Tugas Akhir

kinan senja
Karya kinan senja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Tugas Akhir

Dulu-dulu tiap kali gue liat atau denger orang-orang ngeributin tentang tugas akhir, gue suka mikir, segitunya banget ya? Kemarin-kemarin kalau ada orang yang tugas akhirnya nggak kelar-kelar gue suka merenung, emang apa sih susahnya nyelesain? Toh tinggal dikit lagi kan kalo dibandingin sama perjuangan dari kuliah semester satu?

Tapi sekarang gue ngerti, setelah mengalami sendiri, ternyata semua memang nggak semudah itu. Bahkan mereka-mereka, mahasiswa non eksak yang biasa kita cibir dengan kalimat “Lo nggak perlu penelitian kayak gue kan? Skripsi lo cuma nganalisis novel doang kan?” dll. pun punya perjuangannnya masing-masing dalam menyelesaikan tugas akhir.

Gue merasakan betul tugas akhir itu cobaannya banyak, banyak banget. Mulai dari galau milih topik apa, pembimbingnya siapa, ikut proyek dosen atau engga, biayanya dari mana, lokasi penelitiannya dimana dll. Setelah fase itu terlewati pun masih ada fase galau lain yang harus dilewati, yaitu menentukan judul dan metode. Kenapa judulnya harus begini? Kenapa metodenya harus begitu? Sampel yang dipake apa? Berapa banyak? dll. Belum lagi segala urusan administrasi dikampus mulai dari pengajuan pembimbing sampe seminar proposal. Dan itu juga belum termasuk kalo lo dapet dosen penguji yang punya trade record “garang”.

Saat penelitian berlangsung  pun lo belom bisa bernapas lega. Banyak hal yang bisa terjadi selama penelitian. Ada yang hasilnya nggak muncul-muncul, kurang bagus, kurang ini, kurang itu, dll. Jangan heran makanya kalo mahasiswa yang lagi penelitian sering sampe nginep di lab. Pada fase ini, biasanya fenotip dari si mahasiswa ini juga ikut berubah seperti ukuran tubuh yang berubah (dari kurus jadi gemuk atau sebaliknya), kantong mata yang semakin terlihat jelas, penampilan acak-acakan, jarang mandi, dll. Dan terkadang sifatnya pun jadi ikut berubah, mulai sering galau, uring-uringan, bad mood nggak jelas. Kalau gue kasih contoh, mahasiswa tingkat akhir yang sedang galau itu sama berbahayanya dengan cewek PMS. (Nah bisa lo bayangin kalau si mahasiswa tingkat akhir ini adalah seorang cewek yang kebetulan lagi PMS, hahaha). 

Penelitian selesai pun bukan berarti segala cobaan lo ikut selesai. Lo masih harus menulis skripsi, thesis atau desertasi. Belum lagi kalo harus publikasi jurnal segala. Apalagi sebelum lo mulai nulis, lo harus cari literatur sebanyak-banyaknya. Banyak baca literatur itu bisa bikin lo punya gambaran yang lebih jelas tentang penelitian lo dan apa aja yang bakal lo tulis di skripsi, thesis atau desertasi. Dan juga ngebantu lo menjelaskan hasil yang lo dapet dari penelitian. Literatur ini biasanya berbentuk jurnal yang (sayang sekali) berbahasa Inggris.

Buat lo (dan termasuk gue) yang kurang mahir berbahasa Inggris ini merupakan kendala yang cukup berat. Belum lagi banyak istilah-istilah asing (scientific English) yang nggak bisa diartikan ke Bahasa Indonesia. Kalaupun bisa, biasanya jadi susah dimengerti.

Gue sendiri awal-awal baca jurnal bahasa Inggris cuma sanggup selama 5 menit doang, setelah itu mata gue mulai berkunang-kunang, pusiang, mual (lebay!) Itupun dengan hasil cuma beberapa kalimat yang gue ngerti. Sisanya hilang tak berbekas terbawa angin.

Berat memang untuk memulai sesuatu dari awal, tapi akan jauh lebih berat lagi ketika kita tidak mulai melakukan apapun dari sekarang. Dua orang dari angkatan gue (Fabio 2012) sudah lulus, lalu gue kapan? Mungkin sekarang belom kerasa, “ah, baru dua orang kok, yang lain masih banyak.” Wake up guys, kemarin aja udah dua, periode berikutnya berapa? lalu periode berikutnya lagi berapa?

Jangan samapi lo baru sadar ketika populasi angkatan lo sudah jadi minoritas dan lo menjadi salah satu dari bagian yang minoritas itu.
Memang lulus itu bukan sekedar siapa yang tercepat, tapi jika memang sudah waktunya untuk selesai mengapa tidak lantas diselesaikan?

Gue sendiri, sampai saat tulisan ini dipublikasikan pun masih berjuang untuk menyelesaikan tuas akhir. Gue beruntung punya keluarga, sahabat dan teman-teman yang selalu memberi dukungan, doa & semangat. Apalagi saat gue mulai merasa jenuh dan lelah dukungan, doa & semangat itu mengalir begitu banyak, bahkan dari orang-orang yang tak terduga sekalipun. Tapi gue sadar itu semua tidaklah cukup. Gue sendiri  lah yang harus berjuang untuk menyelesaikan semuanya. Karena yang terberat sebenarnya adalah mengalahkan kemalasan diri sendiri!

  • view 151

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    typo...
    berjuang untuk menyelesaikan tuas akhir.

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    Nikmatin aja...harusnya skripsi di semester sebelum sekian kamu cari judul, cari dospem, dan cari lokasi untuk di survey. Itu trik saya sebelum skripsi jadi semua dengan mudah di buat tapi ga semudah untuk mendapatkan ide untuk di buat tulisan; banyak2 baca, cari literatur, dan referensi buku