Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Dengan Pendidikan

Kholidil Amin
Karya Kholidil Amin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2016
Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Dengan Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan dan keniscayaan dalam kehidupan manusia. Manusia terlahir tidak dalam keadaan langsung pintar. Tak ada manusia yang keluar dari perut ibunya dengan berilmu. Manusia tidak mengerti segala hal dengan begitu saja. Untuk menjadi manusia berpengetahuan dan berperadaban, manusia perlu dididik. Pendidikan bukanlah hal baru dalam sejarah karena usia pendidikan adalah setua usia manusia hadir di bumi ini. Sebagai manusia pertama, Adam mendapatkan pendidikan dan pengajaran langsung dari Penciptanya, yakni Allah SWT Tuhan semesta raya.

Filosofi dan agama sama-sama menganggap perlu dan penting keberadaan pendidikan. Keduanya menjadikan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Ayat yang pertama diturunkan dalam al-Qur’an juga menyinggung masalah pendidikan. Begitu pula para utusan Allah, mereka diberi tugas mendidik dan mengajarkan kepada umat manusia apa yang akan menjadi jalan kebahagiaan mereka di dunia hingga akhirat. Terkait pendidikan manusia ini Allah SWT berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur

Kegiatan pendidikan harus memiliki visi yang jelas agar bisa mencapai target dan tujuan yang jelas pula. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berorientasi moral dan ukhrawi. Sebagaimana tersirat pada ayat di atas, pendidikan diselenggarakan agar manusia berusaha mencari pengetahuan yang pada akhirnya dapat membuat manusia bersyukur kepada Tuhan-nya. Bersyukur kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan benar. Menurut para ulama, bersyukur adalah mempergunakan nikmat yang diberikan Allah SWT untuk beribadah. Bersyukur dilakukan baik dengan hati, lisan maupun perbuatan.

Sumber-sumber Ilmu

Ilmu manusia bersumber dari dua hal. Pertama, dari sunnatullah (hukum alam) yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu filsafat semacam ilmu logika, ilmu bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, psikologi, sosiologi, patologi dan ilmu-ilmu lain yang bersifat empiris. Semuanya merupakan ilmu yang dihasilkan oleh rumusan pemikiran manusia setelah mengenali dan mengamati hukum-hukum alam yang ada (filsafat). Ilmu-ilmu itu pada dasarnya merupakan anugerah Allah kepada umat manusia yang diinspirasikan oleh-Nya melalui pemikiran dan logika manusia.

Ilmu-ilmu yang bersumber dari filsafat tersebut (sains) sangat penting bagi kemaslahatan dan perkembangan peradaban manusia. Dengan sains dan teknologi sebagai aplikasinya, maka kehidupan umat manusia semakin mengalami kemudahan dan efisiensi. Mempelajari, mendalami dan mengamalkan sains dan teknologi merupakan bagian dari tugas khilafah manusia di muka bumi. Allah telah menyediakan segala fasilitas bagi kehidupan manusia di bumi dan manusia memiliki tugas untuk mengelolanya semaksimal mungkin sehingga kemudahan dalam hidup kian dirasakan.

Kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya andai saat ini kita hidup tanpa listrik, tanpa mesin, tanpa alat transportasi modern, atau tanpa teknologi canggih lainnya pada umumnya. Adalah merupakan kebijaksanaan dan anugerah Allah SWT ketika populasi manusia kian meledak, teknologi pertanian dan semacamnya yang terkait langsung dengan hajat hidup manusia ditemukan dan kian inovatif. Kehadiran sains dan teknologi merupakan bagian yang amat vital bagi keseimbangan ekosistem.

Jadi, dalam rangka mencapai kemajuan agar tidak menjadi bangsa yang tertinggal, umat Islam harus terus berupaya mengembangkan diri di pelbagai aspek dengan mempelajari ilmu pengetahuan. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk mempelajari sains. Tetapi meski demikian, umat Islam wajib waspada, memilah dan memilih ilmu-ilmu yang bersumber dari filsafat, sebab pada faktanya banyak kita dapati teori-teori filsafat yang bertentangan dengan paham dan nilai-nilai Islam.

Pemikiran-pemikiran yang mengarah pada materialisme dan sekularisme harus kita antisipasi agar tidak sampai meracuni generasi Islam. Ini sama sekali bukan masalah sikap skeptis pada ilmu-ilmu yang muncul dari Barat tersebut. Tetapi lebih pada upaya filterisasi informasi dan pengetahuan yang berseberangan dengan paham Islam, khususnya Ahlussunnah wal-Jama’ah. Tujuannya tak lain demi tercapainya kebahagiaan di kehidupan dunia ini dan utamanya di akhirat nanti.

Sebagai contoh hal di atas adalah keberadaan teori evolusi dan upaya-upaya “rasionalisasi” ajaran agama yang hanya akan berujung pada kekufuran pada penciptaan alam semesta (sekularisasi). Teori evolusi yang pada intinya mengingkari penciptaan alam semesta itu merupakan virus pemikiran yang mengancam nilai-nilai keimanan pada informasi samawi (kitab-kitab suci Allah). Teori yang dikukuhkan oleh Charles Darwin tersebut jangan sampai menjadi bagian dari paham yang akan diyakini oleh generasi muda kita khususnya dan umat Islam pada umumnya. Teori ini sangat bertentangan dengan hati nurani dan bukti-bukti kongkret realitas penciptaan.

Agama, Sains dan Teknologi

Islam sama sekali tidak bersikap antipati pada ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi. Islam sebenarnya bahkan sangat mendukung. Allah mempersilahkan manusia untuk melakukan eksplorasi ruang angkasa maupun perut bumi jika manusia memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Hal itu bisa kita simak dari firman-Nya:

Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah! Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)” (QS Ar-Rahman [55]: 33).

