Apa yang Bisa Dipetik dari Kenangan?

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Mei 2016
Apa yang Bisa Dipetik dari Kenangan?

Menurutmu apa itu kenangan? bisakah kita memetik dari kenangan selain kesedihan? Menurutku dengan kenangan aku bisa berjalan maju seperti sekarang. Meninggalkan waktu yang sudah tidak bisa dijamah kembali.  Menertawakan kekonyolanku. Dulu rasanya aku suka sekali mencuri-curi pandang pada lelaki bermata hitam yang sedikit sipit itu. Sedangkan ketika Ibu Guru sedang menjelaskan bagaimana mencatat jurnal umum mata ini akan segera menguap ingin tertutup. Kini, semua tinggal kenangan, aku hanya bisa membuat sketsa-sketsa berbentuk gambar untuk mengabadikannya.

            Dalam hidup seseorang ada kenangan yang tersimpan dengan rasa yang berbeda-beda. Semua dari kami bertujuh memiliki kesan tersendiri. Begitupun aku. Tetapi dahulu kala aku menyimpan cerita tentang perasaan. Kebiasaan kami yang selalu bercanda, kebersamaan kami yang telah lebih dari sepuluh tahun membuat kami seperti keluarga. Tidak mungkin aku menamakan ini cinta. Kenangan ini berbentuk cinta? Dulu seseorang pernah berkata, cari pasangan ketika kita sudah bekerja itu susah, sebaiknya kita pendekatan sekarang. Aku mengindahkannya membuang jauh-jauh opini itu. Apa benar itu? natanya kenangan itu sekarang berpendar-pendar kuat dalam ingatan. Aku tak bisa kembali ke sana.

            Mungkin sebenarnya aku adalah debu kenangan, semua sudah maju, selalu berbahagia menampilkan senyuman tulus mereka diberbagai media sosial. Untuk menyampaikan kepada semua orang bahwa mereka hidup bahagia, melangkah meninggalkan kenangan tanpa pernah merasakan sakit hati. Tetapi apa nikmatnya hidup jika tidak pernah mencicipi kenangan yang buruk?

            Apa yang aku dapatkan dari masa lalu? Semua baru tersadar bahwa ada beberapa bagian yang masih aku artikan artifisial.

            Sore itu aku sedang duduk-duduk menunggu mobil jemputan. Lekali bermata sipit itu menawarkan mengantarku sampai rumah.

            “Tidak, aku sebentar lagi dijemput. Sepertinya sedang terkena macet.” Sudah hampir 30 menit sejak pukul lima aku menunggu di depan pos satpam. Duduk di kursi kayu panjang.

            “Serius nih? Kamu bisa telpon sekarang supirmu, lihat langit sedang tidak bersahabat. Siapa tahu ban mobilnya bocor. Ayolaaah”

            “Sudahlah, kamu duluan saja. Nanti dia kecewa.” Beberapa daun yang kering ikut bertebangan disapu angin bersama debu. Aku kedinginan, aroma hujan sudah tercium dari jarak 5 cm dariindra penciumanku. Mobil berplat BM itu segera menuju gerbang menutup rapat jendelanya. Tinggal aku sendiri –menunggu. Sepuluh menit berselang, jemputanku datang, rinai rintik-rintik membuat semua terasa datang tepat waktu ketika aku sudah duduk nyaman di jok depan.

            Kini kenangan itu hampir saja aku museumkan di tengah-tengah hingar bingar masa depan.

            Aku tidak percaya kebetulan. Tetapi untuk yang satu ini entah kenapa ia bisa mematahkan teoriku. Aku sekolah formal sudah lulus hingga mendapat gelar sarjana, sudah kerja. Di kantor yang dulu aku incar. Sebagai designer pemula memang karirku belum seberapa. Tetapi aku akan berusaha bisa bersaing dalam hal baik dengan senior-senior yang sudah memiliki jam kerja tinggi di bidangnya. Aku memilih designer sebagai pekerjaan utamaku selain karena hobi juga kerana dengan cara itu aku bisa mengenang framen-framen di mana aku melewatkan betapa dia selalu berarti untukku.

            Apa aku sudah gila? menyebut-nyebut masa itu sebagai kenangan terindah atau terburuk. Padahal kita semua adalah teman sekelas, kami bertujuh begitu dekat.

