MIKROLET

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
MIKROLET

MIKROLET

?

Sebuah Cerpen Kolaborasi*

Karya: Rizka Amaliah, Kingkin Puput Kinanti, Peni Puspita, Erik Armayuda, Elyanoor Oktaviana, Irham Tj Bohtibeh, Nicho Saputra dan Lyla Nur Ratri

Top of Form

Semua Berawal dari Mikrolet

?

Bermacam-macam orang yang berada di dalam mikrolet. Beragam umur, asal usul, bahasa, dan latar belakang sosial. Beraneka tujuan, warna baju, logat bicara, dan cara mereka menikmati waktu di dalam mikrolet. Ada yang melamun. Ada bermain HP. Ada pula yang matanya asyik menelanjangi kendaraan-kendaraan mewah yang menyalip kendaraan butut ini. Panas. Udara kurasakan sangat panas menyengat kulitku.

Di pojok belakang, mataku terikat pada sesosok lelaki muda. Tampak sebuah kertas tebal bertuliskan ijasah, dibungkus map bening transparan di pangkuannya. Sorot matanya tanpa cahaya, bersilangan dengan terik yang menerobos kaca belakang mikrolet. Kemeja coklat bergaris yang dikenakannya nampak semakin keruh bersetubuh peluh yang berkali-kali diusapnya jengah.

Laki-laki itu melabuhkan lamunku pada bingkai kenang bertahun-tahun lalu. Tentang kisah seorang bocah yang pernah menyematkan cincin dari ranting ubi kayu di jariku. Aiih, masih kuingat jelas simpul senyum malu-malu yang menambah rona merah di pipinya waktu itu. Aryo, ah.. benarkah laki-laki itu Aryo?

Awalnya aku tak yakin apakah itu dia. Entahlah akhir-akhir ini aku selalu teringat dengan teman-teman masa kecilku. Muti, Gembul, Tokek, dan Aryo. Dan setiap kali aku mengingatnya dadaku terasa sesak. Seperti mikrolet ini, panas dan menyesakkan, tapi aku tak punya pilihan. Bayangan mereka berkali-kali muncul dalam benakku. Apakah terjadi sesuatu dengan teman-teman kecilku itu?

Atau jangan-jangan aku terkena aisenma? Penyakit yang berkebalikan dengan amnesia. Membuatku kembali teringat pada banyak hal. Ah, semakin aku berusaha memikirkan alasannya semakin otakku terpelintir. Rasanya syaraf-syaraf yang saling berpegang erat di kepalaku mulai mengendur. Sama kendur dengan pandanganku pada pemuda yang serupa kawan kecilku itu. Aku... ah, kenapa jadi begini?

Ingin rasanya tanganku menampar wajah lelaki itu lantas mengelusnya dengan senyumku. Tapi, jika itu bukan Aryo? Mampuslah aku.

?Ukhuk.. ukhukk..?

Pura-pura batuk dan berharap lelaki itu menaruh tatapannya pada wajahku, dan jika dia Aryo, mungkin masih ingat aku.. Namun tak berhasil.

?Ukhuuuk..uuukhuuuk..? Sekali lagi.

Seisi mikrolet menolehku kecuali Cak sopir dan? lelaki itu. Sepertinya ada kaitannya lamunan lelaki itu dengan map transparan yang ada di pangkuannya..

Tubuhnya yang tirus itu nyaris tak bergeming. Jari-jari penghuni sepasang telapak tangan yang lembab dengan keringat itu gemetar. Ah, haruskah batuk-batuk yang kurekayasa tadi kembali kuulangi. Aryo... jika memang benar itu kau. menolehlah.

"Tulalilulaliluuu..."

Tiba-tiba terdengar suara ponsel dari saku celana hitam legam yang dipakainya.

Tiga kali ponsel itu berdering. Dan lelaki yang mirip dengan Aryo itupun merogoh saku celananya.

"Halo.."

Hanya kata itu yang terucap. Lalu waktu seakan terhenti oleh jeda panjang yang dibingkai kebisuannya. Wajahnya memucat. Gemetar jemarinya memadat. Aku memperhatikannya dengan cermat. Ada apa?

Mikrolet berhenti sejenak dan beberapa orang pun turun di tempat tujuan yang sama. Kini tinggal aku, dia, dan sopir. Kucoba beranikan diri untuk mendekati lelaki yang kuduga sebagai Aryo. Kucoba menarik perhatiannya dengan cara lain. Berdeham, iya berdeham mungkin dapat menarik perhatiannya.

