihat dunia yang berbeda dari lingkungan tempat tinggal nya dulu. Ibu nya sedang apa sekarang di sana?

Hari sudah berganti.

            Mobil tersebut memasuki halaman rumah yang cukup luas dan asri. Ada beberapa kandang burung yang terdapat di teras rumah.

            “Ini rumah bulek Klara, bulek  di rumah ini sendirian.”

            “Klara pengen pulang bulek, kasihan Ibu di rumah sendirian.”

            “Kamu ini katanya membahagiakan Ibu mu, sekolah dulu sampai lulus baru pulang ke Surabaya. Ngerti?”

Klara tak menjawab ia terlanjur bingung dengan keadaannya sekarang. Ia memang ingin sekolah, tapi bagaimana dengan Ibunya?

**

Hari pertama ia di SMP terlihat biasa-biasa saja, tapi ia terlanjur mencintai pelajaran matematika sejak pertama, Klara termasuk gadis yang pandai beradaptasi. Karena di sana ia mendapat sesuatu yang ia sukai. Passion

            Ia masih ingat betul apa pesan Ibunya, sekolah sampai lulus, baru pulang.

Hatinya sesak hari itu, ia ingin benar mengunjungi Ibunya entahlah. Hari semakin berjalan lambat.

**

Surabaya.

            Kartika memutuskan untuk pindah segera dari perkampungan kumuh yang sudah membuat hidupnya penuh dengan lumpur-lumpur dosa. Ia sudah mengemasi semua barangnya. Ia ingin pindah ke Malang. Sebelum hari tuanya berakhir tragis, ia ingin melihat anaknya tumbuh sebagai remaja yang bahagia. Telepon genggamnya berdering-dering. Sebenarnya ia enggan mengangkat telepon, jangan-jangan dari langganan yang biasanya, bukankah lebih baik hidup di kampung menjadi wanita baik-baik, daripada hidup di kota besar tetapi menjadi simpanan.

            “Ratri, bagaimana Klara di sana?”

            “Baik Kar, sekarang kamu jadi pindahan?”

            “Seharusnya kamu ikut ke Jakarta saja Kar.”

            “Enggak bisa.”

            “Apa kamu mau terus-menerus menjadi simpanan dan gundik? Hentikan Kartika.”

            “Takdir sudah menuntunku ke jalan yang demikian Rat. Jaga Klara baik-baik.”

Telepon seluler yang satunya berdering.

            “Rat, sebentar ya, ada telepon lain.” Kartika memencet tombol hold.

            “Jangan kamu angkat kalau dari dia Kar!!!!!” Kartika sudah tidak mempedulikan lagi suara di seberang sana.

            “Hallo.”

            “Malam ini kamu datang saja ke tempat seperti biasa.”

            “Tapi, aku tak bisa.”

            “Apa kamu sudah lupa dengan janjimu? Jika ingin anak mu hidup tenang di Jakarta.”

            “Biadab!!!! Jangan pernah ganggu anakku dan Ratri di sana! Biarkan mereka hidup tenang.”

            “Kalau begitu malam ini harus ke sini.”

Klik. Saluran di putus, ada degupan aneh yang memaksa Kartika menjatuhkan dirinya secara paksa di kursi kayu rumah itu. Bagaimana kalau hari tuanya tak akan pernah bahagia, bagaimana kalau pintu itu sudah di tutup sejak sekarang sebelum ia sempat mengucap kata taubat. Bagaimana kalau taubatnya terlambat. Malam semakin pekat, ia tak boleh membahagiakan anaknya. Ia harus bekerja malam ini juga.

**

“Gimana bulek? Bagaimana kabar Ibu?”

“Baik, kamu belajar saja yang rajin Klara. Kata wali kelas mu kamu besok mau lomba matematika ya?”

“Iya bulek…. Klara pingin nulis surat buat Ibu, ada tugas dari Ibu Guru Bahasa Indonesia. Katanya biar bisa menyusun pesan yang baik lewat tulisan”

“Tulis saja, besok bulek kirim ke kantor pos.” malam semakin pekat di tempat yang berbeda, dengan doa yang sama: mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi.

**

        Kagem Ibu

Hallo Ibu, Ibu apa kabar? Klara di sini senang, bisa dapat teman-teman baru yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Ada yang anaknya dokter, guru, bahkan sampai tukang jamu, hidup ini bervariasi bukan Bu? Tapi di pelajaran Kewarganegaraan kita tidak boleh mengejek profesi apapun itu, namanya menghargai hak asasi manusia. Kita manusia kan Bu? Di mana-mana sama saja. Oh iya, Bulek orang nya baik sekali, maafkan aku. Aku awalnya berpikiran yang tidak-tidak.

