Komunikasi Kesehatan (Sistem Komunikasi Indonesia)

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Mei 2016
Komunikasi Kesehatan (Sistem Komunikasi Indonesia)

 

Pembahasan kali ini, penulis akan menjelaskan mengenai sistem komunikasi Indonesia dengan kesehatn. kedua hal tersebut erat kaitannya dengan kehidupan kesehatan kita sebagai makhluk sosial. Dalam kesehatan, kita akan selalu melakukan aktifitas komunikasi.
Menurut Efendi (1995) Komunikasi itu sendiri diartikansebagai suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberikanatau untukmengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya bahasan mengenai kesehatan sendiri merupakan kajian dari WHO (1947) yakni kesehtaan adalah keadaan sehat, utuh secara fisik, mental dan sosial yang bukan haya suatu keadaanyang bebasdari penyakit, cacat, dankelemahan.
Komunikasi kesehatan itu sendiri ialah studi yangmempelajari bagaimanacara menggunakan strategi komunikasi untuk menyebarluaskan informasi kesehatan yang dapat mempengaruhi individu dan komunitas agar mereka dapat membuat keputusan secara tepat dalam pengelolaan kesehatan. Komunikasi kesehatan didefinisakan secara beragam sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses komunikasi.
Menurut Rosenstock (1974, 1977) dalam model dan teori perilaku kesehatan (Health and Belive Model), menjelaskan bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan dan sikap. Secara khusus bahwa persepsi seseorang tentang kesehatan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan . Lalu konsep kedua dengan model komunikasi/persuasi (Mc Guire, 1964) menyebutkan bahwa komunikasi dapat mengubah sikap dan perilaku kesehatan secara langsung pada kausal yang sama.
Input (stimulus) menjadi Output (tanggapan terhadap stimulus).
Perubahan pengetahuan dan sikap inilah yang selanjutnya merupakan pra kondisi dalam perubahan perilaku kesehatan. Seperti komunikasi kesehatan yang terjadi pada tradisi pesantren berikut.
Dalam tradisi pesantren di pedasaan, seorang santri atau ustad akan mengambil makanan yang jatuh ke tanah saat sedang makan, karena menurut mereka makanan yang jatuh bisa jadi berkah. Bertentangan dengan itu, dalam ilmu kesehatan makanan yang sudah jatuh ketanah tidak boleh lagi untuk dimakan, karena telah mengandung banyak kuman dan menyebabkan banyak penyakit. Penjelasan diatas mengisyaratkan bahwa budaya yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda dalam seseorang.
Pengembangan komunikasi kesehatan dalam kelompok akan berkaitan dengan proses-proses penyuluhan. Peran pemuka pendapat mutlak diperlukan. Dalam komunikasi kesehatan, pemuka pendapat berperan sebagai penerjemah dalam proses komunikasi.
Komunikasi kesehatan yang berkembang dalam tradisi pesantren, terjadi selain pada komunikasi antar pribadi juga terjadi komunikasi kesehatan kelompok. Proses penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui proses pengajar yang dilakukan di dalam pesantren oleh ustad masing masing.

Malang, 25 Mei 2016

KHOLIDIL AMIN
DIAN ARTIKA
SEPTI MAR'ATUS SHOLIKHAH
MARWAH ZADA RAHMATINA
WINDY HARIADI
AFIFAH DIAN RAHMANITA
MIFTAHUN NUR ISKANDAR

Department of Communication Science
Faculty of Social Science and Political Science
Brawijaya University, Malang

  • view 135