"Ehem, ehem."

Aisss, dia tak bergeming jua. Lelaki itu semakin erat menggenggam ponselnya. Aku semakin yakin bahwa berita buruk yang sedang menimpa dirinya.

"Bang, berhenti di sini."

Tegas lelaki itu. Mikrolet pun berhenti di perempatan jalan. Dan perempatan jalan ini tidak asing bagiku. Ya, tepat di perempatan jalan inilah aku berpisah dengan Aryo lima belas tahun silam.

Tiba-tiba saja waktu berubah beku. Membuat keringat ditubuhku menderas jatuh pada lantai besi mikrolet yang entah sempat melembab atau tidak. Lidahku kelu. Ingin? benar-benar ingin kupanggil namanya meski bisu. Menghalau rasa ingin tahu yang menggebu. Dan..

"Aryo.."

Laki-laki berbola mata cokelat pekat itu menoleh ke arahku, Persis di pangkal pintu mikrolet yang sepertinya ingin segera melanjutkan laju.

?Alisnya menyatu dalam kerut di wajahnya yang terlipat. Ia tak menyahut. Hanya terus menatapku dalam diam. Lalu turun dan memberikan beberapa lembar pecahan ribuan pada sang supir. Perlahan langkahnya menjauh. Beranjak menyeberang jalan. Tapi masih kulihat jelas mata itu terus menatapku. Hingga..

"Braaaak... ciiiiiiit"

Suara benturan dan rem mobil memecah beku.

Aku segera melompat dari kursi. Supir mikrolet terpaku. Sejenak kemudian merapatkan kendaraan biru itu pada sisi kiri jalan yang sungguh tepi. Map transparan yang sempat mencuri perhatianku tadi tampak tergeletak jauh dari tuannya. Sementara riuh manusia yang berada di sisi kanan dan kiri jalan, tampak ragu-ragu untuk sekadar mengulurkan tangan pada laki-laki nyaris kehabisan darah.

?Bang supir, tolong Bang??

Ucapku berteriak panik.

?Yang lain juga, kenapa hanya diam. Tolong bantu saya mengangkat laki-laki ini ke mikrolet!?

Mendengar teriakan itu, orang-orang lantas berbondong-bondong menghampiri ?yang kukira Aryo? dan mengangkatnya menuju mikrolet.

?Rumah sakit Bang, segera!?

Tak ada kalimat lain dapat mewakilkan kesigapanku yang entah kudapat darimana. Padahal, nyaris sebulan lalu, aku masih phobia laka, darah, dan rumah sakit.

Ah, bau khas karbol menyergap lebih cepat daripada suster-suster yang tak sigap. Urusan administrasi ini membuatku ingin meledak. Bayangkan, sudah 15 menit aku tertahan dalam prosesi pendaftaran. Sedang darah lelaki yang mirip Aryo itu terus memancar seperti kran air yang dibuka penuh. Dalam hati aku berdoa, semoga dia tidak mati kering. Jangan, aku masih ingin mengenalnya. Aku masih ingin menikmati sejuk danau dari matanya.

Aku baru sadar, ada tangan lain yang menggenggam erat tanganku. Ya, tangan lelaki itu yang menggenggam erat tanganku. Entah mulai kapan, tapi karena kesadaranku itu, aku mengurungkan niat untuk mengumpat pada wanita berpakaian serba putih di depanku yang masih sibuk dengan buku-bukunya. Tak lama, seorang pria yang mungkin itu adalah dokter, datang.

"Mbak, silahkan tunggu di luar."

Ucapnya tanpa menoleh padaku. Namun aku tetap tak menghiraukannya, dan tetap berdiri di samping Aryo menurutku ini. Tangannya juga tetap memegang erat tanganku, namun terasa mulai semakin mengendur. Giliranku yang mengeratkan genggamanku.

"Anda silahkan menunggu di luar saja. Biar suami Anda kami yang menangani."

Salah satu wanita yang lain tapi tetap berpakaian serba putih berucap seperti itu. Suami? Tapi aku tak membantah ucapan itu. Dan, perlahan kulepaskan genggamanku. Meskipun sebenarnya hatiku berontak dan menyuruh agar aku tetap menggenggam.

