Ketika Cinta Tak Pernah Kembali

Bare Kingkin Kinamu
Karya Bare Kingkin Kinamu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Mei 2016
 Ketika Cinta Tak Pernah Kembali

Terlintas dua kata ketika ia menginjak usia 28 tahun. Galau maksimal. Teman-temannya sudah mulai menyebar undangan –menikah. Sedangkan ia hanya menyendiri, mencoba menyelami dirinya sendiri dan berusaha mengerti; apa aku sudah pantas untuk naik kelas?

            “SUDAH jelas aku tidak akan menikah sebelum usia 30 tahun berlalu.” Ia memberi aba-aba pada dirinya sendiri di ruang tamu alih-alih berusaha menjelaskannya untuk lawan bicaranya. Kipas angin berputar pada porosnya diternit, televisi menyala. Menampilkan iklan rambut yang mudah rontok. Adiknya sampai sekarang tidak habis pikir, kenapa ia tidak pula ingin melepas masa lajang dalam kehidupan?

            “Tetapi, Ibu dan Bapak sudah menjodohkanmu Mbak! Dengan dia. Kurang apa coba? Memangnya Mbak mau aku langkahi?”

            “Ini bukan tentang menikah saja.” Ia menyorotkan mata menyerah. Tidak mau lagi berdebat. Sedang di dadanya menganga rasa nyeri.

            “Kenapa harus memilih-milih sih Mbak? Apa Mbak kurang puas? Kaya, ganteng, dan mapan. Kurang apa lagi?”

Bukan itu semua yang aku minta…..

“Sudahlah, aku sudah menyerah. Kenapa kamu begitu keras kepala selalu mengungkit-ungkit hal yang sama.”

Apa kamu sebenarnya mengerti apa itu cinta?

“Kamu tahu Mbak? Bapak Ibu sudah susah payah membesarkan kita Mbak, tinggal menikah saja kok susah!”

“Sudah, sana kembali ke rumah, pasti Ibu dan Bapak sudah menunggumu untuk segera pulang.”

**

Ia sedang berdiri di sebuah ruang yang sepi. Menata beberapa buku sebelum pergi ke kasir. Sudah pukul sepuluh malam. Senin ini pengunjung toko buku itu sepi. Biasanya ramai. Ketika terburu-buru menuju kasir, tiba-tiba tumpukan buku yang ia bawa tercecer. Ada tangan lain yang membantunya menata rapi buku-buku yang hendak ia bawa ke kasir.

            “Kamu membaca Sindhutana?” ia bertanya, tersenyum.

            “Kamu percaya dengan dunia ini? Bahwa masih ada orang yang peduli untuk tidak saling menyakiti, tidak saling merampas hak rakyat.”

            “Selain itu kamu suka membaca apa?”

            “Romance.”

            “Maaf telah membuat semua buku-bukumu terjatuh.”

            Sejak saat itu ia dengan pria yang senang mengenakan kaus oblong dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans panjang warna hitam. Menghabiskan akhir pekan di toko buku. Melanjutkan perjalanan ke kedai kopi menikmati senja hingga malam menjemput.

            Ketika malam itu gerimis mereka terpaksa menunggu di teras kedai kopi yang nyaman. Melihat lalu lalang mobil-mobil yang mulai meninggalkan lapangan parkir. Ia kemudian duduk di kursi kayu yang di depannya tertata rapi pepohonan. Si pria membawa tumpukan kertas. Ia menatap mata gadis yang ada di depannya.

            “Apa selain membaca kamu juga suka menulis?” gadis itu berpaling dari gerimis yang menentramkan hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia dekat dengan lawan jenis. Membicarakan hal yang ia senangi tanpa beban. Mengutarakan kegelisahannya ketika tidak bisa mendapatkan nilai A di mata kuliah kalkulus. Dan membuat setiap resensi buku dari setiap jenis buku yang dibacanya. Kemudian membicarakan kembali pria itu.

            “Aku hanya pengagum mereka yang suka menulis….” ia menatap wajah pria itu lekat. Desiran aneh yang harus ia kontrolnya masih berhasil dilakukan.

            “Aku juga suka menulis, nih. Maukah kamu membacanya?”

            “Tentu! Tidak ada alasanku untuk menolah tawaranmu. Jadi ini kejutan yang kamu berikan di hari ini?”

            Malam itu berlanjut dengan diskusi panjang. Sambil bergumam harus ini-itu dibeberapa bagian cerita.

