Tentang Kesendirian dan Kesabaran yang Jauh

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Tentang Kesendirian dan Kesabaran yang Jauh

“Bahagia adalah tentang bagaimana mengolah rasa bersyukur...”

~Gus Candra Malik

 

 

HIDUP DITEMANI KESENDIRIAN terkadang sangat membingungkan. Sedangkan manusia adalah mahluk sosial yang gemar nongkrong dan ngobrol. Meskipun sejatinya jarang sekali manusia bisa benarbenar merasa sendiri dan sepi. Banyak dari kita yang takut sendiri. Entah dalam konteks tak punya pasangan atau sendiri di sebuah tempat. Karena kita terbiasa hidup dengan keramaian. Kita lupa merasakan bagaimana kesendirian itu dapat berubah menjadi teman.

Padahal, sejak perjalanan dari alam ruh hingga menuju alam rahim, hingga berpulang kembali kepada yang Maha Pencipta, semua kita lakukan sendiri. Orangorang yang berada disekitar kita hanya menjadi pendamping untuk belajar menjadi manusia yang baik. Memang bukan perkara mudah belajar melawan semua itu. Ada saja cobaannya. Rasa cemas, pikiran yang resah, dan hati yang gundah gulana.

Hidup kita selama ini sudah terlalu berisik. Sejak kecil belajar bicara. Setelah remaja mulai senang ngobrol yang tak penting, tertawa terbahak-bahak, menceritakan hal-hal palsu, bermuka dua demi pencitraan, merusak diri sendiri dengan perbuatan yang kurang baik. Sampai kita lupa belum melakukan sumbangsih pada hidup yang dianugrahkan Allah.

Saat tulisan ini disusun, aku termasuk kebagian jatah diajari oleh tuhan belajar menghadapi kesendirian. Walaupun hampir bertemu dengan titik bosan, tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan semua hal sudah dilakukan berulangkali. Ternyata, setelah itu masih diajari lagi belajar bersabar. Rupanya, sendiri itu bukan mimpi buruk. Ternyata, waktu yang begitu banyak bisa dihabiskan berdua, juga bisa dinikmati sendiri. Karena selama ini mungkin aku terlalu banyak memikirkan hal di luar diriku.

Saat aku mencoba menikmati semuanya, mataku tertuju pada seekor kucing belang tiga yang sering datang ke rumah kami. Candramawa namanya. Kuperhatikan ia hanya duduk diam dalam posisi tidak berubah. Sesekali meregangkan tubuhnya lalu kembali ke posisi semula, sambil memandangi rintikan hujan, memperhatikan gerak-gerik manusia di luar rumah. Aku sempat bertanya, apa yang ia pikirkan? Bagaimana ia bisa menjalani kehidupannya sebagai kucing, yang sering diusir, di anggap kotor dan membawa penyakit? Tapi ia tak pernah membalasnya. Ia malah terus dan akan kembali lagi.

Jenis hewan kesayangan Nabi Muhammad Saw ini memang selalu terlihat sendiri. Aku belum pernah menemui segerombolan kucing bersama—paling hanya untuk kawin dan bertengkar saja. Selebihnya mereka memiliki kehidupan masingmasing. Setia dengan semua itu dan selalu melakukan hal yang sama setiap harinya. Mungkin Allah menciptakan mereka menjadi mahluk mandiri. Hidupnya tergantung pada dirinya sendiri. Jika ia lapar, maka akan keliling dari satu rumah ke rumah lain demi mengais rezeki.

Memang manusia dan binatang tidak bisa dibandingkan begitu saja. Karena kodrat manusia jauh lebih tinggi dari ciptaan Allah yang lain. Tetapi, bukankah belajar itu bisa dari mana saja? Karena setiap hal disekililing kita adalah pembelajaran hidup yang diberikan Allah. Dari seekor kucing aku banyak diajari merasakan rasa sayang, menandai bahwa rezeki kita tidak semua bisa dimiliki. Belajar sabar menunggu rezeki itu datang, dan yang terpenting, belajar berteman dengan kesendirian dan kesabaran. []

 

  • view 507