Isi otakku ramai sekali saat aku mulai melangkah meninggalkan lelaki dan para manusia berpakaian serba putih itu. Ramai sekali otakku. Pertanyaan-pertanyaan, khawatir, heran, bingung. Aaaahh. Ada apa dengan hari ini?

Ruangan serba putih ini membuat otakku tak lagi bekerja maksimal. Ditambah perkataan suster tadi yang masih melekat erat di otakku, Suami? Aryo suamiku? Senyumku simpul ketika mendengarnya.

Aisenma kambuh! Memori lima belas tahun yang lalu kembali meminta untuk segera diingat! Iya, dulu sempat terucap bahwa aku ingin menjadi istri Aryo, menjadi ibu dari anak-anaknya. Ah, lagi-lagi aku tersenyum geli mengingatnya. Toh itu hanya pengharapan seorang bocah yang masih buta apa itu cinta. Atau jangan-jangan ini cara Tuhan memberi tahukan bahwa sebenarnya Tuhan telah setuju dengan harapanku silam?

Semakin riuh saja otakku memikirkan perkataan suster itu! Suami? Suami? "Ayolah, kau tidak tau apa yang telah terjadi selama ini! Mungkin Aryo telah memiliki istri? Bahkan anak?" Pekikku pada otak!

Mataku memacu langkah pada jam dinding di tengah lorong pesakitan. Telunjuknya menunjukkan angka empat, menandakan hari telah semakin sore. Sudah satu jam aku terduduk di bangku ini. Sendiri.

Hp slide berwarna putih yang sempat membuatnya pucat pasi, kini berada di tanganku. Membuat gemuruh di dadaku beradu dengan hasrat untuk menyentuh layar dan tuts tuts huruf maupun angka yang berjejer rapi. Ah, pikirku melayang pada kejadian tadi. Saat tangannya gemetar dan bibirnya hanya mampu berucap satu kata, ?halo?. Sungguh, aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada laki?laki itu.

"Tulalilulaliluuu..."

Benda itu berdering dan bergetar lagi. Nama Dr. Ray muncul di layar HP. Ah, haruskah kuangkat?

?Ya, Halo..?

?Maaf, ini dari Rumah Sakit Bersalin Bina Sehat, bisa bicara dengan Bapak Aryo? ?

?Saya adiknya. Kakak saya baru saja mengalami kecelakaan, Dokter.? Jawabku sigap. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu. Adik? Ah..

?Oh, tolong kabarkan pada Bapak Aryo, kami tidak bisa menyelamatkan isteri Bapak Aryo. Hmm.. tapi puteranya selamat.?

?Baik, Pak. Terimakasih. Nanti akan saya kabarkan.?

Jemariku gemetar. Ah, kabar inikah yang membuatmu memucat pasi, Aryo. Kabar tentang isteri dan calon buah hatimu. Belum lagi gemetarku mereda, seorang pria berjubah putih keluar. Berjalan mendekat ke arahku sembari membuka kaca matanya.

?Maaf, Nyonya. Kami sudah berusaha. Namun, suami anda tidak dapat tertolong.? Lelaki paruh baya itu menepuk pundakku pelan.

Ah, apa-apaan ini? Peristiwa demi peristiwa yang terjadi hari ini seolah menamparku bertubi-tubi. Tidak! Aku harus melakukan sesuatu.

Segera kucari informasi terkini tentang Aryo, tapi nihil. Menurut informasi yang kuterima, Aryo hanya tinggal bersama istrinya di sebuah rumah kontrakan tua. Tanpa sanak, tanpa saudara.

Ada perapian mengetuk jendela ubun-ubun. Rasanya panas. Kalau saja bisa, ingin kuletakkan kepala ini di atas meja. Menaburinya dengan bongkah-bongkah es agar menjadi dingin, bahkan beku sekalian. Hari ini aku benar-benar kacau. Benar-benar ingin mengistirahatkan otak dan hati.

Kukecup kening bayi mungil berbungkus kain biru yang nyenyak tertidur dipangkuanku. Hmm, Tuhan benar-benar mengamini doaku. Mengizinkanku menjadi Ibu bagi anakmu. Aryo.

??????????????????????????????????????????????? _Tamat_

?

*Cerpen kolaborasi adalah cerpen yang ditulis berantai dari beberapa penulis melalui komunitas di jejaring sosial Facebook.??

  • view 347