Menjadi Wali Karena Sabar Menghadapi Istri

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Mei 2016
Menjadi Wali Karena Sabar Menghadapi Istri

Pada zaman dahulu di sebuah desa bernama Bajalhaban di negeri Hadramout, Yaman tersebutlah seorang shaleh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, beliau adalah seorang wali yang memeliki derajat yang tinggi di sisi Allah, namun beliau tidak mengetahui dirinya memiliki keistimewaan seperti itu. Beliau dikaruniai oleh Allah SWT seorang istri yang cerewet. Setiap hari kerjaannya hanya marah-marah dan ngomel-ngomel. Sedangkan Syekh Abdurrahman Bajalhaban adalah orang yang sabar beliau selalu menghadapi istrinya dengan kesabaran. Tidak pernah beliau membalas keburukan dengan keburukan, omelan dengan omelan. Seandainya beliau menghadapi sifat keras istrinya dengan kekerasan pula maka rumah tangga itu akan menjadi neraka.

Suatu saat beliau mempunyai keinginan berkholawat (Menyepi) untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT di sebuah tempat bersama orang-orang yang beribadah. Beliau merasa lebih baik aku beribadah dari pada terus-terusan bersama istri yang kerjaannya selalu ngomel melulu. Beliau pun berpamit kepada istrinya dan seperti biasa jawabannya adalah omelan dan omelan. Beliau naik ke gunung terdekat dari kotanya dan di situ beliau menemukan sekelompok orang yang sedang beribadah. Singkat cerita beliau dapat bergabung bersama mereka dengan syarat harus mau piket mencari makan untuk mereka sebagaimana adat mereka menentukan piket para anggota untuk mencari makan secara bergantian setiap harinya.

Ketika pada suatu saat beliau kena giliran piket, beliau bingung harus mencari makanan di mana. “Lebih baik aku meminta kepada Allah” gumam beliau, “Tetapi dengan siapakah aku harus bertawassul? Ah, lebih baik aku bertawassul dengan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu, meskipun aku tidak tahu siapakah yang mereka tawassuli” kata beliau dalam hati. Maka beliau pun duduk di tempat sepi mengangkat tangan seraya berdo’a, “Ya Allah berkat kemulyaan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu maka turunkanlah untukku dan teman-temanku makanan yang lezat”. Seketika turunlah makanan-makanan yang lezat, beliau pun kaget serta kagum betapa tinggi kedudukan wali yang ditawassuli oleh teman-temannya sehingga sekali tawassul do’a langsung terkabul.

Teman-teman beliau kaget ketika beliau datang dengan membawa makanan yang demikian lezat mereka bertanya bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Beliau pun menceritakan semua kejadian yang beliau alami kemudian beliau bertanya, “Siapakah orang yang kalian tawassuli itu? Demi Allah kalau bukan karena bertawassul dengan beliau belum tentu do’aku akan terkabul dengan spontan seperti yang kalian lihat” mereka pun bercerita, “Ketahuilah di desa Bajalhaban dekat pegunungan ini ada orang yang shaleh nan sabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun begitu beliau sangat sabar terhadap istrinya dan tidak pernah membalas keburukan istrinya dengan keburukan serupa. Karena kesabarannya inilah Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban dan kami selalu bertawassul kepada Allah dengan kemulyaan beliau”.

Mendengar cerita ini Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget, setinggi inikah nilai kesabaran dirinya di sisi Allah SWT? Maka beliau pun berpamit pulang ke desanya tanpa mengemukakan alasan yang jelas. Karena beliau menganggap hidup bersabar bersama istri cerewet ternyata memiliki nilai lebih besar dari pada berkholwat (Menyepi) bersama orang-orang yang beribadah. Dan teman-temannya mempersilahkan beliau pulang tanpa mengetahui apa alasan beliau dan siapakah beliau sebenarnya, karena memang beliau tidak pernah memperkenalkan nama beliau kepada mereka.

