Sang Pengantin

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
Sang Pengantin

Sang Pengantin

?

?

?Tinggal beberapa jam lagi akad nikah harus dimulai? kata ibu lirih padaku.

?Aku masih mengunggu Bapak.? jawabku.

?Sampai kapan? Bapakmu tidak akan datang!?

?Aku akan terus menunggunya untuk datang.?

Ibu berlalu dari hadapanku dengan wajah sendu. Acara pernikahanku memang beberapa saat lagi dilaksanakan. Tapi aku masih menunggu seseorang. Ia harus hadir dalam acara besar dalam hidupku ini. Meskipun hanya untuk kali ini saja.

Kulemparkan pandangan ke cermin besar di depan. Kulihat wajah perempuan muda yang tergambar oleh cermin. Wajahku. Aku amati wajah yang telah terias elok ini. Tanpa terasa aku mengagumi wajahku sendiri. Wajah yang ayu. Tak mungkin aku mempunyai wajah ayu ini dengan sendirinya. Ibu yang telah mewariskan wajah ini padaku. Sedangkan tubuh yang tinggi langsing ini berasal dari Bapakku. Orang yang kedatangannya sangat aku tunggu saat ini.

?Bapakmu tidak akan datang, Marta. Terima sajalah. Kamu bisa dinikahkan oleh wali nikah jika memang Bapakmu tidak bisa datang. Itu tak menjadi masalah.? kata Bude setiap kali aku menggerutu untuk segera bertemu dengan Bapak.

?Ini memang sulit, Marta. Kamu harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Bapakmu sudah lama menghilang. Entah kemana. Kata orang-orang, Bapakmu sudah menikah dengan wanita lain. Hidup bahagia dengan keluarganya yang baru. Kamu harus sabar ya, Nak! Bocah ayu. Tak ada yang bisa menghalangi acara pernikahanmu.? nasehat nenek masih terngiang jelas di telingaku.

Aku alihkan pandanganku dari cermin. Aku tak ingin berada dalam keadaan seperti ini. Sejak berumur 12 tahun Bapak menghilang dari hidupku. Sosok Bapak yang sangat aku butuhkan kala ini hilang ditelan bumi. Waktu itu aku masih ingat. Hujan mengguyur kotaku. Aku rasa banjir akan terjadi lagi. Aku yang saat itu masih berada di sekolah ketakutan setengah mati. Hujan menunjukkan kemarahannya. Air telah naik hingga lutut. Aku menerima pesan dari ibuku tadi pagi. Jika nanti siang hujan deras lagi. Aku harus menunggu Bapak datang menjemput. Apapun yang terjadi. Aku harus menunggu Bapak.

Tapi sosok Bapak tak pernah muncul. Hujan telah berhenti. Kemarahan alam reda. Berkali-kali aku edarkan pandangan ke beberapa orang tua yang menjemput anak-anaknya. Tapi tak ada wajah Bapak. Aku mulai resah. Aku tak mungkin pulang sendiri. Ibu telah berpesan padaku untuk menunggu. Menunggu kedatangan Bapak.

Hingga sosok lelaki itu muncul. Seluruh tubuhnya basah. Itulah Bapak. Orang yang kedatangannya sangat aku tunggu-tunggu. Bapak tersenyum kecil padaku.

?Kau sudah lama menungguku Marta??

?Kemana saja Bapak? Aku ketakutan di sini.?

Tak seperti biasa. Bapak yang biasanya langsung mencubit pipiku itu hanya diam saja. Wajah Bapak tak seperti biasanya. Bapak hanya memandangi wajahku. Sangat lama. Aku merasakan keanehan dengan sikapnya. Bapak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah boneka lumba-lumba yang sangat lucu.

?Boneka itu untukku Pak?? aku kegirangan melihat boneka pemberian Bapak.

?Iya, simpan baik-baik ya. Maafkan Bapak, Marta.?

