Anak Saweran Jadi Fashion Designer

Kholifah Suhaebih
Karya Kholifah Suhaebih Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Juni 2016
Anak Saweran Jadi Fashion Designer

Sejak duduk di bangku sekolah, aku gemar menggambar sampai lembaran buku gambarku habis. Sementara orangtuaku tidak mampu membelikan aku buku gambar baru. Selain menggambar, aku gemar menyanyi juga. Karena itulah dengan modal suara, aku memutuskan untuk mencari uang sendiri. Kebetulan saat itu ada tawaran manggung dari tetangga. Selesai acara, pemilik organ tunggal memuji suaraku dan berjanji akan menjadikan aku artis tetap. Akulah penyanyi termuda di antara semua penyanyi dan aku mendapatkan paling banyak saweran. Di sekolah, aku sering dipanggil Anak Saweran. Aku berpikir kalau dangdutan dari panggung ke panggung itu keren. Aku bangga mendapatkan uang sepuluh ribu dari hasil jerih payahku sendiri.

Banyak hal yang terjadi di atas panggung. Dari mulai aksi penonton yang tiba-tiba tawuran, kecemburuan sesama artis sampai kejahilan para penyawer. Seperti kejadian di malam itu, seorang pria yang tidak mengancingkan bajunya menari-nari sambil mengibas-ngibaskan uang seratus ribu di hadapanku. “Kamu mau uang ini? Coba ambil!” tantangnya lalu ia menjepit uang itu di kedua belah bibirnya. Dari sana aku baru sadar bahwa menjadi seorang artis dangdut seksi selalu dipandang murahan. Aku pun berpikir untuk mengenakan busana yang sopan dan beralih menyanyikan lagu-lagu islami. Aku bercita-cita menjadi seorang artis terkenal yang tampil di televisi.

Sejujurnya aku pun tidak yakin dengan cita-citaku itu. Ibuku seorang buruh tani di kampung Muaragembong sedangkan ayahku seorang tukang servis yang hanya mendapatkan upah limabelas ribu. Aku memupus perlahan mimpi besar itu tapi aku tidak berhenti menuntut ilmu. Terus menerus aku meraih peringkat nomor satu di sekolah serta juara melukis maupun kaligrafi. Seorang wali kelas menyarankan agar aku melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Aku menolaknya karena keadaan orang tuaku. Mana mungkin mereka bisa membayar biaya kuliah anaknya, pikirku. Daripada menghabiskan uang, lebih baik aku mencarikan uang untuk mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi TKW di luar negeri.

Saat kelulusan SMA sudah dekat, teman-temanku sibuk mencari informasi tentang kampus impian mereka. Aku didorong oleh berbagai pihak sekolah untuk mendaftarkan diri melalui jalur prestasi. Lucunya tepat saat aku hendak terbang ke Malaysia, aku menjadi satu-satunya siswa yang dinyatakan lolos sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Kampus yang kupilih adalah Institut Teknologi Bandung dengan peminatan Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Seperti seekor keong yang pergi ke jalan raya, aku bisa saja terbunuh dengan keadaan sekitar sebab harus menyesuaikan diri dengan kehidupan perkotaan. Berangkat aku dari kampung mengenakan rok pramuka dan kaos polkadot sebagai setelan baju satu-satunya yang kubawa. Kujalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa seni, dihadapkan dengan banyak sekali kertas. Betapa senang dan bersemangat aku sebab bisa menggambar sepuasnya. Spontan, kulantunkan lirih lagu dangdut. Teman-teman di sebelahku seketika menoleh dan memperhatikan aku, bengong dan tertawa. Sejak saat itu aku sering diundang untuk menyanyikan lagu dangdut di setiap acara fakultas. Tapi aku tidak menghiraukan penampilanku yang apa adanya.

Aku suka perpaduan warna yang mencolok dan tabrakan, ungu dan oranye misalnya. Aku pun punya dua julukan baru, Gadis Jemuran dan Katy Perry Mu’alaf. Awalnya aku tidak mengerti apa maksud panggilan teman-teman terhadapku. Aku belum kenal Katy Perry saat itu tapi aku bangga disamakan dengan artis luar negeri. Aku kaget melihat penampilan artis tersebut di sebuah video clip yang full color. Betapa mirip denganku! Bedanya aku berkerudung dan tidak mengerti konsep panggung. Lama-lama aku sadar bahwa setelan baju yang menggantung di tubuhku memang terlihat seperti jemuran, berwarna-warni dan tidak matching. Suatu ketika aku mengamati hasil dokumentasi acara Fancy Night saat aku diundang menjadi penyanyi utama. Foto tersebut menampilkan penyanyi dangdut dengan latar lukisan Gadis telanjang, dengan artistik jemuran bra dan celana dalam. Aku baru bisa menyimpulkan bahwa selama ini aku dipandang hina oleh teman-teman satu fakultas, bahkan mungkin oleh satu kampus. Menjijikan. Lalu aku terdorong untuk menjadi seorang fashion designer dan membuktikan pada mereka bahwa aku bisa modis dan stylish.

   

Aku bersyukur masuk jurusan Kriya Tekstil, mempelajari teori warna, gesture dan tren fashion. Dalam mata kuliah Image Analisis, aku tidak mengerti cara presentasi dengan baik. Aku menjadi presentator paling memalukan. Aku belajar, terus belajar. Di akhir semester, aku meraih nilai A+ berkat presentasi yang memikat dengan lagu dangdut berjudul Iming-iming karya Rita Sugiarto sebagai penampilan pembuka. Aku lalu dipercaya menjadi pengisi acara bersama Aming dalam Reuni Akbar Terikat (Himpunan Kriya Tekstil ITB) 2013. Dulu aku Anak Saweran, tapi sekarang aku sudah bisa merasakan bagaimana menjadi MC di berbagai acara seperti Pengmas Keluarga Islam Seni Rupa di Panti Asuhan Bayi Sehat Bandung dan Malam Apresiasi Wisuda ITB 2013, kemudian mengisi acara dalam APAN 37th Meeting mewakili Unit Kebudayaan Betawi di hotel Internasional 2014, menjadi Juri Fashion Show Busana Muslim dan Lomba Gambar Gebyar Ramadhan Yayasan Insan Priangan 2015.

Tak berhenti sampai di tataran menyanyi dan desain busana saja. Aku juga tertantang untuk memahami dunia make up pada level advance. Aku ditunjuk menjadi Koordinator Make-up Artist dalam acara Urban Beasts Fauzia Nastiti. Dulu aku hanya bisa melihat desainer ternama Anne Avantie melalui televisi. Tapi akhirnya aku diundang untuk menyaksikan fashion show Bunda Anne secara live. Sepulang dari sana, aku mendapatkan tawaran berharga dari Owner perusahaan busana muslim Kaffa sebagai fashion designer dan perusahaan tekstil di Mega Alpenindo 2015.

Aku bangga dulu pernah menjadi artis panggung dan calon TKW. Dengan serentetan kejadian memilukan, aku belajar mengatasi kesulitan. Seorang Anak Saweran yang tidak mengerti setelan busana kini bermetamorfosa menjadi Fashion Designer di kota Bandung. Akan banyak rintangan yang menghampiri. Tetapi itu semualah yang membuat aku menjadi orang kuat di kemudian hari.