Tiada Kata Akhir Dalam Mendidik

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2016
Tiada Kata Akhir Dalam Mendidik

Pendidikan tak ubahnya ibarat mandi dan membersihkan badan. Ibarat merawat diri dan membersihkan daki dan kotoran. Karena tubuh kita senantiasa mengeluarkan keringat, daki dan kotoran, maka kita perlu membersihkannya setiap hari. Bisa jadi dalam setiap hari kita mandi dua hingga tiga kali. Tak pernah ada kata bosan atau berhenti untuk membersihkan kotoran di tubuh. Kita senantiasa ingin terlihat bersih setiap saat. Ingin terlihat indah setiap hari. Jika kegiatan mandi atau membersihkan diri tidak kita lakukan lagi, maka yang indah menjadi kusam, yang bersih menjadi kotor dan dekil.

Jika kegiatan membersihkan badan tanpa pernah bosan kita lakukan agar tercipta kebersihan dan keindahan, maka begitu pula halnya dengan pendidikan. Pendidikan harus kita lakukan setiap saat, setiap hari. Kegiatan yang bertujuan mendewasakan dan membentuk karakter terpuji pada anak manusia ini harus senantiasa dilakukan tanpa henti, bahkan harus selalu ditingkatkan.

Sebenarnya, sebelum ada konsep Barat yang bertajuk “Long life education“, Islam sudah menegaskan “Thalabul-ilmi minal-mahdi ilal-lahdi“. Artinya, bahwa pendidikan itu sudah harus dilakukan sejak dari pangkuan ibu hingga memasuki liang lahat, yakni sepanjang hidup manusia.

Kedua orang tua merupakan pendidik awal dalam rumah – tangga. Seorang ibu merupakan guru pertama yang sangat intensif dalam perjalanan kehidupan seorang anak manusia. Karenanya, maka seorang ibu memiliki peranan yang amat penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dengan begitu, maka tak ada pilihan bagi seorang ibu selain harus telaten dan bersabar dalam mendampingi, mendidik dan membentuk karakter akhlaqul karimah pada anak-anaknya. Sebab, jika pendidikan tidak dilakukan dengan baik maka akan menjadi masalah serius bagi kehidupan anak manusia. Kelak, orang tua pula yang akan ikut memikul tanggung – jawabnya.

Pusaka Paling Berharga

Kita wajib mendidik anak-anak dan membentuk karakter mandiri pada diri mereka, sebab mereka akan hidup pada suatu zaman yang berbeda dengan zaman kita. Tidak selamanya kita mendampingi mereka. Tak ada pusaka yang lebih bermanfaat yang ditinggalkan orang tua kepada anak selain kepribadian mulia si anak sebagai hasil dari proses pendidikan yang baik oleh orang tuanya. Anak yang saleh merupakan mata rantai yang tak pernah putus yang dapat memberikan manfaat (siraman pahala) kepada orang tuanya meskipun mereka telah wafat. Nabi SAW bersabda :

Jika manusia telah mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya” (HR At-Turmudzi dari Abu Hurairah r.a.)

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan misi terciptanya manusia di muka bumi ini, yakni misi menghambakan diri kepada Penciptanya sebagai perwujudan rasa syukur. Wujud penghambaan diri yang paling kongkrit adalah dengan menjalankan ibadah shalat. Shalat merupakan performa paling nyata dari keimanan dan kehidupan beragama seseorang. Shalat dapat memberikan makna kehambaan dan kemanusiaaan yang sesungguhnya. Shalat yang benar dan baik dapat memberikan kontrol yang sangat positif pada pelakunya.

Dari pentingnya pendidikan shalat, maka sejak usia tujuh tahun seorang anak wajib dididik untuk menjalankan shalat. Pendidikan bukanlah sekedar mengajarkan tata-cara shalat kepada anak secara verbal. Pendidikan seharusnya meliputi: pengajaran, pembelajaran, pendampingan, pembentukan karakter dan kepribadian, pembiasaan serta pemberian contoh langsung kepada anak didik. Anak lebih tertarik untuk meniru hal-hal yang bersifat kongkrit dan visual. Oleh sebab itu maka pendidikan shalat harus diajarkan dengan memberikan contoh langsung dan mendampingi mereka dalam menjalankannya.

