Linguistik dan Keber'agama'an

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2016
Linguistik dan Keber'agama'an

Linguistik dan Keber?agama?an

?

Suatu ketika, salah seorang teman saya mengatakan kepada saya mengenai ?menulis?. Ia mengatakan bahwa menulis adalah media untuk berdzikir. Menulis adalah berfikir dan dengan berfikir ia mengingat Tuhan. Sangat mengesankan dan itu membuat saya menjadi berfikir tentang ilmu yang saya pelajari selama ini. Ketika saya membaca sebuah buku linguistik, tiba-tiba ada yang terbesit dalam pikiran saya. Tentang linguistik dan tentang keber?agama?an.

Linguistik, bagi sebagian orang, ilmu ini kurang familiar. Linguistik adalah ilmu yang mengkaji mengenai bahasa. Bahasa manusia. Sebuah alat komunikasi yang bisa membuat Anda bisa memahami orang lain. Bahasa, sebuah kumpulan tanda yang bisa membuat apa yang ada di dalam pikiran Anda tersampaikan kepada orang lain. Bahasa, sesuatu yang ajaib bagi saya karena ketika ia tak ada maka apalah arti kita. Tak ada eksistensi. Tak ada yang mengerti apa yang kita mau. Dan yang pasti, dunia ini akan terasa sangat sepi.

Linguistik memiliki dua cabang, saya bisa sebut linguistik struktural dan linguistik kontekstual atau bisa pula disebut dengan linguistik internal dan linguistik eksternal. Linguistik struktural sudah dikenalkan oleh guru kita semenjak SD. Jika Anda menemui sebuah kalimat, maka otomatis, pikiran kita akan tertuju kepada fungsi Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (SPOK). Bagi sebagian orang, hal semacam ini sungguh sangat membosankan.

Memasuki dunia linguistik lebih dalam, sebenarnya, linguistik adalah ilmu yang sangat luas. Linguistik eksternal kurang dikenal oleh masyarakat. Linguistik eksternal mencakup pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, analisis wacana dan sebagainya. Bahasa, dalam sudut pandang ini selalu terikat dengan sebuah konteks. Ia lebur dan menyatu dalam hal-hal di luar bahasa tersebut. Bahasa menjadi sangat luwes, tergantung bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam masyarakat.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan keber?agama?an? Agama menurut pemahaman saya adalah pedoman hidup. Seperti bahasa, agama adalah sesuatu yang ajaib yang dikirimkan Tuhan kepada kita. Agama adalah alat yang membuat kita memahami dan dipahami orang lain. Maka, agama (Islam) adalah rahmatan lil alamin.

Agama (Islam) yang diajarkan selama ini selalu terkait dengan sholat, zakat, puasa, sedekah, mengaji, haji, berbakti kepada orang tua. Agama (Islam) yang terkait dengan ini adalah ajaran yang bersifat formal (internal). Dari SD kita mengenal pelajaran agama (Islam) selalu terkait dengan hal-hal yang bersifat formal. Seperti bahasa yang selalu ditekankan pada fungsi SPOK sebuah kalimat.

Seperti linguistik eksternal, agama (Islam) menurut pemahaman saya adalah sesuatu yang sangat luas. Agama (Islam) tidak hanya berkutat pada sesuatu yang bersifat formal. Agama (Islam) ada di dalam masyarakat. Agama (Islam) seperti pragmatik, sosiolinguistik, analisis wacana, dan psikolinguistik. Agama (Islam) mengajarkan kita tentang ketulusan, kesopanan, keikhlasan, kerjasama, toleransi, seperti yang kita pelajari dalam pragmatik yang terdapat teori mengenai kesantunan berbahasa dan prinsip kerjasama. Agama (Islam) juga mengajarkan keberagaman seperti sosiolinguistik yang membahas teori variasi bahasa. Agama (Islam) juga mengajarkan kita untuk kritis seperti analisis wacana, dan agama (Islam) mengajarkan kita mengenal jiwa kita seperti psikolinguistik.

Lalu, apakah kemudian kita mengabaikan sesuatu yang formal seperti rukun iman dan rukun Islam? Tentu tidak. Perlu kita ingat bahwa ketika mempelajari linguistik eksternal kita harus mumpuni terlebih dahulu dengan linguistik internal. Saat melakukan studi sosiolinguistik kita harus mahir dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik (linguistik internal) agar pembahasan sosiolinguistik kita benar dan tepat. Sama saja dengan belajar agama (Islam). Ketika akan berbicara dan membela sesuatu atas nama toleransi, kita mesti kuat terlebih dahulu pada sholat, ngaji, zakat, puasa dan sebagainya. Ke?islam?an kita secara internal juga mesti kuat agar toleransi kita ikut benar dan tepat.

Maka seperti apa yang dikatakan sebagai orang yang beragama (Islam) baik? Tentu tak serta merta dilihat dari ia yang baik ngajinya dan banyak hafalannya. Tentu pula tak langsung dilihat dari ia yang memiliki toleransi tinggi tapi tidak mengaji. Wa?allahualam.

  • view 165