Tiga Hal Yang Tersembunyi

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Juni 2016
Tiga Hal Yang Tersembunyi

Dalam hidup ini kita dihadapkan pada dua pilihan yang saling bertolak belakang: ketaatan dan kemaksiatan, kebaikan dan keburukan. Dua sikap inilah yang mengitari roda hidup keseharian kita. Jika kita tidak pandai menjaga diri, boleh jadi bukan ketaatan yang kita lakukan, tapi justru maksiatlah yang akan mengisi cipta, karya, dan karsa kita.

Dengan rahmatNya Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang mentaati-Nya dan mengancam neraka dengan keadilan dan kebijaksanaa-Nya. Allah berfirman:

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (Qs. An-Nisa`: 13-14)

Dalam suatu kesempatan, Imam Ali Zainal Abidin, cucunda Rasulullah yang digelari As-Sajjad (Sang Ahli Sujud) pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang sangat berharga buat kita. Beliau mengatakan:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga hal dalam tiga perkara: Pertama, Allah menyimpan keridhaan-Nya di dalam menjalankan ketaatan di jalan-Nya. Maka jangan kalian meremehkan ketaatan sekecil apa pun juga, karena boleh jadi di dalamnya tersimpan keridhaan-Nya. Kedua, Allah menyimpan kemurkaan-Nya di dalam kemaksiatan di jalan-Nya. Maka jangan kalian meremehkan kemaksiatan sekecil apa pun juga, karena boleh jadi di dalamnya terkandung kemurkaan Allah. Ketiga, Allah menyimpan kewalian-Nya pada makhluk-Nya. Maka jangan kalian meremehkan seorang pun dari para hamba Allah, karena boleh jadi ia adalah wali Allah.”

Ketiga poin di atas merupakan inti kehidupan manusia di dunia ini: Menjalankan kebaikan, menjauhi kemaksiatan, dan saling mengasihi antar sesama. Ketiga hal di atas sebenarnya mudah kita lakukan jika kita sadar bahwa ajaran Islam mudah dijalankan. Segala kebajikan bernilai pahala di sisi Allah. Apa pun yang kita lakukan, selagi itu bermanfaat dan berguna untuk diri sendiri atau orang lain, maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

Hanya saja, selama ini yang ada dalam benak dan pikiran kita bahwa Islam itu sulit, sukar, semua serba haram dan terlarang. Ungkapan-ungkapan seperti ini sangat keliru. Mari kita perhatikan hal-hal berikut:

Pertama, keridhaan terhadap kebaikan. Kebaikan berbuah keridhaan. Berarti kejahatan menuai ketidakridhaan. Ukuran baik-tidaknya suatu amal bukan dilihat dari kuantitasnya (jumlahnya) tapi kualitasnya. Simaklah kisah berikut ini. Rasulullah saw pernah bercerita tentang seorang musafir yang kehausan lalu menemukan sebuah sumur. Ia segera minum air dalam sumur tersebut, membasahi tenggorokannya yang kering. Tidak berselang lama, sang musafir melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Melihat ini, si musafir turun kembali ke sumur, mengambil air dengan sepatunya lalu disodorkannya ke anjing ini. Intinya adalah, Allah menyukai apa yang telah dilakukan hamba-Nya kepada makhluk-Nya. Maka si musafir memperoleh pahala dan ampunan Allah.

Lihatlah, seekor anjing yang mungkin di mata kita hina, menjijikkan, najis, ternyata bisa menjadi sebab menuju keridhaan Allah bila kita ikhlas mengasihinya. Ini menunjukkan bahwa kebaikan bisa dilakukan di mana saja dan kepada siapa saja. Jangan khawatir, Allah pasti memberikan balasan setimpal apa yang telah kita lakukan. Jangan meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun juga. Allah menyimpan keridhaan-Nya buat kita, meski kebaikan itu cuma berupa sebuah senyuman buat saudara kita. “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikit apa pun meski hanya berwajah gembira di depan saudaramu.” (HR. Muslim)

