Bergerak dari Titik Nol Menuju Titik Nuur (Cahaya)

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Januari 2016
Bergerak dari Titik Nol Menuju Titik Nuur (Cahaya)

?Seorang udstad mengenalkan Islam melalui pengajaran, sedangkan seorang penulis mengenalkan Islam melalui penanaman nilai-nilai dalam tulisan.?

Kalimat itu saya dapat setelah mendengarkan pengajaran yang dilakukan oleh seorang sastrawan terkenal Indonesia Ahmad Tohari di sebuah seminar sastra dan kepenulisan di Yogyakarta. Seorang penulis yang menanamkan nilai-nilai keislaman melalui hal-hal yang berbeda dalam karya-karya besarnya. Ahmad Tohari, seorang laki-laki yang terlihat biasa dan sederhana tersebut bercerita sekitar 20 menit di atas panggung. Pada awalnya ia menceritakan bagaimana proses kreatif penulisannya yang memang tidak sekali jadi. Ia membutuhkan proses kontemplasi bertahun-tahun sebelum naskahnya yang berjudul ?Kubah? berhasil diterbitkan. Ia telah menulis cerpen berpuluh-puluh sebelum akhirnya novelnya berhasil dikenal khalayak.

Seorang bapak sastra sekaligus bapak dari seorang dosen antropologi UGM yang sekarang sedang melanjutkan kuliah S3 di Belanda (cerita ini saya peroleh ketika sepulang acara, Pak Ahmad Tohari yang rendah hati menyapa kami, saya dan teman saya Miza yang sedang berdiri di depan gedung acara dan bercerita mengenai anaknya). Ahmad Tohari menjelaskan bahwa menulis memerlukan proses yang panjang. Latihan yang dapat dilakukan adalah dengan menulis catatan-catatan harian.

Ahmad Tohari menceritakan bahwa dalam novel pertama yang berjudul ?Kubah?, dimensi-dimensi keislaman sangat ketara lewat pemilihan tokoh dan alur cerita. ?Kubah? menceritakan seorang yang baru keluar dari tahanan dan berhasil membangun kubah masjid. Nilai-nilai keislaman digambarkan dengan sangat jelas. Pak Ahmad Tohari mengatakan bahwa pada novel pertamanya ia menanamkan ajaran nilai-nilai islam formil. Islam formil adalah Islam yang menjelaskan mengenai anjuran untuk berjilbab, berpuasa dan sholat tepat waktu. Islam formil banyak mewarnai karya-karya sastra yang berlabel ?sastra Islam?.

Saya sangat antusias mendengar penjelasan pak Ahmad Tohari, saya juga menunggu-nunggu penjelasan bapak Ahmad Tohari mengenai novel ?Ronggeng Dukuh Paruk? yang terkesan jauh dari nilai-nilai keislaman. Novel ini merupakan novel yang sangat kontroversial. Saya jadi ingat, ketika saya masih menjadi mahasiwa sastra Indonesia, dosen di kampus saya mewajibkan untuk membaca novel ?Ronggeng Dukuh Paruk? kepada seluruh mahasiswanya. Novel yang menggangkat kehidupan seorang Ronggeng ini terlihat sangat vulgar di mata saya kala itu. Saya selalu bertanya. Di mana letak keislaman dalam novel ini?

Nah, dengan sangat gamblang Pak Ahmad Tohari kemudian menjelaskan bahwa membaca sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, dalam Al-Qur?an terdapat ayat berbunyi Iqra ?bacalah?. Manusia yang memiliki akal diminta untuk membaca. Membaca apapun. Ahmad Tohari ?membaca? apa yang dilihat di sekitarnya dan ia menemukan ?ronggeng? dalam proses pembacaannya. Manusia yang baik harus membaca semuanya. Membaca hal yang baik dan membaca hal yang buruk.

Kehidupan seorang ronggeng harus diangkat dalam sebuah karya dan dibaca oleh semua orang. Terdapat dua hal yang hendak disampaikan oleh Ahmad Tohari yang sarat dengan muatan Islam. Pertama, nilai bahwa ronggeng juga manusia meskipun ia komunis. Penerimaan ronggeng sebagai manusia berkorelasi dengan ajaran salah seorang ustad yang pernah berceramah bahwa manusia yang baik adalah manusia yang dapat menerima orang baik dan orang buruk sekalipun dalam kehidupannya. Kedua, nilai mengenai ?hijrah?. Srintil yang seorang ronggeng (manusia setengah pelacur) bergerak dari pemikiran seorang ronggeng yang bisa hidup dengan beberapa laki-laki kemudian berpikir untuk menjadi seorang istri/ibu rumah tangga yang setia dengan seorang laki-laki. Tokoh dalam novel ini bergerak dari titik nol menuju titik nuur (cahaya).

Saya sangat terkagum-kagum dengan apa yang disampaikan oleh Ahmad Tohari. Sebuah nilai keislaman yang sangat tinggi hendak disampaikan dalam karya ?Ronggeng Dukuh Paruk? yang dulunya pernah banyak dinilai negatif. Maka, sangatlah pantas bahwa karya ini dikatakan sebagai novel dakwah terselubung. Di akhir penjelasan, Pak Ahmad Tohari memberikan pesan kepada kami, ?Islam menunggu karya Anda?.

  • view 236