Sejak seorang anak genap berusia 10 tahun, orang tua diperintahkan untuk memberikan tindakan tegas kepada mereka jika mereka meninggalkan shalat dengan cara memukulnya dengan pukulan yang tidak sampai mencederai fisik. Pukulan itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran yang menjadikan anak rasa jera dan tidak mengulangi lagi tindakan meninggalkan shalat. Ini sama sekali bukanlah sebuah tindak kekerasan dalam pendidikan, melainkan tindakan tegas demi masa depan kehidupan keagamaan sang anak. Sebab shalat merupakan pokok ibadah yang akan menjadi jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Jika seseorang terbiasa memberikan toleransi pada anaknya ketika ia meninggalkan shalat, maka anak bisa saja memiliki pikiran bahwa shalat itu boleh ditinggalkan, atau shalat itu tidaklah penting, atau shalat hanya diwajibkan bagi yang mau saja sehingga ia akan terbiasa meninggalkan ibadah yang satu ini. Padahal dengan meninggalkan shalat secara langsung seseorang telah mulai kehilangan identitas keislamannya. Meninggalkan shalat berarti merobohkan tiang agama dari dalam.

Ibu Pondasi Pendidikan Anak

Ibu merupakan sosok yang lebih dekat pada anak-anaknya khususnya dalam usia pertumbuhan. Oleh karenanya, pentingnya pendidikan shalat harus dipahami oleh seorang ibu, sehingga hal itu menjadi prioritas dalam mendidik anak-anaknya. Ibu harus menanamkan pemikiran kepada anak-anaknya bahwa shalat merupakan hal yang paling penting dalam hidup di dunia ini. Selain kegiatan ibadah, maka sesungguhnya isi dari kehidupan dunia tak lebih dari hal-hal yang bersifat hewani dan permainan belaka. Ibu harus menanamkan suatu pemahaman di lubuk hati anaknya bahwa tak ada sesuatu pun yang lebih bernilai daripada shalat khususnya dan ibadah pada umumnya.

Pada konteks modern ini banyak orang tua yang lebih memikirkan masa depan anak-anaknya dalam arti pekerjaan apa yang patut bagi anaknya kelak. Memang tidak salah memikirkan masa depan anak terkait pekerjaannya kelak. Tidaklah keliru memikirkan kesejahteraan diri dan keluarganya kelak. Akan tetapi, adalah suatu kerugian besar jika urusan agama seperti shalat lima waktu tidak pernah disentuh atau disinggung dalam rumah – tangga. Pendidikan agama harus menjadi prioritas. Pendidikan agama semestinya mendapat porsi yang memadai dengan penyediaan landasan hukum dan regulasi yang mendukung jika benar-benar ingin mencetak manusia yang beriman dan bertakwa.

Perintah shalat dalam al-Qur’an hampir tidak terhitung jumlahnya. Ini membuktikan betapa pentingnya mendirikan shalat dalam rangka membangun kesadaran jiwa yangkhusyu’, jiwa yang tenang dan tidak hanya diliputi oleh hal-hal keduniawian. Jiwa yang dimaksud adalah jiwa yang bercita-cita mendapatkan keridhoan Tuhannya, yakni jiwa-jiwa yang akan mendapat panggilan kehormatan di sisi Allah SWT kelak. Jiwa-jiwa ini rela kepada Tuhan mereka dan Tuhan pun rela kepada mereka. Adalah suatu kemuliaan yang luar biasa manakala ibu-ibu mampu mewujudkan generasi dengan jiwa seperti itu. Itulah kemuliaan yang tak ternilai oleh kilau duniawi. Kemuliaan yang hakiki bagi kaum Hawa.

Pendidikan anak membutuhkan lingkungan yang kondusif dan mendukung. Jika hanya kata-kata bijak saja yang kita pesankan kepada anak-anak, tidak disertai dengan tindakan kongkrit, maka efek yang timbul akan semu. Sebagai contoh, kita mendidik anak-anak agar membiasakan diri mengenakan jilbab. Sementara itu, sang ibu sendiri tidak mengenakan jilbab saat keluar rumah. Hal ini tentu akan menimbulkan protes: mengapa ibu mereka tidak melakukan hal yang justeru mereka perintahkan kepada anak-anaknya?

Demikian pula dengan kegiatan mengaji dan menjalankan ibadah shalat. Anak memerlukan bimbingan langsung berupa guru dan lingkungan yang menjalankan kegiatan mengaji dan shalat dengan istiqamah, terutama di dalam rumah – tangga. Anak adalah amanah Allah kepada orang tua. Hal paling wajib yang harus dilakukan oleh orang tua untuk kebaikan anak-anaknya adalah mendidik mereka dengan benar. Tak ada cara yang lebih bijaksana dan efektif dalam mendidik dari pada pemberian contoh langsung kepada anak-anak kita. Memberikan contoh tentu akan jauh lebih bermanfaat dan berdaya-guna….!

  • view 119