            Tentang karakter masing-masing kita sudah mengerti. Tidak perlu sebagai ajang perdebatan. Meski sekarang aku tahu jika dulu sering ada perdebatan itu karena kurang matang, masih kekanak-kanakkan.

            Mungkin ada beberapa di antara kita yang tidak sadar. Aku sudah menumbuhkan bibit itu sejak ia mengacungkan tangan untuk mengerjakan soal ke depan pada pelajaran yang membuatku selalu terkantuk-kantuk untuk ikut mengikutinya. Mungkin kalian tidak akan percaya. Sebab ia dulu pernah bersiteru dengan diriku sendiri pada sebuah siang yang panas terik. Ia sangat-sangat menyebalkan.

            Perasaan apa yang sebenarnya aku harapkan dari dirinya?

Persahabatan… cinta atau …. Hanya teman biasa.

Bisakah aku menyimpan kenangan itu rapat-rapat seperti ini terus jika aku hanya bisa membuat sketsa-sketsa sebagai tanda.

Bagi penulis mungkin akan memberi tanda dengan menulis cerita ribuan kata demi dia, motivasi yang kuat untuk menyelesaikan draft yang ribuan kata terjejer rapi membentuk kisah. Sayang, aku bukan penulis. Aku hanya bisa menggambar. Maka inilah yang aku lakukan sekarang, duduk di sebuah meja yang sepi. Semua orang sedang makan siang. Aku membuka laptopku mencoba melihat kembali album yang membuat perutku geli sendiri seperti diaduk-aduk suara kepak kupu-kupu.

Kami duduk mengelilingi bangku kantin sekolah dengan menu yang kami pilih. Mie ayam, soto, dan entah apa lagi yang dipesan teman-temanku ini bermacam-macam. 

“Kamu perpisahan nanti datang bareng siapa? Pakai dress panjang dong kamu, selama ini kamu selalu pakai celana dan jas. Macam laki-laki saja!” salah satu di antara kami membuat perhitungan.

“Ah malas ah! Datang sendiri dong, nanti kita ketemuan di lobby.” Denting-denting keriuhan sendok dengan piring terdengan di kantin ini semua lapar, hampir lima jam kami belajar dan hanya dengan waktu setengah jam melepas penat dengan mengisi energi.

Aku ikut menggoda teman tomboy kami. Ia tertawa.

            “Ke mana kunyuk dua itu? kok nggak kelihatan batang hidungnya.”

            “Entah… paling-paling juga tertidur di kelas.”

            “Dasar kerbau!” celetuk teman ku yang memiliki senyum termanis di antara kami. Rambut sebahu dengan aroma parfum jeruk yang sangat menggoda, eh –memang makanan.

            Teman-teman ada yang sudah berdiri menuju kasir, membayar. Ada pula yang langsung cabut dengan maksud utang Ai –begitu kami menyebutnya yang sudah tahu sebelumnya, di akhir bulan biasanya orang tua kamilah yang membayar semua masalah utang-utang tersebut. Semua orang yang ada di kantin kemudian bercekak-kikik. Reflek sebelum meninggalkan kantin kami ikut menoleh ke sumber keributan. Wajah itu, yang seketika membuat ulu hati terasa nyeri. Sedang menggandeng tangan seseorang yang jauh di bawah kami. Anak SMP.

            “What? Pedopil!!”

            “Dasar, orang gila! ngapain sih dia main-main sama anak ingusan. Oh My God Oh My God.” Kami semua tergugu. Laki-laki bermata sipit itu sedang menjadi pusat perhatian. Dia adalah teman sekelas kami. Seperti mimpi, rasanya ada hal yang tak ingin aku lihat dari dirinya –senyum aneh itu. Di antara semua omongannya banyak yang merancu bahkan membual, tetapi sebenarnya itu merupakan keseriusan yang amat untuk satu hal; masa depan. Ia sangat menyukai beberapa buku bergenre detektif. Sedang sekarang ia asyik membribik anak ingusan. Sekolah kami adalah yayasan. SMP dan SMA satu gedung itulah sebabnya ia sekarang sedang memanfaatkan waktu luangnya untuk beranjang sana dengan adik tingkat.

RUANG kelas telah sepi, selesai lunch pelajaran kami waktu itu adalah olah raga. Banyaklah waktu luang kami setelah usai.  Kami semua disitu saling meledek kejadian tadi siang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua waktu itu.

            “Gila kamu! Kenapa pakai main-main sama anak SMP?”