Konsep pemikiran yang bertentangan dengan dalil-dalil agama yang jelas, semisal pemikiran bahwa alam semesta dan isinya ini bukanlah merupakan sebuah kreasi (diciptakan) oleh satu subyek, yakni Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetapi bahwa semesta ini menjadi ada karena ia memang harus ada atau menjadi ada karena efek sebuah proses evolusi yang tidak berujung, adalah pemikiran yang wajib kita tolak dan kita ingkari. Dalam alam semesta bukan tidak ada yang namanya proses evolusi, tetapi jika yang dimaksudkan dengan evolusi itu adalah nafinya sebuah penciptaan, maka itu merupakan kebodohan dan kegelapan berpikir yang dikemas dengan bahasa-bahasa sains.

Alam semesta ini bukanlah suatu keniscayaan atau obyek tanpa pencipta. Ia adalah efek dari sebuah penciptaan Sang Pencipta dengan pengetahuan, kehendak dan kuasa-Nya. Kekufuran dalam berpikir sebagaimana di atas timbul dari kesalahan dalam melakukan pengamatan terhadap semesta. Wajar jika para ulama mengingatkan umat ini agar selektif dan waspada terhadap beberapa cabang filsafat. Ulama menyerukan agar Al-Qur’an dan sunnah didalami terlebih dahulu sebelum mempelajari filsafat.

Al-Ghazali adalah contoh sosok cendekiawan Muslim fenomenal yang mendukung agar filsafat dipelajari oleh umat Islam. Tetapi beliau menegaskan bahwa hal itu harus kita dasari sebagai suatu upaya untuk mengantisipasi merasuknya paham-paham sekuler dalam tubuh umat Islam. Seseorang yang ingin mendalami ilmu-ilmu yang bersumber dari filsafat, haruslah melengkapi diri dengan basic agama yang kuat. Ia harus memahami dengan benar terhadap Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Pemikiran manusia mudah dimanipulasi oleh sebuah gagasan dan persepsi yang tampak logis dan rasional, namun sebenarnya jauh dari kebenaran.

 

Wahyu Sebagai Sumber Agama

Sumber kedua dari ilmu adalah wahyu Tuhan (dinullah). Berbeda dengan ilham yang bisa diterima oleh banyak manusia, maka wahyu ini hanya diberikan Allah kepada sebagian kecil hamba-Nya saja, yaitu para utusan dan nabi-Nya. Sebagai kebiasaan (sunnah)-Nya, Allah menyampaikan wahyu melalui Malaikat Jibril (Gabriel). Ilmu yang bersumber dari wahyu adalah ilmu agama. Ilmu tentang moral kepada Tuhan dan sesama, bukan ilmu-ilmu yang bersifat empiris. Misalnya informasi mengenai eksistensi Allah dengan segala ‘sifat’-Nya, keberadaan makhluk gaib seperti para malaikat dan jin, serta informasi-informasi menyangkut kiamat, akhirat dan kehidupan pasca kematian.

Pengetahuan mengenai hal-hal diatas tidak bersifat empiris, melainkan harus diyakini dengan mengedepankan keimanan (sikap percaya sepenuhnya). Ilmu pengetahuan (sains) manusia tidak dapat menjangkau hal-hal yang gaib tersebut. Ada pun hati yang beriman bisa menerima dan yakin akan hal itu. Kadang, hal yang paling nyata yang kita rasakan justeru tidak tampak oleh mata kita. Meskipun wahyu diturunkan kepada orang-orang yang dipilih-Nya, Allah memerintahkan para penerima wahyu (rasul-rasul-Nya) untuk menyampaikannya kepada sebagian atau seluruh umat manusia.

Wahyu (agama) diturunkan oleh Allah SWT dalam rangka memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia agar mereka mengerti adanya kekuatan di luar diri dan pengetahuan empiris mereka, untuk kemudian dijadikan sebagai jalan hidup (way of life) demi keselamatan dan kemaslahatan umat manusia sendiri. Ini merupakan pilihan dan aturan (sunnah) Allah atas hamba-Nya. Jika berkehendak, Allah bisa saja memberikan petunjuk secara langsung kepada setiap hati manusia. Tetapi Allah memiliki otoritas penuh melakukan apa pun sesuai dengan kehendak dan pilihan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik semesta ini.

Tidak semua manusia bisa menerima ilmu yang bersumber dari agama (wahyu) ini. Bahkan kebanyakan manusia tidak dianugerahi ilmu yang akan jadi sarana penyelamat dunia-akhirat itu. Allah SWT berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Ar-Rum [30]: 30).

Jadi, pendidikan ideal adalah pendidikan yang dilandasi oleh moral agama, sebab dalam pendidikan agama sudah tercakup pendidikan duniawi. Islam tidak mengesampingkan pendidikan duniawi, tetapi orientasi ukhrawi harus dijadikan landasan bagi penyelenggaraan pendidikan agar tercapai tujuan mewujudkan manusia yang beriman, bertakwa dan berkualitas. Manusia seperti ini berpotensi mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama yang fitrah. Kejayaan dunia tak akan punya arti jika hanya akan melahirkan kerugian tiada tara di akhirat kelak.

Orang mukmin maupun orang kafir semuanya mendapatkan rahmat Allah di dunia fana ini. Sekali pun demikian, Allah mengkhususkan kebahagiaan di alam akhirat hanya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa saja. Maka betapa ruginya jika pendidikan hanya diarahkan pada orientasi duniawi semata. Bagaimana ketakwaan dapat terwujud jika pelajaran agama tidak mendapatkan porsi yang cukup dalam dunia pendidikan.

 

  • view 172