Belajar dari Keluguan

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Belajar dari Keluguan

PADA suatu pagi yang indah, aku terlibat dialog dengan Cyra, gadis kecil cantik yang setahun belakangan ini jadi kawan baruku. Rambutnya ikal sebahu. Sorot matanya berbinaran. Ia cerdas dan senang berbicara apa saja dengan lidah seperti orang bule. Selain berbakat bicara yang lancar, ia santun dan juga hangat. Sampai saat ini, aku banyak dapat pelajaran darinya. Ia tak henti menyirami hidupku dengan pelajaran baru. Sungguh, aku beruntung bisa mengenal dan bersahabat dengannya.

 "Aku mau diantar ke sekolah sama om Rama. Kalau om nggak mau mengantar Cyra ke sekolah, memang om nggak kasihan sama Cyra?" 

"Ya Kasihan lah. Kan om Rama sayang sama Cyra." 

Seketika ia tersipu malu dan membalas ucapanku. 

 "Oke kalau om Rama sayang Cyra. Om mau tahu nggak apa yang terjadi sama Cyra kalau aku nggak dianterin sekolah?" 

  "Memang apa yang bakal terjadi?" tanyaku.

  "Hati Cyra bisa hancur, Om." jawabnya singkat dengan raut wajah sedih.

 Mendengar jawaban itu sontak aku tertawa geli sampai terpingkalpingkal.

 

***

Pada waktu yang lain, Cyra juga pernah mengatakan i love you padaku. Begini kisahnya. Sore hari sekitar pukul 16.45 WIB, kami duduk di sebuah cafe kecil di bilangan Kelapa Dua, Depok. Cyra yang sedang asyik menikmati makanannya, seketika memanggilku untuk ia kenalkan pada temannya yang bernama Aline. Setelah kami berkenalan, Cyra tersenyum padaku dan Aline. Lalu ia menyuruhku mengatakan i love you pada temannya. Ketika kutanya alasannya, Cyra pun menjawab.

 

"Supaya nanti kalau Om Rama meninggal, bisa ketemu Allah," ujarnya. Seketika kepalaku jadi mumet tak karuan membayangkan alam pikiran Cyra.

 

"Kalau ketemu Allah enak, Om. Apa saja bakal dikasih sama Allah. Kita bisa terbang, dikasih permen karet biar nggak rewel. Kalau ada anak kecil yang rewel, Allah nggak suka. Karena nanti Allah pusing kepalanya. Cyra mau bantu Allah, Om, jadi anak kecil yang nggak rewel. Biar Allah nggak pusing."

 

Sambil terus mengagumi alam pikiran Cyra yang ajaib itu, kami pun pulang. Setiba di rumah, aku dan Cyra bertemu Sunda, adiknya. Saat itu, Sunda sedang berdialog dengan Manik, kakaknya di atas Cyra, yang wajahnya terlihat pucat sepulang dari sekolah.

 

"Kak Manik lagi sakit ya? Kalau iya, sini Sunda hibur biar sembuh." Maka ia pun menari lincah hingga Manik tersenyum bahagia. Mereka pun tertawa bersama di dalam kamar Manik yang tertata rapi itu.

 

Begitulah sekelumit kisahku dengan Sunda yang masih berumur dua tahun dan Cyra yang sudah berumur lima tahun. Dari merekalah aku belajar cara mencintai sesama. Dimulai dari lingkaran terdekat, lalu dilebarkan lagi, dan lagi, hingga bisa mencintai semua makhluk ciptaan-Nya. Semoga kita bisa saling mencintai satu sama lain. []

 

Muhammad Rama Pati

 

  • view 570