Keluargaku Inspirasiku

KUSNULIA ROSITA
Karya KUSNULIA ROSITA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Keluargaku Inspirasiku

Keluargaku, Inspirasiku

"Cinta mereka sungguh sempurna dalam kesederhanaan". Tak ada perayaan pernikahan secara mewah tetapi insyaallah penuh berkah. Cukup sederhana yang terpenting sah untuk mengucap janji secara agama dan negara menjadi pasangan halal sehidup sesurga.

Itulah gambaran pernikahan kedua orang tuaku. Mereka menikah di tahun 1970. Dari dua insan manusia sekarang bertumbuh menjadi 18 keturunan dan menjadi keluarga besar, itulah hebatnya kuasa Tuhan. Menjalani pernikahan selama 46 tahun, ibu begitu sabar mendampingi ayah, dengan penuh kasih, dan perjuangan untuk menjadi baik. 

Satu pertanyaan yang pernah saya tanyakan kepada ibu adalah, "mengapa ibu yakin untuk menikah dengan ayah?" Waktu itu belum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. 

"Satu hal yang membuat ibu percaya dan yakin untuk menikah dengan ayahmu adalah karena ayahmu beribadah baik dengan Tuhannya dan ayahmu memang orang baik. Ibu tidak akan sanggup menolak laki-laki yang baik agamanya. Jika dengan Tuhannya saja baik apalagi nanti dengan ibu. Ibu hanya yakin ayahmu tidak akan menerlantarkan ibu. Ibu yakin ia akan memperjuangkan pernikahan kita meskipun saat itu ia belum memiliki pekerjaan yang tetap dan harus menghidupi ketiga kedua adik perempuannya dan ibunya." Kalimat itu yang diucapkan ibu untuk menjawab pertanyaanku kala itu.

Satu hal yang saya pahami dari jawaban ibu adalah seorang perempuan bisa menyebabkan surga bagi suami dan keluarganya namun juga bisa menjadi neraka bagi suami dan keluarganya. Begitu pula dengan seorang laki-laki, ia bisa menjadi surga bagi istri dan keluarganya dan menjadi neraka bagi istri dan keluarganya. Hikmah singaknya adalah pilihlah pasangan yang bisa membawa kita untuk lebih taat kepada-Nya.

Sejatinya keberadaan seorang perempuan di sisi laki-laki adalah sebagai teman hidup, penyemangat di kala lemah, teman berjuang untuk mewujudkan impian bersama. Pernikahan yang langgeng adalah pernikahan yang tidak hanya dilandasi dengan romantisme cinta semata melainkan landasan agama dan perjuanga meraih impian bersama. Jika pernikahan hanya mengandalkan cinta dan fisik semata akan pudar seiring bertambahnya usia karena memudarnya kecantikan secara fisik dan munculnya keriput kulit. Berbeda halnya dengan pasangan yang menikah dengan dasar agama, mereka akan lebih bahagia dan langgeng karena ketika ada masalah baik dalam hal komunikasi maupun masalah ekonomimreka jadikan sebagai bumbu untuk menambah kuatnya ikatan pernikahan. Cantik fisik bukan lagi prioritas utama, bagi mereka lebih baik hidup dengan pasangan yang memiliki fisik sederhana tetapi besar dalam kasih sayang, tanggung jawab, penghargaan pada pasangan, dan tentu saja bersedia berjuangan bersama. Selain itu, orang tua saya tidak mengandalkan harta ketika menikah. Ayah melamar ibu dengan mahar yang tidak terlalu murah tetapi juga tidak mahal kala itu, yang terpenting cukup sebagai penghargaan mulia untuk mendapatkan kemurnian cintanya. 

Setelah 46 tahun berlalu dan menjalani hidup bersama, mereka tetap bahagia, semakin bersinergi dan tumbuh menua bersama untuk menjalani masa-masa senja dengan bahagia. 

