Sepotong Kulit Ayam (2)

kinan senja
Karya kinan senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 April 2016
Sepotong Kulit Ayam (2)

95 Kilometer

?Hey? Aku menepuk bahunya, membuatnya menoleh kearahku. Memperlihatkan kedua matanya yang berkaca-kaca. Tatapannya membuatku melunak. Cerebrumku kembali memutar memori 15 menit yang lalu, saat aku dan Fajar sedang beradu argumen. Kami secara bergantian melontarkan kalimat??Lu dengerin gue? dan ??Enggak, lu yang dengerin gue? ditambah dengan adegan saling memegang lengan lawan bicara dan beberapa tatapan mata yang menusuk tajam.

Siang itu aku meminta Fajar untuk menjadi penunjuk jalan. Aku sendiri tak yakin jika bisa mengingat jalan mana yang harus kutempuh meskipun sudah 3 kali aku melewati rute ini. Satu bulan penuh hidup bersama Fajar membuatku lebih dari sekedar yakin bahwa ia mampu menjagaku sepanjang perjalanan ini. Fajar yang memang salah satu anggota klub motor itu punya banyak pengalaman membawa rombongan, maka seharusnya mudah saja membawaku bersamanya.

Tapi Fajar punya pendapat lain. Selama ini, selama satu bulan hidup bersamanya, aku memang jarang terlihat mengendarai motor. Mungkin ini salah satu pertimbangan Fajar, ia menganggap bahwa aku kurang terampil mengendarai motor apalagi untuk jarak jauh seperti ini. Apalagi dari sekian banyak teman-teman perempuan yang lain, hanya aku yang akan mengendarai motor dalam perjalanan ini.?

Aku ?memilih duduk disebelah Fajar. Sungguh aku benci melihatnya begini. Ini bukan seperti ia yang biasanya, bukan seperti Fajar yang aku kenal.?

?Gue janji nggak akan nyusahin lu.? Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan lirih. Aku tahu ia mendengarkanku. Sebab beberapa saat kemudian ia menggangguk, meskipun dengan terpaksa.?

Kali ini kuberanikan lagi menatapnya. Dibalik matanya aku melihat kekhawatiran yang begitu jelas. Aku tak pernah melihatnya seperi ini sebelumnya. Lalu kucoba lagi meyakinkannya. Berkata bahwa aku tahu dan sadar akan segala resiko yang menghadangku. Bagiku yang keras kepala, tak ada alasan apapun yang mampu membuatku mundur. Tapi ia tak mudah untuk diyakinkan. Meski berkali-kali ia mengangguk dan berkata??iya? matanya masih memancarkan sorot yang sama: sorot kekhawatiran. Ah ingin sekali aku memeluknya, meyakinkan sekaligus menenangkannya: semua akan baik-baik saja.

Aku meremas bahunya, menatapnya lekat-lekat dan berkata??Gue janji, nggak nyusahin lu di jalan.? Kali ini kata-kata itu keluar dengan mantap. Ia menatap mataku lekat-lekat. Berharap menemukan secercah keraguan disana. Terlambat. Aku sudah menyingkirkan semuanya.?

Melihat tekadku yang begitu kuat ia memilih untuk menyerah. Kali ini ia mengucapkan satu janji padaku. Janji paling romantis yang pernah kudengar:??Yaudah. Tapi lu tempel gue terus.?Gue akan bukain jalan selebar-lebarnya buat lu.?

***

Ia menepati janjinya, membuka jalan selebar-lebarnya untukku. Ia menghalau segala jenis kendaraan yang menghalangiku, mulai dari motor, mobil pribadi, truk hingga ?optimus prime? sekalipun. Dan aku menepati janjiku, memasang baik-baik semua ?radar?ku dan berkonsentrasi penuh. Mengikuti segala ?perintah? yang ia tuturkan lewat kode. Ada banyak kode sebenarnya, mulai dari kode untuk menepi, menambah kecepatan, menyalip, menunggu atau kembali ke barisan. Awalnya aku kerepotan menerjemahkan semuanya. Tapi seiring banyaknya kilometer yang terlalui aku mulai terbiasa.

Jarakku dengannya tak pernah melebihi batas ratusan meter. Ia memintaku untuk tetap dekat dengannya dan aku menepatinya dengan sungguh-sungguh. Menempel terus seperti?Drosophilla?dan buah pisang matang. Terkadang ia mengurangi kecepatannya, memastikan aku tetap bisa mengikutinya. Terkadang lagi ia memilih untuk menunggu di belakang truk yang jalannya seperti?tortoise. Padahal sebenarnya ia bisa saja menyalip truk itu, tapi ia tahu, terlalu berbahaya jika aku yang melakukannya.

?

Bagiku, sembilah puluh lima kilometer yang terlalui dalam tiga jam itu adalah hal paling romantis yang ia lakukan untukku. Sulit mungkin membayangkan sisi romantisme dari kejadian ini. Tapi bagiku, belum pernah ada laki-laki yang menjagaku se-over protective?ini selain Ayah.

***

?Thank?s?ya, lu udah menepati janji.? Aku menepuk bahunya. Kami baru saja tiba di PKM, semacam pendopo yang berada di sekitar skretariat UKM tingkat Universitas.?

Ia mengangguk,??Sama-sama. Lu juga nepatin janji lu.? Matanya masih merah dan ?tampak ganjil ketika melihatku, seolah ada beban berat yang menggelayut disana.?

?Hey, jangan nangis!? Aku kembali menepuk bahunya. Berusaha menguatkannya. Apalagi yang perlu ditangisi? Bukankah kita semua sudah sampai dengan selamat?

?Mau peluk.? Kata-kata itu meluncur begitu saja darinya. Tak tanggung-tanggung, bahkan ia sudah merentangkan kedua tangannya, bersiap memelukku.

?Eh, nggak boleh. Sini, sini kita salaman aja ya.? Kuraih tangannya dan kugenggam dengan tanganku yang bersarung tangan. Aku menatap matanya dan mengangguk, menenangkannya.

Ia membalas anggukanku dengan sedikit terpaksa. Setelah berbasa-basi beberapa saat lagi aku benar-benar berpamitan dengannya dan lantas pergi. Hari itu aku merasakan segalanya berubah. Sembilan puluh lima kilometer itu benar-benar merubah segalanya. Apalagi ketika aku tanya alasan matanya berkaca-kaa, ia bilang ada dua alasannya. Yang pertama saat aku memintanya menjadi penunjuk jalan, ia bilang ia sangat mengkahwatirkanku. Dan yang kedua saat kami berpamitan di PKM. Kali ini jawaannya begitu diplomatis:?hati orang siapa yang duga.?