Sebongkah Ketabahan

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 November 2016
Sebongkah Ketabahan

Kau tahu apa yang hebat dari sebuah ketabahan?

Gemuruh langit masih terdengar jelas merambat di udara. Dari balik jendela kedai kopi, hujan masih deras turun. Dua cangkir kopi telah habis kami seruput senja itu. Dua cangkir kopi yang berbeda. Dingin dan panas. Pahit dan manis. Tak ada yang paling enak di antara keduanya. Kopi itu memiliki penikmatnya sendiri. Sama seperti kami yang berbeda. Mengapa perbedaan kerap menimbulkan perdebatan?

Namaku Binar, Aku ingin menceritakan sebuah kisah pada kalian. Sebelum aku duduk di sini bersama adikku dan menikmati secangkir kopi, aku pernah membencinya. Menurutku ia menyebalkan. Ia terlalu menggampangkan banyak hal. Menganggap hidup itu seperti permainan. Tak pernah serius menjalani kehidupannya. Ia lelet. Meski kuakui ia tidak manja. Usianya 20 tahun. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya tegas, matanya sayu. Aku kerap mengejeknya lelaki bermata sendu. Senyum tak pernah luput dari wajahnya. Jika aku mulai memarahinya, ia akan tertawa kecil lalu kemudian mengerjakan apa yang kuperintah.

Kamu pernah mengalami kehilangan? Aku yakin semua orang pasti pernah mengalaminya. Kehilangan bagiku identik dengan kesepian dan kekosongan. Terkadang kita tak pernah siap berpisah. Aku sedang mengalaminya. Kuliahku berantakan. Aku kedapatan dosen pembimbing yang sulit ditemui. Ia terlalu sibuk. Kawankawanku sudah mulai lulus dan bekerja.  Lalu kemudian kehidupanku mulai menuntut. Orangtuaku selalu menuntutku lulus kuliah. Mereka ingin melihatku wisuda. Kawan dan tetangga selalu bertanya kapan lulus.

Orang lain selalu mudah bertanya tanpa tahu betapa berat aku berjuang.

Aku mulai kehilangan diri sendiri. Hal itu berimbas pada sekelilingku. Satu persatu aku mulai kehilangan mereka. Aku yang pergi atau mereka yang pergi? Entahlah. Aku mulai akrab dengan kesepian dan kesendirian. Aku sempat membenci hidupku, membenci orang-orang yang menuntutku, juga membenci adikku yang terlihat hidup baikbaik saja. Orangtua kami membandingkanku dengannya.

“Apa yang bisa dibanggakan dari seorang lelaki lelet seperti dia?”

Meski begitu, adikku tak pernah menanyakan kabar kuliah kakaknya. Kami memang jarang bicara. Saat itu Selasa, aku mendapat kabar bahwa ayah dipecat dari perusahan tempat ia bekerja, sedangkan ibuku hanyalah ibu rumahtangga. Aku semakin frustasi. Aku mulai memikirkan kelanjutan pendidikan adikku, yang berarti aku harus segera bekerja membantu biaya pendidikannya.

Kemarahanku memuncak ketika pagi hari aku melihatnya masih tertidur. Aku membangunkannya dan memarahinya. Mengeluarkan semua uneguneg dari pikiran. Kegelisahanku, kemarahanku selama ini, kelelahanku pada hidup, serta kebencianku. Aku benci pada ia yang masih asyik tidur seakan hidup baikbaik saja.

Ia menatapku lekat. Mendengarkan semua luapan emosiku. Kali ini ia tidak tersenyum kecil seperti biasanya.

 “Kakak tahu apa yang hebat dari sebuah ketabahan?”

Mataku masih nanar menatapnya.

"Ia akan datang saat kakak membutuhkannya, dan mempersilahkannya hadir”

Mendengar jawaban singkat itu, bendungan tangisku jebol. Semua marah dan benciku luruh seketika. Airmataku masih mengalir. Namun kali ini, sungguh benar menangisi kebodohanku sendiri. []

  • view 601