Aku tidak mengerti maksud Bapak. Mengapa Bapak meminta maaf padaku? Apakah karena ia terlambat datang menjemputku? Bapak sangat aneh. Apalagi ketika kulihat airmata menetes di pipi Bapak. Ah, Bapak tak pernah menangis. Baru kali ini Bapak menangis di depanku. Seberapa bersalahkah Bapak hingga ia meneteskan airmatanya karena terlambat menjemputku?

?Ayo, kita pulang Pak.? Aku tak mau ambil pusing dengan ini semua. Kutarik tangan Bapak. Tapi Bapak hanya diam.

?Hari ini, Bapak tidak bisa pulang bersamamu, Marta! Bapak hanya menjengukmu hari ini. Ada rapat di kantor. Sebentar lagi ibumu yang akan menjemput.?

?Mengapa seperti itu? Nggak mau. Aku mau pulang bareng Bapak.?

?Tidak bisa, Marta. Kamu harus menunggu ibu!?

Aku merengek. Tapi Bapak tak menghiraukanku. Ia melesat pergi bersama mobilnya.

Aku menunggu kedatangan ibu hingga suasana sekolah telah sepi. Jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Aku bingung harus bagaimana. Ibu tak jua muncul untuk menjemputku. Langit kembali mendung. Kabut sore mulai turun perlahan. Di balik kabut kulihat seorang perempuan yang berjalan dengan tegopoh-gopoh. Ia berjalan mendekat padaku. Ibuku. Ia datang menjemputku. Ibu menghampiriku. Wajah yang setiap pagi memberikan ketenangan ke dalam jiwa anak-anaknya itu berubah menjadi wajah penuh kecemasan. Ibu sendirian menjemputku. Tanpa Bapak. Semakin dekat ia kepadaku semakin terlihat jelas wajah ibu yang tak seperti biasanya. Mata ibu sembab. Ya, pasti ibu habis menangis. Tanpa berkata apa-apa padaku, ibu menggandeng tanganku. Aku menuruti kehendak ibu dan berjalan beriringan dengannya. Dalam perjalanan kami membisu. Langit masih mendung. Seolah tahu isi hatiku saat ini. Aku bertanya-tanya dalam kebisuan selama beberapa menit. Dinamakah Bapak? Mengapa seperti telah terjadi sesuatu? Aku tak tahan untuk diam. Kulontarkan pertanyaan konyol yang kemudian merubah kehidupanku untuk selanjutnya.

?Tadi bapak menemuiku, Bu. Tapi Bapak ingkar janji. Ia tidak mengajakku pulang malah menyuruhku menunggu ibu.?

Ibu hanya diam. Ia menyembunyikan sesuatu dariku.

?Aku diberi boneka lucu. Tapi Bapak langsung pergi begitu saja. Bapak tadi juga menangis dihadapanku. Mengapa bapak menangis? Apakah karena tidak bisa menjemput Marta?

?Diam. Jangan bicarakan tentang bapakmu lagi. Mengerti!? bentak ibu.

Tak pernah Ibu mengatakan hal sekasar itu pada anak-anaknya. Apalagi padaku. Ibu yang berhati lembut itu selalu mengatakan hal-hal yang halus. Tapi apa yang terjadi detik ini? Mengapa ibuku berubah? Aku tak kuat dengan perkataan ibu. Kuteteskan airmata kekecewaan.

Sesampainya di rumah. Aku langsung masuk kamar. Kulihat ibuku juga memasuki kamarnya. Dalam kamarku yang bersampingan dengan kamar ibuku, kudengar ibu menangis tersedu-sedu. Tak pernah ibu menangis seperti saat ini.

Sejak kejadian itu, aku tak lagi bertanya tentang Bapak. Juga tentang keberadaannya. Sejak saat itu, Bapak tak pernah muncul di rumah. Aku tak lagi pernah bertemu dengan Bapak. Mungkin, peristiwa di sekolahku itu adalah terakhir kali aku bertemu dengan Bapak. Akupun selama bertahun-tahun hidup bertiga bersama ibu dan adik perempuanku. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan tanpa Bapak. Hingga ketika aku memasuki bangku sekolah SMA. Kudengar dari Bude tentang Bapak. Sesuatu yang tak pernah kupercayai hingga detik ini.

