AGNOSTIK

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Februari 2016
AGNOSTIK

Suara perempuan paruh baya di belakang bangku tempat dudukku berhasil menyita seluruh pendengaranku. Lamat-lamat kudengarkan perbincangan seorang ibu dengan orang-orang di depannya. Ya, aku memang sengaja sedikit ?menguping? isi pembicaraan mereka. Tentu juga karena suara mereka lebih dominan dari suara-suara yang lain. Bangku-bangku kereta masih lenggang. Aku berada di gerbong kereta menuju kotaku. Lumajang dari Lempuyangan,Yogyakarta. Aku tahu ibu itu hendak pergi ke Banyuwangi, ia hendak ke kawah Ijen.

Keren. Bagiku seorang yang terbiasa mendaki adalah orang yang keren. Pendaki seperti mencoba menjalani miniatur kehidupan. Perjuangan untuk mencapai sebuah titik puncak. Titik puncak yang teramat dekat dengan langit. Langit tempat Tuhan bersemayam. Walau Tuhan sejatinya ada di mana-mana. Aku kagum dengan seorang ibu itu. Aku yang seorang gadis muda dengan tubuh sehat saja tidak pernah mendaki, sedangkan ia, yang sudah tua? Aku jadi malu dengan diriku sendiri dan semakin tertarik dengan sesosok ibu yang berada di balik bangkuku ini. Ah, andai sang ibu duduk di depanku. Aku bisa bertanya banyak hal padanya.

Kereta mulai melaju meninggalkan Yogyakarta. Kudekatkan wajahku di kaca jendela. Mataku berkaca-kaca. Tapi kali ini dukaku semakin menjadi. Rasanya baru kemarin pertama kali aku menginjakkan kaki di Yogyakarta. Belajar dan bertemu dengan sahabat-sahabat baru. Tapi ternyata dua tahun bukanlah waktu yang lama. Meski aku telah mendapatkan banyak hal. Pemahaman baru dengan berbagai sudut pandang mewarnai hari-hari di sana. Mengenal beragam karakter orang yang berasal dari berbagai daerah membuatku belajar tentang bagaimana arifnya kota ini mampu menampung variasi orang. Ada kenangan yang membuatku ragu meninggalkan Yogyakarta.

Kereta melaju dengan kencang. Bangku di depanku masih kosong sedangkan di samping, adikku sedang asyik membaca buku. Tak ada obrolan. Perjalanan kereta api yang biasanya menawarkan cerita-cerita dan obrolan terasa hambar karena tak ada yang menempati tempat duduk di depan kami. Aku kembali menatapi pemandangan di luar kaca ketika tiba-tiba seorang ibu duduk menempati tempat duduk di depanku.

?Saya sangat suka naik kereta ekonomi. Orang-orang tersenyum ramah dan saling mengenal. Sangat berbeda dengan suasana di kereta eksekutif. Orang-orang berjalan angkuh dan mengeklusifkan diri. Acuh." ibu itu seperti menyindirku yang dari tadi hanya menatapi kaca jendela. Aku tersenyum padanya.

?Mau ke mana, Bu?? pertanyaan klise kutujukan pada ibu yang ternyata adalah ibu yang suaranya menyita perhatianku tadi sebelum kereta berangkat. Ah, beruntungnya aku pada akhirnya rasa penasaranku terhadapnya terpenuhi.

?Saya mau mendaki. Ya, liburan, Mbak. Ke Ijen bersama anak perempuan saya. Itu. Dia di bangku belakang.? kata ibu itu ramah sambil menunjuk anak perempuan yang sepertinya seumuran denganku.

?Wah, keren ya, Bu. Hanya berdua?? tanyaku penasaran.

?Iya, Mbak. Saya memang suka main. Ya, sama anak-anak. Di rumah saya banyak orang. Saya menampung banyak orang.? Dari Jogja? Kuliah?? tanyanya.

?Iya, Bu. Saya baru menyelesaikan kuliah? jawabku sambil kuperhatikan wajah perempuan yang sudah terbilang tua itu. Badannya tambun dengan gaya nyentrik khas anak muda. Ia mengenakaan kaos oblong putih dan celana gunung. Sepatu kets yang ia pakai tali-talinya tak terikat rapi. Sepertinya ia memang sengaja melonggarkan sepatunya.

?Saya banyak bekerjasama dengan? dosen di UGM. Kami melakukan penelitian untuk proyek pembuatan sebuah alat untuk menfilter air.?

?Ibu dosen?? tanyaku hati-hati. Agak ragu menanyakan masalah profesi kepada orang yang baru dikenal. Aku takut tidak sopan.

?Bukan, Mbak. Saya bukan dosen. Ya, entah saya ini bekerja di bidang apa. Saya punya anak-anak yang banyak di rumah. Banyak dari mereka yang cacat. Saya menemukan mereka di jalan-jalan dan membawanya ke rumah saya. Saya latih dan sekolahkan mereka. Gadis yangmenemaniku itu dulu juga aku temukan di jalan. Sekarang dia sedang mengambil S2 Ilmu Komunikasi di UI. Dia sangat pintar. Di negara kita ini banyak yang tidak beruntung, Mbak. Kondisi ekonomi, penyakit, dan ketimpangan terjadi di mana-mana. Orang kaya semakin kaya. Mereka yang kaya lebih memilih mendarmakan uangnya untuk pembuatan masjid atau gereja. Padahal masjid dan gereja megah sudah berdiri di mana-mana. Saya heran, mengapa mereka tidak menggunakan uang mereka untuk mendirikan rumah sakit saja?.

Rasa penasaranku terhadapnya semakin menjadi.

?Saya ini sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku beragama tapi tidak memiliki hati yang baik. Korupsi. Mementingkan diri sendiri. Dan mengatasnamakan agama untuk kepentingannya. Agama dijadikan kedok saja. Agama mempersempit ruang gerak kita terhadap sesama. Saya ini agnostik, Mbak!?

?Agnostik??

?Iya. Saya percaya kepada Tuhan tapi saya tidak memiliki agama. Saya bergaul dengan ustad dan pendeta. Saya bergaul dengan siapa saja. Saya mengakui Tuhan ada di mana-mana tapi saya tidak mau harus diatur begini begitu padahal mereka tidak pernah sama sekali membantu orang lain? katanya santai.

Aku hanya dapat merenungi apa yang disampaikan oleh ibu itu. Beberapa orang memilih untuk kecewa terhadap agama. Beberapa orang memilih untuk tidak lagi mengikatkan diri pada hal yang bersifat ritual. Dan beberapa orang memilih mencari damai dengan mengulurkan tangannya tanpa dalil-dalil. Kecewa terhadap agama? Atau kecewa terhadap orang yang mengaku beragama?

Sebagai seorang muslim, aku tersentak. Malu terhadap diri sendiri. Malu karena aku atau sebagian besar orang yang beragama tak mampu memberikan citra yang baik kepada sesama. Malu karena simbolisasi lebih diagungkan dibandingkan nurani yang diajarkan agama. Agama adalah bantuan Tuhan yang diberikan kepada manusia agar dapat menjalani hidup dengan baik. Agama mengajarkan bagaimana bergaul dengan Tuhan dan dengan manusia. Agama mengajarkan kasih sayang. Maka, sudah semestinya bagi kita untuk mengedepankan nurani Ketuhanan dalam keberagamaan kita.

Lambat kereta melaju seperti kepalaku yang kadang terlambat melihat realita.

?

  • view 218