Kedua, maksiat dengan kemurkaan. Sudah barang tentu tiap keburukan melahirkan sederetan kemurkaan, kegelisahan, dan kemurungan. Ini sudah merupakan Sunnatullahyang berlaku atas tiap makhluk-Nya. Yang kita tidak pernah tahu adalah, apakah saat kita melakukan maksiat, saat itu juga perbuatan kita mengundang amarah Allah. Memang Allah Maha Rahman dan Rahim. Namun jangan lupa Allah juga Maha Jabbar, Maha Keras. Satu sisi, ada sifat maskulin Allah (Jalaaliyyah), tapi di sisi lain ada sifatfeminim (Jamaaliyyah). Nah, kemaksiatan yang kita perbuat sudah masuk ke nuansaJalaliyyah jika kita tidak segera bertaubat.

Jadi, berhati-hati dalam melangkah agar tidak terjerembab dalam maksiat, merupakan langkah paling bijaksana yang bisa kita lakukan. Jauhi maksiat sedini mungkin. Jangan sampai kita bermaksiat yang ternyata dapat menyebabkan murka Allah tanpa kita sadari. Penyesalan di akhir tentu tiada berarti.

Cobalah renungi kisah yang dituturkan oleh Nabi Muhammad saw di bawah ini. Dahulu ada seorang wanita yang dijebloskan ke dalam api neraka karena menyiksa seekor kucing peliharaannya. Wanita ini menelantarkan kucingnya sehingga menyebabkan kucing tadi mati. Kata Nabi, wanita itu ada di dalam neraka.

Jika kucing yang mungkin kita anggap tidak terlalu berarti mendapat perhatian Nabi sedemikian besar, bagaimana nyawa dan harga diri seorang manusia? Apalagi dengan maksiat kepada Allah! Jika dengan menzalimi seekor kucing, seseorang bisa dimasukkan neraka, bagaimana halnya dengan membiarkan hukum Allah diinjak-injak dan dilecehkan? Tentu hal ini jauh lebih besar di hadapan Allah. Oleh karena itu, hal kedua ini harus kita garis bawahi agar kita selamat selama menjalani hidup di dunia ini.

Hal ketiga dari ungkapan Imam Ali Zainal Abidin ialah kewalian dengan sikap menghormati. Pada prinsipnya, menghormati manusia tidak boleh karena status sosial yang disandangnya. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat-sipil, tetap harus kita hormati. Semua manusia berada dalam garis kesederajatan yang sama. Tidak ada yang lebih mulia satu dari lainnya. Persoalannya, apakah saat kita meremehkan seseorang, kita sadar bahwa ternyata orang ini merupakan kekasih atau Wali Allah yang dicintai oleh-Nya? Dari Abû Hurairah ra. ia berkata: Rasulullâh SAW bersabda: “Sesungguhnya Allâh telah berfirman, “Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku, maka Aku nyatakan perang kepadanya…” (HR. Bukhârî)

Suatu ketika, Sahabat Abdullah bin Mas`ud yang dikenal memiliki betis yang kecil menaiki pohon kurma. Di atas pohon, tiba-tiba datang angin dengan kencangnya menerpa tubuh Abdullah bin Mas`ud. Karena tidak kuat menahan laju angin, ia pun terjatuh. Sahabat-sahabat nabi lainnya yang kebetulan sedang duduk di dekat jatuhnya Ibnu Mas`ud tertawa terpingkal-pingkal. Melihat kejadian itu, Nabi mendekat dan berkata, “seandainya betis Abdullah bin Mas`ud yang kecil ini ditimbang dengan emas sebesar gunung Uhud, tentulah betisnya jauh lebih unggul. “Sesungguhnya Allâh tidak melihat bentuk tubuh dan rupa kalian akan tetapi Allâh melihat kepada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Kisah ini selaras dengan poin ketiga dari wasiat Imam Ali Zainal Abidin, yaitu agar kita tidak meremehkan seorang pun di dunia. Mulia atau hinanya seseorang bukan ditentukan oleh ketampanan atau kecantikan. Bukan juga oleh pakaian atau pun gelar akademis yang disandangnya. Derajat seseorang diukur dengan amal dan taqwanya kepada Allah. Kiranya Allah jugalah yang akan menentukan ukuran itu di akhirat kelak…….

  • view 165