Jangan Tergesa-gesa!

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Agama
dipublikasikan 06 Mei 2016
Jangan Tergesa-gesa!

Suatu hari, saat Rasulullah SAW sedang melakukan shalat, beliau mendengar suara gaduh di belakang. Seusai shalat Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, apa gerangan yang telah terjadi, sehingga terdengar suara gaduh pada saat shalat. Para sahabat menjawab: “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat”. Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.” (HR Bukhari Muslim).

Tergesa-gesa adalah kondisi psikologis seseorang yang secara emosional ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, kosong dari pertimbangan fikiran. Tanpa pertimbangan terlebih dahulu, aktivitas yang dilakukan seseorang juga tidak akan produktif. Apa yang terjadi dengan beberapa sahabat Rasulullah SAW seperti dalam kisah di atas juga menggambarkan, bahwa bila shalat dilakukan dengan tidak tenang dan terburu-buru, maka shalat tidak akan khusyu’. Shalat yang tidak khusyu’ tentunya bukanlah shalat yang produktif, karena tidak menghasilkan pahala.

Yang dimaksud tergesa-gesa dalam hadits tersebut di atas adalah tergesa-gesa mendatangi shalat, bukan bersegera mendirikan shalat. Bersegera melaksanakan shalat justru dianjurkan karena shalat yang utama adalah “al-shalat ‘alaa waqtiha”, shalat pada (awal) waktunya. Yang dimaksud bersegera mendirikan shalat adalah, ketika mendengar adzan, segala aktivitas ditinggalkan dan tanpa menunda-nunda segera mendatangi masjid. Berbeda dengan tergesa-gesa seperti tersebut dalam hadits di atas, tergesa-gesa di sini maksudnya, ketika mendatangi tempat shalat, seseorang berjalan terburu-buru dengan kondisi emosional yang tidak tenang. Maka yang shahih/benar adalah, ketika mendengar adzan, segeralah tinggalkan aktivitas, ambil air wudu, berjalanlah ke tempat shalat dengan tenang dan jangan berlari-lari. Shalat adalah menata hati untuk bertemu dangan Allah.

Larangan tergesa-gesa ini merupakan aturan Islam yang mengandung nilai-nilai luar biasa. Orang yang tergesa-gesa biasanya tidak bisa mengontrol emosi dan pikirannya. Terkadang pikiran malah kosong dan emosi tinggi. Jika pikiran dan hati kosong, maka itu akan menjadi sarana setan. Sungguh benarlah sabda Rasulullah SAW:

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari setan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-‘Ajalah hadis no. 1935 juga terdapat dalamal-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik).

Imam al-Manawiy dalam Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan, bahwa tergesa-gesa dilarang karena hal itu akan mendatangkan was-was. Ketergesa-gesaan menghalangi keteguhan dan pemikiran matang. Al-Manawiy menambahkan bahwa tergesa-gesa itu sebenarnya adalah trik setan untuk menggoda manusia agar menjadi orang yang ragu dan kosong pikirannya. Imam Hasan al-Bashri mengatakan: ”Setiap shalat yang tidak disertai dengan hati yang hadir merupakan shalat yang lebih cepat mengundang siksa.” Ketergesa-gesaan inilah yang menyebabkan hati tidak bisa hadir. Amr bin ‘Ash mengatakan, tergesa-gesa yang dilarang adalah terburu-buru pada sesuatu selain keta’atan tanpa ada rasa khouf (takut) pada Allah.

Agar shalat bisa khusyuk dan khudlu’, al-Sayyid Abu Bakar al-Makki memberi tips. Jika anda hendak shalat, maka jangan lupa membayangkan bahwa Allah melihat kepada hatimu, mengamati kamu dan sesungguhnya Dia hadir untuk menyaksikan kamu. Imam Al Qutb Al Alhabib Abdullah Bin Alawiy Al-Haddad menambahkan, jika engkau tidak bisa khusyu’, maka buatlah suasana dirimu dalam shalat, seolah-olah engkau shalat pada saat itu untuk terakhir kalinya, di belakangmu sudah menunggu malaikat maut yang akan menjemputmu menuju kehadirat-Nya. Suasana diri dan hati inilah yang barangkali dimiliki para sahabat, sehingga ketika mereka shalat, mereka pun begitu tenangnya berdiri sehingga kepalanya dihinggapi burung karena burung ini mengira sebuah tiang. Sayyidina Ali r.a. lebih luar biasa lagi. Pernah suatu kali kaki beliau terkena panah ketika sedang berperang. Ali menyuruh para sahabat mencabut panahnya saat dia shalat, agar tidak merasa sakit. Begitu nikmatnya para salaf shalih kita berdekatan dan berkomunikasi dengan Allah. Inilah sebagian hikmah luar-biasa manakala kita dapat melakukan ibadah dengan tidak terburu-buru.

Hikmah lain yang dapat dipetik adalah terbentuknya karakter mukmin yang bijaksana. Hadits-hadits dan petuah para salaf shalih kita di atas secara lebih luas dapat dipahami sebagai pendidikan karakter untuk menjadi insan yang bijaksana (wisdom).

Dengan memegangi prinsip Amr bin ‘Ash seperti di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada ketergesaan yang positif. Tentunya tergesa-gesa yang positif ini bukan berarti tanpa pikiran matang dan terkesan emosional. Jika ada embel-embel positif, berarti sebenarnya sama dengan bersegera. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tergesa-gesa itu berasal dari setan, kecuali pada lima tempat, karena sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. yaitu: Memberi makan kepada tamu, jika menginap. Mengurus jenazah orang yang sudah meninggal. Mengawinkan anak perempuan jika sudah baligh. Membayar hutang jika telah jatuh tempo pembayarannya, dan bertaubat dari dosa jika terlanjur mengerjakannya.”

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah, bahwa dalam melakukan sesuatu aktifitas apa pun , seorang muslim harus memiliki pertimbangan matang agar tidak menyesal di belakang hari. Sikap sabar dalam hal ini berperan penting guna mengontrol emosi yang tergesa-gesa. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa” (HR. Bukhari).

Orang sabar kekasih Allah! orang yang tenang akan disayang Allah! Mari kita hiasi jiwa kita dengan sabar dan takwa. Insya Allah kita akan dapat berada dekat dengan Sayyidil Abrar, Nabi akhir zaman Muhammad SAW, sehingga akan dengan mudah kita menggapai cinta dan Ridho Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bisshowab

  • view 93