Aku Ingin Mengikhtiarkanmu dengan Cara Baik-baik

Latifatul Khoiriyah
Karya Latifatul Khoiriyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2018
Aku Ingin Mengikhtiarkanmu dengan Cara Baik-baik

Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Tujuh hari dalam seminggu. Berulang-ulang hingga sekarang. Aku tumbuh, mempunyai cita-cita, lalu mendewasa. Semakin hari aku semakin paham, bahwa hari-hari sendiri seperti ini suatu saat pasti akan diakhiri. Diakhiri dengan baik tentu saja. Dan aku mulai mengenal kamu, dalam suatu waktu yang Tuhan tentukan sebagai hari yang teramat istimewa.

Aku menjalani hari-hari sendiriku seriap hari. Tujuh hari dalam seminggu. Berulang-ulang hingga sekarang, bahkan setelah bertemu kamu. Posisiku yang sebagai perempuan tidak memungkinkan untuk membicarakan apapun yang berhubungan dengan perasaan. Pun tidak pula perlu aku melakukannya karena tak akan merubah apapun.

Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Aku berusaha mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Belajar bersama teman, berjalan-jalan, ke perpustakaan, menjalankan amanah, belajar membaca Al-Qur’an kembali, hadir di berbagai majelis ilmu (yang terkadang kutemui sosokmu hadir pula di sana), membantu Ibu memasak, dan  mengisi waktu luang dengan membersihkan sudut-sudut rumah (yang esok mungkin juga jadi rumahmu).

Aku dan kamu adalah seorang teman. Kita selalu punya waktu untuk berbincang (yang tak jarang terisi dengan ledakan tawamu karena satu hal yang lucu). Kita bahkan punya waktu diskusi berdua saja, meski hanya terjadi sekali-sekali. Tapi, kita tidak pula terlalu dekat. Aku selalu tak pernah tahu kamu sibuk apa saja hari ini.

Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Dan kamu pun begitu. Kita, sama-sama mendewasa setiap harinya, di tempat yang berbeda.

Aku mungkin punya seribu satu alasan untuk menghubungimu, sekedar bertanya kabar atau meminjam buku. Tapi satu alasan cukup membuatku urung melakukannya. Aku perempuan. Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Tanpa pertemuan-pertemuan tak beralasan, tanpa perbincangan basa-basi yang bersandar pada kepentingan dibuat-buat, tanpa gejolak berlebihan, serta naik-turunnya perasaan yang sulit dikendalikan.  Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Menyertakan namamu dalam doa di setiap pagi. Tersenyum dan berbincang sekadarnya. Mendukung cita-citamu semampunya  karena aku belum menjadi (atau bahkan bukan) siapa-siapa.

Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Aku, ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Dengan cara yang tak membuat Tuhan dan hamba-hambanya cemburu. Cara yang penuh keikhlasan. Cara yang tak akan menyakitkan bila kamu ternyata bersama orang lain.

  • view 67