Tentang Kesempatan, Pilihan dan Takdir

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Januari 2016
Tentang Kesempatan, Pilihan dan Takdir

Aku masih berdiri di pinggir jalan itu. Dengan pakaian yang rapi, tas di pundak kanan, dan handpone di genggaman, aku menunggu angkot yang akan membawaku ke tempat kerja. Sudah agak lama aku berdiri di pinggir jalan itu. Berharap angkot yang kutunggu segera ada di depanku.

Begini, ada dua angkot yang lewat di jalan ini. Angkot JDM dan angkot LG. Kedua angkot ini sama-sama akan membawaku sampai ke tempat tujuanku. Hanya saja, kedua angkot ini memiliki jalur perjalanan yang berbeda. Angkot JDM akan membawaku langsung di depan sekolah tempat aku mengajar. Aku hanya turun dari angkot, menyeberang dan sampailah aku di gerbang sekolah, tapi sayang, angkot JDM jarang sekali ada. Mungkin durasi 15, 30 bahkan 45 menit, JDM akan muncul. Berbeda dengan JDM, LG adalah angkot yang sering sekali ada. Mungkin hanya dalam durasi 5 atau bahkan 3 menit sekali, si LG akan muncul di hadapanku. Jika aku naik LG, aku akan turun di sebuah gang dan aku harus berjalan agak jauh untuk sampai ke sekolah. Itu resikonya.

Ketika aku berdiri menunggu angkot, aku sering mengalami dilema. Aku ingin sekali sampai ke sekolah dengan cepat dan tanpa rasa lelah. Artinya, aku selalu berharap JDM akan segera lewat. Pada hari itu, aku memutuskan untuk menunggu JDM. Aku tidak mau berjalan jauh dan lelah. Sudah sekitar 30 menit aku berdiri, tak ada JDM pun yang lewat. Padahal sudah 6 LG yang aku tolak untuk dinaiki. Aku terus menunggu JDM, hingga aku merasa bosan dan betapa kagetnya aku, ketika aku tahu, aku sudah terlambat datang ke sekolah. Ketika JDM muncul dan aku menaikinya, rasa khawatir mengalir di dadaku. Aku tahu aku akan mendapatkan sanksi dari sekolah.

Hari selanjutnya, aku memutuskan untuk naik LG saja. Tak lama menunggu, LG yang kutunggu sudah datang. Naik LG, aku akan duduk berdesak-desakan, karena penumpangnya yang banyak. Aku pun harus rela berjalan jauh. Saat aku sampai sekolah, kadang aku harus terbengong karena aku melihat JDM baru saja melintas. Ternyata, waktu menunggu JDM sama dengan waktu aku berjalan. Huuf?seandainya tadi aku menunggu JDM. Itulah hal pertama yang aku sesalkan.

Aku pun mengatur siasat. Hari ini aku akan membatasi waktuku untuk menunggu JDM. Jika sampai jam setengah tujuh pagi belum nampak JDM, maka aku akan naik LG. Sampai jam setengah 7, JDM belum muncul. Akhirnya aku naik LG. Dan saat menyedihkan adalah saat aku baru saja naik LG, aku melihat JDM ada di belakang LG yang baru saja aku naiki. Aku pun hanya mampu memandangi JDM dari balik kaca jendela LG.

Hal-hal seperti ini sering sekali muncul di kehidupan kita. Kadang kita menunggu sesuatu/seseorang yang tak kita ketahui kapan ia datang. Menunggu lama dengan kesabaran yang penuh. Menunggu yang tak pasti dengan resiko terlambat. Resiko mendapatkan sanksi dari proses menunggu tersebut. Atau kita memilih untuk mengambil kesempatan yang selalu hadir di hadapan kita. Mengambil kesempatan dalam arti harus merelakan diri untuk berjuang, berjalan lebih jauh dari apa yang biasa kita lakukan. Merelakan diri untuk berlelah-lelah dengan perjuangan yang kita lakukan untuk sampai ke tempat tujuan. Atau?kita memilih untuk mengatur siasat, menunggu dalam batas yang ditentukan, dan ikhlas menerima takdir ketika saat mengambil kesempatan, hal yang kita inginkan muncul di hadapan kita. Ikhlas melepaskan, Ikhlas merelakan. Takdir terbaik yang telah kita pilih.

Itulah kesempatan, pilihan, dan takdir, yang selalu bergandengan dengan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan. Dalam hal apapun kesempatan itu, dalam hal apapun pilihan itu. Takdir terbaik mesti selalu diyakini dalam hati.

?

gambar: http://www.wikipediacom

  • view 219