Rindu yang Mencari Rumahnya

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Rindu yang Mencari Rumahnya

Aku meyakini setiap manusia memiliki kerinduan pada tuhan. Sejauh apa pun kita pergi dari rumah, kita pasti berbakat merindukannya. Lalu bagaimana jika kita pergi menjauh dari tuhan? 

 

Seorang yang mengaku tidak bertuhan sekali pun, sebetulnya ia sedang merindukan tuhan. Nyatanya ia tetap mencari tuhan, meskipun berujung penyangkalan. Apalagi kita yang sudah kadung percaya berkat didikan ayah dan ibu. Ke mana lagi kita mengadu saat gundah gulana? Pasti ada doa selaiknya anak mengadu pada ibunya. Bukankah kita berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Bagaimana mungkin tidak merindu?

 

Dulu aku terjebak dalam kenakalan remaja. Beruntung kepelikan hidup buah dari perbuatanku sendiri, mengingatkanku. Seiring waktu aku ingin berubah, tapi tiada daya menghadapi diri sendiri. Perang besar umat manusia yaitu berperang menghadapi diri sendiri, demikian pesan Nabi Muhammad Saw. Pada saat kesadaran datang di antara dosa dan salahku, aku berdoa agar diampuni dan ditunjukan jalan lurus.

 

Barangkali doaku dijabah dengan kesendirian yang datang kemudian, dalam kehidupanku. Teman yang semula dekat, mendadak hilang. Mereka yang menyediakan dirinya untuk berteman pun gagal kudekati. Lama kelamaan aku pun akhirnya akrab dengan kesendirian. Aku jadi lebih banyak merenung dan berfikir.

 

Buah manis perenunganku adalah sebuah pencarian panjang menemukan hakikat hidup. Agama menjadi perhatianku yang paling serius dalam hal ini. Sudah sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama aku gelisah dengan semua agama yang ada. Aku sering kali merasa tidak nyaman karena menjadi berbeda dari kebanyakan siswa yang mayoritas Muslim. Terkadang aku juga menghadapi pertanyaan dan pernyataan yang memojokkan kepercayaan dan keyakinanku. Bahkan sejak masih kanaklkanak hal serupa sudah sering terjadi. Tapi rupanya baru setelah mendapat pengalaman kesendirian, aku mulai berani mempertanyakannya. Jika agama diciptakan untuk kebaikan, kenapa justru banyak dari sumber masalah di muka bumi ini adalah agama. Jika agama adalah cinta, kenapa kita malah bertikai karenanya.

 

Pencarianku perlahan mengerucut dan memusat pada Islam. Banyak hal yang membuatku kagum pada agama ini. Satu di antaranya saat aku menangisi Nabi Muhammad di masa awal pencariaku. Aku menangis karena seketika merindu pada sosoknya yang agung. Fahd dengan bukunya Menatap Punggung Muhammad, adalah perantara tangisanku.

 

Tangisan demi tangisan berikutnya banyak disebabkan oleh karena kebebalanku sendiri. Meski hidayah telah datang beberapa kali, hidupku masih juga menguap siasia. Jalan mana yang harus aku pilih pun masih samar meninggalkan keraguan. Sementara dada serasa sesak karena belum juga menemukan jalan kerinduan pada Yang Maha Menciptakan. Dalam doa aku berserah untuk ketidakmampuanku menafsirkan hidupku sendiri.

 

Hari Kamis malam saat sedang duduk mengaji, guru yang selama ini kumintakan pendapatnya tibaltiba menanyakan kesanggupanku mengikrarkan dua kalimat syahadat. Padahal masalah ini sudah kami diskusikan sebelumnya, kalau hari jadiku dengan Islam masih setahun lagi. Tanpa perlu konfirmasi akal fikiran, pertanyaan yang langsung mencerahkan hatiku dalam haru itu, segera kuiyakan. Selang beberapa pekan kemudian, jelang Ramadhan 2013, mulailah aku menjadi Muslim atas izin Allah.

 

Ternyata sesudah menemukan pijakan, hidupku tidak juga jauh dari gelisah. Pertanyaan besar muncul berikutnya, bahkan lebih runyam, "mau diapakan hidupku selanjutnya?" Aku bahkan nyaris kehilangan diri karena urung mengetahui hidup yang seharusnya seperti apa. Padahal kehilangan terbesar dalam hidup ini adalah kehilangan diri sendiri. Lalu sekali lagi aku berdoa-berserah untuk semua ketidakmampuanku lagi menafsirkan hidup sendiri.

 

Sungguh Allah Pengasih lagi Mahapenyayang. Lalu nikmat Tuhanku mana lagi yang mau didustakan. Pertolongan-Nya justru datang saat aku sedang mencoba 'ngawur.' Lagi, aku dipertemukan dengan jalan yang mulia. Aku diberi lagi kesempatan bertemu dan belajar dengan seseorang yang mau membimbingku dalam Islam dan laku hidup. 

 

Impianku belajar di pondok pesantren bahkan dikabulkan Allah dengan cara yang tidak kuduga. Hingga hari ini aku diperkenankan Allah untuk menjadi santri. Seorang santri kehidupan, demikianlah kami memaknainya. Tiada hari yang kulewatkan tanpa belajar. Di bawah payung Khatulistiwamuda, sedari pendidikan, budaya, hingga ranah spiritual, kami jelajahi. Pencarianku masih berlanjut. Selayaknya santri, aku kini terus mencari dan menimba ilmu agar kelak bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan umat manusia. []