Mendaki dalam Kontemplasi

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 31 Januari 2016
Mendaki dalam Kontemplasi

Ceria sangat bahagia. Matanya berbinar penuh semangat. Hari ini ia akan mendaki gunung. Pengalaman pertama sekaligus mendebarkan baginya. Meskipun ia pergi bersama kawan-kawannya, tapi ia tahu ia harus mandiri. Ia tak mau merepotkan banyak orang jika ia tidak mempersiapkan segalanya dengan sempurna.

Ceria melempar senyumnya. Tas penuh barang sudah ada di pundaknya yang kecil. Sempoyongan ia berjalan menemui teman-temannya yang telah berkumpul di gardu. Pick up kecil sudah siap mengantar mereka ke desa terakhir sebelum memasuki bukit-bukit penuh pohon. Sebelum berangkat ia membisikkan doa. Semoga keselamatan mengiringi perjalanannya.

Ceria tak pernah tahu apa yang sebenarnya ia hadapi. Jalan terjal dan landai, berkelok dan lurus, penuh debu dan batu. Ia hanya tahu bahwa tujuan itu ada di depan matanya. Ceria memulai langkah dengan keyakinan dan kepastian. Meskipun pundaknya mulai terasa linu tapi ia coba langkahkan kakinya dengan ringan. Tanjakan pertama berhasil ia atasi meskipun nafasnya sedikit tersengal. Ia pun terus berjalan mengikuti langkah kaki-kaki di depannya. Dan Bruk?.Ceria terjatuh. Kakinya kanannya terluka. Sang teman membantunya bangkit dan mengoleskan obat di kakinya. Ceria bangkit dan mulai berjalan kembali. Namun, ia tak tahu bahwa untuk kedua kalinya ia kembali terjatuh. Dengan luka yang sama tapi di kaki kirinya. Kembali sang teman membantunya bangkit setelah mengoleskan obat di kaki kirinya.

Karena terluka, Ceria berjalan lebih lambat dari teman-temannya. Ia sudah berjanji pada dirinya bahwa ia tidak mau terlalu merepotkan teman-temannya. Tapi dasar teman-teman Ceria yang baik tak mau sedikitpun meninggalkan Ceria. Sang teman terus menyemangati Ceria bahkan bersama-sama menyanyikan lagu-lagu riang. Ceria tersenyum haru. Ia terus berjalan dan terus berjalan. Ia tak peduli debu dan batu. Ia terus berjalan mengikuti langkah kaki-kaki di depannya. Saat ia terjatuh, ia bangkit kembali. Begitu seterusnya hingga ia tak menyadari bahwa luka-luka di kakinya semakin parah.

Sampai suatu detik, matanya memburam. Ia tak dapat melihat lagi langkah-langkah kaki di depannya. Tubuhnya ambruk. Ceria tak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Ia tak tahu seberapa jauh lagi ia akan berjalan untuk mencapai puncak itu. Matanya terpejam dan membisikkan harapan, semoga Tuhan menolongnya. Ia tahu saat ini ia butuh seseorang yang menolongnya. Memanggulnya melewati perjalanan panjang penuh debu ini. Dan kakinya? Lukanya? Perjalanannya? Tujuannya? Puncak itu..puncak itu terasa teramat buram dalam pandangannya.

Ceria tak mendengar suara teman-temannya. Ia tak mampu lagi merasakan kehadiran teman-temannya. Ia menangis. ?Teman-temanku pasti sudah sampai puncak. Aku benar-benar tertinggal.? Ada aliran di sudut matanya yang tertutup. Ia tak lagi mendengar nyanyian riang teman-temannya. Ia kehilangan teman-temannya. Ia menyesal telah terjatuh. Ia kalah melawan dirinya sendiri. Ia kalah melawan lukanya. Sungguh. Ceria ingin segera pulang dan memeluk ibu bapaknya. Ia merasa sangat sendirian.

Saat menangis dan tak sadarkan diri, Ceria tak tahu bahwa puncak itu sebenarnya teramat dekat di matanya. Ia tak tahu bahwa teman-temannya selalu berada di sekelilingnya. Mereka membagi tugas untuk membantu Ceria. Beberapa orang berjalan lebih cepat untuk segera mempersiapkan tenda dan makananan untuk Ceria. Beberapa orang menunggu Ceria dan mengoleskan obat di kaki Ceria, dan seorang yang dengan hatinya memanggul Ceria mencapai tujuannya. Ia terus membisikkan ke telingga Ceria, ?Puncak itu dekat. Bertahanlah. Kuatkan dirimu!?.

Ceria tak memahami, bahwa saat ia merasa sendirian, sejatinya ia tak sendiri. Saat ia merasa telah tertinggal, seseungguhnya tak pernah ada yang meninggalkannya. Saat ia terjatuh, sebenarnya ia mampu bangkit, saat lukanya bertambah parah, ada sahabat yang mengoleskan obat, dan saat ia mencoba menyerah, sebenarnya keberhasilan ada di depannya. Pelan-pelan ia tersenyum. Keindahan ciptaan Tuhan sungguh menggoda matanya. Riuh suara teman-temannya menciptakan melodi di hatinya. Dan puncak itu?puncak itu teramat dekat dengan Tuhan.

Banyak hal yang menjadikannya kuat kemudian.

?

gambar:http://duniabackpacker.net

  • view 137