?Bapakmu pergi dengan wanita lain dan meninggalkan ibumu.?

Aku tak mengerti dengan maksud perkataan Bude. Tapi, aku yakin Bapak tidak seperti itu. Bapak orang tua yang baik. Dulu, ketika aku masih duduk di TK, Bapak sering mengajakku jalan-jalan. Kami menghabiskan sore dengan bermain di taman sambil memakan es krim. Sungguh menyenangkan mengingat masa-masa itu. Kini, ketika aku mulai beranjak dewasa, aku tak menyangka orang yang kuanggap malaikat itu tak ada di sampingku. Ia meninggalkan kami tanpa kepastian yang jelas. Ibu juga tak pernah bercerita apa-apa padaku. Hanya kulihat, ibu sering mengeluarkan airmatanya yang bening itu.

Aku memasuki babak-babak baru dalam kehidupanku tanpa didamping oleh seorang Bapak. Aku kuliah di jurusan kedokteran Universitas Negeri terkenal di Indonesia. Aku termasuk remaja yang cerdas. Di masa-masa perkuliahan, sama seperti remaja pada umumnya. Aku merasakan cinta. Aku bertemu dengan Andi. Dia kuliah di universitas yang sama denganku. Hanya saja kami berbeda jurusan. Andi adalah seorang yang mempunyai cita-cita menjadi arsitektur. Kami dipertemukan di sebuah forum diskusi kampus. Saat itu aku menjadi moderator acara. Dan Andi sebagai peserta diskusi. Andi mengutarakan rasa simpatinya padaku. Kami berkenalan dan berteman. Hingga suatu ketika Andi mengutarakan rasa cintanya padaku. Andi. Dialah yang akan menjadi mempelai pria di hari pernikahanku yang tinggal beberapa jam ini.

Aku terdiam. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Pak Parno belum juga memberiku kabar tentang Bapak. Tanpa sepengetahuan ibu, sudah selama 6 bulan ini aku diam-diam mencari Bapak. Aku menyuruh seseorang untuk melacak keberadaan Bapak. Dari pemberitahuan terakhir dari Pak Parno, telah ditemukan jejak Bapak. Bapak selama ini tinggal di Semarang. Beliau memang sudah berkeluarga. Namun, dia tinggal sendirian di sebuah rumah kecil. Istrinya telah lama meninggal. Sedangkan anak-anaknya telah berkeluarga dan tinggal di luar Jawa. Pak Parno juga sudah mengatakan padaku telah bertemu dengan Bapak dan mengatakan jika aku, Marta, putri yang dulu ditinggalkannya akan menikah. Aku butuh wali untuk menikahkanku. Tapi entah mengapa hingga saat ini tak ada kelanjutan kabar tentang hal itu. Apakah Bapak akan segera datang untuk menjadi waliku? Aku masih mengharapkan hal itu.

Hatiku berdebar-debar. Semilir angin menerpa wajahku. Aku masih berada di dalam kamar. Menunggu kepastian merupakan hal yang sangat menjemukan. Kulihat jam di dinding. Menunjukkan pukul 9 siang. Jika 2 jam lagi Bapak tak muncul di rumah ini. Aku akan melaksanakan pernikahan tanpa Bapak. Aku harus merelakan semua ini terjadi. Aku sudah berusaha. Tapi apa dayaku jika Tuhan berkehendak lain.

Tit?tit..tit?

Handphoneku berbunyi. Kuharap ini berasal dari Pak Parno. Benar. Pesan dari Pak Parno. Aku lunglai seketika. Pesan yang membuat ulu hatiku sakit. Bapak tak berkenan menjadi waliku.

******

??????????? Apa salahku? Mengapa takdir seolah tak pernah menyambutku dengan ramah?

Aku harus melaksanakan akad nikah tanpa seorang wali. Padahal, aku berhak bertemu dengan Bapak. Beliau masih punya kewajiban padaku. Bapak masih punya kewajiban untuk menjadi wali nikahku. Anak gadisnya. Airmataku kembali menetes.

