Filosofi Sepatu dan Jodoh

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Februari 2016
Filosofi Sepatu dan Jodoh

?Apa makna sepatu bagimu?? katamu suatu sore saat kita sedang melintasi jalanan Malioboro. Suaramu terdengar ringan.

?Sepatu? Alas kaki bagi kita. Sepatu membuatku merasa nyaman berjalan. Ya, seperti saat ini.? Jawabku.

Kamu tersenyum.? Senyuman yang selalu mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali.

?Kita sudah berputar-putar di berapa toko untuk sekedar membeli sepatuku? Kamu tak lelah mengantarku?? tanyamu lagi.

?Ehmm....mungkin sudah 10 toko yang kamu kunjungi dan kamu tak juga dapat menemukan sepatu yang cocok untuk kakimu.? Jawabku.

?Itulah? jawabmu singkat. Lalu kamu terdiam. Berhenti berjalan dan mengajakku duduk di sebuah bangku panjang di tepi jalan. Kerudung merah jambu yang kamu kenakan berkibar terhempas angin sore.

?Sepatu selalu membuatku berpikir tentang masa depan.? Katamu kemudian.

Senja membisu tergantung di langit. Orang-orang tak pernah berhenti berlalu lalang.

?

Sepatumu sangat spesial. Begitu kata-kata yang pernah keluar dari mulutmu. Kamu sangat menyukai sepatu. Jarang kulihat kamu mengenakan sandal. Kamu orang yang sangat tergila-gila dengan sepatu. Tapi anehnya. Sepatumu tak banyak. Mungkin kuterka hanya 1 atau 2 sepatu. Itu pun hanya satu yang biasa kamu pakai. Sepatu flat kesukaanmu.

Kamu suka berjalan dengan sepatumu itu. Raut wajahmu lesu saat sepatumu sudah mulai rusak. Lalu kamu memintaku mengantarmu membeli sepatu. Ah, hingga 10 toko kamu tak juga menemukan sepatumu. Aku tak mengerti mengapa kamu begitu susah mendapatkan sepatu kesukaanmu? Bukankah kamu penyuka sepatu?

?Aku memang menyukai sepatu-sepatu itu. Tapi sepatu itu tidak dapat kumiliki. Terkadang aku menyukai model sepatu di suatu toko tapi harganya kadang terlalu mahal untuk kantongku. Akhirnya kuurungkan membeli sepatu itu. Atau kadang aku suka dengan sebuah sepatu tapi tak pernah cukup untuk kakiku. Ukuran kakiku sangat kecil. Tak banyak sepatu yang menyediakan ukuran yang pas untuk kakiku. Dan mungkin ada sepatu yang ukurannya pas dengan kakiku tapi aku tak menyukai modelnya.? Kamu menghela napas panjang.

?Mungkin seperti itulah jodohku di masa depan.? Katamu kemudian.

?Jodoh?? tanyaku penasaran.

?Mungkin aku akan bertemu dengan pangeran yang tampan dan sempurna menurutku. Tapi aku tak berjodoh dengannya karena ia terlalu tinggi untukku. Atau mungkin aku akan menemukan pria sederhana yang pribadinya sangat aku suka tapi kami tak cocok jika bersama. Atau aku akan bertemu dengan pria yang menyukaiku tapi aku tak pernah merasa cocok dengannya. ?

Langit mendung.

?Dan suatu saat, aku berharap akan bertemu dengan pria yang memang jodohku. Seperti sepatu yang nanti akan aku temukan. Kepribadian yang cocok denganku dan aku pun mampu melengkapinya. ?

Lalu kamu terdiam.? Sedang aku terpaku.

Mungkinkan aku bisa menjadi sepatumu, wahai gadis?

Tiba-tiba aku sangat mengharapkan itu.

  • view 740