Derap Hujan

kinan senja
Karya kinan senja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Maret 2016
Derap Hujan

Aku memandangimu diam-diam, lewat celah sempit botol-botol air mineral yang berserakan diatas meja. Sesekali kau tersenyum, senyum manis yang akan selalu aku ingat. Lalu sisanya kau berbicara dengan antusias, menjelaskan ini dan itu. Meski yang sampai ke telingaku hanyalah potongan-potongan kata tak beraturan, sebab suaramu beradu dengan derasnya derap hujan. Beberapa kali kau menatap layar laptopmu yang berada dalam satu garis lurus denganku. Aku tahu, bahwa yang sedang kau tatap dengan antusias bukanlah aku, tapi itu saja sudah cukup membuatku tersipu malu.

Aku suka saat mendengarmu mengucapkan namamu sendiri. Sama seperti aku menyukai suaramu saat menyebut namaku dengan lengkap. Sebelum ini tak banyak orang yang mau repot-repot menyebut namaku dengan utuh.

Dua jam kau duduk disana, berbicara, tersenyum dan tertawa. Membiarkan mataku memandangimu malu-malu. Aku masih ingin memandangimu lebih lama lagi ketika tiba-tiba saja kau bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan. Semoga saja raut kecewaku tak sempat tertangkap oleh penglihatanmu. Aku benar-benar tak ingin kau tahu tentang ini, setidaknya untuk saat ini. Aku ingin menyimpannya sendiri, setidaknya sampai Tuhan memberiku izin.

Bagiku melihatmu setiap hari sudahlah cukup, meski diam-diam aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana jadinya jika nanti semua hari-hari ini harus berakhir? Mungkin aku akan merindukanmu setiap hari. Memikirkan bagaimana caranya untuk tetap bisa bertemu atau hanya sekedar tetap berkomunikasi denganmu. Ah, entahlah. Membayangan semua ini membuatku merasa ngeri. Aku ingin tetap terus begini, memandangimu dari dekat setiap hari.