            “Apa kamu yakin novelku akan terbit? Sepertinya masih banyak yang jelek dan bagian yang kosong.”

            “Tak mungkin semudah yang aku bayangkan menerbitkan novel memang.”

            Ia seperti berdialog dengan dirinya sendiri alih-alih dengan gadis yang ada dihadapannya.

            “Jangan khawatir, ini hanya butuh sentuhan akhir, kamu butuh mendiskusikannya dengan seorang editor. Aku dengar, mereka tidak pelit ilmu, aku punya beberapa nomor pribadinya, mau mencoba?”

            “Bawalah ke rumahmu, besok atau lusa ketika kamu sudah selesai membacanya katakan bagian mana saja yang harus aku rubah. Aku hampir menyerah ketika draft ini tak jadi-jadi, sekarang, ketika sudah jadi rasanya aku tak berani memberanikannya ke penerbit.”          

            Di bawah gerimis mereka membelah dinginnya malam. Ada nada-nada aneh yang bernyanyi sendiri di dalam gadis itu. Nada yang masih belum menemukan kuncinya.

**

              Aliran sungai bergemericik. Membuat gadis itu semakin terlena dengan suasana alam yang ada di sekitarnya. Sudah 3 tahun semenjak kepergian pria yang selalu mengajaknya pergi ke toko buku, ia menghabiskan hari-harinya dengan menyendiri di pondok yang ia beli. Lokasinya sangat dekat dengan alam. Sinar matahari membuat rambutnya berkilau hitam semakin legam. Kira-kira pukul sepuluh pagi.

            Matanya masih menyiratkan duka. Sepertinya sisa menangis tadi malam membuat kelopak mata membesar. Ketika ia terbangun, ia tersadar akhir pekannya tidak akan pernah sama dengan akhir pekannya yang telah lalu. Ada kenangan setiap kali ia membaca lembar demi lembar buku  yang mencetak tebal nama pria yang tak akan pernah hilang dalam ingatannya. Tetapi pria itu kini tinggal kenangan.

            Ia masih mengharapnya untuk kembali.

            Aku tak bisa lagi membedakan mana yang masa depan dan masa lalu. Sebab setiap langkah yang kujalani sekarang ini masih menyimpan luka. Apa aku ini pria bajingan? Yang tidak mau mengecewakan perempuan yang selalu menuruti aku. Namun perasaanku tidak utuh lagi sejak aku bertemu dengan gadis itu di toko buku. Bajingan sekali bukan? Aku tidak mau menyakiti keduanya. Lalu apa yang aku jalani sekarang? Sudah terlanjur aku berkata, iya aku akan menikah denganmu perempuanku. Tak kusangka aku membuat masa laluku sebagai masa depanku. Sedangkan gadis itu mendapatkan apa dari ketidak pastian yang terlanjur aku gaungkan?

            Tak ada rasa takut gadis itu akhirnya memilih untuk menunggu untuk waktu yang tidak ditentukan. Ingatannya seakan berhenti pada masa-masa itu.

            Sebulan setelah ia mengembalikan draft pria itu, ia mendapat kabar menggembirakan saat itu juga. Novel itu diterima di salah satu penerbit mayor Jakarta. Rasa haru yang amat. Ending yang bahagia. Terlebih katanya itu sebagai tanda cinta si pria kepadanya. Ia menghamburkan diri memeluknya hampir-hampir saja ia menciumnya tetapi ia masih tahu norma-norma yang dipegang si pria. Di kedai kopi seperti biasa mereka merayakan suka cita.

            “Masihkah kamu akan menulis lagi untuk novel selanjutnya?”

            “Mungkin….” Si pria mulai menggantung. Ia ingat akan janji-janjinya kepada perempuan lamanya.

            “Apa yang terjadi jika aku tidak menulis lagi? Toh aku sudah cukup menulis rahasia-rahasia perasaanku seorang diri, tidak butuh publikasi.” Sejak saat itu ia tidak pernah menemui gadis itu. Ada perkenalan, tetapi tidak ada perpisahan.

Dua bulan selepas kejadian itu, gadis itu mengenakan celana jeans dan kaos oblong berwarna toska menuju toko buku. Setiap inchi dari rak-rak itu adalah tentang pria yang sekarang sudah dikenal lewat debut novel pertamanya. Nafasnya tertahan ketika ia menuju kasir. Di sana semua bertahan gumulan perasaan. Ketika pria itu mengurai semua cita-citanya tentang novel-novel yang akan ditulis, di sana semua dimulai. Gadis itu meneteskan buliran bening tipis. Ia menuju kasir mengeluarkan kartu dan mengulum senyum setelah ia berhasil menghapus buliran itu tepat ketika antrian di depannya sepi.