Sungguh indah ketika kami melihat mereka tumbuh menua bersama dalam ketaatan pada Tuhannya. Impian mereka sederhana, cukup melihat kami sukses, bahagia, dan  tumbuh memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah serta saling menjaga silaturahim antara satu dengan yang lainnya. Kami lima bersaudara, empat dari lima anak-anaknya sudah berkeluarga sehingga cukup melegakan mereka. Tidak lama anak bungsunya juga akan menyusul untuk membangun pernikahan sehidup sesurga. 

Sebagai anak, kami belajar banyak hal dari kedua orang tua kami dalam menjaga hubungan rumah tangga, romantisme di masa senja, dan perjuangan mewujudkan cita-cita suci pernikahan untuk dapat hidup sesurga. 

Banyak hal yang perlu kami teladani dari perjalanan pernikahan kedua orang tua kami untuk sehidup sesurga sampai ajal memisahkan mereka. Kesederhanaan ayah dalam selera makan namun tinggi dalam karya. Ayah berusaha untuk mandiri dan tidak merepotkan ibu dalam hal makan, pakaian, dan hal kecil lainnya. Masih teringat jelas kisah perjuanagn ayah yang kala itu jaga piket bersama tentara di AURI Adi Soemarmo Solo, ketika tugas piket selesai dan pulang ke rumah selalu membawa buah tangan berupa kue-kue ataupun buah-buahan dan kami pun berebut untuk meraihnya. 

Pengorbanan seorang ayah tidak akan terlukiskan, beliaulah yang menyebabkan kita umbuh menjadi pribadi mandiri. Ayah rela membanting tulang dan bekerja keras demi kebahagiaan keluarganya. Tidak peduli siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, ia terus bekerja untuk menafkahi istri dan kelima anaknya. Tak terhitung berapa cucuran keringan yang mengalir sebagai bukti memperjuangkan kami untuk tumbuh dan menjadi seperti sekarang ini. Pahit kehidupan tidak pernah beliau ungkapkan, hal itu ia lakukan untuk menjaga kewibawaaan di depan istri dan anak-anaknya. 

"Bayarlah setiap tetesan keringat ayah anda dengan kebaikan dan kesuksesan dalam hidup karena hal itu akan membuatnya bangga dan bahagia."

Ibu, satu kata yang melukiskan perjuangan besar dan berhati lembut. Seorang ibu rela menahan sakit selama 9 bulan dan kepayahan menahan beban berat dalam kendungannya. Seorang ibu rela mati untuk memperjuangkan kita lahir ke dunia ini. Masih adakah di antara anda yang melawan dan berkata kasar terhadap ibu ? Jika iya segeralah bertaubat dan meminta maaf kepadanya.  Dari retsunya kita bisa menjalani kehidupan ini dengan baik, dari restunya pula engkau mendapatkan restuTuhanmu. Seorang ibu akan menangis ketika buah hatinya sakit, ia akan meminta kepada Tuhan untuk memindahkan sakit yang diderita buah hatinya kepada dirinya. Seorang ibu akan merawat penuh kasih dan mengasuh anak-anaknya sejak dalam bayi. menyusui, membersihkan kotorankita, menyiapkan pakaian dan masih banyak lagi perhatiannya untuk mengurus kita dan keluarganya. 

Banyak pelajaran hidup berumah tangga yang bisa kita amati dan teladani dari rumah tangga kedua orang tua kita. Sebagai seorang perempuan dan anak yang nantinya kita akan membina rumah tangga jadikan landasan agama sebagai fondasi utama dalam menentukan pasangan selain faktor yang lainnya. Pantaskan diri kita dengan mencari bekal ilmu untuk berumah tangga dan perbaikilah kualitas ibadah pada Tuhan. Bekal utama untuk membina rumah tangga sehidup sesurga berawal dari cara kita memilih pasangan hidup yang tepat. 

Keluargaku, mereka adalah sumber inspirasiku, terkhusus ayah dan ibuku. 

 

 

  • view 322