Ibu Malaikat

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 November 2016
Ibu Malaikat

PEKAN ketiga September 2016, aku berangkat ke sebuah negara yang sering disebut sebagai Negeri Tirai Bambu (China), untuk menjalankan program pendidikan dual degree. Program yang sangat kuinginkan saat pertama kali masuk perguruan tinggi. Semua seleksi berkas untuk beasiswa kulalui dengan semangat membara. Bahkan ketika ketidakpastian program tersebut berembus, aku masih menanam keyakinan bisa menjalani program tersebut. Perasaan senang, sedih, manis, pahit, dan getir, semua berkecamuk di bulan ini. Aku membatin, September, akan kujadikan bulan paling bersejarah pada 2016 ini. 

Saat hari keberangkatan, anggota keluargaku jadi semangat bangun lebih pagi. Mereka bersiap mengantarku ke Bandara Soekarno-Hatta. Ibu, bapak, adik, dan abang beserta keluarganya, rela izin tidak berangkat sekolah dan bekerja hanya demi mengantarku. Hari itu, aku merasa beroleh nikmat besar dari Allah. Aku memeluk ibu dan bapak dengan perasaan yang sangat mendalam sebagai anak. Mengingat akan semua yang mereka lakukan demi keberangkatanku ini. Sedari menyemangatiku ketika seleksi yang kian tak pasti, sampai mempersiapkan segala kebutuhanku untuk berangkat. Hal itu yang membuatku sadar betul, ada harapan besar di pundakku yang harus membuat mereka bangga.

 Perjalananku menuju China kerap diwarnai perasaan rindu pada orangtua, dan sebaliknya. Telepon genggamku tak berhenti berdering menerima pesan dari mereka yang isinya menanyakan banyak hal—termasuk hal sepele seperti sudahkah aku makan? Berganti pakaiankah di bandara? Mereka juga tak lupa memintaku memotret segala kegiatan.

 Setiba di China, aku mendapat pesan singkat di grup percakapan, bahwa kami yang mendapat beasiswa mendapat masalah. Aku mencoba untuk tetap semangat dan memberi kabar baik kepada orangtuaku. Aku selalu berkata bahwa semua proses berjalan lancar, walaupun kenyataannya aku belum bisa registrasi perkuliahanku. Sebab keyakinanku, semua masalah itu akan terselesaikan dengan cepat.

 Malam itu, 14 September pukul sebelas malam, tepat dimana esoknya adalah hari ulang tahun ibu, aku mendapat pesan singkat yang menyatakan bahwa aku harus pulang ke Jakarta untuk menjelaskan segala tuduhan yang dilontarkan padaku yaitu berbuat kriminal dan tidak beretika. Perasaanku hancur seketika malam itu, jantungku seolah berhenti, pikiranku kacau tak karuan. Aku menangis sejadi-jadinya. Harapan hidupku seolah hilang begitu saja. Pada waktu yang sama pula, ibu seketika mengirim pesan bahwa ia tidak bisa tidur karena kepikiran anaknya yang sedang jauh di negeri orang. Ibu bahkan sempat menanyakan apakah hari itu aku sedang bahagia.

 Perasaan seorang ibu dan bapak memang tidak pernah salah. Aku memberanikan diri membalas pesan ibu, bahwa aku harus pulang ke Jakarta, meminta maaf karena tidak bisa memenuhi semua harapannya, mengecewakan mereka, dan hanya bisa membuat malu orangtua. Berulang kali aku memohon maaf. Meski rasanya takkan cukup jika dibandingkan dengan semua yang telah mereka keluarkan. Aku meminta ibu untuk menjelaskan pada bapak, karena beliau adalah lelaki pertama yang menaruh harapan paling besar padaku.

 Balasan pesan singkat pun kubaca. Semua di luar dugaanku. Ibu berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ia memintaku agar segera pulang menyelesaikan masalah dan tidak perlu mengkhawatirkan semua uang yang telah mereka keluarkan. Terlebih, di pesan tersebut, iIbu menyemangatiku selalu dan akan menjelaskan pada bapak. Aku merasakan betul segala kasihnya malam itu, dukungannya yang tak pernah berhenti. Ia seperti malaikat penjagaku di dunia ini.

 Hal tersebut yang membuatku memberanikan diri mengirim pesan suara tepat pukul satu malam. Aku mengucapkan selamat atas hari ulang tahun ibu dan berterimakasih atas segala kasihnya. Tak lupa kuucapkan, bahwa aku sangat menyanginya. Lalu, kuhentikan tangisku. Malam itu juga, dengan dibantu temanteman, aku membeli tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia, mengemasi pakaian, lalu berbaring di atas kesedihanku.

 Perjalanan pulang keesokan hari seolah menjadi perkara tersulit. Hujan badai harus kulalui. Dengan bermodalkan bahasa Inggris dan doa dari ibu dan bapak, kusiapkan mentalku melalui perjalanan panjang berikutnya. Sayang, pesawat yang kunaiki tertunda karena badai topan. Perasaan panik bukan kepalang mulai kurasakan. Secepat mungkin aku mengabari ibu. Agar ia tenang dan berpikir aku baik-baik saja. Tetapi nyatanya salah. Ibu panik sejadinya dan jatuh sakit, karena aku seorang perempuan, pertama kali di negeri orang, dan aku, sendirian.

 Setiba di Jakarta, aku langsung berlari menuju ibu dan bapak yang ternyata sudah menunggu satu jam lamanya. Aku peluk mereka tanpa satu kata pun. Ucapan ibu memecah keheningan pertemuan kami, bahwa setiap masalah harus dihadapi dengan hati ikhlas dan mengambil hikmahnya. Kami pun menunggu sahabatku, Desy, yang telah kuminta menjemput dan membawakan kue untuk ibu. Kami mulai berbincang tentang duka selama perjalananku dan ditutup dengan tangisan yang lebih mengharukan, bahwa kami sekeluarga dapat merayakan hari ulang tahun ibu, bersama.

 Pada hari-hari yang sarat fitnah dan tuduhan yang pernah kulalui itu, aku memetik pelajaran berarti. Perasaan manusia selalu berubah. Akal pikirannya kerap terabaikan. Menjatuhkan orang lain demi kepentingan pribadi, seolah perbuatan lumrah. Satu-satunya yang pasti dan akan selalu menguatkan kita saat mengalami itu semua, adalah doa dan dukungan orangtua. Malaikat kita tercinta. []

  • view 310