??????????? Kupegang boneka pemberian Bapak. Benda terakhir pemberian Bapak. Melihat boneka itu sebenarnya aku selalu menggantungkan harapan yang sangat besar. Harapan bagiku seperti menerbangkan layang-layang di angkasa. Layang-layang yang akan terbang menuju langit. Hatiku sangat senang saat layang-layang itu diterbangkan angin. Seketika, harapan akan musnah saat layang-layang itu putus dari kendali tanganku. Perasaan itulah yang saat ini kurasakan. Aku telah kehilangan harapan.

??????????? ?Aku tidak bisa menikah tanpa kehadiran Bapak.? Aku utarakan itu pada ibu.

??????????? ?Jangan bodoh. Kamu harus tetap menikah. Walaupun tanpa Bapak.?

??????????? Aku terdiam. Aku berada dalam kebingungan yang luar biasa. Aku berinisiatif menelpon Pak Parno. Pak Parno harus mengantarku ke tempat bapak. Tak ada jalan lain. Aku yang akan memohon pada Bapak. Kalau perlu, aku akan bersujud memintanya menjadi waliku. Semua keluargaku tak menyetujui kemauanku. Ibu menentangku. Andi juga.

??????????? ?Orang seperti Bapakmu tak pantas mendapatkan sujud darimu.? ujar nenek penuh kemarahan.

??????????? Tak peduli. Aku tak peduli dengan perkataan semua orang. Sebesar apapun kesalahan Bapak. Ia tetap Bapakku. Aku mendesak Pak Parno mengantarku ke rumah Bapak. Awalnya, Pak Parno ragu. Namun, akhirnya tetap mengantarku. Andi mendesakku untuk ikut mengantar. Akhirnya, aku, Andi dan pak Parno pergi menemui Bapak. Kami meninggalkan acara pernikahan yang tinggal beberapa jam lagi itu.

****

??????????? Wajah yang sama. Laki-laki itu. Orang yang dulu selalu memberikan keceriaan padaku. Dengan es krim, dengan boneka-boneka, dan dengan kasih sayangnya. Meskipun dia kemudian memberikan empedu padaku. Tapi dia adalah Bapakku. Kulihat wajahnya yang telah renta. Rambutnya yang telah memutih. Lelaki itu terkapar. Kaki yang dulu menopang tubuhnya tak lagi punya daya. Ia tergeletak lemas di kasur. Bapak telah tua. Penyakit telah mengerogoti keperkasaannya.

??????????? ?Maafkan aku. Marta.? Lelaki tua itu mengucapkan kata-kata dengan terbata-bata.

??????????? Aku tak dapat berkata apa-apa. Hanya airmata yang menetes deras dan membuat bedak di wajahku meluntur. Andi memelukku. Aku tak tahan melihat Bapak seperti ini.

??????????? ?Marta akan menikah, Bapak. Maukah Bapak menikahkan anakmu ini??

??????????? ?Apakah pantas bagi Bapak?? mulut renta itu mengeja kata yang menusuk relung hatiku.

??????????? ?Aku mohon. Bapak yang berkewajiban dan berhak menikahkanku.?

??????????? Beberapa detik sepi. Bapak tak berkata apa-apa. Ia hanya memandangi wajahku.Tanganya yang kasar dan berkeriput itu memegang tanganku.

??????????? ?Baiklah, Nak. Kamu akan kunikahkan sekarang.?

??????????? Sungguh. Layang-layang itu kembali terbang. Angin berhenti bergerak. Dengan saksi Pak Parno, aku dinikahkan oleh Bapak dengan Andi.

??????????? Bapak tersenyum padaku. Senyum yang sama seperti terakhir kali kami bertemu di sekolah. Aku akan kabarkan pada ibu. Aku telah menikah. Aku telah menjadi seorang istri. Dengan wali nikah Bapak. Aku bahagia. Walau detik kemudian, aku harus menerima kenyataan pahit. Mengantarkan bapak ke peristirahatan terakhirnya.

  • view 78