            Saat perkenalan pertama, Klara malu-malu Bu, Klara kan bukan orang Jakarta asli. Aku tulis di formulir biodata Ibu kerjanya bertani di Surabaya. Apa langkahku sudah benar Bu? Aku takut tak mendapat teman jika aku menulis pekerjaan Ibu yang sebenarnya. Tidak semua orang memikirkan itu adalah hak Ibu bekerja demikian, memang aku masih kelas satu SMP tapi aku mulai mengerti apa pekerjaan asli Ibu, semenjak hari itu.

Maaf kan Klara yang meninggalkan Ibu di sana sendirian, kenapa Ibu tak ikut bulek? Kenapa? Ingin rasanya Klara menelpon Ibu, tapi dilarang bulek. Janjinya setelah Klara juara matematika dulu. Baru boleh menelpon Ibu,

            Ibu besok Klara lomba matematika, mewakili sekolahan. Ibu benar sekolah itu menyenangkan, jika waktu bisa berputar cepat maka aku ingin aku bisa lulus besok dan segera menemukan pekerjaan yang baik, memulai kehidupan baru.

            Kata Ibu, pintu-pintu itu tak akan pernah tertutup bukan?

Sudah dulu Bu, Klara mau meneruskan belajar.

Yang selalu mengagumi cerita-cerita Ibu di tengah kegelapan malam.

Klara.

**

Malam itu Klara belajar dengan benar-benar, ia harus mengantungi juara agar bisa berbicara dengan Ibunya lewat telepon, alat tulisnya bergerak lincah menyelesaikan soal-soal matematika malam itu, berharap besok akan memenangi lomba, dan segera berbicara dengan Ibu nya.

            Sadarkah ia bahwa kehidupan nya sekarang bisa memberinya kesempatan keluar dari paradigma tradisional?

 Perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

“Susah Klara, ayo tidur, biar besok kamu bisa juara!!!!” wanita itu membuat tangan Klara berhenti menulis, ia mendongak. Harapan nya semakin terang, ia akan segera berbicara dengan Ibu nya.

            Besok yang akan segera memberi jawaban.. Ibu nya masih sama, seperti hari ini, berada di pangkuan seorang yang telah bersistri untuk melindunginya……


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    "Surat Kagem Ibuk" atau "Surat untuk Ibu" jeli mengangkat tema "anti mainstream" tentang kehidupan anak dan ibunya, yang bekerja menjadi pelacur. Potret pilu, miris, kepolosan sang anak tertangkap secara blak-blak an dalam tulisan ini. Yang menarik dalam tulisan ini adalah sensasi campur aduk yang tertinggal dalam benak pembaca, memaksa siapapun yang menikmatinya menalar lalu sejenak merenungkan bagaimana sikap mereka menemukan kenyataan seperti itu. Pembaca seperti diajak menarik kesimpulan bijak, membebaskan diri dari hitam dan putih. Teknik penulisan yang tanpa banyak metafora seolah ingin menyampaikan pesan bahwa yang terjadi dalam kisah ini adalah hal yang bisa saja nyata, kita tak perlu menutupinya. Cerita ini mengangkat si mungil Klara, yang diminta ibunya, pergi ke Jakarta demi masa depan yang lebih baik. Ia, yang sebenarnya tidak mau, akhirnya manut dan berusaha menjadi murid yang cerdas demi bisa menulis surat ke ibunya, yang sekaligus menandakan dia berhasil menapaki masa depan cerah. Profesi sang ibu sebagai wanita simpanan tak sedikit pun melunturkan rasa hormat Klara. Baginya, justru kehidupan susah ibunya memotivasi dia untuk maju. Sangat menyentuh, Bare Kingkin.

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    tulisan yg sangat inspiratif.......

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Lanjutkan, masih banyak celah yang bisa dikembangkan dari potret kehidupan di Dolly.

  • Affan Nursalam
    Affan Nursalam
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan nya ajip..... To be continued kah?

    • Lihat 3 Respon

  • Bare Kingkin Kinamu
    Bare Kingkin Kinamu
    1 tahun yang lalu.
    hikhik terima kasih redaksi untuk catatannya, masih banyak sisi yang bisa diperluas