Apakah kamu tahu apa itu cinta?

“Mbaaaaak!” suara adiknya telah membuyarkan lamunannya. Ia bangkit dari duduknya. Batu besar yang ada di tengah aliran sungai yang dangkal, ia tenteng buku itu bersama kenangannya.

“Apalagi yang harus aku tegaskan kepada kalian?” suaranya bergetar menahan sesak telak di ujung dadanya.

“Ibu tidak ingin memaksamu Nak, tetapi kamu sudah hampir mendekati kepala tiga. Kamu perempuan. Cinta itu akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.” Perempuan paruh baya itu masih sabar bertutur lembut. Seolah-olah tidak ada beban.

“Udahlah Mbak! Ndak usah ngeyel untuk urusan yang satu itu. Mbak sudah terkenal jadi designer majalah Ibu Kota. Mbak sudah terlalu matang……. Kami lelah Mbak, kasihan Bapak sakit. Tidak mungkin juga aku melangkahi Mbak!” Adiknya menggebu-gebu. Suara kipas angin dengan kecepatan sedang membelah suara mereka di ruang tamu. Dinding-dindingnya berwarna coklat dari bahan marmer. Sedangkan ternitnya berupa kayu-kayu cantik yang dirancang untuk menciptakan suasana modern klasik yang nyaman. Percikan air di akuarium menambah suasana semakin damai. Ikan-ikan hias berenang lambat. Ada yang bersembunyi di balik karang buatan.

“Aku tahu, penulis bangsat itukan yang telah membuat Mbak lupa daratan, lupa masa depan. Aku tidak habis pikir, seorang designer memiliki pemikiran bebal tentang CINTA. Tak bisakan Mbak berpikir lebih baik menggunakan logika? Memang benar kata orang-orang pekerjaan apapun jika tidak dilakukan dengan cinta tidak akan berakhir dengan maksimal. Tapi ini realita Mbak. Lelaki itu memang ditakdirkan menjadi pasangan kita Mbak. Bukan hanya dengan cinta saja untuk masalah yang satu ini.”

Apa yang kamu tahu tentang cinta?

Suara Adiknya meledak-ledak. Ia terlihat nampak geram dengan sikap yang diambil oleh Kakaknya. Kakak yang telah digadang-gadang kedua orang tuanya untuk menikah cepat. Hidupnya sangat sempurna. Karir yang cemerlang, tetapi untuk urusan cinta? Di media sosial ia sering mendapat sanjungan, designnya bagus, seperti hidup dan mengerti karakter cerita yang sedang menjadi tema mayor majalah itu.

Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk mementahkan semua perkataan Adiknya, mungkin ada benarnya, namun hidup memang tentang cinta, apakah pasangan itu seharusnya tidak saling mencintai? Ia hanya bangkit dari tempat duduknya. Bersimpuh di kaki Ibunya, kedua sama-sama saling menangis.

Apa kamu masih percaya kepada cinta?

Sayup-sayup hatinya berdesir meyakinkan diri sendiri. Cinta itu memang ada.

  • view 360

  • Bare Kingkin Kinamu
    Bare Kingkin Kinamu
    1 tahun yang lalu.
    @Cenvita Charles: terima kasih Cenvita, sudah menjadi pegiat buku, sudah menjadi pembaca yang baik. Aku yakin kamu kelak juga akan menjadi penulis yang menyentuh setiap pembaca. Terima kasih atas kenang-kenangannya selama ini

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    rubah => ubah

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Keren!!!!

  • cenvita charles
    cenvita charles
    1 tahun yang lalu.
    Hi kak kingkin
    Kata kata kakak,kalimat penulisan kakak sangat ak favoritkan semenjak memulai membaca wordpress kakak,setiap kakak mempost di wordpress ak selalu membaca nya kata perkata,kalimat perkalimat dan paragraf perparagraf
    Dicerita kali ini yg kakak buat ak sangat suka,cerita nya ringan dan kata kata nya pun mudah dimengerti saya sangat suka
    Ditunggu loh kan cerpen kakak selanjut nya apalagi cerpen yg bergenre romance,saya sangat menantikan nya,apalagi novel kakak yg akan terbit segera saya tidak sabar menunggu nya