Terima Saja Masalah Sampai Klimaksnya

Kingkin Puput
Karya Kingkin Puput Kategori Motivasi
dipublikasikan 30 Januari 2016
Terima Saja Masalah Sampai Klimaksnya

Terima Saja Masalah Sampai Klimaksnya!

?

Hidup seperti roda yang selalu berputar dan menuntut kita mampu menghadapi setiap putarannya. Entah ketika roda tersebut berputar ke arah yang akan membawamu pada titik terendah, atau yang akan membawamu pada puncak kehidupan. Semua kondisi tersebut sama saja bagi Tuhan. Tuhan hanya tahu bahwa roda kehidupanmu sedang berjalan. Tentu, berjalan menuju arah mana saja yang hendak kau tuju.

Saya mendapati bahwa segala kisah yang pernah saya alami adalah sebuah alur cerita yang berputar. Seperti seorang anak sekolah yang baru saja belajar menganalisa unsur-unsur sebuah cerita, saya mungkin terlalu lambat untuk memahami unsur-unsur cerita diri sendiri.

Kadang kegalauan melanda sangat tajam. Menganggap bahwa hidup begitu berat dan sulit untuk dilalui. Menatap pesimis pada kecemerlangan. Meredup impian-impian. Melupakan janji Tuhan bahwa Allah tidak akan membebani masalah di luar batas kemampuan manusia. Entah kecil atau besar masalah tersebut, semuanya terasa berat saat permasalahan itu terjadi, dan tertawa ringan saat semua bisa dilalui.

Sebuah bagan di bawah ini memberikan gambaran bagi saya bahwa kehidupan adalah sebuah permasalahan.

?

Seperti menganalisa sebuah cerpen, bagan alur cerita menggambarkan bahwa sebuah konflik selalu diawali dengan sebuah perkenalan, naik menuju adanya peristiwa, konflik mulai muncul. Konflik terjadi atas ketidakterimaan dari sebuah kondisi. Ketidakterimaan tersebut membuat saya merasakan kegelisahan panjang. Kegelisahan yang seakan tak memiliki jawaban.

Saat kegelisahan panjang itu berlanjut, terus naik hingga sampai pada sebuah klimaks. Klimaks dari permasalahan dan sampai pada antiklimaks lalu penyelesaian. Penyelesaian yang bisa berupa jawaban atau menggantung dan memunculkan konflik baru.

Dari gambaran tersebut mungkin ada baiknya ketika permasalahan mulai muncul, saya hanya perlu menunggu klimaks. Saya hanya menunggu permasalahan itu semakin rumit dan seakan tak terselesaikan. Menerima kegalauan sampai klimaksnya. Lalu mulai memahami dan menerima kondisi yang terjadi. Berdamai dengan diri sendiri hingga ternyata Tuhan memberikan anugerah berupa penyelesaian. Saya hanya butuh obat sabar dan ikhlas yang kadang sudah dibawa sejak awal permasalahan terjadi, atau bahkan setelahnya. Sabar dan ikhlas yang diperoleh setelah semua permasalahan selesai. Mulai memahami bahwa Tuhan benar. Tuhan benar atas permasalahan yang pada awalnya saya kutuk. Dan saya mulai memahami makna kalimat Tuhan menyayangimu lebih dari apa yang kamu tahu. Karena segala permasalahan akan berujung pada kecintaanNya. Saya tahu. Kadang saya terlambat memahami.

?

?

?

Oleh: Kingkin Puput Kinanti

  • view 267