            “Aku hanya iseng.” Ada detak aneh, tidak rela iseng itu menjadi sebuah alasan. Tidak.

            “Kapan kamu mau berubah? Seriuslah sedikit! Sebentar lagi kita sudah tamat SMA.”

Berondongan pertanyaan saling besahutan. Menggugat, dan mencaci maki.

Kami semua sama-sama tahu ia adalah orang baik. tetapi untuk kasus tadi siang, tak mungkin ia mempermainkan seorang perempuan, yang masih belia.

“Apasih yang kamu cari dalam kehidupanmu?” aku ikut angkat bicara menimbulkan gejolak aneh yang sejak itu aku tahan-tahan menutupinya.

Ia terdiam. Menatap kami satu persatu yang mengerumuninya.

            “Sudahlah-sudahlah! Jangan kamu anggap aku macam anak kecil. Aku tahu kok apa yang sedang aku lakukan sekarang.”

            Kemudian ia melipat kedua tangannya di atas meja, ia benamkan kepalanya. Yang sontak membuat kami semua berseru untuk menghentikan aksi tidurnya itu.

Dasar kerbau.

SEKARANG aku masih mematut-matututkan pensilku di atas kertas yang masih bersih. Mencoba beberapa gambar yang hendak aku lukis. Tentang persahabatan kami. Mungin bagi kalian ini tak akan pernah menjadi sesuatu yang penting. Tetapi bagiku, seseorang yang selalu menghargai kenangan. maka aku memutuskan untuk menyimpannya dalam-dalam dalam bentuk hobiku –menggambar.

Pelan-pelan aku gambar bentuk wajahnya.

Matanya yang sipit. Dan oval.

Senyumnya yang selalu membuat suasana menjadi lebih nyaman.

Sejak kami lulus SMA kami berpencar, tetapi semua rata-rata mendiamai Ibu Kota. Tidak  ada yang lepas kontak setelah itu. hingga kami menjadi sarjana. Pengalaman hidup telah membuatku tersadar, aku tidak bisa menghilangkan getaran aneh ketika melihat masa lalu, senyumnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana dia sekarang dengan adik tingkat waktu SMP dulu. Untuk masalah pasangan, terkadang kami tidak pernah membicarakannya. Anehkan? Hal yang penting untuk orang dewasa zaman sekarang malah tidak pernah dibicarakan. Padahal hal tersebut sangatlah krusial.

Pada kenangan seperti ini, apa sebernarnya sumber ketakutan ku untuk merangkumnya dalam sebuah gambar?

Aku bersyukur. Lepas lulus kuliah bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan harapanku.

Aku ketuk-ketukkan kembali pensilku.

Ah senyum itu.

Terkadang aku memang terpaksa menyerah pada kata; kebetulan. Sebab percaya atau tidak sekarang aku sedang menggambar di kubikel yang sangat dekat dengan teman lama kami.

Ia.

Bisakah kebetulan membuat kami menjadi satu kantor begini?

Ha ha ha.

Kebetulan yang aneh. Kenangan-kenangan itu berbentuk hal yang menyebalkan, menyenangkan, bahkan sampai sekarang aku ia malah menjadi semakin melekat.

Ia memanggil namaku dari seberang.

“Sudah makan siang?” dengan senyumnya yang mengembang.

Aku mendongakkan kepala. Segera menutup tab galeri dalam laptopku.

“Daritadi aku masih di sini. Apa kamu tak melihat dengan benar?” mataku melotot ke arahnya yang cengengesan.

Masih kah ada kenangan untuk masa depan ku nanti? Jika ia yang mendominasinya sekarang ada di depanku, dan sering bertemu.

Apakah sebenarnya yang aku harapkan dari kenangan?

Bukankan kita semua diciptakan saling berpasang-pasangan?

Aku bangkit dari dudukku, berharap bisa menjadi yang ter- untuk hidupnya, atau bahkan menjawab semua doa-doa dan desiran sialan yang setiap kali datang ketika aku bercakap-cakap dengannya. Sebenarnya, semua itu mengalir ketika taka da lagi sekat untuk tidak saling menerima.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dari kenangan?

Kami berjalan beriringan keluar kantor. Menuju kedai nasi dan kopi yang menjadi langganan. Membicarakan 5 orang sahabat terdekat di masa SMA.


PS: cerita pendek ini saya dedikasikan untuk keluarga besar social path (if only you know who we are, who they are :D)

  • view 298