Ini adalah cerita nyata yang menggambarkan beban betapa besar beban orang yang memiliki istri cerewet sehingga Allah SWT membalas kesabaran itu dengan derajat yang tinggi di sisinya. Kalau orang sekelas Syekh Abdurrahman Bajalhaban memang dapat bersabar menghadapi istrinya tetapi kalau kita yang menempati tempat beliau belum tentu kita dapat bersabar menghadapi istri seperti itu. Sehingga impian untuk menjadikan rumah tangganya sebagai “Baiti Jannati” (Rumahku Surgaku) terasa semakin jauh tercapai. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih wanita pendamping karena pernikahan bukanlah permainan, kapan kita suka kita pakai dan kapan kita bosan kita buang.

Ada orang Arab yang mengatakan “Janganlah engkau nikahi enam tipe wanita, annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah dan syaddaqah”.

Annanah artinya suka merintih, mengeluh dan setiap saat kepalanya selalu diikat karena rasa sakit. Menikahi wanita seperti ini akan sangat merepotkan dan waktu anda akan banyak tersita. Jika anda orang yang sabar maka anda akan mendapat banyak pahala dengan kesabaran anda tetapi jika anda bukan tipe orang yang sabar maka tidak ada baiknya anda menikahi wanita yang sakit-sakitan atau yang berpura-pura sakit.

Mannanah artinya suka mengunndat-undat (menghitung-hitung kebaikannya) dan selalu mengatakan “Aku telah berbuat begini begitu demi kamu dan untuk kamu”. Hidup bersama tipe wanita seperti ini membuat diri anda selalu merasa bersalah karena telah menerima kebaikan-kebaikannya sehingga anda akan berandai-andai “Seandainya dia tidak berbuat baik kepadaku atau aku tidak menerima kebaikannya”. Jika kehidupan dalam rumah tangga seperti ini mana mungkin akan menjadi sorga dunia?.

Hannanah artinya selalu merindukan sosok suami lain atau merindukan anak dari suami lain, wanita seperti ini harus dijauhi. Dia hanya akan memakan hati para suami. Tidak mensyukuri suami yang dikaruniakan Allah kepadanya malah menginginkan suami lain. Oleh karena itu dianjurkan jangan menikahi gadis yang sudah pernah berpacaran, karena bisa saja dia akan merindukan mantan pacarnya.

Haddaqah artinya selalu memandang benda-benda berharga dan memaksa suaminya untuk membelikannya. Wanita seperti ini sebaiknya menikah dengan laki-laki yang memiliki harta tidak terbatas sehingga berapa pun barang yang dia beli kekayaan suaminya tidak akan berkurang.

Barraqah memiliki dua arti: Pertama, sepanjang siang selalu di depan cermin dan bersolek dan arti kedua, selalu murka di saat makan sehingga dia selalu makan sendiri dan selalu menyisihkan bagiannya dalam segala hal. Sungguh merupakan dua sifat yang sangat buruk. Bagaimana dia dapat melayani suami kalau kerjaannya cuma bersolek dan bagaimana dia dapat menjadi guru dari putra-putrinya kalau punya sifat suka murka dan suka marah.

Syaddaqah artinya banyak omong, cerewet dan terlalu muluk dalam berbicara, dalam haditsnya Nabi SAW bersabda,

Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang banyak omong dan terlalu muluk dalam berbicara.

Al-Imam Ali bin Abi Tholib ra berkata, “Sejelek-jeleknya perangai (sifat) laki-laki merupakan sebaik-baiknya perangai perempuan yaitu, pelit, tinggi hati dan penakut”. Karena seorang wanita yang pelit akan menjaga hartanya dan harta suaminya dan wanita yang tinggi hati akan merasa enggan untuk berlemah lembut terhadap orang lain selain suaminya sedangkan wanita yang penakut akan menjauhi hal-hal yang tidak dikehendaki suaminya karena dia takut terhadap suaminya.

Kecantikan wajah tidak menjamin kesejahteraan rumah tangga sedangkan kecantikan akhlaq merupakan kunci untuk mewujudkan rumah tangga bak sorga dunia. Berhati-hatilah dalam menentukan pendamping agar kita tidak menyesal karena penyesalan itu selalu terlambat datangnya.

  • view 265